
Keesokan harinya ...
Saat Aira bangun tidur dia sudah tak mendapati suaminya ada di sebelahnya. Di lihatnya jam di dinding. Masih jam 6 pagi.
Aira beranjak dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Saat pintu kamar mandi di buka, terlihat Revan tengah duduk di closet kamar mandi sambil memejamkan matanya.
" Sayang. Kamu ngapain tidur disini?." tanya Aira kaget melihat suaminya disana. Revan membuka matanya, dan menghela nafasnya.
" Kamu kenapa?." tanya Aira sambil mendekat ke arah lelaki itu. Revan hanya menggelengkan kepala nya. Keringat dingin terlihat di keningnya.
" Kamu sakit?." tanya Aira sambil mengusap keringat di kening suaminya.
" Entahlah. Perut ku gak nyaman rasanya. Mual sekali." ujar Revan sambil berdiri dari duduknya.
" Kamu habis makan apa?. Salah makan mungkin." tanya Aira sambil menuntun tubuh suaminya untuk duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
" Kemarin aku makan rujak buah." tukas Revan.
" Tuh kan. Bisa jadi makanan itu gak bersih. Makanya kamu seperti ini sekarang." ujar Aira.
" Mungkin." jawab Revan.
" Aku ambilin teh hangat dulu." tukas Aira. Revan hanya mengangguk mengiyakan.
Aira pun keluar dari kamar menuju dapur. Sementara Revan merasakan mual lagi dalam perutnya. Dia pun berlari kembali menuju kamar mandi dan muntah lagi. Tak ada apapun yang bisa di muntahkan olehnya. Karena tadi dia sudah memuntahkan semua isi perutnya. Tapi rasa mual itu tak kunjung hilang walaupun perutnya sudah kosong.
" Nona muda sedang apa?." tanya mbok Sum.
" Saya mau buat teh hangat buat mas Revan mbok. Dia lagi gak enak badan." ujar Aira.
" Biar saya saja non. Nona tunggu saja di kamar. Nanti saya antar." tukas mbok Sum.
" Gak apa - apa mbok. Sudah nyampai sini juga. Nanggung kalau harus kembali ke kamar. Mbok Sum lanjut buat sarapan aja." ujar Aira.
__ADS_1
Mbok Sum pun menuruti ucapan Aira. Setelah teh yang dia buat selesai, Aira menaruhnya pada nampan dan membawa nya ke dalam kamar.
Saat memasuki kamar. Terlihat Revan baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Aira menghampiri suaminya itu dan memberikan teh yang dia buat.
" Muntah lagi?". tanya Aira. Revan pun mengangguk mengiyakan sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
Di raihnya cangkir berisi teh hangat itu dan di minumnya secara perlahan. Rasanya nyaman sekali di perutnya. Dia pun sampai menghabiskan semua teh yang ada di cangkir itu hingga tak tersisa.
" Kamu mandi duluan saja. Aku mau rebahan dulu." tukas nya pada Aira lalu berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.
Aira pun masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Hampir setengah jam, dia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan baju handuk yang ada di kamar mandi.
Dia berjalan menghampiri Revan yang tengah tertidur di atas tempat tidur. Di belai nya lembut rambut suaminya itu. Revan membuka mata seketika. Saat merasa ada yang menyentuh kepalanya.
" Kamu sudah selesai mandi?." tanya Revan.
" Iya. Sekarang kamu mandi sana. Nanti keburu siang." jawab Aira. Revan bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat di depan cermin, Aira mengusap perlahan perutnya. Banyak harapan dalam hatinya. Dia sudah membayangkan bagaimana indahnya saat bayi kecil dalam perutnya bergerak dan menendang perutnya. Senyum di bibirnya pun mengembang saat membayangkan hal indah tersebut.
Revan yang baru keluar dari dalam kamar mandi pun mengernyit heran melihat kelakuan istrinya senyum - senyum sendiri di depan cermin.
