Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 98 Aku Akan Menyelamatkan Kamu Dan Anak Kita!!!.


__ADS_3

Hari demi hari mereka lewati dengan banyak sekali drama dan pertengkaran - pertengkaran kecil. Tapi tetap tak mengurangi rasa cinta kasih dan keharmonisan mereka berdua.


Kini perut Aira sudah terlihat membuncit. Dan usia kandungan nya juga sudah memasuki 23 minggu. Aira pun juga mulai sedikit kesulitan bergerak dengan perut gendutnya dan berat badan yang naik beberapa kilo itu.


Hari ini jadwal Aira untuk periksa kandungan secara rutin setiap bulannya. Dari dua hari yang lalu dia mulai merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Dia mulai merasa capek yang sangat berlebih dan mulai sedikit sesak nafas kalau terlalu lama bergerak dan beraktivitas.


Seperti biasa dia berangkat ke rumah sakit bersama dengan suaminya. Setelah melakukan registrasi, sepasang suami istri itu pun berjalan menuju ruang pemeriksaan. Aira sempat berhenti beberapa saat ketika berjalan menuju ruang pemeriksaan itu. Revan yang melihat istrinya itu merasa kasian. Tapi Aira mencoba selalu tersenyum ketika melihat raut kekhawatiran di wajah suaminya itu.


Setelah sampai di ruang pemeriksaan itu, perawat disana pun menyambut kedatangannya dengan ramah. Aira duduk di ruang tunggu. Sambil menunggu perawat disana pun memeriksa tekanan darah dan berat badan tubuhnya. Aira terlihat lebih membengkak di beberapa tubuhnya. Terutama kaki dan tangannya.


" Saya periksa tekanan darah nya ya nyonya." seru perawat disana. Aira mengangguk mengiyakan. Perawat disana pun memegang kaki dan tangan Aira yang terlihat bengkak.


" Sejak kapan kaki dan tangan nyonya bengkak seperti ini?." tanya perawat itu sambil menekan - nekan bengkak di kaki dan tangan Aira.


" Mungkin tiga hari yang lalu." jawab Aira.


" Apa nyonya tidak merasa sesak nafas atau letih yang berlebih?." tanya perawat itu lagi.


" Iya sus. Saya juga kadang sesak dan lelah walau hanya melakukan pekerjaan ringan." keluh Aira. Perawat itu mengernyit kan keningnya saat mendengar ucapan Aira.


" Tensi nyonya juga tinggi. Apa nyonya tidak merasa pusing?." tanya perawat disana. Aira menggelengkan kepala nya.


" Berapa tensi darah saya sus?." tanya Aira penasaran.


" 164/97 nyonya." jawab perawat itu.


Aira hanya diam saat mendengar ucapan perawat disana. Hatinya merasa tidak nyaman. Ada rasa khawatir yang begitu mendalam dalam dirinya. Di usap nya perutnya perlahan. Dia berharap tidak ada apa - apa dengan anak dalam kandungannya.


Kini giliran Aira masuk kedalam ruang pemeriksaan. Disana terlihat suaminya tengah duduk sambil melihat - lihat rekam medis milik istrinya itu. Tak berapa lama pun dokter Radit pun membuka pintu ruangan tersebut. Setiap bulannya dokter Radit yang memeriksa kandungannya.

__ADS_1


Perawat disana membantu Aira untuk naik ke bed untuk di periksa. Dokter Radit menuju wastafel terlebih dahulu untuk mencuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan. Revan mendekat ke arah bed sambil membawa rekam medis milik istrinya itu. Tatapan matanya begitu khawatir. Tidak seperti biasanya. Dokter Radit pun menangkap arti sorotan mata khawatir Revan.


" Wow tensi darah nya kenapa begitu tinggi seperti ini nyonya Revan?. Apa ada yang mengganggu pikiran anda?." tanya Radit saat melihat angka pada kolom tensi darah.


Revan melihat dan menekan - nekan bengkak di kaki istrinya. Dahinya mulai mengernyit. Radit pun mendekati Revan dan melihat bengkak di kaki dan tangan istri temannya itu.


" Apa sakit?." tanya dokter Radit saat menekan bengkak di kaki Aira. Aira pun menggelengkan kepala. Radit pun menghela nafasnya.


" Ok. Kita lakukan USG terlebih dulu ya." ujar Radit. Dia pun melakukan pemeriksaan melalui USG.


