
Tiga hari sudah Revan dan Aira masih terbaring dengan mata terpejam. Atmaja, Kinanti, dan para pembantu di rumah Revan pun bergantian berjaga di rumah sakit.
Karena bukan hanya Revan dan Aira saja yang harus di jaga. Attar pun juga membutuhkan penjaga. Bayi mungil itu masih belum melewati masa kritisnya. Seakan dia tau, kalau kedua orang tuanya juga masih terpejam dalam alam bawah sadarnya.
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Dokter Anne dan para perawat pun terlihat sibuk di box bayi milik Attar. Karena tiba - tiba alat bantu yang menghubungkan ke bayi mungil itu berbunyi. Dokter Anne langsung memeriksa apa yang salah dengan bayi itu.
Detak jantung bayi mungil itu terus menurun. Perawat disana pun mengambil kantung oksigen dan memasangkan ke hidung bayi itu. Kinanti yang berada di luar melihat melalui kaca besar ruangan itu. Hatinya sungguh tidak karuan. Wanita itu takut terjadi apa - apa dengan cucunya tersebut.
Tak lama kemudian dokter Anne meminta Kinanti untuk masuk ke dalam ruangan. Kinanti pun menurut. Terlihat bayi mungil itu telah melewati masa kritisnya. Dan sekarang bayi mungil tersebut telah menangis untuk pertama kalinya semenjak dia di lahirkan. Air mata Kinanti pun tak dapat di bendung lagi. Dia begitu senang dengan kabar baik untuk cucunya itu. Dokter Anne meminta Kinanti untuk menebus obat untuk usus bayi mungil itu. Karena selama ini bayi itu tidak mengalami buang air besar. Akibat banyaknya obat yang masuk ke dalam tubuhnya. Kinanti pun segera pergi ke apotek yang ada di rumah sakit tersebut.
*****
Malam harinya giliran Akbar yang menunggu di ruang ICU tempat Aira dan Revan di rawat. Akbar menunggu di ruangan yang telah di sediakan rumah sakit. Dia duduk berselonjor sambil bersandar pada salah satu tembok rumah sakit itu. Akbar pun merasa hawa dingin rumah sakit malam ini begitu menusuk tulangnya. Sambil mengeratkan jaket yang di pakainya Akbar pun terlelap dalam tidurnya.
Dalam tidur lelaki itu bermimpi bertemu dengan almarhumah nenek Aira dan Santi yang sudah tiada beberapa bulan lalu. Nenek terlihat begitu segar dan cantik dengan balutan baju putih bersih tanpa noda.
" Nenek?. Sedang apa disini nek?." tanya Akbar kaget saat melihat wanita tua itu duduk di sebuah bangku.
__ADS_1
Nenek hanya menatap wajah Akbar tanpa bersuara. Tapi dari raut wajah nenek menyiratkan banyak sekali jawaban dan pertanyaan yang tak bisa di artikan oleh Akbar.
Dari arah belakang ada yang menepuk bahunya. Akbar pun langsung menoleh. Di lihatnya siapa yang menepuk bahu tersebut. Mata Akbar begitu terbelalak saat melihat sosok yang ada di belakangnya.
" Mas Revan!!." ujar Akbar. Revan pun tersenyum mendengar Akbar memanggil namanya.
" Mas sedang apa disini?. Bukannya mas sedang di rumah sakit ya." tanya Akbar kaget bercampur heran.
" Aku tidak bisa disana terus - menerus. Aku lelah." jawab Revan dalam senyumnya.
" Apa maksud mas Revan?. Mas mau menyerah?. Lalu bagaimana dengan mbak Aira kalau mas menyerah?." tanya Akbar bingung. Revan hanya menepuk bahu Akbar berulang kali. Senyumnya pun tetap mengembang di sudut bibirnya.
" Mas Revan ngomkng apa sih?. Aku gak ngerti deh." tukas Akbar.
" Kalau aku tidak membawa mereka. Aku titip mereka kepadamu ya." jelas Revan dengan wajah memohonnya. Akbar mengerutkan dahinya.
" Mas ngomong apa sih. Jangan ngomong yang aneh - aneh deh." tukas Akbar dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
" Aku serius. Aku mohon kepadamu." pinta Revan.
" Jangan mas. Jangan pergi. Mas Revan harus bertahan demi mbak Aira juga demi si kecil. Apa mas Revan gak sayang sama mereka, hah?." tanya Akbar.
" Aku sangat menyayanginya. Maka dari itu aku tidak bisa mengajaknya." jawab Revan.
Belum selesai obrolan mereka, Revan menatap seseorang di belakang punggung Akbar. Wajahnya terlihat senang dan berseri - seri saat memandang orang itu. Akbar menoleh terlihat seorang wanita cantik dengan wajah yang sekilas mirip dengan kakak iparnya itu. Wanita itu pun tersenyum dan melambai ke arah Revan. Revan pun mengangguk dan beranjak dari tempat itu.
" Mas mau kemana mas. Jangan mas. Jangan pergi. Kasian mbak Aira mas. Mas Revan." teriak Akbar. Revan tetap pergi dengan wanita itu tanpa menoleh sedikit pun.
" Mas Revan ....!!!." ujar Akbar lirih.
" Mas. Mas bangun mas. Mas ..." tukas salah seorang yang ada di ruang tunggu itu membangunkan Akbar yang terus berteriak dalam tidurnya. Akbar membuka matanya sambil berjingkat. Tubuhnya terasa kaku dan keringat dingin mengalir di keningnya.
" Mas tidak apa - apa?." tanya orang itu. Akbar mendongak menatap ke arah orang yang membangunkannya.
" Oohh maaf mas. Saya tidak apa - apa. Saya hanya bermimpi saja." jawab Akbar malu. Orang itu pun tersenyum lalu kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Akbar mengusap wajahnya kasar. Dia masih ingat betul apa yang baru saja dia impikan. Akbar pun berdiri di depan jendela kaca besar. Dari luar terlihat Revan bersebelahan dengan Aira masih terbaring dengan mata yang sama - sama terpejam. Akbar menghela nafasnya dengan berat sambil terus menatap wajah Revan.
Apa mungkin ini suatu pertanda apa hanya firasat ku saja ya. Semoga hanya bunga tidur belaka. Mungkin aku terlalu nyenyak tidur tadi sampai bermimpi macem - macem seperti itu. gumam Akbar dalam hatinya.