Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 88 Kabar Baik


__ADS_3

Selesai makan malam, Aira langsung masuk ke dalam kamar. Sementara Revan masih duduk sendirian di ruang tengah dengan televisi yang menyala. Wajah nya tampak berpikir keras. Entah apa yang sedang di pikirkannya.


Mbok Sum membuatkan teh untuk tuan muda nya itu. Di perhatikannya wajah lelaki yang sudah di anggapnya seperti anak sendiri itu lekat - lekat. Hati nya ikut getir saat melihat wajah murung lelaki itu.


" Permisi tuan. Silahkan teh nya." seru mbok Sum membuyarkan lamunan Revan.


" Ooh iya mbok. Taruh situ saja." ujar Revan sambil menunjuk meja di hadapannya.


" Tuan muda ada yang di pikirkan?." tanya mbok Sum hati - hati. Revan menoleh ke arah wanita paruh baya itu. Wanita itu sudah di anggapnya seperti ibu kandung nya sendiri.


Revan hanya menghela nafas secara berat saat mendengar pertanyaan dari mbok Sum.


" Apa ada hubungannya dengan nona muda, tuan?." tanya mbok Sum.


" Tidak mbok. Aku tiba - tiba kepikiran Papa." jawab Revan. Mbok Sum pun mengerti apa yang di rasakan tuan muda nya itu. Pasti sangat sulit untuknya harus meninggalkan keluarganya.


" Ooh iya mbok. Apa Aira seharian ini seperti itu?. Dia tiba - tiba jadi menyebalkan seperti itu. Kenapa ya?." tanya Revan mengalihkan pembicaraan.


" Nona muda tadi pagi muntah - muntah tuan. Tidak mau makan nasi sama sekali sampai siang. Hanya makan buah saja." jawab mbok Sum.


" Tapi tadi waktu makan malam dia baik - baik saja mbok. Malah lahap sekali makannya." tukas Revan heran.


" Saya kurang tau tuan. Tapi memang nona Aira dari pagi sampai siang gak mau makan nasi. Hanya buah saja. Setiap saya bujuk untuk makan, katanya mual." jelas mbok Sum.


Revan terdiam. Dia berpikir kenapa istrinya tiba - tiba aneh hari ini.


" Tuan." seru mbok Sum.


" Iya." jawab Revan.


" Jangan - jangan nona muda sedang ngidam tuan. Karena tanda - tanda yang saya lihat seperti orang yang sedang hamil muda. Saya dulu waktu hamil juga begitu. Sensitif terhadap bau. Apalagi bau suami sendiri." ujar mbok Sum.


Revan menatap wajah mbok Sum dengan tatapan tak percaya. Dia pun langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan menaiki tangga menuju kamar tempat Aira dan dirinya tidur.


" Apa aku salah bicara ya?." tukas mbok Sum saat melihat reaksi tuan mudanya itu.

__ADS_1


Revan membuka pintu kamar. Terlihat Aira tengah duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur memainkan game yang ada di ponselnya. Dia menatap Revan sekilas lalu kembali asyik dengan ponsel nya.


" Sayang kamu belum tidur." tanya Revan.


" Belum." jawabnya singkat. Wajah nya pun sudah tidak garang seperti tadi. Sudah seperti dirinya yang biasa nya.


Revan berjalan mendekat ke arahnya. Di lihatnya wajah perempuan itu lekat - lekat. Aira merasa dirinya di perhatikan sedemikian rupa pun mulai terganggu.


" Kamu kenapa menatap ku seperti itu?. Ngajak berantem lagi." tanya Aira jutek. Revan tergelak.


" Siapa yang ngajak kamu berantem. Salah paham mulu." jawab Revan sambil mencubit hidung istrinya gemas.


" Lalu?. Kenapa menatap seperti itu?. Bikin orang kesel aja." ujar Aira.


" Sayang. Aku boleh minta tolong gak?." tanya Revan.


" Apa?." jawab Aira penasaran.


" Coba kamu berbaring sebentar." tukas Revan.


