Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 75 Kembali Berduka


__ADS_3

Makan malam pun telah tersedia di atas meja makan. Aira dan Revan pun bergegas untuk menuju ruang makan. Karena perut mereka sudah sangat keroncongan.


Saat di ruang makan, Aira terlihat telaten sekali melayani suami nya itu. Mereka berdua tampak sangat bahagia sekali. Sesekali candaan di lontarkan Revan untuk istrinya tersebut.


Selesai makan, Aira membantu mbok sum untuk membereskan meja makan. Walaupun berulang kali di tolak oleh mbok sum, Aira tetap saja tak menghiraukan nya. Dia tetap saja bersikeras ingin membantu membereskan. Setelah selesai, Aira membuatkan jus mangga untuk suaminya yang tengah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Aira pun duduk di samping Revan dengan semangkuk salad buah yang ada di kulkas.


" Kamu masih lapar?." tanya Revan saat melihat istrinya dengan semangkuk salad buah di pangkuannya.


" Enggak sih. Cuma lagi pengen makan salad buah aja." jawabnya.


Aira menyuap salad buah tersebut ke dalam mulutnya. Dia begitu menyukai makanan yang manis sehabis makan.


" Gimana kerjaan kamu?." tanya Aira memecah keheningan.


" Baik - baik saja." jawab Revan santai.


" Oohh gitu." seru Aira.


Mereka melanjutkan menonton televisi yang ada di depannya. Cukup lama mereka berdua saling membisu satu sama lain. Tiba - tiba ponsel Aira yang ada di saku bajunya berbunyi. Tertulis nama ' Santi ' di layar ponsel tersebut.


" Hallo. Ada apa dek?." tanya Aira saat mendengar suara di balik ponsel.


" Hallo mbak aira. Mbak nenek masuk rumah sakit." jelas Santi.


" Apa?!. Kok bisa?. Kenapa?." tanya Aira kaget. Revan langsung menoleh ke arah istrinya saat mendengar Aira sedikit berteriak itu.


" Enggak tau. Ini aku masih di rumah. Bentar lagi aku mau kesana. Barusan mama telepon aku, katanya nenek tiba - tiba pingsan dan langsung di bawa ke rumah sakit." jawab Santi dengan suara yang panik.

__ADS_1


" Ya sudah kalau gitu. Mbak akan nyusul kesana." jelas Aira lalu mematikan panggilan teleponnya.


" Ada apa sayang?." tanya Revan bingung.


" Nenek masuk rumah sakit. Kita harus kesana Revan." jelas Aira.


" Ayo kita kesana. Sebentar aku ganti baju dulu." ujar Revan.


Mereka berdua pun beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian. Revan juga menyuruh Aira memakai jaket. Karena udara di rumah sakit kalau malam sangatlah dingin. Setelah selesai, mereka berdua pun bergegas menuju rumah sakit.


Saat di perjalanan, Aira sempat menghubungi Santi. Aira meminta Santi untuk ikut dengan mobil mereka saja. Karena ini sudah malam. Kasian Bian kalau di ajak naik motor malam - malam. Santi pun mengiyakan ucapan kakaknya.


Terlihat Santi, Bian dan juga Akbar sudah berdiri di depan gang rumah mereka. Revan pun langsung menepi kan mobilnya. Santi, Bian dan Akbar pun masuk ke dalam mobil. Dan mereka semua bergegas menuju rumah sakit tempat nenek nya di rawat.


" Mama di rumah sakit sama siapa dek?." tanya Aira kepada Santi.


Tak lama kemudian, mobil Revan pun telah sampai di halaman rumah sakit tempat nenek di rawat. Mereka pun turun dan bergegas masuk kedalam. Mereka menuju ruang ICU yang ada di ujung rumah sakit itu.


Terlihat mama, tante kartika dan suaminya sudah ada disana. Aira dan yang lain mempercepat langkah mereka untuk menemui mama nya.


" Mama." seru Aira. Kinanti pun menoleh dan langsung memeluk tubuh anak perempuan nya itu. Air mata Kinanti pun tak terbendung lagi.


" Mama yang tenang ya. Jangan panik. Nenek pasti baik - baik saja." bujuk Aira. Kinanti mengusap air matanya.


