
Sore menjelang malam, Aira merebahkan tubunya di atas kasur. Tampak Bian asyik main mobil - mobilan di sebelahnya. Dia tak sengaja membuka file pesan kotak masuk. Dia langsung teringat akan Revan yang menghubunginya beberapa hari yang lalu.
Dia bertanya - tanya dalam hati. Kenapa Revan tiba - tiba muncul kembali. Dia ingin sekali bersapa hello dengan Revan. Tapi dia teringat kembali tentang kepergian Revan yang tiba - tiba saat itu.
" Mungkin dia hanya ingin bertanya kabar. Pasti dia sudah berumah tangga dan memikliki anak yang lucu - lucu." gumam Aira dalam hati. Dia menutup kembali ponselnya dan menatap Bian yang asyik bermain.
Sementara di tempat lain, Revan memilih duduk santai di teras kamarnya sambil meminum kopi hitam tanpa gula. Ini sudah hari ketiga setelah kejadian saat itu.
Sheila pun masih sering mengirimkan pesan kepadanya. Entah hanya sekedar untuk mengingatkan soal makan. Sampai mengirimkan pesan yang mengungkit - ungkit perjalanan kisah masa lalu nya saat masih bersama.
Revan menghela nafas panjang. Saat ini yang di inginkannya hanya kesendirian. Beberapa hari ini pikirannya tidak fokus sama sekali. Pergolakan hatinya begitu rumit. Dia memijit pangkal kepalanya yang masih pening. Di hembuskan nafas panjang berulang - ulang.
Drrtt drrtt drrtt ...
Ponselnya berdering. Diliriknya nama yang tertera disana. AJI ..
Dia langsung mengangkat panggilan dari teman lamanya tersebut.
" Assalamualaikum. Tumben ji menelepon. Ada angin apa nih." tanya Revan. Terdengar balasan salam dari balik telepon.
" Apa aku harus ada apa - apa dulu untuk menghubungi temanku, hah." jawab aji.
" Kamu gak sibuk kan van. Aku takut mengganggumu." jelasnya lagi.
" Kamu gak ganggu kok. Aku lagi santai saja menikmati cuti kerja ku yang melelahkan." jawab Revan.
" Heemmm ... Apa kamu sudah menghubungi Aira??." tanya aji memastikan.
" Hmmm sudah. Tapi Aira seperti tak suka aku menghubungi nya lagi." jawab Revan.
Aji menghela nafas panjang.
" Dari dulu dia selalu tertutup jika membicarakan soal keluarga." imbuh Revan yang masih menatap jauh ke depan.
" Benarkah itu??." tanya aji.
" Dulu dia begitu sangat akrab dengan mu. Aku sering melihat kalian sedang asyik bercerita." jelas aji keheranan.
" Dulu kita selalu ngobrol soal apa aja, kecuali keluarga." jawab Revan.
" Kenapa??." tanya aji pelik.
" Entahlah. Dia kurang suka kalau kita berbicara soal keluarga. Jadi kita tak pernah membahas itu seterusnya." jawab Revan sambil mengingat - ingat memorinya dulu yang sempat terkubur beetahun - tahun.
" Tapi minggu besok kamu jadi ikut reuni kan." tanya aji.
" Apa aku harus ikut acara yang membosankan tersebut. " tanya Revan kesal. Dia selama ini tak pernah mau hadir ke acara yang tak penting itu baginya.
" Iya harus. Kamu harus ikut van. " jawab aji menggoda.
" Kata dini, Aira bakal datang juga loh." imbuh aji sambil terkekeh.
" Halah bullshit .. " jawab Revan mengejek.
" Kalau tak percaya tak apa. Aku sudah mengajakmu loh ya. Jangan sampai kamu menyesal belakangan loh ya." jelas aji. Revan tergelak.
" Semoga benar apa yang di katakan aji." batin Revan.
Cukup lama mereka ngobrol di telepon. Setelah panggilan berakhir. Revan mulai merenungkan perkataan aji. Dia mulai terprovokasi ucapan aji.
" Aku harus hadir." gumam aji lirih.
Sementara di lain tempat, Aira tampak sudah terlelap. Tampak Bian juga mulai menguap dan merebahkan tubuhnya di samping Aira. Semua mainan masih tercecer berserakan di atas ranjang. Tapi kini mereka berdua telah terlelap dalam mimpi yang panjang.
Santi membuka kamar kakaknya itu. Dan tersenyum saat melihat mereka telah pulas. Di tutup kembali pintu itu perlahan agar tak membangunkan mereka berdua.
" Di mana Bian, ma." tanya Akbar yang melihat istrinya melenggang sendirian di ruang tamu.
