
Revan yang telah tersadar pun harus menjalani beberapa serangkaian pemeriksaan medis untuk dapat berpindah ke ruang perawatan biasa. Tidak semudah itu untuk pindah ke ruang perawatan biasa. Karena para dokter masih sangat khawatir dengan keadaannya.
Kemarin setelah melihat sendiri anaknya telah membuka mata. Atmaja langsung menghubungi Reihan dan Kinanti. Dia menceritakan semua apa yang di lihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Terdengar dari suaranya. Kalau dirinya begitu bahagia dengan sadarnya Revan kembali. Kinanti dan Reihan pun begitu senang dengan kabar yang di bawa Atmaja. Sudah lama mereka menantikan hal seperti ini. Dan akhirnya doa - doa mereka pun di kabulkan oleh Tuhan.
*****
.
.
.
Revan baru saja selesai melakukan CT scan ulang pada kepalanya dan pemeriksaan XRay pada tulang kaki serta tulang belakangnya. Revan dengan di bantu para perawat disana memakai baju yang tadi di lepaskan.
" Nanti kalau hasilnya sudah keluar akan segera saya beritahu ya dok." ujar salah seorang dokter yang membantunya. Terdengar suara helaan nafas Revan yang berat.
" Baiklah. Saya akan menunggu." jawab Revan.
Revan pun kembali ke ruang perawatan dengan di bantu dua perawat laki - laki menggunakan brankar. Dia masih belum bisa bangun dan duduk. Karena tulang belakang nya mengalami keretakan akibat kecelakaan itu. Berulang kali dirinya menghela nafas dengan berat.
Semua orang tau, jika saat ini lelaki itu sedikit mengalami stress dan frustasi akibat kondisinya saat ini. Revan tidak terbiasa melakukan apapun dengan bantuan orang lain. Tapi sekarang, dia harus mendapat bantuan orang lain untuk melakukan segala hal. Meminum air dalam gelas pun masih harus di bantu para perawat.
.
.
*****
Reihan membuka pintu kamar tempat Revan di rawat. Terlihat Revan sedang menatap langit - langit kamar tersebut dengan tatapan sedih. Reihan sudah di beri tahu oleh ayahnya soal kondisi adiknya saat ini. Kemungkinan besar Revan tidak akan bisa seperti dulu lagi.
" Hei!. Ngelamun jorok ya?." tanya Reihan saat mendekat ke arah Revan yang terbaring. Revan menoleh dan tersenyum.
" Kapan kamu datang?." tanya Revan saat melihat kehadiran kakaknya. Reihan pun duduk di kursi samping tempat tidur Revan.
" Tadi sore. Aku kebetulan ada kerjaan di sini. Sekalian mampir." jawab Reihan.
" Ooohh ... " ujar Revan. Lalu dirinya kembali diam tak bersuara. Sepi.
Reihan masih memperhatikan air muka adiknya itu. Ingin rasanya dia memeluk orang yang selalu mengajaknya bertengkar saat mereka kecil dulu. Tapi dia gengsi dan tak ingin melukai harga diri Revan saat ini. Revan juga pasti sangat sedih dan menderita dengan kondisinya sekarang.
" Apa kamu sudah tau, kalau Attar sudah pulang ke rumah?." tanya Reihan membuka percakapan.
__ADS_1
" Sudah. Dokter disini yang memberitahuku." jawab Revan dengan sedikit senyum di wajahnya. Senyuman getir.
" Dia sekarang sudah besar. Sudah bisa tengkurap dan memakan apapun yang ada di dekatnya." tukas Reihan. Revan kembali tersenyum. Sekarang dia tersenyum dengan mata yang berbinar.
" Aku ingin sekali bertemu dan menggendongnya." ujar Revan. Wajahnya kini kembali sedih.
" Tapi ... Kondisi ku saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan nya." ujarnya kecewa.
" Hei!. Kamu pasti sembuh. Kamu pasti bisa menggendong Attar. Bahkan kamu pasti bisa melihatnya sampai dia besar dan menikah lalu punya anak." jelas Reihan. Revan tersenyum mendengar ucapan kakaknya.
" Jangan putus asa!. Sekarang tugasmu hanya mematuhi semua perintah dokter untuk menjalani pengobatan." ujar kakaknya itu.
" Kamu itu bodoh atau memang bodoh beneran sih?." ejek Revan. Reihan mengernyit kan dahinya mendengar ucapan Revan.
" Kalian pikir aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku?. Berhentilah berbicara omong kosong seperti itu!. Itu membuatku semakin sakit hati!." ujar Revan dengan suara yang memberat.
Reihan terdiam. Dia masih menatap wajah Revan dengan seksama. Lalu dia menghela nafasnya secara kasar.
" Kamu pasti sem ..."
" Berhentilah bicara yang tidak masuk akal!. Aku tau aku tidak akan bisa sembuh seperti dulu!. Aku sudah tau kalau aku tidak akan pernah bisa berjalan seperti dulu!. Jadi jangan pernah berbicara kalau aku akan sembuh. Berhentilah memberiku harapan palsu!!." teriak Revan dengan keras dan di sertai air mata yang membanjiri wajahnya.
