Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 106 Butuh Istirahat


__ADS_3

Revan terlihat sangat kelelahan. Saat di rasa istrinya sudah tertidur, dia pun keluar dari ruangan itu. Terlihat Kinanti dan Santi berada di luar ruang ICU.


" Gimana keadaan Aira?." tanya Kinanti cemas.


" Kondisi nya sudah membaik Ma. Sekarang dia sedang tidur." ujar Revan. Kinanti dan Santi terlihat lega mendengar itu.


" Lalu anak kalian?." tanya Kinanti lagi.


" Dia ada di ruang Niccu Ma. Kondisi nya juga gak stabil. Kita berdoa saja dia bisa survive dan dapat bertahan hidup." jawab Revan.


Revan terlihat pucat sekali. Karena dia memang kelelahan dan belum makan apapun dari pagi.


" Kamu pulang saja Van. Istirahat lah!. Biar mama yang jaga disini." tukas Kinanti saat melihat wajah Revan yang begitu lelah dan pucat itu. Revan tersenyum kepada mama mertuanya itu.


" Mama gak usah khawatir. Aku baik - baik saja kok. Aku akan tetap disini menemani Aira dan anakku." jelas Revan.


" Tapi mas, mas Revan terlihat lelah dan pucat. Nanti mas bisa sakit kalau memaksa kan diri seperti itu." tukas Santi.


" Santi benar. Pulang lah!. Biar mama yang disini. Kamu istirahat dan jangan lupa makan lalu tidur. Besok kamu bisa kesini lagi." jelas Kinanti. Revan menghela nafasnya berat. Dia sangat ingin berada disini bersama dengan anak dan istrinya. Tapi dia juga bisa tumbang lama - lama kalau tidak tidur dan makan.


" Baiklah. Aku akan pulang Ma. Tapi mama kabari aku segera jika terjadi apa - apa ya." ujarnya sebelum pergi.


" Pasti. Kamu naik taksi saja. Jangan bawa mobil sendiri. Kondisi mu sedang kurang sehat." tukas Kinanti. Revan mengangguk mengiyakan ucapan ibu mertuanya itu.


*****


Revan menuruti ucapan Kinanti untuk pulang dengan taksi. Sesampainya di rumah, mbok Sum dan mbak Aminah begitu senang saat melihat tuan muda nya pulang. Di kira Aira juga ikut bersama dengan Revan.


" Loh tuan, nona kemana?. Kok tidak ikut pulang?." tanya mbak Aminah.

__ADS_1


Revan menghela nafasnya berat. Dia sampai lupa tidak mengabari para penghuni rumahnya kalau Aira telah melahirkan dan masih di rawat di rumah sakit. Dia pun sampai lupa tidak membawa ari - ari atau plasenta bayi nya yang masih berada di rumah sakit.


" Aira masih berada di rumah sakit mbak. Dia tadi siang sudah melahirkan." ujar Revan.


Mbok Sum dan mbak Aminah begitu kaget mendengar ucapan Revan. Mereka pun tampak senang juga terheran. Kenapa nona muda nya begitu cepat melahirkan?. Padahal setau mereka usia kandungan Aira masih belum waktunya untuk melahirkan.


" Aira sakit mbok. Maka dari itu bayi nya harus segera di lahirkan. Oh iya mbak, dimana pak Aziz?. Saya sampai lupa tadi tidak membawa ari - ari bayi nya pulang. Saking banyak sekali yang ku pikirkan." jelas Revan.


" Ada tuan. Mungkin di belakang." ujar mbak Aminah.


" Panggil pak Aziz kemari mbak. Saya tunggu." tukas Revan. Mbak Aminah pun segera menyusul suaminya yang ada di belakang rumah ini.


" Mau saya buatkan kopi tuan?." tanya mbok Sum.


" Enggak mbok. Saya lagi gak pengen apa - apa." jawab Revan. Mbok Sum masih menatap wajah Revan dengan seksama. Dia tau kalau lelaki di hadapannya yang sudah di anggap seperti anak sendiri ini sedang bersedih hatinya.


Tiba - tiba tangan mbok Sum membelai kepala Revan dengan lembut. Mata mbok Sum juga mulai berkaca - kaca seperti ingin menangis. Revan begitu terkesiap saat melihat tangan wanita yang seperti ibunya itu membelai kepala nya.


Revan yang mendengar itu pun, dadanya tiba - tiba begitu sesak. Dia sudah tidak sanggup menahan beban berat itu sendirian. Revan pun menangis sejadinya. Mbok Sum yang melihat Revan menangis itu pun ikut menangis.


