Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 2 Menemukan kembali


__ADS_3

Revan masih mengamati percakapan teman temannya di grup whatsapp tersebut. Menanti apa selanjutnya yang mereka bicarakan.


"H**ey guys, kalian masih ingat gak sama Aira?." tanya seorang teman di grup tersebut.


" Ooh Aira anak ekskul basket itu kan." tanya seorang lagi.


"Iya. Aira siapa lagi coba. Di angkatan kita yg namanya Aira cuma dia doang kan." sahut teman yang pertama itu.


" Kenapa memangnya dengan Aira?." sahut Aji. Yang mulai kepo dengan pergosipan cewek-cewek kalau lagi kumpul.


" Aji kepo nih yeh." sahut yang lainnya.


" Eh inget bini ji. Bini lagi bunting juga masih aja jelalatan sama janda." sahut pemberi berita yang pertama.


" Siapa yang janda?." tanya Aji.


" Ya Aira lah. Sekarang dia kan jadi single woman. Dia di cerai kan ama suaminya. Karna dia gak bisa ngasih anak buat suaminya." sahut si empu biang gosip, yang di ketahui Revan bernama Rani. Dari dulu mereka sekolah biang gosip di kelas mereka hanya Rani.


Deg deg deg


Jantung Revan langsung berdetak kencang seakan mau loncat dari rongga nya. Saat tengah mengamati percakapan teman sekelas mereka di grup.


" Halah fitnah aja loe Ran. Loe dari dulu kan emang gak suka sama Aira. Karna Aira jauh lebih populer kan dari loe." sanggah Aji.


"Yeh di bilangin gak percaya. Ya terserah deseh ya mau percaya atau gak. Tapi gue bicara yang sebener - benernya. Karna laki gue kan tetangga an ama emaknya sih Arga mantan suami Aira." tukas Rani.


"Jadi berita yang gue bawa ini 100% akurat dan terbukti kebenarannya." jawab Rani sombong. Seakan dia sangat tau seluk beluk hidup Aira. Tanpa pikir panjang, Revan langsung menelepon Aji.


" Hallo Van, iya ada apa malam malam telepon?." tanya Aji kaget.


" Hallo ji, sorry kalo aku ganggu. Hmm ji, apa yang di omongin Rani di grup itu bener apa gak soal Aira yang jadi single woman itu loh." tanya Revan ragu - ragu.


" Entahlah Van, aku juga kurang tau. Tapi suami Rani katanya tetanggaan sama si emaknya mantan suami Aira. Ya otomatis beritanya emang bener. Emang kenapa Van?." tanya Aji penasaran. Karna dia tau betul, Revan bukan orang yang tertarik dengan gosip beginian. Terdengar dari telepon Revan menghela nafas panjang.


" Ji kamu tau nomer ponsel Aira gk?." tanya Revan langsung.


" Heemmm aku sih gak punya nomer telepon Aira Van. Tapi mungkin Dini tau nomer telepon Aira. Soalnya kapan hari katanya Dini masih whatsapp an sama Aira." jawab Aji.


" Kamu punya nomer telepon Dini gak?. Atau gak tolong mintain nomer Aira ke Dini, ji." tukas Revan. Aji mengerutkan dahi nya.


" Ok lah Van, besok aku hubungi Dini dulu. Nanti aku kabari kamu." pungkas Aji.


" Ya udah ji makasih banyak sebelumnya. Mohon maaf sudah ganggu malam-malam." jawab Revan sambil mematikan ponselnya.


Revan menghela nafas panjang ber ulang kali. Aira Aira Aira dia komat kamit menyebut nama Aira sambil menyandarkan tubuhnya di pojokan ranjang. Kenapa dari dulu kehidupanmu penuh dengan teka teki dan misteri, gumam Revan. Perlahan Revan memejamkan matanya dan mulai terlelap.


Pagi ini, Revan bangun tidur seperti biasa. Bangun pukul 4 subuh lalu sholat subuh. Setelah itu jogging di pagi hari setelah nya langsung berenang. Dan selesai berenang dia sarapan lalu berangkat ke rumah sakit.


Tapi pagi ini dia tidak menjemput Sheila kekasihnya. Karna Sheila shiff malam menggantikan temannya. Jam menunjukan pukul 12 siang, rekan - rekannya sesama petugas medis mulai sedikit berhamburan keluar ke kantin rumah sakit untuk makan siang.