Cukup lama dia melakukan pemeriksaan itu. Dokter Radit pun seperti mencari sesuatu yang mengganggu pikirannya. Revan pun tetap bungkam sambil menatap layar USG itu. Sesekali dia memerintah temannya itu untuk mengecek layar monitor di hadapannya itu.


Sudah hampir satu jam lebih dokter Radit memeriksa kandungan Aira. Dia pun berulang kali menghela nafasnya secara kasar. Kepalanya pun berulang kali menggeleng seperti menangkap sesuatu yang buruk. Revan menggenggam tangan istrinya sambil sesekali membuang kasar nafasnya.


" Ok. Kita sudah lihat tadi kan. Usia kehamilan nya memasuki usia 23 - 24 minggu. Ada kabar baik dan kabar buruk disini." jelas dokter Radit. Revan yang paham dengan apa yang di ucapkan temannya itu pun hanya terdiam dan memeluk tubuh istrinya.


Aira menatap wajah suaminya dan menatap wajah dokter Radit secara bergantian. Dokter Radit pun menepuk bahu temannya itu. Memberi sedikit energi dan kekuatan.


" Seperti yang kita lihat tadi. Jenis kelamin bayi nyonya sudah terlihat dengan jelas. Jenis kelaminnya laki - laki. Berat badannya juga sesuai usia kandungan. Tapi ada sedikit berita yang kurang mengenakkan." jelas Radit.


" Revan. Kamu tau betul apa yang terjadi dengan istrimu saat ini. Karena kamu juga dokter spesialis kandungan. Aku harap kamu bisa mengerti." ujar Radit saat melihat Revan mulai gelisah. Aira menatap wajah suaminya itu. Revan memalingkan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah istrinya saat ini. Emosinya sedang tidak baik. Dia bisa langsung menangis nanti kalau bertatap muka dengan istrinya. Aira yang tau sifat suami nya itu. Di genggamnya tangan lelaki itu.


" Apa kabar buruknya dok?." tanya Aira lirih. Radit dan Revan menghela nafas secara bersamaan.


" Nyonya, bayi di dalam kandungan nyonya mengalami pre eklamsia. Itu disebabkan tensi darah nyonya yang semakin hari semakin tinggi. Apalagi nyonya sudah mengalami pembengkakkan di kaki dan tangan seperti ini. Ini menandakan adanya komplikasi di paru - paru yang mengalami kemasukan banyak cairan. Untuk lebih jelas nya. Saya akan merujuk nyonya ke bagian spesialis paru dan jantung. Dan untuk melakukan pemantauan yang lebih, saya sarankan nyonya untuk di rawat inap sementara waktu disini. Sampai kondisi nyonya stabil." jelas dokter Radit.


Seperti di sambar petir di siang hari. Aira begitu tercekat mendengar penjelasan dokter Radit.


Lagi. Kenapa aku mengalami hal seperti ini lagi. Kenapa aku harus seperti ini ketika mengandung anak - anakku. Kenapa??. gumam Aira.

__ADS_1


Air matanya pun sudah meleleh tak terbendung lagi. Revan memeluk tubuh istrinya. Mencoba untuk menenangkan perempuan itu. Di ciuminya pucuk kepala wanita yang tengah mengandung anak nya itu.


" Gak apa - apa sayang. Kamu gak perlu takut. Ada aku disini. Aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu dan anak kita. Kamu gak usah takut dan khawatir. Kamu percaya aku kan?!." ujar Revan sambil mengusap kepala istrinya itu. Aira semakin mengeraskan tangisannya. Dia tak perduli dengan dokter Radit dan perawat disana. Dia hanya ingin meluapkan semuanya lewat tangisnya itu.


" Sssttttt. Jangan nangis gitu dong sayang. Kamu membuat jagoan kita takut nanti. Sudah jangan nangis lagi. Nanti dia ikut sedih kalau kamu seperti ini." ujar Revan sambil mengusap perut buncit istrinya.


" Aku takut. Aku takut kehilangan anakku lagi. Aku takut. Aku gak mau kehilangan anakku lagi. Aku gak mau!!." jelas Aira sambil terisak dalam tangisnya. Revan memeluk tubuh istrinya lagi. Dia tau apa yang tengah di rasakan istrinya saat ini. Tentu kejadian beberapa tahun lalu menjadi momok yang menakutkan untuk istrinya.


