
" Mbak Aira sudah tidur bun?." tanya Akbar ketika melihat istrinya itu menutup pintu kamar kakaknya itu. Santi mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya itu. Akbar pun turut melihat kesedihan di wajah Santi. Lelaki itu mendekat dan langsung memeluk tubuh istrinya itu. Santi pun mulai terisak.
" Sudah bun. Ini semua ujian. Semoga kita semua mampu menghadapi segala cobaan dan ujian." ujar Akbar. Santi melepas dekapan suaminya dan masuk ke dalam kamarnya.
*****
Revan tengah berdiri di dekat jendela kamarnya. Sejak dia pulang dari rumah Aira, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Hatinya sungguh gusar memikirkan semua kejadian tadi malam. Apalagi saat melihat air mata dari wajah perempuan yang di cintai nya itu. Dada nya serasa sesak. Dia ingin sekali memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Membiarkannya menumpahkan semua air mata dan getirnya hati dalam pelukannya.
Tangan nya mengepal kuat. Ada rasa amarah yang kuat dalam dirinya. Dia akan tetap memilih menikahi perempuan itu apapun yang terjadi.
*****
Keesokan harinya ...
Aira masih meringkuk di bawah selimut nya. Dia rasanya enggan sekali untuk bangun hari itu. Mata nya bengkak akibat terlalu banyak menangis semalam. Dia melirik ke arah jam yang ada di dinding. Sudah pukul 6 pagi. Dia pun juga sudah mendengar suara adik dan suaminya sedang bercakap - cakap di dapur.
Aira bangun dari tidur nya dan duduk diatas tempat tidurnya. Kepala nya terasa berat sekali. Dia pun beranjak dan membuka pintu kamarnya. Lalu dia menghampiri adiknya yang tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Santi menoleh ke arahnya dan tersenyum.
" Mandi dulu gih mbak. Abis gitu kita sarapan." seru Santi saat melihat kakaknya. Aira pun mengangguk mengiyakan ucapan adiknya itu.
Aira kembali ke kamar untuk mengambil handuk dan pakaian dalam nya lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Santi yang telah selesai dari dapurnya pun langsung menuju ruang tamu dan menemani suaminya sarapan disana.
" Assalamualaikum ... " terdengar suara perempuan dari luar rumah tersebut. Santi pun menoleh ternyata mama nya yang datang. Santi dan Akbar pun beranjak berdiri menghampiri Kinanti dan menyalami perempuan itu. Kinanti pun tersenyum melihat anak menantunya itu rukun.
" Dimana mbak mu?." tanya Kinanti.
" Mbak Aira sedang mandi. Mama kenapa sepagi ini kesini?." tanya Santi.
" Iya. Mama ingin bertemu dengan mbak mu. Semalam saat kamu menelepon mama memberitahu soal keadaan mbak mu. Mama gak bisa tidur di buat nya. Hati mama ikut sakit. Makanya mama pengen cepet - cepet ketemu dengannya." jelas Kinanti dengan mata yang berkaca - kaca. Dia pun turut merasakan apa yang tengah di rasakan oleh anaknya itu.
__ADS_1
Aira pun telah selesai mandi. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia pun seakan mendengar suara mama nya disana. Aira pun melangkah ke arah ruang tamu ingin melihat ada siapa disana. Benar saja, saat Aira melihat ada sosok perempuan yang di kenalnya.
" Mama .. " seru Aira. Kinanti menoleh ke arah putri sulungnya itu. Kinanti pun langsung berdiri dan menghampiri putrinya itu.
" Bagaimana keadaan mu nak?." tanya Kinanti seraya memeluk erat tubuh anaknya itu. Aira hanya terdiam dan membalas pelukan mama nya itu. Kinanti mulai terisak. Aira pun sudah mulai berkaca - kaca. Tapi bersusah payah dia menahan agar tak menangis di hadapan mama nya saat ini.
" Aira baik - baik saja ma. Mama kenapa kesini?. Nenek sama siapa di rumah?." tanya Aira. Kinanti melepas pelukan nya itu. Di tatapnya wajah anak perempuan nya itu. Aira pun memaksa wajahnya untuk tersenyum.