" Bian tidur di kamar mbak Aira. Begitupun mbak Aira, dia juga sudah terlelap." jawab Santi sambil mengambil remote televisi dan mengganti channel nya.
" Loh kita kan belum makan malam, kenapa mbak Aira sudah tidur sih." tanya Akbar.
__ADS_1
" Mungkin mbak Aira lelah, Pa. Nanti kalau sudah mau makan malam aja aku bangunin." jelas Santi. Akbar pun mengangguk.
Sekitar pukul 8 malam Santi kembali membuka kamar kakanya tersebut. Tampak Aira sudah bangun dan merapikan rambut nya yang awut - awutan karena baru terbangun dari tidurnya.
" Mbak makan dulu." jelas Santi sambil setengah berbisik. Karena takut membangunkan Bian yang masih tertidur. Aira pun membalas dengan anggukan di sertai senyuman.
Dan mereka pun keluar menuju ruang tamu untuk makan malam. Rumah kontrakan Santi tak memiliki ruang makan atau keluarga. Hanya ada ruang tamu, 2 kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Karena ini hanya kontrakan sederhana. Jadi gak ada yang muluk - muluk disana.
Setelah mereka selesai makan, mereka pun menonton televisi bersama.
" Oohh yaa mbak, tadi siang mama telepon. Besok minggu kita di suruh mama datang ke rumah nenek. Mereka kangen Bian katanya." seru Santi sambil mengunyah kacang kulit yang tadi sore di rebusnya.
" Minggu mbak gak bisa ke rumah nenek, dek. Mbak ada reuni anak SMP." jawab Aira yang juga mulai menyomot kacang kulit rebus itu.
" Tumben mbak datang ke acara reuni sekolah." tanya Santi.
" Mbak kangen sama dini temenku dulu itu loh dek. Yang suka main ke rumah nenek dulu." jawab Aira mengingatkan Santi. Santi mengangguk mengerti.
" Ya sudah, aku sama mas Akbar aja yang datang ke rumah nenek. Lagian yang di cari mereka kan Bian bukan mbak." jelas Santi. Aira melempar sampah kulit ke arah Santi. Dan Santi pun membalas juga. Terjadi saling lempar sampah kulit diantara adik kakak ini. Akbar hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya dan kakak iparnya yqng seperti anak kecil itu.
Hari ini, di minggu pagi yang cerah Aira dan Santi berduet di dapur untuk membuat sarapan. Akbar suami Santi request makanan kesukaan nya. Yaitu semur ikan mujair yang di campur dengan mie bihun. Setelah matang, mereka sarapan bersama.
Tampak Aira memoles lipstik warna pink pastel pada bibirnya tipis - tipis. Santi pun juga sudah rapi mau berangkat berkunjung ke rumah neneknya.
" Mbak aku berangkat dulu ya. Aku sudah bawa kunci cadangan kok." jelas Santi melongokkan kepala ke kamar Aira.
" Iya. Mbak juga sudah selesai kok. Hati - hati ya kalian di jalan. Jangan ngebut - ngebut." pesan Aira. Akbar mengangguk mengiyakan.
Sesampainya Aira di sebuah restoran tempat acara reuni. Semua teman - temannya tampak sudah banyak yang hadir. Ramai sekali. Ada yang mengajak istri dan anak - anaknya. Ada yang datang dengan tunangan atau pacar. Ada yang datang sendirian seperti Aira.
Dini melambai - lambaikan tangannya dari kejauhan. Aira tersenyum dan bergegas melangkahkan kakinya menuju temannya itu. Tiba - tiba salah seorang temannya menabrakkan dirinya yang membawa segelas jus alpukat ke arah Aira. Kontan baju Aira basah dan kotor terkena tumpahan jus tersebut.
" Ooopppsss ... Sorry yaa aku gak sengaja. Tadi kakiku tersandung kaki meja. Jadinya tumpah deh." serunya sambil berpura - pura menyesal. Perempuan itu Rani. Dia dari dulu tak pernah suka dengan Aira. Aira mendengus kesal melihat perempuan menyebalkan itu. Aira pun bergegas menuju toilet.
Di bersihkannya bajunya itu dengan tissue dan sedikit air. Sehingga meninggalkan noda yang lumayan terlihat pada bajunya.
" Haahh ... Mimpi apa aku semalam. Bisa ketemu dengan perempuan lampir itu." dengus Aira kesal dan menatap ke arah cermin besar di depan nya itu.
Aira keluar dari toilet dengan baju kotor bekas noda jus tersebut. Dia berjalan menghampiri dini yang duduk di ujung sambil memangku balitanya tersebut.
