Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 85 Ingin Sekali Makan Rujak !!


__ADS_3

Setelah selesai dengan jadwal operasi, Revan menuju ruang ganti medis. Dia mengambil ponsel miliknya yang berada di loker pakaian. Di aktifkannya ponsel tersebut. Ada 2 panggilan tak terjawab dari istrinya. Revan tersenyum saat mengetahui itu.


" Sudah selesai dok?." tanya salah satu rekan Revan yang berada di ruang ganti tersebut.


" Iya. Baru saja. Baru mau masuk?." tanya Revan balik.


" Iya." jawabnya.


" Ok. Saya duluan ya." tukas Revan lalu beranjak dari tempat itu.


Dia berjalan melewati lorong demi lorong rumah sakit untuk menuju ruang kerjanya. Terlihat beberapa pasien ada di ruang tunggu tempat nya bekerja. Dengan senyum ramah dia pun memasuki ruangannya.


" Dok tadi ada pasien yang mengalami pendarahan saat sedang menunggu di ruang tunggu." lapor salah satu perawat yang masuk bersamaan dengan dirinya.


" Lalu?." tanya Revan.


" Dokter Radit sudah mengirimnya ke ruang ICU dan sedang memeriksanya. Maka dari itu pasien dokter Radit saya limpahkan kepada dokter Revan untuk di periksa. Karena dari tadi dokter Radit belum kembali." ujar perawat itu sambil menyerahkan berkas rekam medis milik temannya.


" Ok baiklah. Panggil pasien selanjutnya." tukas Revan sambil menuju wastafel untuk mencuci tangannya.

__ADS_1


Satu persatu para pasien di periksa oleh Revan dengan telaten dan teliti. Dia sampai melupakan dan mengabaikan panggilan telepon dari istrinya tadi. Dia sendiri pun juga lupa akan perutnya yang belum terisi sama sekali dari pagi.


Jam sudah menunjukkan jam makan siang. Tapi pasiennya masih ada 3 orang di depan ruang tunggu. Dia menghela nafasnya menahan letih yang datang menghinggapi nya. Terpaksa dia pun menunda jam makan siangnya terlebih dahulu. Kasian jika para pasiennya ini harus menunggu nya selesai makan siang terlebih dulu.


" Dok sudah makan siang?." tanya Radit temannya yang langsung masuk ke dalam ruangannya. Terlihat Revan tengah memeriksa pasien nya di depan layar USG. Dokter Radit pun berdiri di samping nya sambil ikut melihat layar di depan temannya itu.


" Gimana pasien yang tadi?." tanya Revan.


" Bukan pendarahan yang serius. Aku sudah menyuntikkan penguat kandungan. Karena sayang kalau harus di keluarkan sekarang. Masih 30 minggu usianya ( usia kandungan ). Aku akan tunggu sampai 3 jam kedepan. Kalau masih pendarahan, ya mau gimana lagi. Terpaksa di keluarkan. Keselamatan ibunya lebih penting dari segalanya." jelas dokter Radit. Revan hanya terdiam dan mengangguk saja.


" Aku mau ke kantin. Mau titip sesuatu?." tanya Radit.


" Kamu sakit maag?. Sejak kapan?." tanya Radit.


" Sejak tadi. Perut ku rasanya gak nyaman. Mual dan gqk enak banget rasanya. Mungkin gara - gara aku belum sarapan tadi pagi." ujar Revan.


" Ya elah udah punya istri masih saja gak sarapan. Istri mu gak masak?." bisik Radit menggoda.


" Dia istri ku. Bukan pembantu. Aku menikahi nya bukan untuk ku suruh masak dan beres - beres." jelas Revan sebal. Radit yang mendengar itu pun hanya tergelak.

__ADS_1


" Ok aku pergi dulu." tukasnya lalu beranjak meninggalkan ruangan Revan.


Kurang lebih satu jam Revan mundur dari jam makan siang untuk memeriksa ketiga pasiennya. Setelah beres semua. Dia menuju kantin untuk membeli makan siang sebelum dia menuju ke ruang perawatan.


Dia sungguh tidak berselera untuk makan rasanya. Makanan yang barusan di belinya hanya di aduk - aduk tanpa di makannya sama sekali. Perutnya terasa penuh ketika melihat makanannya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan makanannya itu dan berlalu pergi.


Sebelum dia pergi dari kantin, dia melihat ada susunan rujak manis yang di pajang rapi di meja salah satu pedagang yang ada di kantin tersebut. Rujak itu begitu menggoda nya. Apalagi saat melihat irisan buah kedondong, rasanya air liur nya ingin sekali menetes.


Tanpa pikir panjang dia pun membeli dua cup rujak manis tersebut dan membawanya duduk kembali ke salah satu meja yang ada di kantin. Dia sungguh tak sabar ingin memakan rujak manis itu. Padahal dia tidak begitu menyukai makanan yang pedas dan asam. Tapi kali ini dia begitu menyukai makanan bercita rasa asam dan pedas itu.


Tanpa sadar dia sudah menghabiskan satu cup rujak manis tersebut. Rasanya puas sekali bisa makan rujak itu. Perutnya pun juga langsung kenyang padahal dia hanya makan rujak dalam cup yang tidak begitu besar itu. Masih tersisa satu cup lagi. Dia pun tidak memakannya dan memasukkan ke dalam kantong plastik.


Dia pun berjalan menuju ruang perawatan yang ada di lantai 3 rumah sakit tersebut. Setiap selesai dengan urusan pasien di ruang poli kandungan, dia dan Radit di wajibkan datang ke ruang perawatan untuk mengecek satu persatu pasien rawat yang ada di sana. Siapa tau ada yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.


Dia pun melihat Radit temannya sudah melakukan kunjungan ke beberapa bed pasien yang ada di sana. Revan meletakkan bungkusan rujak yang di bawa nya di salah satu meja yang ada disana. Perawat yang melihat nya pun tercekat dan bertanya - tanya dalam diri mereka.


Tumben dokter Revan makan rujak. Biasanya dia selalu menolak kalau di kasih makanan itu. Gumam salah satu perawat.


Dia pun menyusul temannya Radit, menuju ruang perawatan para pasien nya itu.

__ADS_1


__ADS_2