Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 28 Melamar ( 2 )


__ADS_3

To : Aira


Sore nanti aku ke rumah mu bersama Kak Reihan ...


Aira membaca pesan dari kekasihnya itu. Ia menghela nafas nya. Dia semakin khawatir dengan hubungan mereka saat ini.


" Dek ... Ayo kita bereskan rumah ini. Nanti ada tamu soalnya." seru Aira pada Santi.


" Tamu ?!. Tamu siapa mbak?!." tanya nya tak mengerti.


" Nanti sore Revan sama kakaknya mau kesini." jelas Aira.


Santi tampak sumringah mendengar ucapan kakaknya itu.


" Mereka mau ngelamar mbak ?!." tanya Santi kaget bercampur senang.


" Ngawur. Mau silaturahmi saja tau." tukas Aira.


" Sama aja. Toh ujung - ujung nya bicarain soal pernikahan." ujar Santi senang.


Aira tampak lesu tak bersemangat sama sekali. Pikirannya masih kalut.


Satu jam kemudian. Rumah mereka sudah bersih dan rapi. Aira mengusap peluh nya yang bercucuran di pelipisnya.


" Santi mandi dulu ya mbak. Udah gerah nih." pinta adiknya.


Aira tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Aira duduk di lantai rumah nya dan memangku Bian. Bian sedari tadi melihat mamanya dan dirinya sibuk merapikan rumah.


Aira begitu terhibur dengan tingkah lucu keponakannya itu. Perlahan dia mulai sedikit melupakan kalut dalam hatinya.


Santi pun tersenyum melihat kedua orang di ruang tamu itu begitu akrab. Seperti seorang ibu dan anaknya sendiri.


" Mbak. Cepet mandi sana. Biar seger." seru Santi. Aira pun beranjak menuju kamar nya.


Dia menatap jam di dinding. Sudah pukul 3 sore. Dia menghela nafas nya kembali. Kenapa waktu berputar sangat cepat. Gumamnya.


*****


Sementara di kediaman Revan. Revan telah rapi mengenakan celana jeans biru dongker dengan kemeja lengan pendek berwarna coklat muda. Dengan rambut yang tersisir rapi dan memegang kotak perhiasan yang telah di siapkan.


Reihan keluar dari kamar nya dan memperhatikan adiknya dengan seksama.


" Kamu sudah menyiapkan semuanya dari awal." tanya kakaknya.


Revan mendongak melihat kakaknya yang berdiri di depannya tepat.


" Ini bukan cincin. Tapi ini kalung punya mama. Papa memberikannya kepadaku. Untuk di berikan kepada orang yang ku cintai dan ingin ku miliki selamanya." jelas Revan.


Rei berdecak mendengar penuturan adiknya yang berubah puitis akibat di landa cinta itu.


" Menikah itu tak seindah pacaran Van. Kamu yakin akan melangkah sejauh ini dengan ira." ujar kakaknya.

__ADS_1


" Ck, Aira namanya. Suka banget ganti nama orang." cibir Revan.


" Sama saja. Baiklah. Ayo kita ke rumah Perempuan idaman mu itu. Kita lihat apa dia mau menikah dengan adikku yang buruk ini." seru Reihan dan berjalan mendahului adiknya itu.


Revan tergelak mendengar ucapan kakaknya itu. Dia pun beranjak dan melangkah di belakang kakaknya itu.


*****


Sesampainya mereka di gang rumah Aira. Revan memarkirkan mobilnya di tempat biasa dia parkir. Lalu dia mengajak kakaknya turun dan berjalan memasuki gang tersebut.


Reihan memandang sekitar. Dia heran kepada adiknya itu. Dia tau biasanya adiknya itu anti dengan tempat seperti ini. Sungguh cinta telah merubah semuanya. Gumam Rei dalam hatinya.


" Assalamualaikum .. " seru Revan sambil mengetuk pintu rumah Aira yang tertutup itu.


Terdengar suara balasan dari dalam.


Ceklek !!


Suara pintu di buka. Aira berdiri sambil menatap kedua lelaki tampan di hadapannya itu. Reihan menatap wajah Aira dari atas sampai bawah.


" Silahkan masuk." tukas Aira saat melihat kekasihnya datang tak sendiri. Santi pun keluar dari kamar dan menghampiri tamu mereka.


" Hai Bian. Lagi apa?." sapa Revan saat melihat Bian mengekor pada mama nya itu. Dia tampak malu - malu kepada Revan.


Mereka bertiga pun duduk secara lesehan. Karena rumah Aira tak memiliki sofa untuk mereka duduk.


Reihan diam dan mengamati semua yang ada disana. Entah itu Aira, adiknya dan kondisi rumah yang mereka tinggali.


Revan menyenggol lengan kakaknya yang mengamati rumah itu bak detektif. Reihan menoleh dan menghentikan aktivitasnya itu.


" Eehhmmm Ra, ini kakak ku kak Reihan." seru Revan memperkenalkan kakaknya kepada kekasihnya itu. Reihan pun memasang senyum dan menjulurkan tangannya menunggu di jabat oleh kekasih adiknya itu.


" Saya Aira, Kak." ujar Aira sungkan sambil meraih jabatan tangan calon kakak iparnya itu.


" Kakak akan ngomong secara inti saja ya padamu, Ra. Karena saya tidak suka basa - basi." tukas Reihan langsung. Revan melotot ke arah kakaknya itu. Reihan tak menghiraukannya.


