
Aira masih terlihat sesenggukan di atas bed rumah sakit. Walaupun sekarang dirinya sudah lebih tenang. Dia memandang ke arah kiri ruangan disana. Dia tidak mau menatap ke arah kanan tubuhnya. Karena disana Revan tengah duduk setia menemani di sampingnya. Dia tidak mau bertatap muka dengan lelaki itu. Dirinya malas melihat wajah yang selalu dia rindukan selama ini.
" Aira." seru Kinanti saat memasuki ruang perawatan disana. Tampak Santi yang tengah menggendong Bian dan Akbar juga turut masuk kedalam.
" Mama." ujar Aira.
" Kamu baik - baik saja kan nak?." tanya Kinanti saat mendekat ke arah putrinya. Air mata Aira langsung luruh begitu saja saat mama nya bertanya seperti itu. Seketika Kinanti memeluk tubuh anak sulungnya itu.
" Mama, Aku mau pulang!. Aku gak mau disini!. Mereka semua mau mengambil anakku!. Aku gak mau pisah sama anakku Ma!. Aku gak mau!!." ujar Aira sambil diiringi sesenggukan. Kinanti menatap wajah menantunya yang lesu. Wanita paruh baya itu tak paham dengan maksud putrinya itu. Revan hanya menunduk.
" Sudah sayang. Kamu yang tenang ya. Jangan nangis lagi. Kalau kamu begini terus, nanti tensi darah kamu gak turun - turun." ujar Kinanti. Aira melepas pelukan mamanya. Dia mengusap pipi nya yang basah dengan telapak tangannya itu.
Kinanti menatap wajah putrinya tak tega. Ini bukan kali pertama dia melihat Aira seperti ini ketika hamil. Di belai nya tambut Aira dengan lembut. Kinanti menatap selang yang melekat di tangan putrinya ini. Sungguh sangat membuatnya ingin menangis saat melihat itu. Tapi dia harus kuat di hadapan anak - anaknya.
" Kamu sudah makan nak?." tanya Kinanti pada Revan. Revan hanya menggelengkan kepala. Dia paham betul kalau menantu dan anaknya tidak akan berselera makan untuk saat ini.
" Sayang. Kamu disini sebentar ya sama Santi. Mama mau beli makanan sebentar buat kamu dan Revan." ujar Kinanti. Aira hanya mengangguk. Kinanti menatap wajah Revan dan memberi kode untuk mengikuti langkahnya keluar. Revan pun berjalan di belakang mama mertuanya itu.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kantin rumah sakit yang ada di ujung lorong tersebut. Revan hanya terdiam dan berjalan di belakang mama mertuanya itu.
Kinanti menyodorkan sebuah nasi bungkus kepada menantunya itu. Revan hanya tersenyum melihat nasi di hadapan nya saat ini. Kinanti mulai duduk di hadapannya.
" Makanlah!. Kamu harus jaga kondisi badanmu juga. Mana bisa kamu jaga anakku kalau kamu sendiri gak bisa menjaga tubuhmu." ujar Kinanti. Revan meraih nasi itu dan membuka nya. Perlahan dia mulai memakan makanan itu. Walaupun enggan, seperti yang di ucapkan ibu mertuanya. Dia harus kuat demi istrinya.
" Bagaimana kondisi Aira sebenarnya?." tanya Kinanti. Revan menghentikan makannya.
" Kondisi nya tidak baik Ma." ujar Revan. Kinanti menghela nafasnya.
" Apa karena tensi darah nya tinggi?." tanya wanita itu. Revan menggelengkan kepala nya.
" Lalu?." tanya Kinanti lagi.
__ADS_1
" Ada komplikasi di jantung Aira. Fungsi kerja jantung Aira menurun sebanyak 60%. Dan itu bisa membuat dirinya dan calon bayi di dalam perutnya meninggal sewaktu - waktu. Karena satu kali saja Aira mengalami serangan jantung secara tiba - tiba, dia tidak akan bisa di selamatkan." jelas Revan dengan mata berkaca - kaca.
Kinanti yang mendengar itu pun begitu terkesiap. Dia tidak menyangka kalau kondisi putrinya begitu mengkhawatirkan seperti saat ini. Revan mengusap air matanya yang mulai jatuh. Kinanti membuka botol air minum di dalam botol dan memberikan kepada menantunya itu. Revan meraih botol tersebut dan meminumnya.
" Lalu?. Tidak ada jalan keluar kah untuk masalah ini?." tanya Kinanti. Revan menghela nafasnya.
" Ada. Hanya ada satu jalan Ma. Bayi dalam perut Aira harus di keluarkan. Hanya itu satu - satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa nya." ujar Revan.
" Tapi bayi itu masih kecil Revan. Dia masih belum cukup umur. Apakah dia akan bisa bertahan hidup di luar setelah di lahirkan?." tanya Kinanti sedih.
" Kemungkinan hidup hanya 30%. Karena rata - rata bayi dengan kelahiran prematur jarang sekali bisa survive di luar rahim. Karena semua organ tubuhnya masih belum berfungsi sebagaimana mestinya. Akan banyak komplikasi dan berbagai virus yang akan menyerangnya." jelas Revan. Kinanti pun menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Revan. Sangat miris sekali hidup putri dan calon cucunya.
" Apa dengan di keluarkannya bayi tersebut, Aira bisa sembuh?." tanya Kinanti.
" Kemungkinan sembuh itu ada. Dan peluang nya juga besar. Karena nantinya Aira akan menjalani pengobatan secara rutin. Dengan bantuan obat - obatan yang di berikan dan pemeriksaan dengan peralatan yang memadai itu bisa membuatnya sembuh walaupun tidak bisa 100% seperti sedia kala." ujar Revan.