Begitu pun dengannya. Di sela sela dia makan tiba - tiba ponsel nya berdering. Di tatap lah nama pada layar ponsel tersebut. Tertulis nama Aji. Revan langsung mengangkat.


" Hallo ji, gimana sudah ada kabar belum." tanya Revan.


" Hallo Van, iya aku sudah menghubungi Dini tadi. Dan aku sudah mengantongi nomer ponsel Aira loh." tukas Aji. Bibir Revan langsung tersungging. Ada rasa girang yang tak tertahan dalam hatinya.


" Aku kirim lewat wa aja ya." jawab Aji.


"Iya ji. Makasih ya." sahut Revan. Tak lama berselang terdengar pesan masuk dari Aji. Revan terlihat sumringah.


Di save lah nomer Aira di ponsel nya. Setelah makan siang, Revan ingin menghubungi nomer ponsel Aira. Tapi di urungkan niatannya tersebut.

__ADS_1


Terlalu banyak mata dan telinga disini. Dia tidak ingin keberadaan Aira sampai di ketahui rekan se profesi nya. Bukannya dia takut kalau ada yang mengadu ke Sheila kekasihnya. Tapi dia ingin menyimpan Aira hanya untuk hatinya sendiri. Karena Aira sangat spesial untuknya.


Hari ini cuaca cukup panas menyengat. Aira terduduk di bangku panjang dekat kamar mandi para karyawan. Dia menyelonjorkan kakinya yang letih akibat berdiri dari bel berbunyi tadi pagi sampai bel makan siang. Dia melamun, pikirannya kosong menerawang jauh.


" Heh ngelamun terus." sapa Maya teman kerja Aira. Aira tampak kaget lalu tersenyum kepada Maya.


" Capek May." jawab Aira sambil menghela nafas panjang.


" Sudahlah Ra, kamu gak usah mikirin lelaki kardus itu terus. Gak ada untungnya." tukas Maya seakan dia tau apa yang menjadi pikiran Aira selama ini.


" Siapa yg lagi mikirin itu sih." sangga Aira sambil manyun.


" Halah gak usah bohong deh. Aku udah kenal kamu lama Ra." jawab Maya. Aira hanya tersenyum getir mendengar ucapan Maya.


Butiran bening nan hangat tiba tiba leleh di ujung matanya. Aira mulai terisak. Dia menggigit bawah bibirnya untuk menahan suara isakan tangisannya. Maya langsung merangkul bahu Aira.


" Udahlah Ra, kamu yang sabar. Semoga semua ini ada hikmahnya. Memang lelaki kardus itu bukan jodoh terbaik buat kamu. Kamu jangan sedih terus menerus. Kamu harus kuat. Tunjukkan kalau kamu bisa bangkit dan bisa hidup tanpa dia." tukas Maya sambil menenangkan Aira.


Banyak pasang mata melirik mereka berdua. Tapi tak ada satu pun yang berani bertanya. Aira mengusap air matanya lalu tersenyum.


" Makasih ya May, kamu benar. Aku tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan seperti ini terus." jawab Aira lalu mengajak Maya masuk ke lokasi pabrik.


Sore hari saat Aira pulang bekerja. Dia langsung mandi lalu bermain dengan Bian. Hanya Bian yang mampu menghibur Aira. Tingkah lucu Bian selalu membuat Aira tertawa lepas. Di peluk tubuh mungil Bian lalu di ciumi hingga puas. Bian pun juga selalu bermanja manja dengan Aira.


Bian sangat nyaman dan riang saat berada bersama Aira. Santi sering cemburu melihat kedekatan Bian dan Aira. Aira sudah menganggap Bian seperti anaknya sendiri.


Saat dia gajian, Bian selalu merengek meminta mainan atau cokelat dan es cream pada Aira. Aira pun langsung membelikannya tanpa pamrih. Kadang santi juga kesal dan marah melihat kelakuan kakaknya itu yang terlalu memanjakan Bian. Aira selalu bilang,


" Gak apa apa Bian masih kecil". Di sela sela dia bermain dengan Bian, tiba tiba ada pesan masuk di ponsel Aira.


" Hai Ra, apa kabar?." sapa nomer tak di kenal itu. Aira mengerutkan keningnya, mungkin ini nomer ponsel mas Arga yg baru, gumam Aira. Aira tak membalas pesan itu. Dia melanjutkan lagi bermain dengan Bian. Tiba tiba ponsel nya berdering.


