
" Ada apa?. Kenapa kalian semua menangis?." tanya Aira yang begitu heran saat melihat ibu dan semua orang yang ada disana menangis sedih. Apalagi saat melihatnya turun dari tangga. Isak tangis dan tatapan kesedihan tertuju kepadanya.
" Sayang. Kamu yang sabar ya. Kamu masih punya mama disini. Kamu juga punya Attar. Kita semua akan selalu bersama mu." ujar Kinanti dengan suara yang memberat.
Aira menatap wajah ibunya tak mengerti. Kinanti lagi lagi memeluk tubuhnya dengan erat.
" Mbak Aira!!." teriak Santi yang baru saja datang bersama suami dan anaknya. Perempuan itu pun langsung memeluk nya dan menangis sejadinya. Kini tangis Kinanti dan Santi begitu keras hingga membuat orang yang ada disana pun ikut menangis sejadinya.
" Ini ... Ada apa sih?. Kenapa kalian semua seperti ini?. Aku gak ngerti!!." tukas Aira bingung.
Attar yang ada di dalam pelukan perawat bernama Ita pun kembali menangis. Mungkin dia kaget mendengar suara Aira yang sedikit berteriak itu. Aira pun berjalan ke arah perawat itu. Di ambil alih bayi mungil itu dalam dekapannya. Dia mencoba menenangkan Attar. Dan berhasil. Attar terlihat menguap. Tak lama kemudian bayi mungil itu pun terlelap dalam dekapan sang bunda.
" Ma. Akbar akan menyusul ke rumah sakit. Siapa tau mas Reihan butuh bantuan disana." tukas Akbar kepada Kinanti dan istrinya.
" Iya. Pergilah nak. Lihatlah keadaan disana. Kamu hati - hati ya. Jangan ngebut." ujar Kinanti. Akbar pun mengangguk mengiyakan.
Santi menggendong tubuh Bian yang tadi di gendong Akbar. Aira pun duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Santi pun mengikuti kakaknya dan duduk di sampingnya. Air mata Santi tak berhenti menetes saat melihat kakaknya sedang menggendong Attar.
" Ada apa sih?. Kenapa kamu juga menangis?." tanya Aira.
Bukannya menjawab tangis Santi pun langsung memecah kembali. Attar sampai berjingkat kaget saat mendengar suara tangis Santi. Aira pun beranjak dari duduknya dan menjauh dari sana. Agar Attar bisa melanjutkan tidurnya.
*****
Sementara di rumah sakit. Reihan tampak berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan membawa kresek plastik berisi makanan untuk pak Aziz. Perutnya terasa kenyang sekali. Dia barusan makan begitu lahap di kantin rumah sakit.
Dari kejauhan terlihat pak Aziz tengah berbicara dengan seseorang. Reihan pun memicingkan matanya mencoba mengenali siapa yang sedang berbicara dengan supir keluarga nya itu.
" Akbar!!." seru Reihan.
" Mas Reihan." sapa Akbar balik.
" Ada apa kamu kesini?." tanya Reihan.
" Gini tuan. Mas Akbar kesini katanya tuan muda meninggal dunia." jelas pak Aziz.
" Hah??!!." Reihan tercengang dengan ucapan pak Aziz.
" Iya bener mas. Di rumah sudah pada heboh. Semua orang menangis saat mengetahui berita kepergian mas Revan. Ngomong - ngomong mas Revan nya apa sudah di bawa ke kamar jenazah atau masih di ruangan ICU ya mas?." tanya Akbar.
__ADS_1
" Apa maksud mu?. Siapa yang bilang kalau Revan sudah mati?." tanya Reihan tak mengerti.
" Loh, bukannya mas Reihan sendiri tadi yang menghubungi orang rumah. Terus bilang kalau mas Revan sudah meninggal?." tanya Akbar yang tak mengerti dengan pertanyaan Reihan.
" Sembarangan aja kalau ngomong. Adikku masih hidup ya. Dia masih bernafas. Lagi pula siapa yang telepon orang rumah terus bilang Revan sudah mati." jawab Reihan kesal. Dia tak tau kalau dirinya yang membuat semua orang menangis di kediaman adiknya itu.
" Loh, kok gini sih?. Tadi katanya mas Revan meninggal?. Tapi kok mas Reihan bilang kalau mas Revan masih hidup?. Aku jadi bingung!!. Yang bener yang mana sih?." ujar Akbar kebingungan.
" Kamu dapat berita dari mana?. Jangan ngada - ngada deh. Orang masih hidup juga di bilang mati. Kamu seneng kalau adikku mati, iya!!." tanya Reihan.
