
Hari itu terasa kiamat bagi hidup Revan. Orang yang paling dia cintai harus pergi untuk selama - lamanya. Kini tubuh kaku dan dingin Aira sudah di bawa pulang ke rumahnya.
Kinanti dan orang yang ada di rumah menyambut mobil ambulance yang baru saja tiba itu dengan jeritan dan tangis histeris. Wanita itu sungguh tidak percaya akan di tinggal sang anak secepat itu. Padahal semalam, Aira pergi dengan keadaan sehat wal afiat. Tidak ada tanda - tanda jika dia akan pergi untuk selama - lamanya.
Revan meminta pulang ke rumahnya. Semua dokter disana sudah kuwalahan menghadapi amukan lelaki itu saat di larang meninggalkan rumah sakit dengan alasan kesehatannya. Dia sudah tidak perduli dengan kesehatannya lagi saat ini. Dia sudah tidak perduli lagi semua omongan para teman - temannya yang mengkhawatirkan kesehatannya. Yang dia ingin kan saat ini berada di samping istrinya untuk terakhir kali.
Sebuah taksi pun berhenti di rumah yang selama ini Revan dan Aira tempati. Atmaja keluar dari dalam mobil itu dan membuka pintu sisi sebelahnya. Terlihat supir taksi itu pun membantu mengambil kursi roda di dalam bagasi. Yah Revan akhirnya di izinkan pulang oleh dokter yang merawatnya.
Rumah itu tampak ramai. Ada bendera berwarna kuning bertengger di pagar rumah itu. Atmaja menghela nafasnya dan dengan berat hati menggendong tubuh anaknya agar bisa duduk di kursi roda itu. Dua lelaki itu pun memasuki halaman rumah itu.
Para tetangga dan teman serta kerabat disana begitu tersentak saat melihat kehadiran Revan. Akbar pun terlihat berlari menghampiri lelaki itu. Wajahnya sembab dan matanya merah. Khas orang baru selesai menangis.
" Mas Revan!." ujar Akbar. Revan hanya terdiam saat mendengar namanya di panggil. Butiran bening pun jatuh dari pelupuk matanya.
Di dalam rumah sudah ramai dengan para tetangga serta kerabat yang sedang melantunkan ayat suci Al Quran. Terlihat sesosok tubuh sedang di tutupi oleh kain disana.
Kinanti yang tau menantunya itu datang langsung berdiri dan menghampiri nya. Kinanti menghambur dan memeluk tubuh Revan dengan erat di sertai tangisan yang begitu menyayat hati. Revan pun memeluk tubuh mama mertuanya dan ikut menangis di dalamnya.
__ADS_1
" Maafin Revan Ma!. Revan gak bisa menjaga Aira dengan baik. Ini semua salah Revan!." ujar Revan di sela tangisnya. Kinanti melepaskan pelukan nya pada lelaki yang sudah di anggap seperti anaknya itu.
" Kamu tidak bersalah nak. Ini sudah takdir. Kamu ikhlas kan anak mama pergi ya!. Biar dia tenang di sana." ujar Kinanti.
" Enggak Ma!. Ini salah Revan. Jika tadi pagi Revan gak nyuruh Aira pergi dan pulang. Ini semua gak akan terjadi." jelas Revan. Kinanti memeluk kembali tubuh Revan. Dirinya sudah tidak sanggup lagi berkata - kata.
Semua orang yang ada di samping tubuh Aira pun memberikan jalan untuk Revan mendekat ke arah istrinya itu. Santi yang setia berada di samping kakaknya itu membuka kain penutup wajah Aira agar Revan bisa leluasa melihat wajah istrinya untuk terakhir kali.
Revan pun langsung menangis histeris saat melihat wajah pucat istrinya dengan mata terpejam. Dia tidak bisa menerima kepergian Aira secepat itu. Atmaja dan Kinanti yang ada di sebelah Revan pun mencoba menenangkan Revan agar lelaki itu tabah dan ikhlas melepas Aira pergi.