Aira melirik ke layar ponsel nya. Nomer tidak di kenal. Di biarkannya panggilan tersebut. Sampai 7 kali panggilan. Sementara di lain tempat, Revan dengan hati yg tidak karuan menanti jawaban pesan yg di kirimnya dan menanti panggilan nya di jawab.


Namun sampek 30 menit berlalu tidak ada respon apapun. Revan tidak menyerah begitu saja, dia terus melakukan panggilan ke nomer aira.gk


Aira merasa sedikit terganggu dengan bunyi ponsel yg berdering terus menerus. Santi melirik ke arah Aira.


" Siapa sih mbak, dari tadi telepon terus?." tanya Santi. Aira menggelengkan kepalanya.


" Dek, tolong mbak dong. Coba kamu angkat telepon ini. Ini nomer telepon gak di kenal. Mbak males kalo kalo ini nomer telepon mas Arga yang baru." pinta Aira. Santi pun meraih ponsel Aira lalu mengangkat.


" Hallo ini siapa sih, dari tadi telepon terus. Ganggu tau." bentak Santi judes. Revan tergagap mendengar sahutan dari seberang.


"Ha .. hallo Aira. Ini a .. aku." jawab Revan.


" Aku .. aku siapa." tanya Santi.


" Ini mas Arga ya. Ngapain lagi sih mas ganggu mbak aira. Bukannya mas Arga sekarang seneng udah bebas dari mbak Aira. Kenapa masih telepon telepon terus. Kangen ya sama mbak Aira. Tapi sayang tuh mbak Aira gk kangen sama situ." jawab Santi ketus. Aira terdiam melihat kelakuan adiknya itu.


" Bu .. bukan. Aku bukan Arga. Aku Revan. Aku Revan temannya Aira. Apa benar ini nomer telepon Aira?." tanya Revan ragu-ragu. Karena yang Revan tau dari dulu, Aira seorang perempuan lembut walau penampilannya agak tomboy tapi dia tidak urakan dan ketus seperti saat ini. Santi menutup ponsel Aira dengan tangannya, agar suaranya tak terdengar ke seberang penelepon.


" Mbak, ini Revan katanya, temen mbak Aira. Bukan mas Arga." tukas Santi sambil berbisik bisik. Aita tertegun, merapal nama Revan dari otaknya. Hanya ada satu nama Revan yg dia ingat. Iya Revan Ega Pranata, teman sekelas nya dulu. Cinta dalam hati Aira semasa bangku SMP. Yang sampai saat ini di sembunyikan dan di tutup rapat rapat.


Aira meraih ponsel nya, dia masih bertanya tanya, akankah ini Revan yang ada di hatinya dulu atau Revan lainnya yang sengaja menggoda dia untuk mengajak berkenalan. Aira menghela nafas panjang.


" Hallo ..." jawab Aira. Revan tersenyum, dia hafal sekali suara Aira. Tidak berubah dari dulu maupun sekarang.


" Hallo Ra, apa kamu masih ingat aku." tanya Revan.


" Ini Revan siapa ya?." tanya Aira memastikan kalau ini Revan yang dia kenal.

__ADS_1


" Ini aku Ra, Revan. Revan Ega Pranata. Apa kamu ingat." jawab Revan.


Deg deg deg deg .....


Aira kaget bukan main. Ternyata ini Revan yang ada di hatinya dulu. Revan cinta dalam hati nya.


Semua terdiam di keheningan. Entah Aira atau pun Revan semua larut dalam pikiran masing masing.


" Hallo ... Van, apa kamu masih di sana." tanya Aira memecah keheningan. Revan tersentak,


" Iya iya aku masih disini." jawab Revan. Aira menghela nafas panjang,


" Dari mana kamu dapat nomer ponsel ku?." tanya Aira menyelidik. Revan tersenyum.


" Rahasia." jawab Revan dengan nada menggoda. Aira menghela nafas panjang lalu mematikan ponselnya.


Aira sebenarnya ingin lebih lama berbincang bincang dengan Revan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Yaitu status dirinya sebagai janda. Dia tidak mau orang lain berfikir yang tidak tidak tentang dirinya.


Karena yang dia tau, image seorang janda itu selalu buruk di mata masyarakat. Revan tertegun saat tau panggilannya di putus secara sepihak. Dengan cepat Revan mengirim pesan.