Reihan memalingkan wajahnya agar tak dapat melihat wajah Revan yang begitu menyedihkan saat ini. Hatinya seperti di sayat saat mendengar ucapan Revan.
Reihan masih menatap wajah Revan dengan seksama. Matanya sudah berkaca - kaca. Dia paham betul apa yang di rasakan adiknya saat ini. Revan pasti sangat hancur dan terpukul saat mengetahui kalau dirinya tidak akan pernah bisa berjalan seperti dulu lagi. Pasti sangat berat harus menerima kenyataan sepahit itu.
Reihan pun beranjak dari duduknya. Dia pun berjalan keluar dari kamar perawatan Revan. Saat membuka pintu, Reihan begitu terkejut saat melihat Aira sudah berdiri di depan pintu kamar itu. Reihan pun menutup pintu kamar itu dan menarik tangan Aira menjauh dari kamar Revan.
" Sedang apa kamu disini?." tanya Reihan kaget saat melihat perempuan itu. Aira hanya terdiam.
" Sepertinya Aira dengar semuanya." gumam Reihan dalam hati. Wanita itu masih diam tak bersuara.
" Kamu kesini sama siapa?." tanya Reihan lagi. Aira masih terdiam.
" Ya. Sepertinya Aira sudah dengar semua apa yang di ucapkan Revan tadi. Aira pasti kaget dan syok mendengar itu semua. Ck, Aku harus gimana ini?. Bagaimana aku menjelaskan kepadanya soal Revan?." gumam Reihan frustasi. Reihan pun memegangi tengkuknya yang mulai berat seperti tertindih beban berat.
" Apa ... Semua yang di ucapkan Revan itu benar?." tanya Aira tiba - tiba.
" Mati aku!." gumam Reihan dalam hati.
" Ya?. Kamu bicara apa?." Reihan berpura - pura tidak mendengar dan tidak mengerti apa yang di ucapkan Aira.
" Apa yang di ucapkan Revan itu benar?. Apa dia tidak bisa kembali berjalan lagi seperti dulu?." Aira mengulang lagi pertanyaannya.
__ADS_1
Reihan seperti mendapat sengatan listrik dalam tubuhnya. Bibirnya langsung keluh seketika. Aira masih menatap wajah Reihan meminta penjelasan kepada kakak iparnya itu. Kini sorot mata Aira pun seakan menelannya hidup - hidup.
" Itu ... Itu tidak seperti ... "
" Bohong!." tukas Aira.
" Ya?." tanya Reihan tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Aira.
" Kakak pasti mau berbohong kan kepadaku?." tanya Aira to the point. Reihan menelan salivanya. Dia mendapat skak match dari adik iparnya ini.
" Jangan berbohong kepadaku kak!. Katakan dengan jujur!." pinta Aira.
" Apa yang harus aku katakan padamu?." tanya Reihan menyerah.
" Semuanya. Ceritakan semuanya soal Revan padaku!. Dia tidak baik - baik saja kan?." tanya Aira dengan wajah sedih.
" Aira. Kamu jangan terlalu memikirkan keadaan Revan. Dia baik - baik saja. Dokter akan membantunya. Kamu pikirkan saja kesehatan mu dan keadaan Attar. Jangan berpikiran yang aneh - aneh dulu. Ok?." jelas Reihan.
" Apa Revan tidak akan pernah bisa jalan lagi?." tanya Aira dengan tatapan siap menusuk siapa saja yang melihatnya. Reihan menghela nafasnya.
Dia ingin sekali bicara jujur kepada Aira. Tapi dia takut. Dia takut jika Aira akan mengalami syok dan berakibat fatal pada pemulihan otaknya yang cidera itu. Bisa tambah gawat lagi nantinya.
" Siapa bilang?. Revan bisa sembuh kok. Dia akan bisa berjalan lagi nanti. Dia akan menjalani perawatan dan pengobatan seperti mu dan dia pasti bisa berjalan lagi seperti dulu." ujar Reihan berbohong.
Dia terpaksa berbohong kepada Aira. Agar Aira tidak kepikiran hal semacam ini terus menerus dan berakibat buruk pada proses penyembuhannya.
" Benarkah?." tanya Aira penuh harap.
" Benar!. Kamu gak usah khawatir ya." jawab Reihan. Aira mengangguk dan tersenyum.
" Aku ingin bertemu dengan Revan kak." pinta Aira.
" Aduh ... Revan bisa tambah ngamuk kalau melihat ku datang bersama Aira. Dia bilang kan tidak ingin di temui siapa pun. Bagaimana ini?." gumam Reihan dalam hati.
" Eehm Revan sedang istirahat sekarang. Dia barusan minum obat dan tidur. Besok saja kamu bertemu dengan Revan. Sekarang biarkan saja dia tidur." bujuk Reihan. Aira tampak berpikir sejenak.
" Baiklah. Aku tidak akan ganggu dia. Aku akan menemuinya nanti. Aku akan menunggunya disini sampai dia bangun dari tidurnya." jawab Aira.
Mati aku !!!
" Kita pulang saja yuk!. Disini banyak nyamuknya. Nanti kamu di gigit terus sakit lagi." pinta Reihan.
" Gak mau!. Aku akan tetap disini sampai Revan bangun nanti. Aku mau bertemu dengan Revan!." jelas Aira keukeh.
__ADS_1