Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 16 Di terima


__ADS_3

Sesampainya Aira di rumah, terlihat Akbar sedang menonton televisi di ruang tamu seorang diri.


Sedangkan Santi dan Bian sudah terlelap di kamarnya.


Aira masuk kedalam kamarnya dan berganti pakaian. Setelah nya dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan muka.


Terdengar suara ponselnya berdering. Tertera nama " Revan " pada layar ponsel tersebut.


Tapi tak kunjung ada jawaban dari pemiliknya. Karena sedang melakukan aktivitas di dalam kamar mandi.


Sementara itu di rumah Revan ...


Terlihat lelaki itu tengah duduk di pojokan ranjang tempat tidurnya. Wajahnya tampak merona. Dengan senyum yang masih mengembang.


Ingatan nya akan kejadian tadi masih terngiang dalam pikirannya.


Dia tergelak dan menundukkan kepalanya." Bodoh!!. Kenapa tadi kau begitu ingin menciumnya?!. Dasar .. !!." gumamnya lirih.


Revan membaringkan tubuhnya. Mencoba memejamkan matanya tapi sedikit pun tak dapat terpejam.


Padahal rasa kantuk dalam dirinya sudah hadir menyelimuti.


Di raih nya ponselnya, dan mengirimkan pesan untuk Aira.


**To : Aira


Besok aku akan menemui mu lagi. Selamat malam semoga mimpi indah** ...


****


Sementara Aira baru ingin memejamkan matanya. Tiba - tiba ponselnya berdering.


Di ambil nya ponsel tersebut dan di baca pesan masuk dari Revan.


Bibirnya menyunggingkan senyum. Dia ingin membalas pesan tersebut. Tapi di urungkan nya.


Dia tidak ingin menunjukkan kalau dia juga ingin berjumpa kembali.


Sekelebat bayangan akan kejadian tadi terlintas.


Saat Revan mendekap tubuhnya dalam pangkuan nya hingga kejadian melepas sealtbel, terlintas sangat gamblang.


Pipinya tampak merona. Bau parfum maskulin dalam tubuh lelaki itu pun masih belum hilang dalam ingatannya.


Dia menutup mukanya dengan bantal. Wajahnya sungguh merah dan memanas.


****


Keesokan paginya ...


Revan telah selesai dengan ritual mandi nya. Dan dia juga berganti pakaian. Dia mengenakan celana jeans dan kaos berwarna putih serta sweater navy yang tangannya di gulung hingga lengan.


Dia memakai sepatu keets berwarna putih dan memakai jam tangan sport pada pergelangan tangannya.


Sungguh terlihat sangan maskulin penampilannya. Setiap perempuan yang melihatnya pasti akan berdecak sangat kagum.


Dia telah bersiap dan menuruni anak tangga untuk sarapan pagi.


Saat dia menapakkan kaki nya di tangga terakhir, terlihat perempuan telah menata sarapan di meja makan.


Wajah Revan seketika berubah dingin dan datar. Dia mendengus kesal.


" Selamat pagi ... " sapa perempuan itu saat melihat Revan mendekat ke arah meja makan.


Sheila tersenyum riang melihat Revan yang telah berpenampilan rapi.


" Sedang apa kamu disini." tanya Revan dingin.


" Aku ingin menemui mu." jawabnya singkat dengan senyum mengembang.


Sheila mengangkat secangkir kopi hitam tanpa gula dan menyodorkan kepada Revan.


Revan menatap nya sinis. Dan meraih secangkir kopi tersebut. Sheila tersenyum melihatnya.


Dan Revan langsung membanting secangkir kopi tersebut ke lantai.


" Kamu tuli ya, hah !!. Aku kan sudah pernah bilang. Jangan temui aku lagi !!!. Tapi kenapa kamu masih saja menggangguku !!!." bentak Revan tak tahan melihat kelakuan Sheila.


Sheila terperanjat dan terdiam. Butiran air matanya menetes ke pipi.


" Keluar ... Keluar ... !!! ." teriak Revan tepat pada telinga nya.


" Enggak !!. Aku tidak mau !!. Aku tidak mau putus dengan mu !!. Aku mencintai mu van. Sangat mencintaimu. " jelas Sheila setengah berteriak ke arah Revan.


Revan tergelak dan tersenyum sinis kepada perempuan di depannya ini.


