
Malam pun beranjak pagi. Aira menggeliat dalam tidur nyenyaknya. Tubuhnya terasa sangat letih. Terlebih lagi sekarang tubuhnya begitu berat. Seperti tertindih sesuatu yang sangat besar ada di atas perut dan kaki nya.
Dia mengerjapkan mata berulang kali. Mencoba mengingat kembali tempat yang dia tempati sekarang. Karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Dia menguap dan menoleh ke arah seorang lelaki di sampingnya yang tengah terlelap dalam tidurnya.
Tubuhnya begitu tersentak melihat sosok wajah itu. Di lihatnya tangan dan kaki Revan tengah memeluk sebagian tubuhnya dengan sangat erat. Perlahan dia mengangkat tangan dan kaki lelaki yang telah menjadi suaminya itu. Dengan sangat hati - hati, dia mengangkat dan memindahkan tubuh lelaki itu agar tidak terbangun.
Benar saja. Sedikit pun tak ada tanda - tanda bangun dari lelaki itu. Dia tersenyum melihat wajah polos suaminya ketika sedang terlelap itu. Dia memunguti satu per satu bajunya yang tergeletak di lantai sana lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Di putarnya kran shower yang ada di dalam sana. Air yang di pancarkannya begitu sejuk menerpa kulit. Aira pun berdiri di bawah tepat pancuran shower tersebut. Sehingga dia bisa merasakan segar nya air tersebut. Bayangan kisah romantis tadi malam tergambar jelas di balik matanya saat dia menyentuh beberapa titik dalam tubuhnya yang semalam juga di sentuh oleh Revan. Dia pun tersenyum malu sendiri di dalam sana.
Selepas mandi, dia mengambil handuk bersih yang berada di lemari di dalam kamar mandi. Lemari itu penuh dengan handuk berwarna putih yang tersusun sangat rapi dan wangi. Aira tau, kalau ini pasti ulah suaminya. Karena dia juga tau kalau suaminya itu seorang yang sangat menyukai kerapian yang sangat tinggi.
Dia keluar dari dalam kamar mandi hanya berbekal handuk yang melingkar di tubuhnya hingga lutut. Dia berjalan pelan menuju lemari pakaian yang ada disana. Saat membuka lemari tersebut. Hanya ada pakaian milik Revan. Sedangkan rak baju di samping baju milik Revan masih kosong. Dia baru teringat kalau baju - bajunya masih berada di dalam mobil milik suaminya itu. Dia berdecak kecewa melihat itu. Akhirnya dia pergi masuk kembali ke dalam kamar mandi lalu mengambil lagi pakaian milik nya yang di taruhnya di dalam keranjang baju kotor dan memakainya kembali.
Aira keluar dengan baju semalam dan rambut yang masih basah. Dia menggosok - gosokkan handuk yang di pegangnya ke rambut miliknya itu menuju meja rias yang ada di dalam kamar itu. Disana terlihat begitu banyak skin care dan make up yang telah di sediakan Revan untuknya. Dan semuanya masih baru dan tersegel. Belum terbuka dan di sentuh oleh siapa pun. Aira mengambil deodoran dan menyemprotkan di ketiak nya. Lalu dia membuka tutup cream wajah yang ada disana dan memoleskan di wajahnya secara tipis dan merata. Serta diambilnya lipstik berwarna peach dan di oleskannya di bibir tipisnya.
Dia begitu manis memakai lipstik tersebut. Sangat cocok dengan warna kulit dan bentuk bibirnya. Di sisirnya perlahan rambutnya dengan sisir yang ada disana. Setelah rapi dia pun beranjak keluar kamar. Saat membuka pintu kamar. Disana terlihat tas besar miliknya berada di depan pintu kamarnya. Aira pun mengangkat tas tersebut dan menaruhnya di depan lemari pakaian yang ada disana. Lalu dia kembali keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.
" Selamat pagi nona." sapa mbak Aminah yang sedang menyapu di ruang tengah saat melihat Aira turun dari tangga.
__ADS_1
" Selamat pagi mbak." jawab Aira sambil tersenyum. Lalu dia beranjak menuju dapur rumah tersebut. Disana terlihat mbok sum tengah membuat sarapan untuk pemilik rumah ini dan istri nya.