" Kamu kenapa?." tanya Revan sambil menggosok kepalanya yang basah dengan handuk. Aira menoleh ke sumber suara itu.
" Kenapa apanya?." tanya Aira balik.
" Kamu kenapa senyum - senyum sendiri begitu." tukas Revan.
" Gak apa - apa. Cuma lagi bayangin aja. Perut aku gendut, terus ada yang gerak dan nendang - nendang disana. Aku sudah tidak sabar." jawab Aira dengan mata berbinar. Revan tersenyum mendengar ucapan istrinya.
" Sesenang itukah kamu?." tanya Revan.
" Tentu saja. Hamil adalah saat yang paling indah bagi setiap perempuan." jawab Aira.
__ADS_1
" Syukurlah kalau kamu berpikir begitu." ujar Revan sambil mengusap kepala Aira dan meraih baju yang ada di tangan istrinya itu.
" Apa kamu senang akan menjadi seorang ayah?." tanya Aira sambil menatap wajah suaminya itu. Revan tergelak mendengar pertanyaan yang sedikit lucu itu.
" Tentu saja. Laki - laki mana yang gak senang saat mendengar kabar istrinya hamil dan akan menjadi seorang ayah." jawab Revan.
" Tapi dulu mas Arga gak gitu." ucap Aira lirih.
" Hei!. Jangan bandingkan aku dengan laki - laki gak guna seperti itu!." dengus Revan kesal saat dirinya mulai di banding - bandingkan dengan mantan suami istrinya itu.
" Maaf. Aku gak bermaksud membandingkan kamu." tukas Aira. Terlihat wajah Revan sudah berubah jadi cemberut akibat kata - kata Aira. Aira pun memeluk lengan suaminya dengan manja. Tapi Revan hanya diam saja dengan wajah dinginnya.
" Sayang. Aku minta maaf. Aku .. " kalimat Aira terpotong.
" Jangan bahas itu lagi. Aku gak mau dengar apapun." ujar Revan kesal. Saat dirasa penampilannya sudah rapi, dia langsung beranjak keluar kamar tanpa suara. Di tinggal lah Aira sendiri di kamar. Aira merutuki mulutnya yang bicara ngawur tadi.
Dia pun berjalan mengikuti Revan menuju ruang makan untuk sarapan disana. Terlihat Revan duduk di meja makan dengan wajah dingin dan masam nya. Aira hanya terdiam dan memperhatikan saja. Tanpa bicara sama sekali. Saat melihat kopi hitam yang biasa dia minum. Rasanya sangat enggan sekali meminumnya. Di taruh kembali cangkir kopi tersebut.
" Mbok." panggil Revan. Mbok Sum pun menghampiri tuannya tersebut.
" Bawa kopi ini ke belakang. Ambilkan air sirup mbok. Jangan lupa di kasih es batu." pinta Revan.
Mbok Sum yang mendengar perintah tuannya itu merasa kaget. Karena setiap pagi tuannya itu selalu minum kopi hitam tanpa gula. Itu di karenakan Revan memang tak menyukai makanan atau minuman yang memiliki rasa manis. Apalagi di campur dengan es. Ini baru pertama kalinya dia melihat tuan yang sudah di besarkan dari bayi meminta minum es di pagi hari.
" Ada apa mbok?." tanya Revan saat melihat mbok Sum masih berdiri di samping nya sambil memegang cangkir kopi.
" Ti Tidak tuan. Akan saya ambilkan es sirup nya." ujar mbok Sum lalu beranjak pergi.
" Kamu tumben minta es sirup pagi - pagi sayang." tanya Aira sambil mengunyah roti di tangannya.
" Hatiku sudah panas di pagi hari." jawabnya menyindir Aira. Aira terdiam mendengar itu. Dia hanya menatap wajah Revan yang dingin itu.
Aku seharusnya gak bilang seperti itu tadi. Lihat wajahnya itu!. Sudah seperti ingin memakan orang saja. Sayang. Kenapa kamu berubah menyeramkan begini sih. Aku kan takut.
__ADS_1