" Bukannya gitu mas. Siapa juga yang seneng lihat mas Revan mati. Kasian mbak Aira dong jadi janda dua kali dia. Mbok Sum bilang tadi katanya mas Reihan telepon. Lalu bilang kalau mas Revan sudah meninggal." jelas Akbar.
Reihan baru ngeh dengan apa yang di ucapkan Akbar. Ternyata ada kesalahpahaman di sini. Reihan menghela nafasnya.
" Pasti mbok Sum salah paham. Dasar." dengus Reihan.
" Jadi gimana mas?. Yang bener yang mana?." tanya Akbar.
" Ck, gak ada yang bener. Ini itu salah paham. Iya tadi aku memang telepon mbok Sum. Tapi bukan mau ngabari soal kepergian Revan. Tapi mau mengabari kalau papa di rawat di sini karena kondisinya yang ngedrop." jelas Reihan.
" Jadi mas Revan belum meninggal?. Dia masih hidup?." tanya Akbar heran.
" Iya!!. Adikku masih hidup!!. Dia gak akan mati secepat itu. Sudah kamu pulang sana sama pak Aziz. Kamu bilang pada semuanya. Kalau ini hanya salah paham." ujar Reihan.
" Haaassshhh .... Ada - ada saja." gumam Reihan dengan memijat tengkuknya yang terasa sedikit berat itu.
.
.
.
*****
Aira kini berada di kamar Attar. Dia duduk di lantai depan box bayi tempat Attar tidur. Senyum di wajahnya sedikit mengembang ketika melihat wajah polos dan damai Attar saat tertidur. Tiba - tiba dia teringat soal foto lelaki yg ada di kamar tadi. Foto Revan.
Aira menatap wajah Attar. Kalau di perhatikan dengan seksama. Wajah Attar ketika tidur begitu mirip dengan wajah Revan. Aira menatap wajah bayi mungil itu dengan seksama.
" Kamu mirip sekali dengan dia ... Dia yg bernama Revan." tukas Aira ngomong sendiri bersama Attar yg terlelap. Tangan Aira mengusap pipi gembul bayi mungil itu.
__ADS_1
" Mama bilang, Dia yg bernama Revan itu .... Adalah ayah kamu. Dan aku adalah mama kamu. Benarkah itu?. Apa kamu juga tau hal itu?." Aira masih asyik bermonolog dengan Attar yg tertidur.
" Kamu .... Rindu dia gk?." imbuh Aira.
" Kalau kamu rindu, besok kita bertemu ya dengan dia, ayah kamu. Laki - laki yg wajahnya mirip dengan mu." ujar Aira.
" Aku mungkin tidak ingat siapa dia dan kamu. Tapi aku merasa senang saat melihatmu dan dia. Kata dokter, ingatanku akan segera kembali. Aku jadi tidak sabar. Karena banyak sekali yg ingin aku tanya kan pada dia." ujarnya lagi.
" Kamu .... Tidur yg nyenyak ya. Jangan menangis lagi. Kamu tau, suara tangisanmu itu membuat kepala ku sakit. Disini juga sakit rasanya." ujarnya sambil memegangi dadanya.
Aira beranjak dari duduknya. Dia pun menarik selimut dan menyelimuti tubuh mungil Attar. Di usapnya rambut bayi tampan itu. Lalu dia pun keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar. Bukan kamar tempat dia tidur selama ini. Tapi kamar tempat dia dan Revan dahulu banyak menghabiskan waktu.
Aira memandangi sekeliling kamar itu. Sunyi. Dia pun berjalan ke arah ranjang tenpat tidur yg besar itu. Di samping tempat tidur itu ada sebuah foto dengan senyum termanis di wajahnya. Siapa lagi kalau bukan foto dirinya yg sedang di peluk oleh Revan.
Di usapnya gambar diri lelaki itu. Hatinya terasa berdesir. Dan air matanya pun menetes membasahi foto itu.
" Benarkah kamu adalah bagian dari hidup ku?. Kenapa aku bisa tidak ingat tentang kamu?. Apa kamu ingat siapa aku?." gumamnya seorang diri.
" Aku ingin bertemu kamu. Kamu cepat bangun. Jangan tidur terus. Aku akan marah kalau kamu tidur terus." ujar Aira sambil terus mengusap foto di pangkuannya.
Aira pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar yg ada disana dengan bingkai foto dalam pelukannya. Air matanya di biarkan mengalir begitu saja. Sampai pada akhirnya dia pun terlelap di alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya jika update nya sedikit terlambat. Badannya lagi di bagi - bagi soalnya. Selain jaga diri sendiri yg mulai ngedrop + jaga wonder women di rumah sakit ( mom ). Jangan pernah bosen menunggu ku yaaa ...
Terima kasih ....