" Kamu selain tuli, tapi tidak punya malu ya .." cibir Revan. Tatapan Revan sekarang berubah seperti tatapan menghina.


" Terserah kamu menilaiku seperti apa. Aku tidak perduli. Aku akan tetap mempertahankan hubungan kita ini." jawab Sheila tegas.


" Hubungan??. Tapi aku tidak mau memiliki hubungan denganmu lagi. " jelas Revan sambil menunjuk ke arah Sheila dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang berdiri di meja makan rumahnya.


Revan bergegas menuju garasi mobilnya dan melajukan mobil nya berlalu pergi meninggalkan gadis itu.


Kedatangan Sheila sepagi ini di rumahnya sungguh benar - benar menghancurkan mood nya.


Tangannya menggenggam setir mobil sangat kuat. Seakan dia ingin meremukkan setir mobil itu.


Dia menuju ke rumah Aira. Revan menghentikan mobilnya di sebuah minimarket dekat rumah Aira.


Dia berniat membelikan Bian mainan dan ice cream untuk bocah imut itu.


Setelah selesai, dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Aira.


Sesampai nya di depan gang rumah Aira, dia memarkirkan mobilnya. Lalu berjalan memasuki rumah Aira.


" Assalamualaikum ..." sapa Revan dari luar rumah. Dan terdengar dari sapaan balik dari dalam rumah itu.


Santi tertegun melihat Revan sudah berdiri di depan rumahnya sepagi ini.


" Mas Revan ... Pagi - pagi gini ... Silahkan masuk mas." tukas Santi mempersilahkan lelaki itu masuk.


Rumah itu tampak sepi. Revan celingukan melihat kedalam rumah itu.


" Ini ... Ada mainan buat Bian." jelas Revan pada Santi dan menyodorkan plastik berisi mainan dan es cream untuk Bian.


" Ya ampun mas. Kenapa repot - repot sekali sih." ujar Santi sungkan.


" Gak merasa di repotkan kok. Aira dimana." tanya Revan penasaran.


" Oohh mbak Aira masih mandi. Mas Revan tunggu sebentar yaa. Sudah sarapan mas?!." tanya Santi melihat tamu kakaknya datang sepagi ini.


Ya walaupun jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


" Kebetulan ... Belum." jawab Revan sambil tersenyum.


Santi tersenyum melihat kelakuan lucu Revan.


" Santi panggil mbak Aira dulu ya mas." ujar Santi lalu masuk kedalam rumah.


Revan duduk di ruang tamu secara lesehan. Karena ruang tamu tersebut tak memiliki sofa atau kursi.


" Mbak ... " ujar Santi saat melihat kakaknya mengeringkan rambutnya di dalam kamar.


" Ada apa sih." tanya Aira sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

__ADS_1


" Tuh di depan ada mas Revan." jawab Santi.


" Apa?!. Sepagi ini?!." tanya Aira terperanjat.


Aira berdiri dan beranjak keluar kamar untuk melihat lelaki itu.


" Kenapa datang sepagi ini sih?!." tanya Aira setelah melihat Revan duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


Revan menatap perempuan itu mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Revan terpesona melihat kecantikan Aira yang tampak segar setelah mandi.


Aira memakai piyama tidur dengan rambut basah tergerai. Wajahnya tampak sangat segar. Bau sabun mandi dan sampo tercium disana.


" Heh kenapa bengong. Gak pernah lihat orang habis mandi ya." tanya Aira sambil melirik Revan.


Revan tersenyum melihat kelakuan Aira. Lelaki itu menarik tangan Aira hingga jatuh terduduk di hadapannya.


" Hei ... Kamu gila yaa. Sakit tau." tukas Aira.


Revan terdiam menatap perempuan ini di hadapannya. Di sentuhnya pipi Aira dan mencubit nya gemas.


Aira mengerjapkan matanya melihat lelaki di depannya. Sangat tampan. Gumamnya.


Santi terhenti dari langkahnya saat menatap kedua orang di ruang tamu itu.


" Eheeemm ... " Santi berdehem dan membuyarkan lamunan mereka yang saling bertatap muka itu.


Santi melangkah menyerahkan secangkir kopi pada Revan disana.


Revan dan Aira tampak kikuk melihat Santi yang memergoki romansa mereka barusan.


" Silahkan di minum mas kopinya." ujar Santi.


" Terima kasih." sahut Revan singkat.


