Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 125 Kepingan Memori


__ADS_3

Reihan berlari menghampiri pak Aziz yang sedang mondar mandir di depan ruang perawatan. Tadi saat Atmaja pingsan. Para dokter langsung memberikan pertolongan. Setelah itu pak Aziz pun langsung menghubungi nomer ponsel Reihan.


Dan beruntungnya Reihan kala itu baru saja tiba di bandara. Saat mendapat berita tentang Atmaja yang tiba - tiba ambruk. Reihan pun bergegas mencari taksi dan pergi ke rumah sakit tempat Ayah dan adiknya di rawat sekarang.


" Bagaimana keadaan papa?. Dia baik - baik saja kan?." tanya Reihan khawatir.


" Tuan Rei. Bapak baik - baik saja. Kata dokter bapak cuma syok. Sekarang bapak sudah sadar. Tapi dokter memberinya obat. Agar bapak bisa beristirahat." jelas pak Aziz kepada Reihan.


Reihan menghela nafasnya berat. Dia mengusap tengkuk kepalanya yang berat sedari tadi saat mengetahui ayahnya tak sadarkan diri. Adiknya saja saat ini masih tidak tau bagaimana kabar selanjutnya. Di tambah sekarang ayahnya ambruk seperti ini.


" Aku dengar Aira dan Attar sudah pulang. Bagaimana keadaan nya?." tanya Reihan kepada pak Aziz seraya mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tunggu.


" Iya tuan. Nona muda masih seperti itu. Masih belum ingat apapun. Ibu Kinanti dan mbok Sum setiap hari menjaga dan menemani nona muda. Jadi kondisinya baik - baik saja. Sedangkan tuan muda Attar semakin hari kondisi nya semakin membaik. Tuan besar menyewa perawat untuk mengurus tuan muda Attar. Jadi tuan Rei tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi tuan muda Attar dan nona muda." jelas pak Aziz yang khawatir jika Reihan terlalu memikirkan keadaan orang - orang di sekitarnya saat ini akan ikut sakit seperti Atmaja saat ini.


" Benarkah?. Aku senang jika Aira dan Attar baik - baik saja. Terima kasih pak sudah menjaga mereka semua. Sekarang bapak pulang saja. Biar papa saya yang jaga." ujar Reihan sambil menepuk bahu pak Aziz.


" Saya tidak apa - apa tuan. Biar saya disini saja. Saya akan menemani tuan menjaga tuan besar disini." jawab pak Aziz keukeh. Reihan menghela nafasnya kasar lalu tersenyum kepada pak Aziz.


" Ya sudah jika pak Aziz memaksa." tukas Reihan menyerah.


*****


" Kau sudah datang?." tanya Atmaja saat melihat Reihan membuka pintu ruangan tempatnya di rawat. Reihan berjalan mendekat ke arah ayahnya terbaring. Dia lalu menarik kursi yang ada di samping bed rumah sakit.


" Sudah dari tadi. Bagaimana kondisi papa sekarang?. Apa yang papa rasakan?. Sebelah mana yang sakit?." tanya Reihan khawatir. Atmaja tersenyum saat mendengar cecaran pertanyaan dari putra sulungnya itu.


" Kamu ini cerewet sekali. Papa sampai pusing mendengarnya." tukas Atmaja.


" Ck Pa!!!." decak Reihan kesal.


" Iya. Iya. Papa baik - baik saja. Kamu gak usah khawatir. Papa gak akan mati dalam waktu dekat." ujar Atmaja.


" Pa!!." seru Reihan sebal saat mendengar ayahnya ngomong soal kematian. Atmaja hanya tergelak melihat wajah kesal Reihan.

__ADS_1


Hening.


Hening.


Hening.


" Rei .. " panggil Atmaja. Reihan menoleh ke arah ayahnya.


" Maafin papa ya." tukas Atmaja.


" Tuh kan mulai lagi!. Udahlah gak usah ngomong hal - hal aneh seperti itu. Bikin males aja." jawab Reihan sebal. Atmaja tersenyum.


" Kamu ... Dan Revan .... Adalah anak - anak kebanggaan ku. Harta ku yang paling berharga." ujar Atmaja. Reihan terdiam.


" Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau pun menyakitinya. Bahkan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dari ku." imbuh Atmaja.


" Jangan bilang ini pesan terakhir dari papa!!." sahut Reihan kesal.


" Hei!!. Anak kurang ajar!!. Kau mendoakan ku cepat - cepat mati, ya!!." dengus Atmaja sebal. Reihan tersenyum mendengar ucapan ayahnya.


" Sudah ku bilang, aku tidak akan mati dalam waktu dekat!. Aku tidak akan mati sebelum melihat adikmu sadar dan sembuh seperti dulu." jelas Atmaja. Reihan tersenyum kecut mendengar nama Revan di ungkit.


Sunyi.


Sunyi.


Sunyi.


" Pa!." panggil Reihan.


" Hemmm ..." sahut Atmaja.


" Kalau ... Nantinya .... Revan tidak akan membuka matanya lagi ... Bagaimana??." tanya Reihan hati - hati.

__ADS_1


Atmaja memejamkan matanya mendengar pertanyaan yang kemungkinan besar bisa saja terjadi kepada anak kesayangannya itu. Melihat kondisi Revan saat ini yang selalu mengalami kemunduran. Air matanya menetes dari sudut pelupuk matanya.


Reihan melihat butiran demi butiran bening itu pun jatuh membasahi bantal yang di pakai ayahnya. Reihan menghela nafasnya berat.


" Revan pasti sembuh!!. Iya kan Pa!!." seru Reihan optimis. Dia tidak ingin membuat hati papanya menjadi kerdil. Sebisa mungkin dia akan mencoba memberikan yang terbaik untuk orang tua tunggal nya itu.


" Sudah papa istirahat saja!. Gak usah mikirin yang aneh - aneh." tukas Reihan.


" Heemmmm ... " sahut Atmaja yang masih memejamkan matanya erat.


*****


Aira baru saja selesai mandi. Dia sudah bisa mandi sendiri tanpa bantuan siapa pun. Dia juga sudah berpakaian rapi. Di depan cermin meja rias di kamarnya, rambut panjangnya di sisir perlahan. Dia menatap lekat - lekat ke arah pantulan cermin. Bahkan setengah melamun.


Tiba - tiba pantulan wajah Revan hadir disana. Aira sampai terlonjak kaget. Dia menatap kembali cermin di hadapannya itu. Tidak ada siapa pun. Aira pun jadi memikirkan wajah yang baru saja melintas di bayangannya itu.


" Dia ... Apakah sudah sembuh ya?." gumam Aira lirih sambil terus menyisir rambutnya.


Dan ...


Kepala Aira tiba - tiba sakit. Dan bayangan wajah Revan kembali hadir disana. Bahkan bayangan itu sekarang seperti kaset usang yang di putar kembali oleh pemiliknya.


Dia melihat wajah Revan yang tersenyum. Wajah Revan yang manja. Wajah Revan yang tertawa dengan renyah. Revan ini lah. Revan itu lah.


" Aira. Nak!!." seru Kinanti sambil menggoyang - goyang bahu Aira yang berdiri di depan cermin dengan memegangi kepalanya yang terasa nyeri itu.


" Kamu kenapa nak?." tanya Kinanti cemas.


Dan ...


" Revan!!."


Nama itu yang terucap dari bibir Aira. Kinanti terkesiap mendengar ucapan Aira.

__ADS_1


" Sayang. Kamu ..."


" Revan dimana Ma?." tanya Aira dengan wajah membeku.


__ADS_2