Aira tak menggubris sedikit pun ucapan perempuan lampir itu.
" Emang masih ingat gimana caranya main basah - basahan. Kan sudah gak di pake lama juga." ucap ria salah satu teman geng rani.
" Gk jamin juga ya, dia masih ingat atau enggak sama rasanya. Jangan - jangan malah setiap hari dia main basah - basahan di luar rumah. Kan secara dia kan bebas gitu ya buk. Gak ada suami gak ada anak juga. Jadi bisa ena - ena kapan aja." sahut Rani sambil terus tertawa cekikikan bersama geng nya.
" Waahhh ... Apa gak malu tuh sama kerudung di kepalanya. Kepalanya aja di bungkus rapet, eehh ternyata bawahannya di biarin telanjang di obral sana kemari." timpal ria membalas ucapan rani dengan cekikikan kembali.
Aira yang berjalan tiba - tiba berhenti. Di tolehnya perempuan itu yang masih cekikikan merasa menang sudah mempermalukan Aira.
Aira berbelok menghampiri meja mereka dan mengambil dua gelas jus tomat dan jus jambu biji milik teman nya yang lain dan mengguyur kepala rani dan ria dengan jus tersebut.
Rani dan ria spontan langsung berteriak. Dan berdiri mengelap rambut mereka yang lepek karena jus.
" Otak kalian harus di dinginkan dengan jus itu. Biar bisa berpikir dengan jernih. Untung aku masih sabar ya. Kalo kesabaranku sudah habis bisa - bisa ku guyur kepala kalian pakai kuah bakso yang masih mendidih itu." jelas Aira sambil menaruh dua gelas jus itu dengan kasar di meja.
Semua teman - teman yqng hadir disana berbisik - bisik mencela perbuatan ria dan rani. Rani yang merasa malu dan terhina, dia maju selangkah dan menatap Aira.
" Coba aja kalau berani. Kamu itu hanya bisa ngomong doang. Dari dulu kan kamu itu seorang pengecut." jawab rani angkuh.
Aira yang merasa di tantang pun murka dengan ucapan rani. Di hampirinya panci bakso yang ada di kompor itu. Dia mengambil serbet dan siap untuk mengangkat. Wajah rani dan ria langsung pucat melihat Aira yang hendak mengangkat panci. Mereka berdua pun langsung berlari meninggalkan tempat itu sebelum mereka beneran di siram dengan kuah bakso yqng panas itu.
Seluruh teman - temannya pun bersorak menghujat melihat tingkah rani dan ria. Setelah mereka pergi, semua bertepuk tangan kepada Aira. Mereka menghargai dan mengagumi keberanian Aira.
Tampak sepasang mata tersenyum melihat kelakuan Aira tersebut. Dia tak menyangka Aira bisa se berani itu. Sepasang mata itu tak lain dan tak bukan adalah Revan.
" Kamu hebat. Ini baru sahabat aku." seru dini kepada Aira saat Aira menarik kursi di samping dini. Aira pun memeluk dini dari samping. Dan terlihat mencium pipi kilas anak dini yang montok itu.
Terlihat seseorang menyodorkan segelas jus apel dari belakang tubuh Aira. Aira tertegun dan memutar tubuh nya perlahan. Tampak seorang lelaki tinggi tegap, putih, memakai kemeja lengan pendek berwarna maroon . Terlihat garis wajahnya begitu kuat dan tajam. Dan ...
" Kamu pasti haus setelah ber aksi barusan." ucap Revan sambil tersenyum menatap Aira. Aira tercekat melihat lelaki di hadapannya tersebut. Dia hampir tak percaya melihat Revan berada di situ. Karena yg Aira tau, Revan ada di luar negeri dan maka dari itu Revan tak pernah hadir dalam acara reuni selama ini.
__ADS_1
Dini pun kaget dan tak percaya melihat Revan di hadapannya.
" Apa kalian melihat hantu??. Kok pada bengong begini sih." tanya Revan membuyarkan lamunan dini dan Aira. Dini pun tersenyum linglung. Dan Aira langsung membuang muka ke arah anak dini.
Revan menarik kursi di samping Aira, dan duduk di sebelahnya dengan menahan senyum karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan Aira kembali.
" Bagaimana kabarmu ,Ra." tanya Revan membuka percakapan.
" Seperti yang kamu lihat sekarang." jawab Aira dingin. Revan terdiam. Dia menyadari kalau Aira sedang marah. Karena nada bicaranya begitu ketus padanya.
" Kamu terlihat cantik dengan hijab itu." puji Revan. Aira diam tak bergeming. Acara pun di mulai. Panitia reuni memberikan kata sambutan kepada para tamu undangan. Revan dan Aira pun tampak menyaksikan proses acara tersebut dengan diam dan damai.