Santi melangkahkan kaki nya masuk kedalam tak ingin dia mengganggu aktivitas kakaknya itu.


Aira bangkit dari duduknya dan melangkah ke dalam menyusul Santi.


Revan tersenyum melihat gelagat Aira. Sangat menggemaskan. Pikirnya .


Dia meraih secangkir kopi yang telah di buatkan Santi dan meminumnya.


Baru satu seruputan, Revan langsung menjauhkan mulutnya dari cangkir itu.


" Sangat manis sekali. " gumamnya lirih.


Revan tidak suka dengan gula. Sebisa mungkin dia menghindari makanan atau minuman yang mengandung gula.


Di taruh kembali cangkir kopi itu. Dan dia menatap layar ponsel nya lagi.


Aira kembali keluar sambil membawa dua piring nasi goreng kesukaan nya untuk mengajak Revan sarapan dulu.


" Nih buat kamu. Aku tau kamu pasti belum makan kan." ujar Aira sambil menyendok nasi goreng dan memakannya lahap.


" Berapa kalori nih ." tanya Revan lirih.


" Kenapa?!. Kamu gak suka?!." tanya Aira kesal saat melihat Revan hanya menatap piringnya.


" Aku gak terbiasa sarapan dengan yang berat seperti ini." jawabnya sambil menatap wajah Aira.


Aira berdecak kesal. Dia tahu, kalau lelaki di depan nya ini bukan orang sembarangan makan seperti dirinya.


" Lalu kamu biasa sarapan dengan apa?!." tanya Aira lagi.


" Kopi hitam sama roti gandum dengan telor ceplok setengah matang dan selada serta keju di atasnya." jawabnya panjang lebar.


Aira tergelak mendengar ucapan Revan yang merepet kayak petasan itu.


" Itu ada kopi hitam. Kalau roti gandum gak ada disini. Nanti kita beli di toko roti ya." ujar Aira.


" Aku juga tidak suka sama kopi nya. Terlalu manis." jawabnya lagi.


Aira menaruh sendoknya yang di pegang. Nafsu makannya sudah hilang saat melihat kelakuan Revan yang berlebihan ketika sarapan itu.


Dia berdiri dan membawa dua piring nasi goreng itu kedalam lagi.


" Loh mbak, memang sudah selesai sarapan nya. Itu masih banyak gitu." tanya Santi tak mengerti.


" Aku sudah kenyang melihat kelakuan nya itu." jawab Aira menaruh dua piring itu di atas meja dan masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.


Sementara Revan di luar seperti kebingungan melihat kelakuan Aira yang tiba - tiba ngambek itu.


Setelah selesai berganti pakaian. Aira keluar dengan membawa tas ransel kecil dan memakai sepatu flat di kaki nya.


" Ayo berangkat." ajak Aira.


Revan berdiri melihat Aira yang sudah rapi mengenakan hoodie panjang selutut berwarna grey, serta celana jeans hitam dan hijab berwarna hitam itu.


Mereka melangkahkan kaki keluar rumah dan menuju mobil Revan yang terparkir di depan gang rumahnya.


Setelah masuk, mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Mereka mampir ke toko roti sebentar untuk membeli beberapa roti untuk sarapan.


Tampak Revan memakan roti yang tadi ia beli sambil melajukan mobilnya.


" Kita mau kemana?!." tanya Aira sambil memakan roti berisi selai coklat yang lumer di mulutnya. Sehingga meninggalkan noda coklat pada ujung bibirnya.


Revan tersenyum melihat Aira yang sangat menikmati roti tersebut.


Bagaimana tidak. Roti yang mereka makan masih fresh baru keluar dari oven jadi sangat lembut dan hangat.


Revan mengusap ujung bibir Aira membersihkan selai coklat yang belepotan di sana.


Aira sedikit terperanjat melihat tangan Revan yang tiba - tiba menempel pada ujung bibirnya.


Setelah hampir dua jam perjalanan mereka pun sampai di tempat yang di tuju.


Tempat yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dan masih alami.


Disana banyak para pasangan muda mudi atau pun keluarga yang telah sampai dan memasuki tempat itu.


" Aku beli tiket masuknya dulu ya." ujar Revan. Aira tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


Setelah membeli tiket mereka masuk ke dalam.


Aira berdecak kagum, tempat yang mereka datangi ini sungguh sangat indah dan sejuk.


