
Aira masuk kembali ke dalam kamar pas. Dia melepas kebaya yang di kenakan lagi. Lalu dia mengganti baju dengan kebaya selanjutnya.
Revan masih terduduk di sofa sambil membolak balik majalah fashion disana. Tak lama berselang pramuniaga itu keluar membuka tirai.
Terlihat Aira berdiri dengan balutan kebaya warna maroon yang pilih oleh Revan. Revan begitu terkesiap melihat kekasihnya itu. Matanya di buat tak berkedip sedikit pun.
Dia berdiri menghampiri Aira yang masih berdiri dengan balutan kebaya yang sangat cantik itu. Aira menunduk tersipu malu karena terus di tatap oleh Revan.
" Nona ini begitu cantik dengan kebaya ini ya tuan." seru pramuniaga disana. Revan hanya mengangguk mengiyakan ucapan pramuniaga itu.
" Kamu sungguh cantik mengenakan kebaya ini sayang." puji Revan.
" Udah deh, gak usah ngerayu. Jadi pilih yang mana Van. Yang tadi apa yang ini." tukas aira.
" Heeeemmmm .... Masih ada satu baju lagi kan." jelas Revan.
" Udah ahh. Aku gak mau nyoba lagi. Capek tau bolak balik ganti baju. Kamu suka yang mana. Yang tadi apa yang ini." ujar Aira sebal.
" Ok baiklah kalau mau kamu begitu. Aku pilih yang ini aja. Kamu terlihat sangat cantik memakai warna ini." jelas Revan.
Revan menyuruh pramuniaga disana membungkus kebaya yang di pakai Aira terakhir tadi. Setelah selesai berganti pakaian. Aira menghampiri Revan yang tengah berdiri di meja kasir untuk membayar baju yang di kenakan tadi.
Setelah itu mereka keluar dan kembali masuk ke dalam mobil. Dan melaju menuju restoran terlebih dahulu. Karena aira mengeluh sudah sangat lapar.
Mereka berhenti di salah satu restoran western yang menyediakan steak daging. Aira membuka buku menu yang di sodorkan oleh pelayan. Dia merasa kebingungan dengan nama - nama daftar makanan yang begitu asing di telinga nya itu.
Akhirnya Revan memilih dua porsi tenderloin steak dan jus sirsak untuk Aira serta jus melon untuk dirinya sendiri.
" Van kenapa tadi milih makan disini sih." seru Aira lirih. Dia sangat begitu asing makan di tempat seperti ini.
" Kenapa sih?. Sekali - kali kan gak apa - apa." jawab Revan memperhatikan kekasihnya yang begitu canggung itu.
" Udah santai saja. Gak usah tegang gitu." tukas Revan.
" Aku gak pernah makan di tempat mahal dan mewah seperti ini tau. Jelas saja aku tegang." ujar Aira lirih. Revan pun tersenyum melihat kelakuan wanitanya itu.
" Maka dari itu aku mengajakmu makan disini. Biar seperti orang - orang yang lainnya." jelas Revan.
Pramusaji pun membawa pesanan Revan dan meletakkan di atas meja mereka. Aira terlihat begitu semakin kebingungan. Dia melihat ke arah Revan yang dengan santai memotong dan mengiris daging di depannya itu.
Revan melirik ke arah kekasihnya itu. Lalu dia menyodorkan piring yang daging nya telah dia potong menjadi kecil - kecil itu kepada Aira.
" Kamu makan yang ini. Aku sudah memotong nya. Kemarikan piring kamu." ujar Revan.
Aira tersenyum dan menyodorkan piring nya itu kepada Revan. Terlihat dia memakan daging steak itu dengan lahap. Sambil sesekali dia mengangguk anggukan kepala nya menikmati kelezatan rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Revan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan lucu kekasihnya itu.
" Kamu suka?." tanya Revan.
" Suka ... " jawab Aira dengan mulut masih mengunyah itu.
" Pelan - pelan aja makannya. Nanti keselek." ujar Revan. Aira pun mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
__ADS_1
Aira menatap wajah Revan yang sedang memotong daging itu. Dia ingat, tadi kekasihnya itu sempat marah di buatnya. Revan menangkap mata Aira yang tengah menatapnya. Dan Aira pun mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
" Kenapa kamu menatapku begitu?." tanya Revan.
" Enggak. Siapa yang menatapmu. Dasar GeEr." jawab Aira mengelak.
" Sudah ngomong aja. Gak usah pakai mengelak segala. Ada apa?." tanya Revan lagi.
Aira mengambil potongan daging di piring nya dan melahap nya. Revan masih menatap wajah Aira mencoba mencari tau apa yang ingin di sampaikan kekasihnya itu.
" Kamu yakin mau menikah dengan ku?." tanya Aira tiba - tiba. Revan pun tercekat. Di hentikannya aktivitas memotong daging di depannya dan beralih menatap wajah Aira.
" Kamu meragukanku?." tanya Revan.
" Iya. Aku sedikit meragukanmu." jawab Aira.
" Apa yang kamu ragukan?." tanya Revan kembali.
" Banyak." jawab Aira singkat. Revan menghela nafas nya dan meminum jus yang ada di meja.
" Contohnya apa?. Kita sudah melangkah sejauh ini dan kamu masih meragukan aku?. Jangan konyol Aira." tukas Revan kesal.
" Apa yang kamu ragukan dariku?. Aku serius ingin menikah dengan mu. Tapi kenapa kamu masih meragukan ketulusanku dan pengorbananku selama ini." jelas nya. Aira masih membisu di hadapannya.
" Aku meragukan akan restu orang tua dan keluarga mu, Van." jawab Aira.
