
Pagi telah menjelang. Tapi matahari masih enggan menampakkan wajahnya untuk menyinari bumi ini.
Revan telah bersiap untuk beranjak pergi meninggalkan rumahnya itu. Dia merasa tidak di harapkan kedatangan nya disana.
Terlihat para pembantu telah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tampak revan menyeret kopernya untuk berjalan keluar rumahnya.
Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. Pemilik rumah itu pun masih belum menampakkan diri mereka.
" Tuan muda hendak kemana pagi - pagi begini." sapa supir yang sedang mengelap kaca mobil.
" Saya mau balik pak soni." tukas Revan.
" Mau saya antar tuan?." tanya lelaki itu lagi.
" Tidak usah. Tidak perlu. Saya sudah pesan taksi. Mungkin sebentar lagi sampai." jelas Revan.
Supir rumah itu pun mengangguk mengiyakan ucapan tuannya tersebut. Tampak Reihan sedang berdiri di balkon rumah nya. Dia melihat adiknya telah rapi dengan koper yang di bawanya kemarin.
Dengan segera Reihan pun turun ke bawah untuk menghampiri adiknya itu. Dengan sedikit berlari Reihan menghampiri adiknya itu. Tapi saat menuruni tangga, Atmaja ayahnya keluar dari kamar dan melihat kelakuan anak sulungnya itu.
" Rei ... Kenapa pagi - pagi lari - lari begitu?." seru ayahnya.
" Revan Pa. Revan mau pergi. Aku melihatnya membawa koper di depan." jelas Reihan lalu berlalu meninggalkan ayahnya di sana.
" Anak itu sungguh keras kepala." ujar Atmaja lalu menyusul Reihan dari belakang.
" Mau kemana kamu?." tanya Reihan saat berada di belakang adiknya itu. Revan pun menoleh ke arah kakaknya itu.
" Aku mau balik." jawabnya singkat.
" Ayolah Van. Jangan seperti anak kecil. Semua bisa di bicarakan lagi." tukas kakaknya.
__ADS_1
" Siapa yang seperti anak kecil?. Ayah mu itu yang seperti anak kecil. Menilai orang dengan sebelah mata. Apa hak dia seperti itu?." jawabnya kesal.
" Karena aku ayahmu !!. " Seru Atmaja dari dalam dan melangkah menghampiri kedua putra nya itu.
Revan langsung terdiam dan membuang muka menghadap ke arah lain.
" Revan. Kamu pikir menikah itu hanya urusan kamu suka dengannya begitu pun sebaliknya, hah. Semua itu tak se indah dan segampang yang kamu bayangkan. " jelas ayahnya.
Dia masih diam tak bergeming. Dia masih menatap ke arah depan dan tak menghiraukan ayah dan kakaknya.
" Papa malu kan kalau aku harus menikah dengan perempuan yamg pernah bersuami dan dari keluarga sederhana?." tanya revan.
Ayah nya masih berdiri dan menatap ke arah anaknya itu.
" Papa setuju atau tidak dengan hubunganku dan Aira aku tidak perduli. Aku akan tetap menikahinya." jelas Revan mantap.
" Jangan bodoh Revan. Kamu bisa mencari puluhan perempuan yang jauh lebih baik dari dia. " bentak ayahnya.
" Tapi aku tidak mau yang lain. Aku hanya ingin Aira. Bukan yg lain!!." jawabnya.
Terlihat taksi yang di pesan oleh Revan pun telah tiba. Revan pun tersenyum sinis ke arah ayah dan kakaknya.
" Terserah kalian menganggap ku apa. Aku tidak perduli. Walau pun papa tidak menganggap ku anak lagi aku pun juga tidak perduli. Karena dari dulu aku bukan anak papa. Anak papa hanya kak Reihan. " jelas Revan melangkah.
Reihan langsung menarik lengan adiknya itu.
" Revan jaga ucapanmu. Papa sangat menyayangimu. Dia menyayangimu melebihi aku. Kamu harus meminta restu darinya dulu sebelum melangkah. Jangan sampai kamu menyesal Revan. Aku sudah memperingatkanmu." ujar kakaknya.
" Aku tidak akan pernah menyesal dengan pilihanku. Dari dulu dan sampai kapan pun juga." jawabnya lalu menepis tangan kakaknya dan melangkah pergi.
" Baiklah. Papa merestui keinginan mu untuk menikahi nya. Tapi jangan harap papa akan menyukai pilihanmu itu." seru Atmaja lalu melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
Sementara itu Revan masih berdiri di posisi terakhirnya. Dia mendengar semua apa yang di ucapakan ayahnya itu. Dia tersenyum sekilas lalu melangkah kan kaki nya menuju taksi itu dan pergi meninggalkan rumah nya itu.
Sementara Reihan masih berdiri di tempatnya memandang punggung adiknya yang hilang masuk ke dalam taksi dan pergi. Dia menghela nafas panjang.
" Kau sungguh keras kepala Revan." ujar kakaknya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Reihan melihat ayahnya duduk di sofa ruang tengah dan tengah melamun.
" Pa ... Papa baik - baik saja." tanya Reihan memastikan.
" Heemmm. Apa adikmu sudah pergi?." tanya ayahnya balik.
" Iya."
" Dia sungguh keras kepala. Persis seperti mama mu dulu." ujar lelaki itu.
" Revan itu mirip sekali dengan papa." seru Reihan mengkoreksi ucapan ayahnya itu.
Atmaja yang mendengar ucapan anak sulungnya itu pun tersenyum sinis.
" Apa papa merestui mereka menikah?." tanya Reihan memastikan ucapan ayahnya tadi.
" Iya. Papa merestui nya. Tapi bukan berarti papa akan menyukai perempuan pilihan adikmu itu." jelas ayahnya.
" Telepon adikmu. Bilang ke dia. Minggu depan kita sekeluarga akan datang ke rumah perempuan itu dan akan melamar untuk dirinya. Aku tidak akan membiarkan anak - anak ku menikah tanpa kehadiran orang tua nya." imbuh ayahnya lalu beranjak dari duduknya dan pergi melangkah ke kamarnya.
Reihan yang mendengar itu pun tersenyum senang. Akhirnya keinginan Revan untuk bersama dengan kekasihnya itu akan segera terwujud.
" Dia pasti senang mendengarnya." ujar Reihan.
~ **Happy reading ~
__ADS_1
Hai readers ....
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaa** ....