
Sesuai janji Radit pada Revan. Satu jam kemudian, terlihat lelaki itu memasuki kamar perawatan tempat Aira di rawat. Terlihat Aira tengah tertidur dengan lelap nya. Sementara Revan duduk di sofa bersama dengan mama mertuanya, Kinanti.
" Bagaimana kondisi nya?." tanya Radit saat melihat Revan masih terjaga.
" Dia barusan tertidur. Mungkin karena efek obat tadi yang masuk ke tubuhnya sedikit." jawab Revan sambil menatap wajah istrinya.
Tubuh Aira terlihat semakin membengkak. Wajah nya pun terlihat lebih gemuk dari biasanya. Radit mendekati Aira yang tengah tertidur. Di tekannya kaki Aira yang bengkak tersebut.
" Apa dia banyak minum?." tanya Radit.
" Tidak. Dia minum sesuai aturan dari rumah sakit." jawab Revan. Radit menghela nafasnya. Dia yakin bengkak pada tubuh Aira karena adanya komplikasi kehamilan yang sedang di deritanya.
" Lalu?. Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan mu?." tanya Radit sambil mendekat ke arah sofa dan duduk di depan temannya dan ibu mertua temannya itu.
Revan terdiam. Dia masih bingung dengan pilihannya. Kinanti mengusap tangan Revan. Lelaki itu pun hanya mengangguk kan kepala.
" Kamu siapkan semua nya. Aku akan tanda tangan. Agar kamu bisa lebih cepat melakukan tindakan padanya." ujar Revan.
" Tapi aku boleh minta satu permintaan." tanya Revan kepada sahabatnya itu.
" Apa?. " tanya Radit.
" Jangan lakukan sterilisasi pada Aira. Aku gak sanggup bilang kepadanya soal itu. Aku akan menghancurkan impian istriku jika aku melakukan itu padanya. Itu terlalu kejam untuknya." tukas Revan.
" Tapi nanti Aira bisa hamil lagi kalau itu tidak di lakukan. Sedangkan akar masalah semua ini akibat kehamilan Aira." ujar Radit.
" Aku akan menggantikan dia. Aku akan memakai kontrasepsi kedepannya. Aku akan melakukan sterilisasi untuk diriku sendiri." ujar Revan tegas.
Semua yang ada di ruangan itu begitu tercengang mendengar ucapan Revan. Radit sampai tak bisa menutup mulutnya akibat terlalu kaget dengan penuturan sahabatnya itu.
" Nak, kamu gak perlu melakukan itu. Yang sakit itu anakku. Dia yang tidak bisa menjadi ibu. Sedangkan kamu laki - laki sehat dan normal. Kamu tidak perlu melakukan itu." tukas Kinanti. Revan menggenggam tangan mama mertuanya itu.
" Tidak ma. Aku akan melakukan itu. Aira akan kehilangan bayi yang sangat dia inginkan. Dan aku akan terlalu egois jika aku masih memikirkan diriku sendiri. Jadi aku memutuskan untuk melakukan itu. Keputusan ku sudah bulat. Aku harap mama, dan kau Radit. Jangan beritahu siapa pun soal ini. Termasuk Aira. Ini akan menjadi rahasia kita. Aku mohon." pinta Revan.
Kinanti memeluk tubuh Revan. Dia menangis mendengar ucapan Revan. Pengorbanan Revan untuk anakknya begitu besar. Padahal yang tidak mampu itu putrinya. Revan sangat sehat dan mampu untuk memiliki anak. Seandainya nanti Revan meninggalkan Aira, Kinanti tidak akan menyalahkan lelaki itu. Karena memang Aira yang tidak bisa memberikan anak untuk Revan.
__ADS_1
" Baiklah kalau itu keputusan mu. Aku akan sangat menghargai. Aku keluar dulu. Aku akan mengurus semua surat - suratnya. Nanti aku akan kemari lagi." ujar Radit. Revan mengangguk mengiyakan.
Kinanti melepas pelukannya pada suami anaknya itu. Revan menggenggam tangan Kinanti. Dia masih bisa tersenyum menatap wanita paruh baya itu.
" Mama tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meninggalkan Aira apapun yang terjadi. Aku sangat mencintai nya Ma. Aku mencintainya melebihi diriku sendiri." ujar Revan kepada wanita itu.