" Siapa yang bilang kamu akan kehilangan anak kita?. Kamu gak akan kehilangan dia. Dia akan baik - baik saja. Kamu hanya akan dirawat saja. Kamu hanya di obati sampai sembuh. Itu saja sayang." jelas Revan. Dia mencoba memberi pengertian kepada istrinya itu.


" Iya. Awalnya seperti itu. Nanti lama - kelamaan kondisinya akan memburuk dan dia harus pergi seperti yang sudah - sudah. Aku gak mau di rawat Van. Aku gak mau. Aku mau pulang kerumah. Aku gak mau di rawat. Aku mau pulang." pinta Aira sambil terus menangis dan memohon untuk pulang kerumah.


Revan menatap ke arah Radit. Meminta sahabatnya itu untuk menunda pemeriksaan. Tapi Radit menggelengkan kepala nya. Dia tidak setuju dengan apa yang dipikirkan temannya itu. Lebih cepat lebih baik. Karena Radit takut adanya komplikasi lain yang sedang mengganggu kesehatan istri temannya itu. Revan meminta Radit untuk berbicara empat mata di luar ruangan. Radit pun berjalan di belakang temannya itu.


" Ayo lah Dit. Kamu lihat gimana kondisi istriku saat ini. Dia begitu takut Dit. Dia punya trauma tersendiri dengan kejadian seperti ini. Ku mohon kamu mengertilah." ujar Revan.


" Tapi Van. Kondisi istrimu saat ini jauh dari kata baik - baik saja. Kalau ada apa - apa dengan dia di rumah gimana. Aku hanya ingin dia dan calon anakmu baik - baik saja. Lebih cepat di periksa semuanya akan jauh lebih baik." jelas Radit menolak mentah - mentah keinginan Revan. Revan hanya terdiam. Dia memikirkan dan mencerna ucapan sahabatnya itu.


" Kamu juga dokter Revan. Kamu tau, keselamatan pasien mu jauh lebih penting dari apapun. Aku tau kamu khawatir dengan psikologis istrimu. Tapi kamu juga harus tau kondisinya saat ini. Nyawa anak dan istrimu jadi taruhannya sekarang. Jangan sampai kamu menyesal kemudian hari Van. Aku harap kamu bisa berpikir dengan jernih." ujar Radit sambil menepuk bahu temannya itu.


Revan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tega melihat kondisi istrinya saat ini. Tapi ada nyawa yang harus dia selamatkan juga. Revan menatap wajah Radit.


" Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?." tanya Revan tak berdaya. Dia tiba - tiba menjadi orang yang bodoh ketika menyangkut istrinya.


" Seperti yang aku bilang. Istrimu harus di rawat inap dan harus di periksa secara menyeluruh secepat mungkin. Ini pre eklamsia Revan. Bukan sakit sembarangan. Kamu tau pre eklamsia itu bisa membunuh 100 ibu hamil setiap jamnya. Kalau kita tidak bergerak cepat. Aku takut terjadi apa - apa dengan istrimu." jawab Radit.


" Baik. Baiklah kalau begitu. Aku percayakan keselamatan istriku kepadamu. Aku mohon kepadamu. Selamat kan istriku dan calon anakku. Kamu tau, aku begitu mencintainya melebihi nyawaku sendiri. Berikan semua yang terbaik untuk istriku. Apapun itu. Tindakan, obat - obatan atau apapun itu. Berikan semua yang terbaik. Lakukan semua yang terbaik untuk istriku. Aku mohon kepadamu." jelas Revan. Radit mengangguk dia menepuk bahu temannya.


" Aku akan memberikan semua yang ku mampu untuk istrimu. Terima kasih atas kepercayaanmu. Kamu yang sabar. Banyak - banyak berdoa." ujar Radit. Revan mengangguk mengiyakan. Mereka berdua pun kembali memasuki ruang pemeriksaan. Terlihat Aira sudah mulai tenang. Walau air matanya masih terlihat disana.

__ADS_1


" Sus, siapkan semua nya untuk nyonya Aira. Siapkan ruang perawatan dan telepon semua dokter spesialis paru dan jantung. Katakan pada mereka ada pasien emergency." perintah dokter Radit kepada perawat disana. Perawat itu pun dengan sigap melakukan semua perintah dokter Radit.


__ADS_2