Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Eposode 63 Keluarga


__ADS_3

" Revan. Pulang lah ke rumah. Malam ini, papa dan kita semua akan pulang ke rumah utama. Jadi kamu bisa menempati rumah mu kembali. Lagi pula, rumah itu kan rumahmu. Yang kamu beli sendiri dengan uang jerih payahmu. Pulang lah. Jangan seperti anak kecil. Nanti kakak akan menghubungi mu kembali."


Begitu lah isi pesan singkat yang di kirim kak Reihan untuk Revan. Revan membuka pesan tersebut dan membaca nya. Dia pun menghela nafasnya begitu dalam.


" Setelah buat masalah, sekarang malah lari begitu saja. Ck, dasar!." gumam Revan di iringi decak kesal. Terlihat Aira yang baru saja keluar dari dalam rumahnya sedang memperhatikan dirinya. Revan pun menoleh ke arah wanita tersebut.


" Kamu sudah bangun?. Mau mandi?." tanya Aira menghampiri Revan yang masih duduk di ruang tamu tersebut. Aira menyisir rambutnya yang basah karena habis keramas barusan. Revan tersenyum menatap wajah kekasihnya itu.


" Kenapa melihatku seperti itu?." tanya Aira heran. Revan menarik tubuh Aira dan mendekapnya dengan erat. Aira mencoba melepas kan dekapan itu. Karena takut Santi atau Akbar akan melihat tindakan Revan yang di rasa cukup memalukan nantinya.


" Revan. Lepasin!. Kamu tau sikon dong. Nanti kalau Santi melihat bagaimana." seru Aira sambil terus menggeliat.


" Diam!. Sebentar saja. Aku ingin memelukmu sebentar saja." ujar Revan. Aira menghela nafasnya dengan kasar. Dia pun diam sejenak. Revan semakin mengeratkan pelukannya. Matanya pun terpejam menikmati setiap sentuhan dan aroma sabun serta sampo yang melekat dalam tubuh Aira.


" Pesan dari siapa?." tanya Aira penasaran. Revan tersenyum mendengar pertanyaan itu. Rupanya kekasihnya tau kalau dirinya mendapat sebuah pesan.


" Kak Reihan." jawab Revan sambil masih memejamkan matanya dalam pelukan kekasihnya itu.


" Kak Reihan bilang apa?." tanya Aira lagi.


" Dia menyuruhku pulang." jawab Revan singkat.


" Pulanglah jika kamu ingin pulang." tukas Aira. Revan membuka kedua matanya. Dia mencium pucuk kepala kekasihnya itu.


" Kamu mengusirku?". tanya Revan sambil melepas pelukannya. Di tatapnya wajah Aira dengan seksama. Aira pun membalas menatap wajah Revan.

__ADS_1


" Jika kamu ingin pergi. Pergi lah!. Aku tidak akan mencegahmu." seru Aira. Revan berdecak mendengar ucapan Aira.


" Mulai lagi ... " dengusnya kesal.


" Aku sungguh Revan." jawab Aira.


" Sudah. Jangan bahas lagi. Aku tidak suka mendengar nya." tukas Revan sebal. Aira menghela nafasnya.


" Dimana handuknya. Aku ingin mandi. Rasanya gerah sekali." seru Revan sambil beranjak berdiri dari duduknya.


" Sebentar aku ambilkan." ujar Aira sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya mengambilkan handuk bersih kepada kekasihnya itu. Revan mengikuti langkah Aira dari belakang.


*****


Saat Reihan keluar dari kamar, dia melihat ayahnya tengah duduk di ruang tengah rumah itu sendirian. Reihan pun beranjak menuruni tangga menyusul ayahnya. Atmaja pun melirik ke arah Reihan.


" Sudah. Tapi belum ada balasan." jawab Reihan. Atmaja pun tersenyum kecut mendengar ucapan Reihan.


" Dia sungguh keras kepala!." ujar Atmaja.


" Pa, lebih baik papa restui saja hubungan mereka. Biarkan mereka menikah dan hidup dengan bahagia." tukas Reihan kepada ayahnya. Atmaja tampak menghela nafasnya yang berat.


" Papa tau sendiri kan, bagaimana sifat Revan. Dia tidak akan menyerah dengan apa yang di ucapkannya." imbuh Reihan.


" Rei takut kalau nantinya Revan akan nekat menikahi Aira di belakang kita Pa." ujar Reihan. Atmaja pun menoleh ke arah Reihan.

__ADS_1


" Kau dulu juga begitu. Menentang ku dan menikahi perempuan pilihanmu di belakang ku. Jadi apalagi yang kamu khawatir kan." tukas Atmaja. Reihan pun membisu mendengar ucapan ayahnya itu.


" Biar kan saja mereka seperti itu. Aku ingin lihat. Sejauh apa Revan berani melangkah." ujar Atmaja lalu beranjak meninggalkan Reihan yang masih duduk di ruang tengah itu.


*****


Aira dan Santi tengah menyiapkan makan malam. Terlihat Revan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Dia pun menggosok - gosok rambutnya dengan handuk yang di berikan Aira tadi.


" Mandi mu lama sekali. Seperti perempuan saja." tukas Aira saat melihat Revan berdiri di pintu kamar mandi. Dia pun terkekeh mendengar ucapan Aira.


" Tunggulah di depan. Sebentar lagi sayur nya matang. Kita makan malam bersama." ujar Aira. Revan pun tersenyum dan melangkah menuju ruang tamu. Terlihat Bian tengah asyik menonton film kartun kesukaannya. Revan pun duduk di sebelahnya dan menggoda Bian hingga membuat tubuh kecilnya menggeliat kesana kemari. Hanya terdengar gelak tawa dari mereka berdua yang terdengar sampai dapur rumah tersebut.


" Mas Revan suka sekali dengan Bian." tukas Santi sambil tersenyum mendengar gelak tawa anak nya di ruang tamu.


" Revan memang suka dengan anak kecil." ujar Aira.


" Seharusnya di usia nya sekarang, dia sudah bisa memiliki anak. Kenapa dia dari dulu belum menikah?." tanya Santi penasaran.


" Entahlah. Belum menemukan yang tepat katanya." jawab Aira sambil mengaduk sayur di depannya.


" Sekarang sudah menemukan yang pas, malah di jegal sama keluarga nya." gumam Santi. Aira hanya diam mendengar ucapan adiknya tersebut. Setelah sayurnya dirasa sudah matang, Aira mematikan kompor di depannya. Dan mengambil mangkuk kaca yang besar untuk memindah sayur tersebut.


Santi pun membawa lauk pauk yang di masaknya tadi ke arah ruang tamu. Tak lama kemudian Aira keluar dari dapur menuju ruang tamu dengan membawa mangkuk kaca yang besar berisi sayur yg masih panas.


" Awas panas!." seru Aira kepada semua orang yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


Mereka pun bersiap untuk makan malam bersama. Terdengar suara salam dari balik pintu rumah tersebut. Akbar, suami Santi telah pulang dari tempat kerjanya. Setelah mencuci tangan dan kaki nya di kamar mandi, Akbar pun turut duduk dan makan malam bersama di ruang tamu tersebut.


Kini rumah mereka tampak seperti rumah keluarga yang bahagia. Hanya ada gelak tawa dan obrolan hangat di antara mereka. Walaupun hidangan yang di santapnya sederhana. Tak membuat keluarga ini mengeluh. Justru mereka menikmatinya dengan suka cita dan bahagia.


__ADS_2