" Tidak mungkin mereka bisa langsung merestui keinginan kita ini. Pasti ada apa - apa di balik semua ini." seru Aira.
" Kamu gak lagi mempermainkan aku kan?." tanya Aira.
" Hei ... Kalau aku mempermainkan kamu. Tidak akan aku meminta mu menjadi istriku. Untuk apa coba." tukas nya.
" Apa yang sebenarnya kamu inginkan?." tanya Revan.
" Justru aku curiga kepadamu. Jangan - jangan kamu yang sedang mempermainkan aku. Iya kan." jelas Revan.
" Aku bukan orang seperti itu Revan. Untuk apa aku mempermainkan kamu." seru Aira.
" Ya lantas apa maksud kamu menuduh aku seperti itu. Aku juga bukan tipe orang mengobral janji kepada perempuan." jawab Revan.
" Kamu sungguh menyakiti aku dengan ucapanmu tadi Aira. Seakan - akan aku tak pernah serius dengan kita. Padahal aku sangat ingin kamu selalu ada di sampingku selamanya." jelas Revan.
Aira masih membisu. Dia menatap Revan yang begitu kesal terhadapnya. Revan memanggil pelayan disana dan meminta bill pembayaran. Pelayan pun datang sambil membawa bill tersebut dan Revan pun akhirnya membayar makanan mereka tersebut.
Setelah selesai membayar, dia pun beranjak berdiri dari duduknya. Revan baru beberapa langkah berjalan, di liriknya Aira masih duduk terdiam di kursi tadi.
" Kenapa masih diam di situ?. Ayo kita pulang." seru Revan.
" Aku bisa pulang sendiri. Kamu pulang saja duluan." tukas Aira sambil melanjutkan makan.
Sebenarnya dia sudah tidak bernafsu untuk makan. Tapi dia tahu, harga seporsi makanan ini begitu mahal. Dan dia tidak ingin membuang - buang makanan apalagi berharga mahal seperti ini. Jadi dia terpaksa menelan semua apa yang ada di piringnya itu.
Revan pun melirik ke arah Aira dan berlalu meninggalkan Aira yang sedang duduk memakan makanan nya itu.
__ADS_1
Tapi Revan tidak serta merta meninggalkan Aira begitu saja. Dia menunggu di dalam mobil miliknya yang ada di parkiran depan. Dia setia menunggu Aira hingga keluar.
Sekitar hampir lima belas menit, Aira akhirnya keluar dari restoran itu. Dia tampak celingak - celinguk mencari sesuatu. Revan menyalakan mobilnya dan menghampiri wanita itu.
Aira kaget saat melihat mobil Revan melaju menghampirinya. Dia pikir Revan sudah pergi meninggalkannya terlebih dahulu.
" Ayo masuk." seru Revan saat membuka kaca mobil di hadapannya itu.
" Tidak perlu. Kamu pulang saja. Aku bisa pulang sendiri. " ujar Aira.
" Sudah masuk. Aku akan mengantar mu pulang." tukas Revan.
Tapi Aira masih saja diam tak bergeming. Dia tidak ingin berada satu mobil dengan pria yang sudah di buat marah olehnya tadi.
Revan pun turun dari mobil dan menghampiri Aira. Aira masih saja diam dan pura - pura tidak melihat ke arah Revan.
" Ayo masuk!!. Gak usah keras kepala deh!!." tukas Revan sambil menarik tangan Aira untuk masuk ke dalam mobil.
Aira yang begitu kesakitan tangannya. Lalu mendorong tubuh Revan hingga terjerembab jatuh. Dan dia pun berlari keluar restoran.
Revan bergegas bangun dan mengejar Aira. Tapi saat berlari, Aira tidak menoleh kiri kanan dan akhirnya dia pun terserempet pengguna motor di jalan itu.
Revan langsung berlari menghampiri kekasihnya yang jatuh tersungkur itu. Pengemudi motor itu pun berhenti dan turun menghampiri Aira.
" Mbak.. Mbak tidak apa - apa kan?." tanya pengemudi itu.
" Aira ... Sayang .. Kamu tidak apa - apa kan?." tanya Revan panik.
Aira memegang kaki nya yang terasa sakit sekali. Revan melihat dan memeriksa kaki Aira. Kaki nya sebelah kanan terkilir.
" Aduhh ... Sakit ... " pekik nya saat Revan memegang kaki nya itu.
" Kaki mu seperti nya terkilir." ujar Revan.
Pengemudi itu pun meminta maaf kepada Aira dan Revan. Dia tadi kaget tiba - tiba Aira berlari dari restoran itu. Revan pun juga meminta maaf atas kejadian itu.
Mereka pun berdamai. Karena memang di lihat dari segi manapun Aira yang salah. Karena berlari mendadak dan tidak melihat kanan kiri jalanan.
" Kamu bertahan ya. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit terdekat. " tukas Revan saambil mengelap peluh di pelipis Aira.
" Maafin aku Van. Kita pulang aja.Aku gak apa - apa kok. Cuma keseleo kan. Di urut juga sembuh." ujar nya.
" Dasar kepala batu." sentil Revan di telinga nya. Aira pun tersenyum mendengar ucapan Revan.
" Kamu masih marah kepada ku?." tanya Aira.
" Sudah enggak." jawab Revan.
" Berarti kamu tadi beneran marah sama aku?." tanya Aira sedih.
" Kamu yang mancing - mancing emosi ku. Jelas aku marah lah." jawab Revan.
Aira terdiam. Dia menatap wajah Revan dalam - dalam. Tersirat semua di wajah lelaki itu akan kekecewaan dan kegelisahan dalam diri nya.
__ADS_1
~ **Happy reading ~
Jangan lupa kasih like, komen dan vote nya yaaa** .....