" Menangislah!. Jangan di tahan!. Keluarkan semua apa yang ada di hatimu!." ujar mbok Sum. Suara tangisan Revan pun semakin keras memecah keheningan rumah itu. Mbak Aminah dan suaminya sampai berdiri mematung melihat tuan muda nya seperti itu. Belum pernah dia melihat tuan muda nya menangis sejadinya seperti sekarang ini.


*****


Kinanti berada di luar ruang tempat Aira di rawat bersama dengan Akbar suami Santi. Akbar tidak tega kalau melihat mama mertuanya itu harus berjaga di rumah sakit seorang diri. Santi sudah pulang ke rumah sore tadi. Dia tidak pulang ke rumah kontrakannya. Tapi dia pulang ke rumah ibu nya Akbar. Karena tadi siang dia menitipkan Bian sebentar di rumah mertuanya.


Kinanti terlihat tertidur dengan posisi duduk. Sedangkan Akbar masih terjaga walaupun terlihat beberapa kali menguap menahan kantuk. Tangannya masih memegang ponsel untuk melakukan streaming pertandingan bola klub favoritnya.


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Lorong rumah sakit terlihat begitu sepi. Hanya ada beberapa orang yang sama seperti Kinanti dan Akbar. Yaitu menjaga kerabat dan keluarga mereka yang sedang di rawat di ruang ICU.

__ADS_1


*****


Tadi selepas makan malam, Revan pun masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi. Mungkin dia sedang beristirahat. Karena memang semenjak Aira masuk rumah sakit, dia tidak tidur sama sekali.


Pak Aziz pun juga sudah mengambil plasenta anak Revan yang tertinggal di rumah sakit dan menguburnya sesuai dengan adat yang ada.


Mbok Sum merasa sangat kasihan dengan tuan muda nya itu. Dia harus mengalami hal buruk dan menyedihkan seperti sekarang ini. Baru saja dia bahagia dengan wanita pilihannya itu. Sekarang harus merasakan kesedihan yang begitu parah perihal istri dan anaknya itu.


Diam - diam tanpa sepengetahuan Revan, mbok Sum pun menghubungi nomor ponsel Reihan. Karena mbok Sum tau, kalau saat ini Revan sangat butuh keluarga nya untuk memberikan semangat dalam hidupnya lagi.


" Apa mbok?!." seru Reihan tak percaya saat mendengar penjelasan dari mbok Sum soal Aira dan bayi mereka.


" Iya tuan. Saya mohon maaf tuan. Tidak memberi kabar sebelumnya. Saya saja baru tau tadi saat tuan muda pulang ke rumah." jelas mbok Sum.


" Jadi sekarang Aira dan anaknya masih di rumah sakit mbok?." tanya Reihan.


" Benar tuan." jawab mbok Sum.


" Rumah sakit mana mbok?. Besok saya akan segera kesana." tanya Reihan.


" Rumah sakit tempat tuan muda bekerja, tuan." jawab mbok Sum.


" Oohh saya tau mbok. Terima kasih ya mbok atas informasinya. Kalau ada apa - apa langsung hubungi saya ya mbok." ujar Reihan.


" Baik tuan. Tapi tuan, saya mohon tuan jangan bilang ke tuan muda kalau saya yang mengasih tau soal ini. Saya takut tuan muda akan marah besar sama saya tuan." pinta mbok Sum. Reihan menghela nafas. Dia tahu betul sifat adik nya itu.


" Iya mbok. Saya gak akan bilang ke Revan. Kalau mbok Sum yang kasih tau saya." janji Reihan kepada mbok Sum.


Reihan pun mematikan panggilan telepon nya bersama mbok Sum. Dia pun terlihat begitu kaget dan cemas dengan kondisi adik iparnya itu.

__ADS_1


" Bisa - bisanya anak itu tidak mengabari siapa pun soal kabar yang begitu besar seperti ini?. Apa dia sudah tidak menganggap aku ini keluarganya apa?. Huh, dasar kepala batu !!." dengus Reihan kesal dengan sikap adiknya itu.


Apa aku kasih tau papa ya soal ini?. Tapi papa akan memaafkan dan menerima mereka atau malah tidak perduli ya sama mereka?. Aduuhh serba salah kan jadinya. Ngomong salah, gak ngomong juga salah. Aku harus gimana dong. gumam Reihan bimbang dalam hati.


__ADS_2