" Tapi ada satu masalah lagi setelah nya Ma." tukas Revan sambil memandang wajah ibu mertuanya itu.
" Masalah?. Apa?." tanya Kinanti.
Kinanti sampai melongo mendengar penjelasan Revan. Itu akan menjadi masalah yang sangat besar dan serius untuk putrinya. Kinanti sangat tau kalau Aira begitu mendambakan seorang anak dalam hidupnya. Bahkan saat dirinya mengetahui jika dirinya tengah hamil, dia begitu sangat bahagia. Tak ada kebahagiaan yang begitu dalam selain dirinya tengah mengandung anaknya. Dan sekarang dia harus menjalani mimpi buruk yang begitu menyesakkan hati.
" Apa tak ada cara lain Van?. Kamu tau sendiri kan, Aira begitu ingin sekali mempunyai anak. Bagaimana perasaannya nanti jika dia tidak bisa menjadi ibu lagi. Dia pasti akan sangat hancur Van." ujar Kinanti. Revan terdiam.
" Apa Aira tau hal ini?." tanya Kinanti. Revan menggelengkan kepala nya.
" Aira tidak tau kalau dirinya tidak bisa menjadi ibu lagi Ma. Revan gak sanggup bilang kepadanya." ujar Revan sambil mengusap air matanya yang menetes lagi.
" Aku harus bagaimana Ma?. Aku merasa tidak berguna saat ini. Aku akan menjadi pembunuh untuk anak - anakku dan aku akan menjadi pembunuh untuk istriku sendiri." tukas Revan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dia kembali menangis. Kinanti mengusap kepala Revan.
" Nak. Ini ujian buat kalian berdua. Kamu yang tabah, yang kuat. Semua sudah ada takdir masing - masing." ujar Kinanti sambil mengusap pipi nya yang mulai basah dengan air mata.
__ADS_1
" Kamu sangat mencintai Aira kan?." tanya Kinanti. Revan mengangguk.
" Kalau kamu mencintai nya, lakukan yang terbaik untuk dirinya. Karena semua keputusan ada di tanganmu. Kamu suaminya. Sholat istikaharah nak. Minta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Minta tunjukkan jalan yang terbaik." ujar Kinanti.
" Apa kamu tidak apa - apa nantinya jika kalian tidak bisa memiliki anak?." tanya Kinanti ragu. Dia takut anaknya akan di tinggal kan oleh lelaki yang di cintainya seperti yang sudah - sudah.
" Revan gak perduli Ma. Asalkan Revan selalu bersama Aira. Masalah anak, nanti kita bisa adopsi." jawab Revan. Kinanti merasa sedikit lega mendengar ucapan Revan.
" Ayo kita kembali ke kamar. Aira pasti sudah menunggu." ujar Kinanti. Revan pun mengangguk. Mereka pun kembali ke ruangan tempat Aira di rawat.
******
Jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Aira terlelap dalam tidurnya. Sementara Revan setia duduk di sampingnya sambil memperhatikan wajah istrinya itu. Dia tak hanya sendiri. Kinanti malam ini menginap bersama anak dan menantunya itu. Wanita paruh baya itu tertidur di atas sofa yang ada di ruangan itu. Ya karena Aira menginap di ruang perawatan VVIP jadi fasilitas disana pun sangat memadai.
Terlihat Revan berulang kali menguap menahan kantuk. Di sangat mengantuk sekali tetapi entah mengapa matanya sangat sulit untuk terpejam. Dia memilih untuk duduk dan berdzikir di samping istrinya itu.
Saat dirinya mulai memejamkan matanya untuk beberapa menit. Revan di kejutkan dengan Aira yang tiba - tiba mengalami kejang. Sontak matanya langsung terbuka dan dirinya menepuk - nepuk pipi istrinya itu.
" Sayang. Sayang. Sayang kamu kenapa?." teriak Revan sambil menepuk pipi istrinya agar segera sadar. Kinanti yang mendengar Revan berteriak pun bangun dan menghampiri Revan.
" Ada apa Van?. Kenapa Aira seperti ini?." tanya Kinanti panik melihat tubuh anaknya terus mengejang.
" Aira kejang Ma. Mama tunggu sini aku panggil dokter jaga dulu." tukas Revan lalu berlari keluar meminta bantuan.
" Ya Allah nak kamu kenapa sih?. Aira sayang, bangun nak. Sadar nak." ujar Kinanti sambil menepuk pipi Aira.
Revan kembali ke kamar di iringi beberapa dokter jaga dan perawat disana. Revan terus menepuk pipi istrinya agar wanita itu segera sadar. Perawat disana segera menensi darah Aira dan denyut nadinya.
" Tensi darah 210/110 dok. Denyut nadi 80." ujar perawat disana. Revan dan para dokter disana begitu terkejut mendengar angka pada tensi darah dan denyut nadi.
Revan dengan sigap menarik selang oksigen dan memasangkan ke wajah istrinya. Dia pun terus melakuka CPR pada dada istrinya agar istrinya mendapat asupan oksigen di paru - paru dan otaknya. Dokter disana pun memijat telapak kaki Aira untuk memulihkan kesadarannya.
__ADS_1
Cukup lama Revan melakukan CPR, tapi istrinya tak kunjung sadar. Dia takut kalau istrinya tak kunjung sadar, wanita itu akan mengalami kelumpuhan pada otaknya dan serangan jantung tiba - tiba. Sedangkan semuanya itu tidak boleh terjadi kepada Aira. Karena akan berakibat fatal untuk wanita itu.
Sayang. Aku mohon sadarlah. Jangan membuatku takut seperti ini. Aku tidak mau kehilangan mu. Aku tidak mau. Aku tidak bisa kehilangan mu. Cepat sadarlah.