
Atmaja terlihat gusar. Sedari tadi dia hanya mondar mandir di ruang tamu. Sambil sesekali melirik jam di dinding. Di pikiran nya hanya ada Revan, anak bungsunya itu. Amanda yang terlihat cemas hanya bisa menatap tak berani bertanya ataupun berkata. Dia takut perang dingin antara papa mertua nya dan adik iparnya itu akan membuat keutuhan keluarga nya retak.
" Pa waktu nya makan malam." seru Amanda membuyarkan lamunan dalam pikiran Atmaja.
" Apa Revan tidak memberi tahu dia pergi kemana?." tanya Atmaja resah.
" Tidak pa." jawab Amanda.
" Bahkan ponselnya pun tidak aktif." imbuh Amanda yang membuat Atmaja semakin berfikir keras. Atmaja menghela nafas panjang. Terasa berat dan sesak rasanya. Tapi dia gak boleh kalah dan menerima begitu saja keinginan anaknya itu. Dia harus tega agar kelak Revan mengerti kalau semua yang di lakukannya demi kebaikan Revan semata.
Atmaja pun beranjak menuju meja makan dan mereka pun makan malam dengan tenang tanpa kata.
*****
Sementara Revan dan Aira sekarang tengah di dalam mobil. Mereka pun tampak bahagia. Apalagi setelah Revan tau. Aira memakai cincin yang di pesannya tempo hari secara khusus melingkar di jari manis tangannya.
Sepanjang perjalanan wajahnya tersenyum bahagia.
" Kamu kenapa sih?. Dari tadi senyum - senyum sendiri begitu." tanya Aira heran.
" Gak. Aku gak apa - apa." jawab Revan menyembunyikan senyum nya.
" Aku jadi curiga. Jangan - jangan kamu mau bawa aku ke tempat yang aneh - aneh kan. Ayo ngaku!!." tukas Aira merinding. Revan tergelak mendengar ucapan kekasihnya itu.
" Tempat aneh gimana maksudmu." tanya Revan tak mengerti. Aira hanya melirik tanpa bersuara.
__ADS_1
" Kamu takut aku bawa ke rumah ku lagi, kan." seru Revan mencoba mengartikan ekspresi wajah Aira. Aira terdiam tak bersuara.
" Tenang aja. Aku gak akan bawa kamu kesana kok." jawab Revan. Aira menoleh ke arah Revan. Dia menatap wajah lelaki itu lekat - lekat. Revan yang tau tengah di tatap pun pura - pura tak melihat dan tetap menatap ke arah depan.
" Van, apa kamu yakin dengan pilihanmu?." tanya Aira ragu. Revan menghela nafas nya.
" Aku tak pernah menyesal dengan apa yang aku pilih. Apapun itu." jawab Revan. Aira kembali terdiam. Dia sedang mencerna kalimat yang ucap Revan.
" Lalu papa mu?." tanya nya lagi.
" Kenapa dengan dia?. Sudah lah jangan bahas dia sekarang ini. Mood aku lagi bagus. Aku gak mau mood ku rusak gara - gara bahas soal kemarin." jelas Revan meminta menghentikan pembicaraan lain. Revan masih terlalu sensitif dengan obrolan soal keluarga nya. Aira mengusap lengan Revan yang tengah menyetir itu.
" Kita mau kemana sih, Kok gak nyampek - nyampek dari tadi." tanya Aira.
*****
Akhirnya mereka pun sampai di salah satu mall di kota nya. Revan memarkirkan mobilnya di basement yang ada di mall tersebut. Aira masih bertanya - tanya dalam hati. Kenapa Revan mengajaknya pergi ke mall pikirnya. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan memasuki mall tersebut. Revan menggenggam erat tangan Aira. Mereka pun berjalan menyusuri mall tersebut sambil sesekali tertawa dan bercanda layaknya pasangan muda yang di mabuk cinta.
" Kenapa kita kesini?. " tanya Aira saat memasuki bioskop yang ada di mall tersebut.
" Aku pingin nonton." jawab Revan sambil merengek manja. Aira berdecak dan tergelak melihat kelakuan kekasihnya itu. Revan pun tertawa malu. Baru pertama ini dia berlaku manja seperti bayi pada kekasihnya.
" Memang kita mau nonton film apa?." tanya Aira sambil menatap daftar film yang tengah tayang pada layar di depannya. Revan menunjuk salah satu judul film di layar tersebut.
" Film horor." seru Aira. Revan pun mengangguk mengiyakan. Aira menatap wajah Revan. Revan pun melebarkan matanya menatap Aira balik.
__ADS_1
" Kenapa?. Kamu takut?." tanya Revan.
" Enggak. Siapa takut?." jawab Aira. Memang dirinya gak pernah takut kalau di ajak nonton film horor. Tapi nanti Sesampai nya di rumah. Dia pasti gak bisa tidur nyenyak. Karena pasti berhalusinasi soal hantu yang ada di film tersebut.
" Ok baiklah. Kamu tunggu sini. Aku beli tiket dulu. Kamu mau popcorn?." tanya Revan.
" Boleh. Sama minum sekalian. Nanti seret kalau makan gak ada minumnya." jawab Aira bercanda. Revan tergelak mendengar ucapan Aira yang baginya sangat menggemaskan itu.
" Tunggu sini ya. Jangan kemana - mana." ujar Revan. Aira mengangguk mengiyakan sambil duduk di kursi ruang tunggu. Di lihatnya antrian tiket yang lumayan panjang itu.
Aira duduk sambil menatap sekeliling bioskop. Sudah lama dia tidak pergi ke bioskop. Terakhir kali di ke bioskop sekitar 8 taun yang lalu. Saat dirinya baru pertama kali mengenal Arga, mantan suaminya itu. Dulu Arga juga yang mengajaknya pergi menonton film box office yang lagi ramai di masa itu. Padahal dia baru beberapa hari mengenal Arga. Tapi dia mau saja di ajak lelaki itu. Dan Arga pun menyatakan perasaannya saat film tengah di putar di sana.
Aahh kenangan masa itu sungguh tak terlupakan pikir Aira. Revan yang tengah mengantri tiket menoleh ke arah Aira yang tengah melamun.
" Dia sedang apa?." gumam Revan sambil menatap Aira dari kejauhan.
Aira pun menghela nafas panjang. Di lihatnya banyak sekali pasangan muda mudi tengah bercengkerama manja dengan pasangan mereka. Bayangan masa lalu nya bersama Arga pun kembali hadir. Entah mengapa sakit di hatinya pun ikut hadir kembali saat goresan masa lalu nya kembali muncul.
~ **Happy reading ~
Hai readers ...
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa ....
Terima kasih** ...
__ADS_1