Mereka jalan beriringan. Revan ingin sekali menggenggam tangan perempuan di sebelahnya ini.


Tapi dia takut kalau Aira langsung marah dan meminta pulang. Bisa gawat, gumamnya lirih.


Aira melirik ke arah Revan yang tengah bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia melihat para pasangan saling bergandengan tangan bahagia dan tertawa lepas bersama.


Aira melirik tangan Revan yang berusaha untuk menggenggam tangan nya. Pipinya tampak merona.


Aira menghentikan langkahnya. Revan kaget melihat kelakuan Aira yang tiba - tiba diam tak bergerak.


" Ada apa, Ra?!." tanya Revan tak mengerti.


Aira maju selangkah mendekati Revan. Dengan menghela nafas panjang. Di raihnya tangan Revan dan di genggamnya erat - erat.


Revan terperanjat melihat Aira menggenggam tangan nya. Dia tersenyum senang. Dia membalas genggaman tangan Aira erat.


Mereka melangkah menyusuri tempat yang indah disana. Banyak spot foto yang tersedia disana. Revan dan Aira pun berselfi ria ketika melihat tempat yang di rasa pas untuk berfoto.

__ADS_1


" Itu disana ada apa van. Kok banyak orang pergi kesana." tanya Aira sambil menunjuk sebuah tempat yang mulai ramai di datangi orang - orang.


" Disana ada sebuah bukit kecil. Mereka menamai bukit itu dengan sebutan bukit cinta." jawab Revan sambil berjalan menggenggam tangan Aira.


" Bukit cinta." ucap Aira tak mengerti.


" Iya. Banyak pasangan yang sedang jatuh cinta datang kesana dan mengungkapkan perasaan mereka." jawab Revan sambil menatap wajah Aira yang merona.


" Apa kita akan kesana juga." tanya Aira memastikan.


" Aku ingin kesana sebenarnya. Tapi aku urungkan niatku." jawab Revan sambil menatap sekeliling.


Aira terhenti mendengar ucapan Revan.


" Kenapa?!." tanya nya lesu.


Revan terdiam menatap wajah Aira yang tampak kecewa mendengar ucapan nya barusan. Dia pun tersenyum melihat perempuan di samping nya mengerucutkan bibirnya.


" Karena buatku sudah biasa kalau kita mengungkapkan perasaan kita disana. Aku punya tempat yang istimewa nanti." ucap Revan tepat di telinga Aira.


Revan sedikit berbisik saat mengatakan keinginanya itu.


Jantung Aira berdetak kencang. Ditatapnya lelaki itu. Revan tersenyum melihat nya.


Tangan Revan menarik tangan Aira untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang di maksud Revan.


Revan mengajak Aira ke hamparan taman bunga yang sangat indah. Banyak bunga indah nan wangi disana.


Tempat itu lumayan sepi. Karena banyak orang lebih berminat ke bukit cinta daripada melihat bunga yang terhampar luas dan indah.


Ada bunga krisan. Aira selalu ingin memiliki tanaman bunga krisan di rumahnya. Dia berlari menuju bunga krisan kuning disana.


Revan tersenyum melihat tingkah Aira seperti anak yang melihat area bermain.


" Bunga krisan kuning. Kamu suka dengan bunga ini." tanya Revan.


Aira mengangguk dan memegang kelopak bunga tersebut.


" Kamu tau filosofi dari bunga krisan kuning." tanya Revan. Aira menatap nya dan menggelengkan kepalanya.


" Bunga krisan kuning adalah simbol perpisahan." jelas Revan.


Aira menatap bunga itu lagi.


Sayang sekali. Bunga ini sangat indah kenapa arti di baliknya sangat menyakitkan. Gumamnya lirih.


Revan menarik tangannya untuk menyusuri bunga yang lainnya.


Disana ada bunga lavender, bunga mawar, dan banyak lagi.


Di ujung taman bunga ini ada sebuah bangku. Mereka duduk disana untuk beristirahat melepas lelah.


Revan menyodorkan botol air minum yang tadi di belinya. Aira meminum air itu hingga setengah botol. Rasa dahaganya pun hilang.


Mereka duduk menatap hamparan taman bunga yang luas dan indah disana. Aira memejamkan matanya. Dia menghirup wangi bunga yang tercium disana dalam - dalam.