" Jangan pergi!!. Aku mohon bukalah mata mu Aira!!. Jangan tinggalkan aku!!. Aku mohon!!." Revan terus berteriak dan menangis serta meronta ingin lebih mendekat ke arah tubuh Aira. Atmaja dan Kinanti sampai kuwalahan menghadapi sikap Revan yang terus menerus meronta membangunkan tubuh Aira.
Dari lantai atas terdengar suara Attar menangis. Perawat Ita pun sudah menenangkannya dan memberinya susu tapi Attar masih saja meraung - raung dalam tangisnya. Revan pun menatap lantai atas tempat anaknya berada. Hatinya semakin seperti tersayat saat mendengar suara tangis sang anak.
Santi dan mbak Aminah langsung berlari ke lantai dua untuk memeriksa keadaan bayi mungil itu yang masih terus menangis. Terlihat perawat Ita menggendong tubuh Attar yang masih terus menangis itu. Santi pun mengambil alih Attar dan menggendongnya. Tapi Attar masih terus saja menangis.
" Mungkin dia ingin bertemu mama nya." seru mbak Aminah sedih. Santi pun menangis kembali dan menciumi pipi bayi mungil itu.
__ADS_1
Santi dan mbak Aminah pun membawa Attar turun ke lantai satu. Terlihat Revan pun sudah mulai tenang di dalam pelukan ayahnya. Kinanti begitu terkesiap saat melihat cucunya itu menangis terus tanpa henti.
" Ada apa ini?. Kenapa Attar menangis terus seperti ini?." tanya Kinanti sedih sambil mengusap kepala bocah itu.
Revan menoleh ke arah bayi mungil itu. Di lihatnya wajah Attar lekat - lekat. Air matanya menetes kembali melihat bayi itu menangis sampai kejer seperti itu.
" Mungkin dia ingin bertemu sang mama." ujar Santi. Kinanti menatap ke arah tubuh Aira.
Di gendong lah Attar dan di dekatkan ke arah tubuh sang mama. Semua orang di sana tak bisa menahan tangis haru nya saat melihat bayi itu berada di samping sang ibunda. Ajaibnya Attar langsung terdiam seketika. Dia menatap wajah Aira dengan senang. Senyum mungilnya pun tersungging bahagia saat melihat wajah Aira.
Di biarkanlah bayi mungil itu berada di samping sang mama. Attar dengan aktifnya berguling kesana kemari di samping tubuh kaku sang mama. Bayi itu pun mengoceh dengan senangnya. Revan meminta papanya untuk menggendong Attar ke pangkuannya.
Atmaja pun menggendong tubuh Attar dan di taruh di pangkuannya. Attar yang berada di pangkuannya pun di ciumi nya dengan lembut. Air mata Revan pun tak berhenti menetes saat melihat anaknya itu. Attar pun menyentuh wajah Revan yang basah oleh air mata dengan tangan mungilnya itu. Di dekapnya bayi mungil itu dengan erat.
" Papa sangat mencintaimu nak!. Sangat!." ujar Revan sambil terus menciumi bayi mungil itu.
Sore harinya, tubuh Aira pun di kebumikan di pemakaman dekat dengan rumah Revan. Revan pun memandang tubuh Aira yang di angkat dan di masukkan ke dalam liang lahat untuk terakhir kalinya. Air matanya masih terus menetes melepas kepergian sang istri. Atmaja dan Reihan pun berdiri di samping Revan yang duduk di kursi roda. Mereka semua tau. Ini begitu berat untuk Revan.
__ADS_1
Selamat jalan istri ku sayang. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dirimu. Tenanglah di alam sana. Aku akan berusaha segenap jiwaku untuk mengikhlaskan kepergianmu walau begitu sulit dan menyiksa. Kamu tau, kamu adalah bagian dari hidup ku serta nyawaku. Aku akan menjaga anak kita dengan baik. Tunggu aku disana!. Aku sangat mencintaimu. Selamanya akan terus mencintaimu!. Revan