" Nak, pikirkan sekali lagi niat mu tadi. Kamu jangan menghancurkan dirimu sendiri. Disini yang memiliki kekurangan itu anakku, Aira. Kamu bisa mencari wanita yang sehat dan mampu memberimu keturunan. Mama tidak akan menyalahkan mu jika kamu ingin pergi dari hidup anakku. Jangan lakukan itu Revan. Mama mohon." ujar Kinanti. Revan yang mendengar itu pun hanya tersenyum.
" Mana bisa aku berpaling kepada perempuan lain Ma. Jika hatiku saja sudah aku berikan kepada Aira seluruhnya. Dari awal aku hanya mencintai nya seorang. Tidak ada yang lain." jelas Revan.
Revan melangkah ke arah Aira yang tengah tertidur. Dia tidur begitu pulasnya. Hingga suara berisik pun yang ada disana tak di dengarnya. Di genggamnya tangan istrinya itu. Dia memberikan banyak ciuman pada punggung tangan istrinya. Butiran air mata menetes di tangan perempuan itu. Entah apa yang membuatnya ingin sekali menangis saat ini. Revan membenamkan wajahnya di tangan istrinya sambil terisak. Lelaki itu menangis disana. Kinanti hanya menatap punggung menantunya dari sofa. Dia merasakan penderitaan yang sedang di alami anak dan menantunya itu.
******
Hari sudah hampir siang. Tapi Aira tidak melihat keberadaan suaminya sejak dia bangun tadi pagi. Dia sempat menanyakan keberadaan suaminya itu pada mama nya. Kinanti hanya bilang Revan sedang ada urusan.
Perawat pun dari pagi sudah sibuk keluar masuk kedalam ruangan Aira. Entah itu memeriksa tekanan darah nya, atau memeriksa kondisi bayi dalam perutnya.
" Ma , Aku lapar." ujar Aira pada mama nya. Kinanti hanya tersenyum mendengar itu.
Aira melirik ke arah jam yang ada di dinding. Sudah hampir memasuki makan siang. Tapi kenapa petugas rumah sakit disana tidak memberikan dia makanan saat sarapan. Saat Aira meminta minum pun. Mama nya juga bilang gak boleh.
Aneh sekali. Kenapa mereka semua melarangku makan dan minum?. Aku sangat haus dan lapar sekali. gumam Aira dalam hati sambil mengusap perutnya yang mulai di tendang oleh bayi nya karena demo minta makan.
Tepat pukul 1 siang. Dokter Radit memasuki ruangan tersebut dengan seorang perawat yang membawa brankar rumah sakit. Dia memerintahkan perawat disana untuk membantu Aira untuk berpindah ke brankar tersebut.
" Saya mau di bawa kemana dok?." tanya Aira. Radit hanya terdiam. Dia hanya tersenyum kepada istri temannya itu.
Brankar tersebut di dorong melewati pintu belakang ruangan disana. Aira hanya terdiam saat brankar tersebut di dorong melewati lorong demi lorong rumah sakit. Perasaannya sungguh tidak enak. Dia meremas tangannya dengan kuat. Aira melihat tanda ruang operasi pada ujung lorong tersebut. Dia begitu tersentak dengan tulisan itu.
Saat Aira hendak bangun dari brankar tersebut. Tubuhnya di tahan oleh seorang lelaki yang memakai pakaian lengkap khas pakaian yang di gunakan di ruang operasi. Aira pun menoleh ke arah lelaki itu. Lelaki itu pun tersenyum ke arah Aira.
" Revan." seru Aira. Revan masih terdiam dan terus mendorong brankar untuk mendekati ruang operasi.
" Aku mau di apain Van?. Kenapa aku di bawa kesini." tanya Aira. Tapi Revan masih membisu. Dia hanya menatap ke depan tak menghiraukannya.
__ADS_1
Ruang operasi pun di buka. Radit langsung bergegas mengganti pakaian nya dengan pakaian yang sudah di sediakan di sana. Petugas yang ada di ruang operasi pun mengambil alih brankar yang di tempati Aira dari perawat yang mendorong nya tadi.
