
Revan dan Aira berjalan jalan menikmati pemandangan di tempat itu.
Mereka berdua sudah tidak tampak malu - malu seperti sebelumnya.
Senyum terus mengembang di wajah kedua nya. Pipi Aira pun tampak merona.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Revan mengajak Aira untuk makan siang.
Ada sebuah cafe yang menyuguhkan beberapa makanan dan minuman.
Revan memesan sate kambing dengan nasi. Sedangkan Aira memesan sate ayam dengan nasi pula.
Tak lupa mereka memesan es kelapa muda juga.
Sambil menunggu pesanan datang. Revan masih terus menggenggam tangan Aira yang berada di atas meja.
Sesekali dia mengecup punggung tangan perempuan yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
" Van, kamu jangan gitu, kamu buat aku malu. Tuh liat banyak orang yang ngeliatin kita." tukas Aira sambil menutupi wajahnya dari pandangan orang - orang.
Revan hanya tersenyum melihat kelakuan Aira yang absurd itu.
" I don't care sayang ... " jawab Revan sambil terus menciumi punggung tangan Aira.
" Aku senang sekali .... Aku tak pernah sesenang ini sebelumnya." jelas Revan.
" Bukannya kamu pernah punya pacar sebelumnya." tanya Aira.
" Iya benar. Tapi lain rasanya. Aku dulu berpacaran dengan nya hanya sebagai pelarian." jawab Revan singkat.
" Jangan bilang aku sekarang juga pelarian mu karena kamu baru putus dengan mantanmu itu." tukas Aira menarik genggaman tangan nya dari lelaki itu.
" Ya enggak lah. Mungkin aku sama yang dulu itu pelarian. Tapi aku dengan mu itu sebuah pelabuhan." jelas Revan.
" Karena kamu yang selalu aku inginkan selama ini." imbuh nya lagi.
Aira tersipu malu mendengar ucapan Revan. Sejak kapan dia pinter gombal begini. Gumam nya.
" Dasar laki - laki. Pinter banget gombal." seru Aira sambil melempar tissue kepadanya.
Makanan mereka pun telah sampai. Karena sudah sangat lapar, mereka pun menghabiskan makanan mereka segera.
" Alhamdulillah kenyangnya perutku." seru Aira sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
" Makan paling nikmat itu ketika kita udah kelaparan yaa." tukas Revan. Aira hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah selesai makan mereka berjalan jalan sebentar untuk membeli oleh - oleh untuk Bian dan Santi di rumah.
Revan tertarik saat melihat ada sepasang cincin yang terbuat dari akar tanaman lalu mengambilnya.
" Ra sini dulu deh." pinta Revan kepada Aira saat tengah asyik memilih pernak - pernik untuk oleh - oleh.
Aira mendekat ke arah Revan. Revan menarik tangan kiri Aira dan memasangkan cincin yang terbuat dari akar itu di jari manis nya.
Sangat pas di jari Aira. Revan tersenyum melihat cincin yang tersemat di jari itu.
Lalu Revan pun memasukkan cincin yang satunya ke jari tangannya sendiri.
" Waahh sangat pas di jariku. Sepertinya cincin ini memang di buat khusus untuk kita." ujar Revan sambil mengangkat tangannya melihat cincin tersebut.
Revan pun membayar apa yang di beli Aira, termasuk cincin akar pasangan tersebut.
__ADS_1
Revan pun berjanji akan mengganti cincin akar itu dengan cincin berlian saat mereka menikah nanti.
Aira hanya tersenyum mengiyakan ucapan Revan.
Mereka telah sampai di depan gang rumah Aira. Revan ingin mampir, tapi tidak di perbolehkan oleh Aira.
Akhirnya mereka pun berpisah dan kembali ke rumah masing - masing.
Sesampainya di rumah, Aira memberikan bungkusan kresek yang di bawanya itu kepada Santi. Santi membuka semua bungkusan itu.
" Mbak tadi ke bukit cinta." tanya Santi saat melihat label pada bungkus oleh - oleh yang di bawa kakaknya itu.
" Iya. Tapi mbak gak naik ke bukit cinta nya. Revan gak mau di ajak kesana." jawab Aira.
Aira bergegas mandi dan berganti pakaian. Rasanya gerah setelah seharian berkeringat.
*****
Sesampainya Revan di rumahnya. Dia langsung menuju kamarnya di lantai dua.
Dia pun bergegas mandi berendam air hangat disana. Dia pun tak berhenti tersenyum saat berendam disana.
Dia tak menyangka Aira akan menerima cinta nya. Terlebih lagi dia tak menyangka kalau dia berani mencium bibir Aira.
Revan menyentuh bibirnya. Dia meraba bibirnya yang berani mencium bibir mungil Aira. Dia menghela nafas panjang dan menatap langit - langit kamar mandi.
Dia ingin Aira segera menjadi miliknya. Menjadi istri nya yang akan menemani dirinya setiap hari.
" Aku harus kasih tau kak Reihan secepatnya." ucap Revan lirih.
Setelah dia puas berendam, dia membilas tubuhnya di bawah shower disana.
Dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Dia meraih ponselnya di atas laci sebelah ranjang tempat tidur nya.