" Iya sayang. Maaf sudah merepotkan kalian malam - malam begini." ujar Kinanti sambil mengusap pipi Santi dan Aira.


" Tidak ma. Mama tidak merepotkan kok." tukas Santi dan langsung memeluk tubuh mama nya.

__ADS_1


" Gimana keadaan nenek ma?. Dokter bilang apa?" tanya Aira.


" Nenek masih belum sadar. Kondisi nya masih kritis. Mama takut terjadi apa - apa sama nenek kalian." ucap Kinanti lalu kembali menangis di pelukan Santi.


Santi pun mulai berkaca - kaca. Dia pun mengusap punggung mama nya dengan lembut. Kartika tante mereka ikut memeluk tubuh Santi dan mama nya. Mereka tampak sangat sedih.


" Nenek pasti baik - baik saja. Percaya deh. Nenek kan orang yang kuat." bujuk Aira. Mereka semua pun mengangguk mengiyakan ucapan Aira.


Kini mereka semua duduk di ruang tunggu yang ada disana. Menunggu dengan perasaan harap - harap cemas. Mereka menanti adanya kabar baik dari dokter yang ada di dalam ruangan ICU.


Saat mereka semua yang di luar mulai sedikit tenang. Tiba - tiba dokter pun keluar dari dalam dan menghampiri kita semua.


" Keluarga nenek Afifah." seru dokter tersebut. Kami semua pun berdiri dan mendekat ke arah dokter tersebut.


" Bagaimana kondisi ibu saya dok?." tanya mama dengan cepat. Dokter tersebut terlihat murung dan menghela nafas dengan berat. Revan yang tau arti wajah dokter tersebut. Menggenggam tangan Aira seketika. Dan mengusap punggung Aira dengan lembut. Aira pun menoleh dan memeluk tubuh suaminya seketika.


" Mohon maaf bu. Kami sudah berusaha keras. Kondisi ibu Afifah sangat lemah. Apalagi faktor usia yang juga berpengaruh. Dengan berat hati saya sampaikan. Ibu Afifah tidak bisa kita selamatkan. Lima menit yang lalu, ibu Afifah menghembuskan nafas terakhir nya. Kami turut berduka atas kepergian ibu Afifah." jelas dokter tersebut.


Semua yang ada disana terlihat membeku dengan penjelasan dokter itu. Hanya Aira yang menangis sejadinya dalam pelukan Revan. Santi pun langsung jatuh terduduk di lantai saat mendengar penjelasan dokter.


Tante kartika dan mama yang masih berpelukan pun langsung menangis dan berteriak sejadinya. Ruangan yang semula sepi, menjadi riuh akibat suara tangisan dari mereka semua. Mama dan tante kartika memaksa ingin masuk ke dalam. Tapi dilarang oleh dokter dan perawat disana. Karena disana juga banyak pasien yang sedang masa kritis. Mereka nanti bisa menemui jenazah nenek ketika sudah berada di kamar jenazah.


Tak ada tanda akan kepergian nenek. Tak ada firasat apapun juga. Tiba - tiba nenek pergi meninggalkan kita semua dengan cara dan secepat ini. Aira masih menangis dalam pelukan Revan. Revan memeluk tubuh istrinya sangat erat. Dengan sesekali menenangkan istrinya agar lebih tabah.


" Nenek. Kenapa engkau pergi secepat ini. Aku baru saja bahagia dengan hidupku. Engkau selalu bilang ingin melihat ku bahagia. Tapi sekarang kenapa engkau tinggalin aku begitu saja." gumam Aira dalam hati.


Aira teringat terakhir kali dia bertemu dengan nenek nya saat acara pernikahan nya dengan Revan beberapa hari yang lalu. Saat itu wajah nenek begitu bahagia. Senyum selalu mengembang di wajahnya kala itu. Dia pun berulang kali mengusap pipi dan menciumi pipi Aira dengan lembut. Mungkin itu suatu pertanda dan ucapan selamat tinggal untuk Aira. Tapi bodohnya dia tidak bisa mengartikan itu semua. Hingga sekarang kepergian nenek menyadarkan kembali ingatan hari bahagia itu.

__ADS_1


__ADS_2