**To: Aira


Maaf jika aku mengganggu dirimu. Apakah kita bisa bertemu**??


Revan mengirim tombol send dalam ponselnya. Dengan harap harap cemas dia menanti balasan. Tiba tiba ...


Drrttt .... drrttt .... drrttr ....


Ponsel Revan berdering. Saat di lihat, ternyata Sheila menelepon. Revan menghela nafas panjang lalu menjawab panggilan telepon Sheila.


" Hallo yank, lagi apa sekarang?." tanya Sheila manja. Revan menjauhkan ponsel nya dari telinganya. Lalu bergidik jijik menatap ponselnya tersebut.


" Kamu kenapa sih, aneh banget manggil yank yank segala." tanya Revan. Sheila tersenyum kecut mendapat respon yang tidak terbalas dari kekasihnya.


Sheila bersikap manja karena di samping nya ada teman sesama dokter yang lagi beriatirahat di sampingnya. Istilahnya Sheila lagi ingin pamer kemesraan di depan kawan kawannya.


Padahal, selama dia berpacaran dengan Revan hampir 5 tahun, sekali pun Revan tak pernah berkata mesra nan romantis kepadanya. Dari awal hubungan mereka hanya ada rasa cuek dan dingin menyelimuti.


Tidak seperti pasangan pada umumnya yang selalu romantis atau saling melempar rayuan saat bertemu atau di saat jauh. Dia dan Revan juga berkencan seperti pasangan lainnya, tapi berkencan dalam diam.


Karena setiap kali mereka pergi makan atau menonton film di bioskop, Revan hanya diam, dingin dan cuek.


" Ini sudah malam, aku mau istirahat, lagipula kamu shiff malam, kenapa masih bermain ponsel. Sangat tidak kompeten sekali." cibir Revan. Sheila menghela nafas panjang. Ingin menjelaskan sesuatu, tapi tiba-tiba ...


Sebelum dia melanjutkan pembicaraannya, Revan menutup ponsel nya. Sheila merasa marah dan tersinggung. Karena perhatiannya langsung di tolak mentah-mentah oleh kekasihnya tersebut. Ada yang sedikit hangat keluar dari ujung matanya. Dengan cepat dia menghapusnya.


" Kamu kenapa Sheila??." tanya Karina teman se profesi dengan Sheila. Sheila menggelengkan kepala sambil tersenyum getir, lalu beranjak menuju toilet.


Setelah sampai di toilet, Sheila langsung mengunci pintu dan menangis sesenggukan disana. Tangan lentiknya meremas celana kain yg dia kenakan. Menahan getirnya hatinya. Selama hampir 5 tahun dirinya menanggung sendiri. Menanggung rasa sakit, di acuhkan, di diamkan oleh Revan yang sangat dia sayangi.


Dia ingin marah, tapi dia tidak memiliki keberanian. Dia takut Revan marah balik dan meninggalkannya. Selama hampir 5 tahun dia mencintai seorang diri. Memang benar mereka menjalin hubungan, tapi hanya dalam status, tidak sepenuh hati. Karena dia tau, Revan, hati Revan telah terisi dengan perempuan lain yang Sheila tidak tau siapa orang nya. Karena Revan tidak pernah mengungkapkan siapa perempuan dalam hati nya tersebut.


Revan hanya diam seribu bahasa. Menutup rapat rapat isi di hatinya agar tidak ada seorang pun yang boleh tau. Sheila selama ini menahan sendirian. Menahan rasa malu selalu di buru pertanyaan soal kelanjutan hubungan mereka. Menahan rasa sakit atas perlakuan Revan yang sangat dingin dan acuh kepadanya. Serba salah untuknya. Dia sangat mencintai dan menginginkan Revan, tapi dia tidak tahan atas sikap Revan.


Dia ingin mengakhiri semua nya, tapi dia takut dan tidak mau kehilangan Revan. Dia menghela nafas panjang ber ulang ulang untuk mencoba menenangkan diri. Dia selalu berfikir dan berdoa, suatu saat nanti Revan dan hatinya akan sedikit luluh dan menerima dia sepenuh hati.


Di basuh muka nya di wastafel, sambil menatap cermin dia mengulum senyum.


" Semangat ...." gumamnya.


~ Happy reading ~ 😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2