Bau desinfektan menyengat di indera penciumannya. Dia hafal betul dengan ruangan dingin dan berbau menyengat ini. Karena dulu dia dua kali memasuki ruangan ini. Dokter Radit yang sudah berganti pakaian lengkap dan memakai masker pun mendekat ke arah Aira.
" Nyonya Aira, nyonya akan menjalani operasi caesar. Tim dokter yang bertugas adalah Dokter Radit selaku dokter Obgyn anda dan ketua tim disini. Dokter Anne selaku dokter anak yang akan merawat bayi anda nanti. Dan ada dokter Silvi selaku dokter anastesi yang akan memantau obat yang akan masuk di tubuh nyonya nanti selama operasi berlangsung ya. Disini juga ada tiga orang perawat. Yaitu perawat Sari, perawat Dina, dan perawat Rio yang akan membantu jalannya operasi." jelas salah satu dokter disana yang tidak lain adalah dokter Silvi selaku dokter anastesi.
" Nantinya operasi akan berjalan selama kurang lebih 45 menit. Nyonya akan di berikan obat bius. Kali ini bius nya bukan bius yang di suntikkan melalui tulang belakang. Tapi nyonya akan di bius secara total melalui selang oksigen." jelas Dokter itu sambil menunjuk selang oksigen yang menggantung di atasnya. Aira tak punya kesempatan sama sekali untuk bicara dan bertanya. Seakan mereka semua menolak untuk mendengarkan ucapan Aira.
" Nyonya tidak usah takut. Tidak usah panik. Rileks saja. Karena semua akan di tangani oleh tenaga medis profesional yang sudah berlisensi dan sangat ahli di bidangnya." ujar dokter itu lagi.
Dokter itu menoleh ke arah Revan. Revan hanya mengangguk mengiyakan tanpa bersuara. Dan akhirnya selang oksigen itu pun di turunkan dan di pasangkan ke muka Aira.
Dan .....
Aira langsung kehilangan kesadarannya secara total. Dokter disana pun berulang kali menepuk pipi Aira untuk mengecek kesadaran wanita itu. Tapi gak ada jawaban apapun. Itu berarti Aira sudah masuk dalam pengaruh obat bius yang ada di wajahnya.
" Kalau kau tidak tega melihat istrimu, keluarlah!. Tunggulah di luar." ujar Radit kepada Revan.
" Aku baik - baik saja. Jangan perdulikan aku. Lakukan saja tugasmu dengan benar." jawab Revan.
" Dasar keras kepala!." dengus Radit.
Revan pun mendekat ke arah istri nya yang sudah terbaring tak berdaya. Di usapnya kepala wanita yang di cintainya itu. Di berikan kecupan lembut di keningnya. Semua yang ada disana pun tersenyum sendiri melihat kelakuan dokter yang terkenal dingin itu.
" Waahh Dokter Revan ternyata begitu romantis ya. Baru tau loh." seru dokter Silvi dengan senyum - senyum sendiri.
Kettiga perawat di sana, terlihat membersihkan tubuh istrinya dengan cairan alkohol dan desinfektan agar steril dari berbagi jenis kuman.
" Ok gaes kita akan melaukan operasi penyelamatan ini. Sebelum di mulai kita berdoa sesuai agama dan keyakinan masing - masing agar operasi ini berjalan lancar tanpa hambatan dan kendala." ujar Radit kepada tim medis yang ada disana.
" 3 ... 2 ... 1 .... Siap!!." seru Radit.
" Siap dokter !!." jawab mereka yang ada disana serentak.
Dan operasi pun di mulai. Revan menyaksikan sendiri setiap sayatan demi sayatan pisau yang mengiris setiap lapisan kulit istrinya itu. Semua fokus pada tugas nya masing - masing. Revan hanya berdiri di samping alat detektor yang terhubung dengan kabel - kabel yang melekat di dada istrinya itu. Wajahnya begitu cemas saat melihat angka di layar itu menunjukkan semakin lama semakin menurun denyut nadi istrinya itu.
__ADS_1
Sayang. Bertahanlah!!. Bertahanlah sebentar saja. Semua ini akan segera berlalu. Kita akan hidup bahagia seperti dulu. gumam Revan sambil terus menatap wajah istrinya yang mulai pucat itu.