" Udah berbaring aja. Sebentar aja kok." jawab Revan sambil menarik tangan istrinya untuk berbaring. Aira pun menurut dan membaringkan tubuhnya.


Revan mulai menyingkap baju Aira di bagian perut nya dan mulai meraba - raba perut bagian bawahnya. Dahi nya mengernyit seperti sedang mencari sesuatu disana. Aira pun menatap wajah suaminya heran.


" Ada apa sih?. Kenapa dengan perut aku?." tanya Aira yang mulai takut terjadi apa - apa dengan dirinya.


" Terakhir kamu menstruasi kapan?." tanya Revan dengan wajah serius.


" Bulan lalu lah." jawab Aira.


" Kenapa?." tanya Aira takut.


" Tanggal berapa?". tanya Revan lagi.


" Heemmm kira - kira tanggal 10 an. Ada apa sih?." tukas Aira penasaran. Revan masih meraba - raba perut nya.

__ADS_1


" Kamu diam sebentar jangan bergerak. Ambil nafas lewat hidung buang lewat mulut." instruksi Revan kepada istrinya. Aira pun menurut. Dan tiba - tiba tangan kekar suaminya itu menekan perut bagian bawahnya seperti sedang mencokel sesuatu di sana.


" Aaaaaaahhhhhhh ... " Aira sontak berteriak saat merasa perutnya sakit karena tangan suaminya itu.


" Apa yang kamu lakukan?. Perut ku sakit tau." ujar Aira sambil memukul - mukul lengan suaminya itu. Revan menghela nafasnya. Lalu di tatap nya wajah istrinya itu lekat - lekat.


Sementara Aira masih meringis kesakitan sambil mengusap perut nya yang di tekan Revan barusan.


" Sayang." panggil Revan lembut.


" Apa?." sahut Aira kesal.


" Kantung janin dalam perut kamu sudah terbentuk. Kemungkinan besar kamu sedang mengandung saat ini." Jelas Revan sambil mengusap kepala istrinya itu. Raut wajah Revan pun tampak bahagia.


" Apa kamu bilang?. Aku ... Aku hamil maksudmu." tanya Aira tak percaya. Revan mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


" Mungkin usia janin nya belum ada satu bulan. Makanya tadi waktu aku periksa sedikit kesusahan. Besok kita ke rumah sakit ya. Kita USG biar kelihatan." ujar Revan sambil tersenyum melihat wajah istrinya itu.


Aira begitu bahagia mendengar kabar tersebut. Di peluknya tubuh suaminya dengan erat. Revan pun tersenyum dan membalas pelukan istrinya.


" Kamu gk bohong kan?. Bener aku sedang hamil?." tanya Aira tak percaya.


" Kita bisa lihat besok sayang." jawab Revan.


" Aku seneng banget Revan. Aku seneng banget. Aku akan jadi ibu kan." tukas Aira kegirangan.


" Iya. Kamu akan jadi ibu." jawab Revan. Revan melepas pelukan istrinya dan di kecup nya kening istrinya dengan lembut dan dalam. Aira memejamkan matanya merasakan lembutnya kasih sayang suaminya tersebut.


" Aku mencintaimu." seru Revan kepada istrinya. Aira tersenyum mendengar ucapan suaminya.


" Apa kamu bahagia?." tanya Aira.


" Iya. Aku sangat bahagia sayang. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan dalam hidup ku." jelas Revan sambil memeluk tubuh istrinya lagi. Dia pun memberikan banyak kecupan di kepala istrinya itu. Dan ...


" Sayang. Kenapa tubuhmu masih bau sih." tukas Aira sambil melepas pelukan suaminya. Revan tergelak dan tertawa mendengar ucapan istrinya. Di tatapnya wajah istrinya dengan gemas. Dia pun tak perduli dengan Aira yang terus meronta - ronta dalam pelukannya. Dia terus memeluk istrinya dengan kuat. Tak ingin melepas kan tubuh wanita yang di cintai nya itu.

__ADS_1


__ADS_2