
Malam semakin larut. Tapi Aira masih terjaga. Matanya enggan terpejam dan pikiran nya masih melayang layang di udara. Aira melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 2 pagi. Di tariknya selimut sampai ke dada. Mencoba memejamkan matanya, tapi tak dapat terpejam.
Di raih nya ponsel di atas meja samping ranjangnya. Dibuka ponsel tersebut, ada satu pesan dari Revan. Di buka lah pesan tersebut, setelah di baca, Aira menghela nafas panjang.
Apa mau mu Van??. Kenapa baru sekarang kamu muncul??. Kemana kamu dulu. Kenapa kamu muncul sekarang dan memberikan aku harapan kembali. Aku sudah tidak butuh kamu lagi Van. Aku sudah tidak butuh apa-apa lagi. Yang aku butuh sekarang ketenangan diri. Jangan muncul lagi Van. Aku bukan Aira yang dulu. Aku aira yang menyedihkan sekarang, gumam Aira dalam hati.
Di tempat yg berbeda, Revan tampak masih berkutat dengan laptop nya di atas meja kerjanya. Selain ber profesi sebagai dokter, revan juga miliki profesi lain. Yaitu seorang pemilik dan CEO suatu hotel, dan restoran yang cukup terkenal di kota tersebut.
Dia tidak setiap hari hadir untuk mensurvey keadaan hotel maupun restoran yang dia pimpin. Ada orang kepercayaan revan yang menghandle semuanya. Revan hanya mengechek bagian yang penting - penting saja setiap malam.
Di sandarkannya kepala di sandaran kursi kerjanya. Dia melirik ponsel nya, sepi. Tidak ada tanda tanda balasan dari Aira. Di hirupnya nafas panjang lalu di hembuskan perlahan.
Hari hampir pagi, tapi matanya enggan terpejam. Dia masih memikirkan Aira. Ada rasa bersalah di hatinya terhadap Sheila. Sejujurnya nama Sheila tidak ada sedikit pun di hatinya. Selama ini Sheila hanya status saja.
Dia sudah mencoba belajar untuk mencintai Sheila, tapi tetap tak bisa. Untuk menutupi rasa bersalahnya selama ini, dia selalu bersikap dingin dan cuek. Agar Sheila benci dan memutuskan hubungan mereka. Tapi semakin lama dan semakin kesini, Sheila tampak bertahan dan mencoba mempertahankan hubungan mereka.
Revan bangkit dari duduknya dan langsung menuju kamar mandi. Di ambil lah air wudhu, di tunaikanlah sholat sunnah 2 rakaat di sepertiga malam. Selain mencari ketenangan hatinya, dia juga ingin ber curhat ria kepada Sang pencipta alam semesta beserta isi nya itu. Tak lupa di panjatkan banyak doa - doa dan dzikir agar hidupnya menjadi bermanfaat.
Setelah nya dia menunaikan sholat sunnah istikharah, guna meminta petunjuk dan pilihan yang benar benar terbaik untuk hidup nya ke depan. Karena usia dia juga sudah tidak remaja lagi. 29 tahun usia yang cukup matang untuk berkeluarga.
Hampir seluruh temannya sudah memiliki anak dan istri. Entah darimana datang nya kantuk, saat Revan selesai sholat istikharah, masih di atas sajadah dia terlelap dalam tidur. Semakin dalam masuk kedalam alam mimpi.
Disana terdapat cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Di ikuti seberkas cahaya tersebut, saat di ujung cahaya tersebut ada sesosok perempuan anggun dan sangat cantik sekali. Revan tertegun melihat perempuan itu. Sangat tidak asing bagi dirinya. Perempuan itu tersenyum ke arah Revan lalu menyuruh Revan duduk di sebuah bangku panjang di samping perempuan itu.
" Mama." ucap Revan sendu.
Yah ... Perempuan itu adalah almarhumah mama Revan, Siti Asifah. Revan duduk di samping mama nya, di raih tangan mama nya. Revan berbaring di atas pangkuan mama nya.
Revan tidak menyangka akan bertemu dengan mama nya yang telah lama pergi meninggalkan dunia ini 14 tahun yang lalu akibat kanker rahim yang di derita nya. Itulah alasan pertama Revan ingin menjadi seorang dokter kandungan. Karena dia ingin menyelamatkan para perempuan dari penyakit mematikan itu.
Revan memegang erat tangan mama nya, dan satu tangan mama nya membelai rambut Revan dengan lembut dan penuh kasih. Asifah meninggal saat Revan berusia 15 tahun. Sudah lama dia merindukan sosok ibu baginya.
Karena sejak Asifah pergi, papa Revan tidak menikah lagi. Karena dia hanya mencintai seorang perempuan saja, yaitu Asifah mama Revan. Di saat Revan masih bermanja - manja dengan mama nya, tiba ada yang menarik tangan mama nya dengan lembut. Revan membuka mata dan menatap perempuan itu.
Aira ...
