
Aira telah tertidur selepas meminum obat yang tadi di berikan perawat kepadanya. Kinanti pun menarik selimut di tubuh Aira sampai menutupi dadanya. Di usapnya lembut rambut anaknya itu. Atmaja pun masuk ke dalam ruangan tempat Aira di rawat. Kinanti menoleh ke arah pintu tempat Atmaja masuk.
" Aira sudah tidur?." tanya Atmaja seraya duduk di sofa yang ada disana.
" Sudah barusan. Habis minum obat langsung tertidur dia." jawab Kinanti. Atmaja menghela nafasnya sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa. Kinanti pun menatap wajah lelaki di depannya itu.
" Dokter bilang apa?. Gak ada apa - apa kan sama Attar?." tanya Kinanti cemas.
" Tidak. Dia baik - baik saja. Ada kabar baik untuk kita." tukas Atmaja dengan senyum di wajahnya.
" Apa?." tanya Kinanti penasaran.
" Kondisi Attar semakin kesini semakin membaik. Dokter Anne bilang, minggu depan Attar sudah boleh di bawa pulang ke rumah." jelas Atmaja.
" Benarkah?. Alhamdulillah." jawab Kinanti senang. Dia begitu bahagia mendengar kabar baik itu. Sudah tidak sabar rasanya ingin cepat - cepat memeluk dan menggendong cucunya itu.
" Tapi Kinan, Aku sedikit bingung juga. Siapa nanti yang akan menjaga Attar?. Apa kita harus menyewa perawat untuk menjaganya?." tanya Atmaja bingung.
" Kamu benar juga Mas. Kita tidak mungkin kan menyuruh Aira untuk menjaga anaknya. Dia menjaga dirinya sendiri saja tidak bisa." jawab Kinanti sambil menatap wajah putrinya yang terlelap di atas bed rumah sakit itu.
" Semoga ingatan Aira lekas segera pulih kembali." ujar Atmaja pasrah.
" Lalu Revan gimana?. Masih tidak ada perkembangan?." tanya Kinanti. Atmaja menggelengkan kepala nya.
" Semoga Revan cepat sadar." jawab Kinanti sambil menatap wajah Aira.
" Amiin." sahut Atmaja.
__ADS_1
*****
Seminggu sudah Aira di rawat di ruang perawatan itu. Siang ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Walaupun setiap tiga hari sekali harus kembali ke rumah sakit untuk menjalani terapi. Attar pun juga sudah bisa menghirup udara kebebasan.
Santi yang di temani Akbar dan Bian pun menuju ruang tempat perawatan Aira. Adiknya itu yang akan membantu Aira untuk mengemas barang - barang miliknya. Sementara Kinanti dan Atmaja di sibukkan mengurus segala keperluan dan surat - surat kepulangan Attar.
Atmaja dari pagi sudah bolak - balik menuju administrasi rumah sakit untuk melakukan pembayaran atas perawatan cucu dan menantunya itu. Setelah selesai semua dengan urusan Attar. Kinanti yang menggendong tubuh cucunya untuk pertama kali pun sangat bahagia.
Para dokter dan perawat disana pun bergantian memeluk dan mencium bayi tampan itu. Banyak yang memuji ketampanan bayi mungil itu mewarisi gen dari ayahnya, Revan. Kinanti dan Atmaja yg mendengar itu pun hanya tersenyum bahagia.
Kedua kakek dan nenek itu pun berjalan menuju lobby rumah sakit. Disana terlihat Aira dan Santi yang sudah menunggunya. Santi bersorak senang saat melihat keponakannya berada di gendongan sang nenek.
" Oohh keponakan tante ganteng sekali." puji Santi sambil terus mencolek pipi Attar yang terlihat sedikit gembil itu. Aira menatap bayi yang ada di gendongan ibunya itu.