" Pagi mbok sum." sapa Aira saat memasuki dapur.
" Selamat pagi nona muda. Kok sudah bangun pagi - pagi begini?." tanya mbok sum. Aira tersenyum lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat yang ada di dispenser dan meminum nya sampai habis.
" Saya terbiasa bangun pagi di rumah mbok. Ya kadang - kadang saja sih bangun siang." tukas Aira. Mbok sum tersenyum mendengar ucapan istri majikannya itu.
" Ada yang bisa saya bantu mbok." tanya Aira sambil menoleh ke kanan dan kiri dapur itu.
" Nona muda duduk santai saja di depan. Biar saya saja yang mengerjakan semuanya." jawab mbok sum.
" Biar saya bantu mbok. Saya juga biasa kok masak di dapur." jelas Aira.
" Baiklah. Tapi bolehkah saya tetap disini sambil melihat mbok sum memasak." tanya Aira sambil duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan disana.
" Silahkan nona. Apa nona mau saya buatkan jus atau susu untuk diminum?." jelas mbok sum.
" Tidak mbok. Saya sudah minum air hangat barusan." jawab Aira sopan. Mbok sum mengiyakan ucapan Aira.
__ADS_1
" Mbok sum sudah lama tinggal bersama Revan.?" tanya Aira.
" Sudah lama non. Sejak tuan Revan belum lahir, saya sudah ikut keluarga ini." jawab mbok sum sambil menggoreng telur di dalam wajan anti lengket disana.
" Ooohh berarti sudah lama sekali ya." seru Aira. Mbok sum tersenyum melihat nona muda nya itu.
" Makanan kesukaan Revan apa sih mbok?." tanya Aira lagi.
" Tuan muda itu sangat suka seafood nona. Udang, cumi, kerang, gurita, kepiting. Pokoknya suka sekali dengan seafood. Tuan muda juga sekali dengan bebek goreng dan bebek panggang. Tapi ya gitu, bebek nya harus bersih dari kulit dan lemak - lemak gitu. Harus bener - bener daging saja tanpa lemak dan kulit." jelas mbok sum.
" Pantas saja mbok, dia pernah makan sama saya di warung nasi bebek. Dia malah membuang kulit bebek tersebut." tukas Aira.
" Iya nona. Tuan muda tidak menyukai makanan yang berlemak, bersantan, dan pedas." seru mbok sum. Aira hanya mengangguk mengiyakan ucapan pembantu yang sudah paruh baya itu.
" Dari seluruh yang ada di keluarga Atmaja, hanya tuan Revan saja makannya yang selalu rewel. Mungkin karena mendiang nyonya besar yang begitu memanjakan tuan muda dari kecil. Makanya tuan muda menjadi anak yang manja dan pemilih. Tidak seperti tuan Reihan, yang selalu menerima apa saja yang ada di atas meja makan." jelas mbok sum lagi.
" Apa mama nya Revan begitu menyayangi Revan mbok?." tanya Aira penasaran.
" Sangat nona. Saat nyonya besar sakit keras sekalipun, dia tak pernah melupakan tuan muda sedetik pun. Nyonya besar masih sering membuatkan makanan kesukaan tuan muda. Dulu tuan muda begitu menyukai puding coklat. Tetapi semenjak nyonya besar meninggal, dia tidak lagi memakan makanan itu. Setiap kali saya buatkan puding coklat, selalu saja marah dan tidak mau memakannya. Mungkin dia teringat akan nyonya besar." jelas mbok sum dengan haru.
__ADS_1
Aira begitu terharu mendengar ucapan mbok sum. Dia baru tau, kalau lelaki yang sangat di cintainya itu begitu sangat kehilangan mama nya pada saat itu. Dan itu menjadi suatu penyesalan baginya. Karena dulu, dia tidak selalu ada dan mengerti kesedihan yang tengah di alami lelaki itu. Bahkan dia selalu bilang kalau Revan sangat egois. Sekarang dia tau alasan mengapa dulu Revan pergi meninggalkan nya tanpa kata dan penjelasan apapun.
Andai waktu dapat di putar. Dia begitu ingin mengulang kembali masa itu dan memperbaiki semuanya. Dia akan lebih memahami perasaan lelaki yang di cintainya itu.