Aira tersenyum ke arah Revan dan menarik tangan mama Revan dengan lembut. Asifah tersenyum menggandeng tangan Aira, dan menyatukan dengan tangan Revan lalu di tinggalkannya sepasang anak muda mudi tersebut.
Revan mencoba menggapai tangan mama nya, tapi tak bisa.
" Mamaaaa .... " teriak Revan bangkit dari tidur lelapnya. Keringat dingin memenuhi dahi nya.
Di tatap nya sekeliling ruang kamar Revan. Sunyi sepi tidak ada siapa siapa disana. Nafas nya masih tersengal memenuhi dada nya.
__ADS_1
Kenapa mama tiba - tiba hadir di mimpiku. Kenapa Aira juga ada di sana. Sejak kapan mama kenal dengan Aira. Mama dan Aira terlihat begitu dekat, gumam Revan dalam hati nya.
Di liriknya jam di dinding kamarnya. Jam menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Adzan subuh sudah lewat. Revan bangun dari tidurnya, di ambil air minum di meja samping ranjang nya. Setelah itu dia menuju kamar mandi untuk ber wudhu kembali untuk menunaikan sholat subuh.
Pagi ini dia enggan untuk melakukan jogging atau pun berenang seperti biasanya. Di rebahkannya tubuh nya di atas ranjang nya yang empuk. Pikiran nya masih menelaah apa arti mimpi nya tadi.
Apakah itu suatu pertanda dan jawaban atas kegundahan hatinya semalam. Apa benar Aira jawaban dari semua pertanyaan yang menggantung di kepala dan hatinya itu.
Tokk tokk tokk ...
Suara pintu kamar di ketok oleh seseorang dari luar. Revan bangkit dan membuka pintu tersebut. Mbok sum ada di balik pintu sengaja mengetok pintu untuk membangukan revan.
Mbok Sum mengira Revan masih terlelap dalam tidurnya. Karena biasanya Revan udah bangun dan berenang di kolam renang.
" Anu den ... saya kira aden masih tidur. Makanya saya mengetok pintu kamar aden. Saya takut aden terlambat ke rumah sakit." jawam Mbok sum hati - hati setelah Revan membuka pintu.
" Saya sudah bangun kok mbok. Saya mandi dulu baru nanti sarapan. Makasih ya mbok." sahut Revan lembut ke arah mbok Sum.
Mbok Sum sudah di anggap seperti ibu kandung Revan sendiri. Karena mbok Sum sudah merawat Revan dari masih bayi. Mbok Sum sengaja di kirim papa nya Revan untuk mendampingi dan menyiapkan keperluan Revan setiap harinya.
Mbok Sum hanya bertugas memasak makanan untuk Revan. Untuk beberes rumah dan mencuci baju ada pembantu lain yang melakukan. Masalah beberes rumah, ada mbak Narti yg membereskan. Revan orang yang sangat bersih dan rapi. Dia tidak mau ada noda atau debu sedikit pun di rumah nya. Kalau untuk mencuci pakaian, mencuci piring, dan menyetrika baju, ada mbak Aminah yg mengurusi.
Suami mbok Sum sudah meninggal 10 tahun yang lalu karena sakit gagal ginjal. Kalo mbak Narti, dia di tinggal suaminya dan di usir dari rumahnya sendiri, karena suaminya mbk Narti tergoda seorang janda cantik dan bahenol. Anak anak mbk Narti di bawa oleh mantan suaminya, dan mbak Narti tak di izinkan bertemu dengan mereka sampai sekarang.
Pagi ini Revan menemui Sheila di poli syaraf.
" Ssttt ... Sheila kamu di cariin pacarmu itu." ucap karina saat melihat Revan berjalan di lorong menuju poli syaraf. Sheila tersentak, terlihat raut bahagia di wajahnya. Di rapikan rambut dan baju Sheila sebelum bertemu Revan.
Saat memasuki poli, para perawat magang dan dokter muda begitu tecekat melihat wajah tampan Revan. Revan menyunggingkan senyum saat melintasi meja mereka. Dari jauh Sheila sudah memasang senyum di wajahnya. Rasa kantuknya langsung hilang saat melihat Revan ada di sana. Revan tersenyum melihat Sheila.
" Apa kamu sibuk??." tanya Revan lembut. Sheila tak pernah melihat Revan sehangat ini padanya. Wajahnya terlihat sangat tampan dan berkarisma.
" Aku sudah mau pulang kok." sahut Sheila dengan wajah merona.
" Bisa bicara sebentar." tanya Revan. Sheila langsung mengangguk semangat dan menggandeng tangan Revan untuk meninggalkan poli. Rekan rekan Sheila menatap Sheila dengan tatapan iri.
" Andai suamiku seganteng dokter Revan. Alangkah senangnya hidupku." tukas karina. Para dokter di sana bersorak sorai menyorak i ke halu an dokter karina. Karina cemberut sambil mencibir mereka.