" Jangan berpura - pura baik - baik saja di depan mama. Mama tahu kamu tengah berbohong." jelas Kinanti. Aira memeluk mama nya kembali.
" Ayo kita sarapan. Mama pasti belum makan kan." ujar Santi. Aira melepas pelukan ibunya itu dan menuntun mama nya duduk di ruang tamu itu. Saat mereka semua tengah sarapan dan ngobrol santai tiba - tiba Revan datang ke rumah itu.
" Assalamualaikum ... " seru Revan.
" Waalaikumsalam. " jawab seluruh yang ada di ruang tamu itu serempak. Mata Aira tercekat saat melihat lelaki yang tengah berdiri di depan pintu itu.
" Ra, dengerin penjelasan aku dulu Ra. Aku ingin bicara dengan mu." jawab Revan. Kinanti pun beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Revan.
" Mama .. " seru Revan saat melihat Kinanti di hadapannya. Revan pun menyalami perempuan itu. Kinanti diam saja.
" Duduklah Van. Mama mau bicara." tukas Kinanti.
" Ma, gak ada yang harus di bacarakan dengannya. Semua sudah jelas ma." ujar Aira kesal saat melihat Revan di persilahkan masuk dan duduk oleh ibu nya.
" Duduk lah nak. Mama hanya ingin bicara sebentar." jawab Kinanti. Aira mendengus kesal lalu duduk di hadapan lelaki itu. Kondisi rumah itu pun menjadi tegang. Semua nya terdiam tak bersuara.
" Revan. Apa benar kalau keluarga mu tidak menyetujui hubungan mu dengan Aira?." tanya Kinanti langsung pada poin nya.
" Mereka semua setuju ma. Hanya ... " Revan menghentikan suaranya.
__ADS_1
" Hanya apa .." tanya Kinanti tegas.
" Hanya tidak suka." jawab Revan singkat.
" Sama saja Revan. Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau mereka tidak menyukai Aira. Kenapa kamu berbohong Revan?." tanya Kinanti.
" Karena Revan sangat mencintai Aira ma. Revan gak mau kehilangan Aira. Revan ingin menikah dengan Aira ma." jelas Revan.
" Menikah?. Kamu ingin menikah dengan Aira walau pun keluarga mu tak merestuinya?. Jangan harap Revan!!. Mama tak menyetujuinya. Mama gak mau anak mama jadi bahan omongan dan hinaan keluarga mu." tukas Kinanti.
" Ma Revan mohon ma. Revan gak perduli lagi sama keluarga Revan ma. Revan akan tetap menikah dengan Aira. Revan mencintai nya ma." pinta Revan. Kinanti menatap wajah Revan.
" Mama tau kamu sangat mencintai Aira. Tapi mama gak mau anak mama di sakiti lagi Revan. Sudah cukup revwan. Selama ini dia sudah menderita." ujar Kinanti.
" Revan akan keluar dari keluarga Revan ma. Revan akan tetap menikahi airae. Revan gak perduli dengan apa yqng mereka pikirkan ma." jelas Revan keras. Semua yang ada di sana hanya terdiam melihat Revan yang bersikeras ingin menikahi Aira.
Aira sebenarnya merasa tersentuh melihat kegigihan Revan ingin menikahi nya. Tapi dia juga tak ingin menikah tanpa restu dari papa Revan. Apalagi dia orang tua Revan satu - satu nya. Revan menatap wajah Aira. Aira membuang muka nya ke segala arah. Dia tak ingin beradu pandang dengan lelaki itu. Bisa - bisa dia akan luluh kembali di buatnya.
" Pulang lah!. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Semua sudah berakhir!!." jelas Aira lalu beranjak pergi masuk kedalam kamarnya. Revan masih terdiam menatap ke depan. Dia begitu terluka saat melihat mata Aira yang bengkak. Pasti dia menangis semalaman, gumamnya dalam hati.
" Pulang lah van. Biarakan Aira tenang dulu." ujar Kinanti. Revan pun mengangguk mengiyakan permintaan perempuan yang sudah di anggap seperti ibunya sendiri itu. Revan pun berpamitan pulang dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
~ **Happy reading ~
Hai readers ...
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa ...
Terima kasih sudah setia membaca novel kami** ....
__ADS_1