Setelah dia berganti pakaian dia kembali ke ranjang tempat tidur nya dan menghubungi kekasih barunya itu.
Lama tak ada jawaban dari Aira. Revan tampak sedikit kesal karena kekasihnya itu tak menjawab panggilan darinya.
Revan menaruh kembali ponselnya di atas meja samping ranjangnya. Dan merebahkan badannya di atas kasur disana.
Hari ini sangat melelahkan tapi juga sangat membahagiakan untuknya.
Bayangan wajah Aira melintas dalam angannya.
Senyumnya, tatapan matanya, hangatnya genggaman tangan nya, hingga sexy nya bibirnya pun melayang - layang dalam otaknya.
Entah mengapa Revan sekarang ingin sekali mencium bibir perempuan itu lagi.
Bibirnya seperti morfin untukku. Sehingga aku ingin lagi dan lagi menciumi bibir sexy tersebut. Gumamnya.
Saat dirinya sedang larut dalam lamunannya, ponselnya berdering. Di raihnya ponsel tersebut tertera nama " Aira " . Revan langsung mengangkat panggilan kekasihnya itu.
" Hallo darimana saja sih kamu. Aku telepon dari tadi gak kamu jawab." tanya Revan saat terdengar suara Aira dari seberang.
" Maaf aku baru selesai mandi. Ada apa van kamu telepon." jawab Aira.
" Gak ada apa - apa. Gak boleh aku telepon pacarku sendiri, hah." sahut Revan kesal mendengar pertanyaan Aira yang konokatif itu.
" Yaaa boleh sih. Kamu kenapa sih, kok jadi uring - uringan begini. Perasaan tadi gak apa - apa deh." tanya Aira heran melihat perubahan sikap Revan.
Revan tersadar. Kalau sikapnya barusan membuat kekasihnya ini bingung. Dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Maaf kan aku sayang. Aku hanya rindu padamu. Makanya aku sedikit crunky." jawabnya lembut agar Aira tak salah paham.
Aira tersenyum mendengar ucapan Revan. Dia merasakan gejolak dalam hatinya. Dia juga ingin selalu dekat dengan kekasihnya itu.
" Heeemmm ,Ra. Besok aku ke rumahmu ya." pinta Revan.
" Besok aku kerja van. Kamu gak kerja apa." jawab Aira.
" Yaa kerja juga sih. Maksudku pulang kerja kesana nya." jelas Revan.
" Oohhh kirain kamu bolos kerja." seru Aira mengerti.
" Besok kamu pulang kerja jam berapa." tanya Revan.
" Kalau besok gak lembur ya aku pulang jam setengah lima. Tapi kalau lembur ya pulang agak malam van." jawabnya sambil berbaring di atas tempat tidurnya.
" Yaahh kalau kamu lembur, aku gimana." tanya Revan lesu. Dia sangat ingin sekali bertemu dengan kekasihnya itu. Rasa rindu sudah menghampiri nya. Padahal tadi dia sudah seharian bersama.
" Yaahh weekend kan kita bisa ketemu." jawab Aira menenangkan Revan.
" Sekarang aja aku udah kangen banget. Malah ketemu pas weekend. Bisa mati karena kangen aku Ra." tukas Revan kesal.
Terdengar tawa Aira di ujung telepon sana. Revan pun tersenyum mendengar tawa Aira yang renyah bak kerupuk itu.
" Jangan sering ketemu ah. Nanti bosen." seru Aira.
" Siapa yang bosen?!. Aku gak akan pernah bosen tuh." tanya Revan.
" Aku yang bosen nantinya." sahut Aira singkat.
" Ooohhh kamu bosen sama aku. Iya gitu." jawab Revan kesal.
" Kamu lagi pms van. Kenapa sensitif sekali sih." tanya Aira tak mengerti.
" Enggak. Aku gak sensitif. Biasa aja tuh." jawabnya penuh rasa sebal. Terdengar dari suaranya kalau dia sedang kesal dengan Aira.
" Pokoknya besok aku gak mau tau. Kita harus ketemu. Gak boleh ada alasan." seru Revan bersemangat.
Aira pun tersenyum. " Iya iya kita ketemu besok. Gak usah pake otot gitu dong ngomong nya." ledek Aira.
Terdengar suara tawa Revan pecah. Aira pun tertawa terbahak mendengar suara tawa Revan.
" Ya sudah sayang kamu istirahat ya. Besok kita ketemu lagi." ujar Revan pada aira.
" Iya. Selamat malam. Semoga mimpi indah." tukas Revan.
" I love you, Ra. Semoga mimpi indah. Dan semoga minpiin aku." jelas Revan yang membuat gelak tawa pada keduanya itu.
" Sayang .." panggil Revan di penghujung teleponnya.
" Iya ada apa." jawab Aira penasaran.
" Cium nya mana." pinta Revan manja.
Aira tergelak malu mendengar ucapan Revan.
" Muuaacchh .... " Terdengar suara lembut dari Aira.
Revan pun mbalas ciuman jarak jauh dari Aira itu antusias.
Dan mereka kembali merebahkan diri mereka di atas kasur masing - masing.
__ADS_1
Hari ini mereka lelah tapi juga sangat senang.
Mata mereka akhirnya terpejam dan larut ke dalam mimpi masing - masing.