Kinanti berjalan mendekat ke arah Aira yang duduk di kursi roda. Kinanti menunjukkan bayi mungil yang selama ini di kandungnya dan di pertahankan setengah mati olehnya itu. Aira menatap wajah bayi yang terlelap di gendongan ibunya. Tangannya terangkat dan membelai lembut kepala bayi yang tertutup topi itu.
" Kamu tidak kenal siapa dia Nak?." tanya Kinanti. Aira menatap wajah ibunya.
" Dia Attar. Bayi kamu." jawab Kinanti. Aira seperti terkesiap saat mendengar penjelasan ibunya. Di tatapnya wajah bayi mungil itu dengan tatapan tak percaya. Tiba - tiba kepalanya terasa begitu sakit. Seperti ada yang memukul dengan keras.
" Aaarrrggghhh .... " Aira mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit itu. Semua yang ada disana pun langsung berwajah pias dan ketakutan. Mereka semua takut jika terjadi apa - apa dengan Aira.
" Akbar!!. Cepat dorong Aira menuju UGD. Cepat!!." perintah Atmaja saat melihat menantunya itu terus mengerang kesakitan.
Kinanti dan Santi hendak mengikuti langkah Akbar. Tapi dilarang oleh Atmaja.
" Kalian pulang saja. Kasian Attar kalau terus menerus disini. Bisa sakit dia. Aira biar aku dan Akbar yang menjaganya." tukas Atmaja. Kinanti pun mengangguk.
__ADS_1
Terlihat mobil dan supir pribadi Atmaja datang. Kinanti dan Santi pun langsung masuk kedalam mobil itu dan pulang menuju rumah.
*****
Akbar dan di bantu para perawat pun mengangkat tubuh Aira untuk di tidurkan di bed yang ada di UGD. Aira masih terus menerus mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Tak jarang tangannya memukul - mukul kepalanya itu. Dokter jaga disana pun mendekat dan memeriksa keadaan Aira.
" Dia kenapa?. Apa yang terjadi?." tanya dokter itu mencoba menahan rasa panik dan memegangi tangan Aira yang ingin memukul kepalanya yang sakit itu.
" Tadi saat di lobby dia melihat bayinya. Tiba - tiba langsung histeris dan kesakitan seperti ini." jelas Akbar sambil membantu dokter itu memegangi tangan Aira.
" Sakit!!. Lepaskan aku!!. Aaarrrggghhh ... " teriak Aira terus menerus.
Dokter itu menginstruksikan perawat untuk mengambil obat penenang sekaligus obat penahan rasa sakit. Perawat itu pun dengan sigap berlari mengambil apa yang di instruksikan kepada nya. Tak lama kemudian perawat itu pun membawa obat yang di minta sang dokter.
Dokter itu pun menyuntikkan obat penenang dan penahan rasa sakit ke tangan Aira. Aira masih terus meronta. Tidak sampai lima menit. Terlihat Aira perlahan mulai tenang dan terlelap dalam tidurnya. Semua yg ada disana menghela nafas dengan lega.
" Saya akan menghubungi dokter yang menangani kasus nyonya Aira Pak. Nanti kita bisa berkonsultasi kelanjutan penanganan perawatan nyonya Aira selanjutnya." ujar dokter itu.
" Baik dok. Terima kasih banyak." tukas Atmaja.
" Saya tinggal dulu ya pak." pamit dokter itu.
Atmaja mengusap kepala menantunya itu. Aira sudah larut ke dalam dunia mimpi. Akbar mengusap dahinya yang basah akan keringat. Dia sungguh tidak tega melihat kakak iparnya seperti itu. Kakak iparnya itu pasti sangat menderita dan kesakitan saat ini.
" Ayo kita keluar. Biar Aira istirahat." Ajak Atmaja. Akbar pun mengangguk dan berjalan di belakang lelaki tua itu.
Mereka berdua pun duduk di kursi tunggu yang ada di luar. Menanti dokter yang menangani kasus Aira. Baru saja Aira akan menghirup udara luar. Tapi ada saja masalah yang terjadi.
__ADS_1