Sesekali Aira tertawa kecil dan tersenyum mendengar candaan para panitia di atas panggung. Di tatapnya senyum Aira oleh Revan. Manis. Sangat manis, gumam Revan dalam hati.
Aira yang menyadari dirinya di tatap terus oleh Revan pun berdehem seperti batuk. Padahal dia tak lagi batuk.
" Kamu cantik Ra dengan hijab seperti itu." puji Revan. Wajah Aira berubah datar dan dingin.
" Gak usah merayu deh. Ingat anak istrimu." jawab Aira datar. Revan tergelak menahan tawa mendengar ucapan Aira.
" Memang wajahku seperti seorang yang sudah beristri dan memiliki anak yah." tanya Revan. Aira tak mengerti maksud ucapan Revan.
" Aku ... Aku belum menikah dan memiliki anak. Jadi kamu gak perlu takut ngobrol denganku. Karena kamu gak akan di tuduh perebut suami orang." jelas Revan dengan sedikit menggoda Aira. Aira menoleh ke arah Revan. Di tatapnya lelaki itu dalam - dalam.
" Gak usah di lihat seperti itu. Aku gak berbohong kepadamu." ucap Revan sambil masih menatap ke arah panggung acara. Aira langsung menoleh ke arah sekitar untuk membuang gelagat kaget dari mukanya.
" Kamu tau nomer ponsel ku darimana." tanya Aira karena dia teringat Revan meneleponnya dan mengirim pesan kepadanya tempo hari. Revan menghela nafas panjang.
" Apa itu penting." tanya Revan sambil menoleh ke arah Aira. Kedua mata mereka tak sengaja beradu pandang. Revan mencoba membaca apa yg tersirat dalam mata perempuan di sebelahnya ini. Begitu pun Aira. Dia juga mencari kebenaran akan status Revan dalam mata lelaki itu.
Aira membuang muka. Dia masih percaya lelaki setampan dia belum menikah. Pasti sangat banyak perempuan berebut dan rela mengantri untuk menjadi istrinya.
" Sepulang dari sini kamu ada acara." tanya Revan. Aira mendengus kesal. Semua lelaki sama saja. Gumam Aira dalam hati. Karena selama ini, saat berjumpa dengan nya semua lelaki akan bertanya demikian kepadanya.
" Aku ada acara." jawab Aira singkat.
" Kemana." tanya Revan, Aira menaikan satu alisnya.
" Kepo banget sih." ucap Aira datar.
" Aku ingin bicara 4 mata denganmu." pinta Revan.
" Maaf tapi aku sibuk." jawab Aira sekilas. Revan tau kalau Aira bakal menolak saat di ajaknya ngobrol berdua.
Di tengah - tengah acara, Aira berpamitan kepada dini mau pergi ke toilet. Setelah dari toilet dia menyelinap keluar restoran. Dia tidak ingin nantinya Revan akan memaksa dirinya untuk ikut dengannya.
Revan melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir 20 menit berlalu tapi Aira belum kembali dari toilet.
" Din, Aira kok belum kembali ya." tanya Revan cemas.
" Iya ya kok lama banget di toilet aja. Jangan - jangan dia kenapa - kenapa." seru dini.
" Aku cek dulu ya." jawab Revan sambil beranjak pergi.
Di depan toilet Revan celingak celinguk mencari keberadaan Aira. Dini merasa bahwa ponselnya berdering. Ketika di lihat ada whatsapp dari Aira.
Din, aku balik duluan ya. Maaf aku tak pamit kepadamu. Aku gak mau berada lama - lama disana. Kamu jangan bilang siapa - siapa kalo aku balik duluan. Termasuk Revan.
Dini tersenyum dan membalas pesan Aira.
Ok. Gk usah khawatir. Aman .
Revan masih berdiri di toilet wanita. Ada seorang OG keluar dari dalam toilet dan Revan memanggil OG tersebut.
" Mbak mau tanya ada perempuan pakai kerudung warna grey gak di dalam." tanya Revan.
" Maaf pak, tapi tak ada siapa - siapa di dalam." jawab OG tersebut.
" Mbak yakin." tanya Revan. OG tersebut membenarkan ucapannya.
Revan tersenyum pelik. Dia ternyata di kelabui oleh Aira. Revan tergelak melihat kebodohannya.
__ADS_1
" Awas kamu Aira. Aku akan menemukanmu. Pasti menemukanmu." ucap Revan lirih sambil terus merutuki kebodohannya tersebut.
~ Happy reading ~