" Seminggu yang lalu aku di telepon oleh Revan. Dan dia katanya ingin menikah denganmu. Apa kamu tau rencana Revan tersebut?." tanya Reihan to the point.


" Iya saya tau. Revan juga sudah memberi tahu saya." jawab Aira gugup karena langsung di serang dengan pertanyaaan inti itu.


" Revan juga banyak cerita tentangmu, masa lalumu, dan semua yang dia ketahui tentangmu kepadaku. Intinya begini. Aku sebagai kakak dari Revan, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk adikku saja. Tak lebih. Untuk keputusan menikah, itu ada di tangan kalian berdua. Kalau bicara masalah restu, walau pun aku tak merestui, Revan pun tak akan perduli dengan ucapanku." jelas Reihan.


Revan pun tersenyum mendengar penjelasan kakaknya itu.


" Yang paling penting menurutku. Revan masih memiliki seorang ayah. Walau pun Revan bisa menikah tanpa memberi tahu kepada ayahnya itu. Tapi setidaknya kalian masih menghormati beliau. Jadi sebaiknya kalian memberi tahu orang tua kalian masing - masing agar pernikahan kalian bahagia kelak. Karena menikah tanpa restu orang tua itu pedih. Tidak akan bahagia hidup pernikahan kalian kelak." ujar Reihan.


Aira dan Revan terdiam mendengar ucapan Reihan itu.


" Jadi Aira, apa kamu masih bersedia menikah dengan adikku ini?." tanya Reihan.


Aira terdiam dan menatap wajah Reihan bergantian menatap wajah Revan. Revan pun menatap wajah kekasihnya itu. Ada guratan ketakutan di wajah tersebut.

__ADS_1


Sebuah anggukan kepala menjadi jawaban Aira. Dia mengangguk mengiyakan pertanyaan Reihan. Revan pun tersenyum dan bernafas lega melihat jawaban kekasihnya itu.


" Baiklah kalau kamu bersedia. Kalian berdua harus memberi tahu kedua orang tua kalian akan niat kalian untuk bersama ini. Masalah aku, Aku merestui kalian berdua. Karena aku ingin adikku menikah dengan orang yang di cintainya dan hidup bahagia." jelas Reihan sambil memandang wajah adiknya.


Revan tergelak mendengar ucapan kakaknya itu. Reihan pun tersenyum melihat kelakuan adiknya itu.


" Hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Selebihnya biar Revan saja yang menyampaikan." tukas Rei.


Aira pun menatap Revan. Dia ingin tau Revan ingin menyampaikan apa.


" Heemmm Ra .... Aku ingin ngomong sesuatu kepadamu." seru Revan.


" Sudah ngomong aja. Gak usah bertele - tele gitu." cibir Reihan.


Aira pun tersenyum mendengar ucapan calon kakak iparnya itu. Sementara Revan melotot ke arah kakaknya yang mengganggu konsentrasinya itu.


" Menikahlah denganku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia di sisa umurku selamanya." ucap Revan.


Aira merasa tersentuh dan geli mendengar ucapan Revan barusan. Dia memandang wajah kekasihnya itu lalu tersenyum mengangguk mengiyakan permintaan Revan tersebut.


Revan pun tersenyum dan langsung memeluk tubuh kekasihnya itu secara spontan karena merasa sangat bahagia. Aira tercekat melihat kelakuan Revan yang tidak tau malu itu.


Dia tidak sungkan sama sekali memeluk tubuhnya di hadapan kakaknya itu. Reihan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya itu.


Santi yang keluar dari dalam membawa nampan berisi minuman dan toples makanan pun tertegun melihat aksi calon kakak iparnya itu.


" Hei sudah - sudah. Kamu itu tidak tahu malu ya. Main peluk saja." jelas Reihan sambil menarik tubuh adiknya itu.


Wajah Aira merona karena malu akibat ulah kekasihnya itu. Sementara Revan hanya tersenyum melihat semuanya.


Santi pun tertawa melihat kelakuan para kakak - kakak nya itu. Lalu Revan menyodorkan sebuah kotak perhiasan kepada Aira.


" Ini milik almarhumah mama ku. Dia ingin memberikan ini kepada calon menantunya kelak. Aku harap kamu bersedia menerima nya." Ucap Revan sambil membuka kotak perhiasan tersebut.


Disana terlihat sebuah kalung dengan batu permata besar di tengahnya. Aira begitu terkejut melihat perhiasan tersebut. Dirinya merasa tidak pantas menerima itu semua.


Revan pun mengambil kalung tersebut lalu memasang kan di leher Aira.Terlihat sangat cantik ketika terpasang di leher wanita tersebut.


" Besok aku akan ikut kak Reihan pulang menemui ayahku. Aku akan membawa beliau untuk menemui orang tuamu dan memgambil dirimu untuk menjadi milikku selamanya." ujar Revan.


Aira pun tersenyum mendengar ucapan Revan itu. Dia mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu. Revan begitu ingin mendekap tubuh wanita itu lagi. Tapi di urungkannya. Pasti kakaknya akan menarik tubuhnya kembali.


Jadi Revan hanya harus puas melihat kekasihnya itu.


~ **Happy reading ~


Hai readers ...


Maaf ya telat upload. Aithor lagi terkena flu berat soalnya. Meriang banget rasanya ....


Tetep kasih lile, koment, dan vote nya ya** ...

__ADS_1


__ADS_2