Revan meraih pinggang Aira. Di dekapnya pinggang Aira dari samping. Aira tercekat melihat tangan Revan yang mendekap pinggangnya.


" Apa kamu suka?!." tanya Revan lirih. Wajah lelaki itu kini tengah berada di pundaknya.


Revan membenamkan wajahnya di pundak Aira. Dia mencium semua aroma tubuh perempuan itu. Bahkan wangi sampo yang di kenakan tadi pagi juga tercium olehnya.


" Kamu apa - apaan sih. Jangan begini deh. Di lihatin orang nanti." ujar Aira seraya menepis pelukan Revan.


" Diam. Jangan bergerak. Aku ingin begini sebentar saja." jawabnya sambil memejamkan matanya.


Aira terdiam mematung. Tak bergerak sama sekali. Mereka pun diam satu sama lain.


" Ra .. Aku mencintai mu. Aku ingin memilikimu." ucap Revan yang masih mendekap pinggangnya Aira.


Aira diam. Tak ada jawaban dari mulutnya.


Revan melepas pelukan nya dan membalikkan tubuh Aira menghadap ke arahnya.


" Kita menikah yuk, Ra." ajak Revan.


Aira masih terdiam mematung dan menatap Revan. Jantung nya berdetak kencang. Aira tak tau harus ngomong apa. Dia senang tapi dia juga merasa sedih.


" Kenapa kamu diam aja, Ra. Jawab Ra. Kamu mau kan menikah dengan ku." tanya nya lagi.


Aira tersenyum melihat kelakuan Revan. Dia ingin sekali memeluk tubuh lelaki ini. Tapi apa dia tidak serakah kalau menginginkan Revan menjadi miliknya.


" Maaf van. Aku tidak bisa." jawab Aira lalu beranjak dan melangkahkan kakinya.


Baru beberapa langkah, Aira menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Revan.


Revan masih diam menatap perempuan yang di cintai nya itu. Di tolak lagi. Gumam Revan.


" Aku tidak bisa menolakmu lagi." jawab Aira melanjutkan ucapannya tadi.


Revan tercekat mendengar ucapan Aira. Spontan ia berdiri dan melangkah menghampiri perempuan itu.


" Kamu bilang apa, Ra." tanya Revan memastikan telinganya tidak salah dengar.


Aira tersenyum dan menundukkan pandangannya. Dia malu karena pipinya sudah merona.


" Tidak ada siaran ulang." jawab Aira sambil melangkah kan kakinya lagi.


Revan menarik tangan perempuan itu dan langsung memeluknya.


Revan tak menyangk Aira akan mengatakan kalimat tersebut. Hatinya sangat senang. Aira pun menyembunyikan wajah nya pada dada laki - laki itu.


Cukup lama mereka berpelukan. Tak menghiraukan beberapa pasang mata melihat ke arahnya.


Orang jatuh cinta kan bebas. Dunia serasa milik berdua. Yang lain mah ngontrak.


Revan melepas dekapannya pada perempuan itu. Aira menatap wajah lelaki di hadapannya itu. Senyumnya tak henti - hentinya tersungging.


" Aku gak percaya kamu bakal ngomong gitu Ra." ujar Revan masih menatap Aira.


" Udah lah gak usah di bahas. Aku malu tau." jelas Aira sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Revan tergelak mendengar ucapan Aira. Sangat menggemaskan sekali.


" Ayo kita jalan - jalan lagi." pinta Aira sambil menggenggam tangan Revan. Tapi Revan menarik genggaman tangan Aira saat perempuan itu hendak melangkah pergi.


" Ada apa." tanya Aira.


Revan meraih pinggang Aira dan mencium bibir Aira lembut.


Aira tercekat. Dia gak menyangka Revan senekat ini. Dia mencoba menarik tubuhnya dari rengkuhan Revan.


Tapi semakin dia mencoba menarik, semakin rapat pula Revan memeluk pinggangnya.


Dia akhirnya menyerah dan mencoba menikmati ciuman itu.


Ciuman yang mereka begitu lembut dan panas. Kedua nya tak berniat untuk menyudai ciuman itu walau banyak pasang mata menatapnya.


Mereka tak perduli ...


~ **Happy reading ~


Terima kasih untuk para readers yang telah setia membaca tulisan mommy .


Jangan lupa kasih komentar, like dan vote nya yaa ....

__ADS_1


Aku mencintai kalian .... 💜💜💜**


__ADS_2