Revan membawa Sheila di taman belakang rumah sakit. Banyak orang berlalu lalang menatap mereka. Tapi Revan tampak acuh. Sheila duduk di bangku taman di ikuti Revan. Revan menghela nafas panjang.
" Kamu mau ngomong apa van??." tanya Sheila lembut sambil menatap sekeliling. Revan menggenggam tangan Sheila. Sheila menoleh ke arah tangan yg menggenggam jemarinya itu.
Wajah Sheila tampak merona. Jarang sekali Revan menggenggam tangan nya seperti itu.
__ADS_1
" Aku mau minta maaf." jelas Revan. Sheila teringat akan kejadian semalam. Mungkin Revan sudah sadar atas perbuatannya selama ini, gumam Sheila.
" Kamu gk perlu meminta maaf, karena aku sudah memaafkanmu sebelum kamu memintanya." jawab Sheila.
" Apa maksudmu Sheila?." tanya Revan tak mengerti.
" Kamu minta maaf soal yg semalam kan. Sudah lupakan saja van. Jangan ulangi lagi yaa.. " jawab Sheila malu - malu.
" Aku gk ngerti apa maksud kamu. Aku belum bilang apa - apa dan kamu sudah bilang memaafkanku." sahut Revan. Sheila menatap revan lekat - lekat.
" Lalu." tanya Sheila dengan nada tak mengerti. Revan menghela nafas panjang.
" Aku minta maaf, aku rasa kita sampai di sini saja Sheila." jawab Revan dengan satu tarikan nafas. Sheila tercekat menatap Revan. Seolah di sambar petir di pagi hari mendengar Revan berkata demikian.
Bulir - bulir air mata menetes deras di pipi Sheila. Sheila menatap Revan tak percaya.
" Apa aku berbuat salah??. Sehingga kamu bertindak demikian kepadaku." tanya Sheila terisak. Revan sebenarnya tak tega melihat Sheila ber urai air mata. Tapi Revan tak mau menambah rasa bersalah dia terus menerus.
" Kamu gak salah. Aku yang salah. Aku yang bermasalah." jelas Revan lirih.
" Aku yang bermasalah, aku tidak bisa mencintai kamu. Selama ini aku sudah belajar tapi aku tak bisa. Aku gak mau kamu tersakiti terlalu jauh. Aku gak mau kamu menyesal suatu hari nanti saat kita jauh melangkah." jelas Revan.
" Dan kamu sekarang membuat aku menyesal mengenal kamu dalam hidupku." Sheila berteriak histeris meluapkan kemarahannya yang selama ini terpendam.
Semua orang yang ada di sana menatap mereka tajam. Seakan mencari tau ada insiden apa di sana saat ini.
" Aku benci kamu van. Aku sangat benci kamu. Aku nyesel kenal kamu. Aku nyesel kenal kamu." teriak Sheila. Dan ....
Plaaaakkkkk .....
Sheila mendaratkan tamparannya di pipi Revan. Revan hanya diam menunduk tak berani menatap Sheila secara langsung. Sheila langsung berlari pergi meninggalkan Revan sendirian di taman sambil berurai air mata.
Semua orang berbisik bisik memandang revan yang masih duduk di bangku taman. Semua mata melirik Revan tajam penuh kebencian. Menganggap Revan lelaki hidung belang yang hanya memanfaatkan perempuan lemah demi keuntungan pribadi. Setelah dia dapat apa yang di inginkan, si campakkan lah perempuan itu. Revan tersenyum sinis, lalu sedikit terkekeh seperti orang gila.
Lelaki macam apa aku ini?? Membuat perempuan sebaik Sheila menangis. Monster macam apa aku ini?? Sehingga tak memiliki sedikit belas kasian kepada perempuan baik bak malaikat itu. Lihat apa yang aku perbuat. Sheila membenciku. Dia benci kepadaku. Baiklah!! Itu jauh lebih baik. Lebih baik begitu saja. Daripada aku harus selalu hidup dalam kemunafikan. Bagus kalu Sheila membenciku. Biarkan aku menjadi manusia jahat kali ini. Itu jauh lebih baik daripada terus menerus memakai topeng kemunafikan. Gumam Revan dalam hati.
Lalu dia bangun dan beranjak dari duduknya. Revan melintasi lorong rumah sakit dengan tatapan kosong. Tak perduli banyak rekan dokter dan perawat menyapa dirinya. Dia hanya diam seribu bahasa. Saat memasuki ruangan, di ambil tas kerjanya dan di bawa keluar ruangan.
" Aku ijin pulang ya bro." jelas Revan saat melintasi ruang praktek rekan se profesi nya itu. Dokter Sony menatap kaget.
" Ada apa dok, apa dokter sakit. Kok tiba - tiba izin pulang." tanya dokter Sony menyelidik. Revan tersenyum.
" Aku lagi kurang enak badan. Tolong gantikan aku yaa." pinta Revan. Dokter sony mengangguk mengiyakan permintaan Revan.
__ADS_1
~ Happy reading ~