
Waktu terus berputar hingga siang hari. Tapi Revan dan Aira masih saja terlelap dalam tidurnya karena lelah. Mbok sum dan mbak Aminah pun telah selesai menyiapkan makan siang untuk kedua majikannya itu. Tapi sang majikan masih belum menampakkan dirinya.
Aira mengerjap perlahan. Di buka nya mata yang rasanya masih lengket itu. Tubuhnya terasa begitu lelah sekali. Di lihatnya Revan yang masih tertidur pulas di sampingnya. Aira pun membangunkan lelaki itu. Tapi Revan hanya menggeliat dengan mata yang tetap terpejam. Akhirnya Aira pun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya disana.
Hampir 20 menit Aira mandi. Saat keluar dari dalam kamar mandi pun terlihat suaminya itu masih meringkuk di bawah selimut. Aira berjalan ke arah tirai jendela yang tertutup rapat lalu membuka nya. Seketika itu bias cahaya matahari langsung masuk menyeruak ke dalam kamar. Revan mengerutkan dahinya akibat paparan cahaya yang masuk ke dalam kamar dan menyorot tepat di wajahnya.
" Ck, tutup tirainya!. Aku masih mengantuk!." seru nya sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Aira yang mendengar itu pun tersenyum dan berjalan menghampirinya.
" Sayang. Ini sudah siang. Ayo bangun!." tukas Aira sambil menggoyang - goyang tubuh suaminya itu. Tapi Revan hanya berdehem dan tetap pada posisinya.
" Sayang bangun!. Ayo cepat bangun." ujar Aira sambil terus menggoyang tubuh Revan tanpa menyerah. Revan pun akhirnya menyerah akibat kegigihan istrinya membangunkan dirinya.
" Ck, iya iya. Aku bangun!. Kamu itu berisik sekali." tukas Revan kesal sambil mendudukan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya. Aira pun tersenyum melihat wajah suaminya ya g seperti bayi yang baru bangun tidur itu.
" Cepat mandi sana. Aku sudah lapar sekali." seru Aira manja sambil menarik - narik tangan Revan agar bangkit dari duduknya. Revan pun bengun dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Aira merapikan kembali seprei yang sudah tak beraturan bentuknya disana.
Setelah Revan selesai mandi dan berganti pakaian, mereka pun turun menuju ruang makan. Terlihat rumah itu sangat sepi sekali. Karena kalau jam - jam segini mbok sum dan mbak Aminah sedang istirahat di kamar belakang.
Terlihat meja makan masih kosong. Aira pun menuju dapur untuk mengecek apakah ada makanan disana. Mbok sum tadi sehabis memasak tak langsung menyajikan di atas meja makan. Karena dia tak tau jam berapa tuannya itu akan turun untuk makan.
Aira membuka tutup panci yang ada di dapur. Terdapat sayur gulai daun singkong di dalam panci itu. Aira pun menyalakan kompor untuk menghangatkan sayur yang mulai dingin tersebut. Sementara Revan dengan setia duduk di atas kursi yang ada di meja makan menunggu istrinya yang berada di dapur.
Aira menghampiri meja makan sambil membawa piring dan gelas untuk mereka makan. Revan tersenyum melihat istrinya itu. Terlihat Aira begitu cekatan di dapur. Tak lama kemudian dia pun kembali lagi dengan sayur di wadah kaca biasa tempat untuk sayur. Lalu meletakkan di atas meja. Revan pun berdiri ingin membantu istrinya. Tapi di tolaknya. Akhirnya dia mengambil gelas yang masih kosong dan mengisinya dengan air putih.
Mereka pun makan siang bersama dengan sangat hangat. Terlihat Revan begitu sangat bahagia. Senyum di wajahnya pun tak bisa di bohongi kalau dirinya tengah bahagia saat itu.
" Masakan mbok sum enak sekali." tukas Aira saat memakan masakan mbok sum.
" Iya. Masakan mbok sum rasanya sama persis dengan masakan buatan mamaku." seru Revan. Aira terkesiap mendengar ucapan Revan. Dia takut jika suaminya ini akan sedih kembali kalau mengingat ibunya yang sudah tiada.
" Apa aku boleh memasak untukmu?." tanya Aira kepada Revan.
" Boleh. Tapi jangan setiap hari." jawabnya.
__ADS_1
" Kenapa?." tanya Aira bingung.
" Aku gak mau kamu kelelahan. Disini kan sudah ada mbok sum dan mbak Aminah. Kamu tinggal duduk manis melihat saja." jelas Revan.
" Tapi kan kamu suami ku. Bukan suami mbok sum atau mbak Aminah. Masa' aku gak boleh memasak untuk suami ku sendiri. Aku bisa bosan jika tidak mengerjakan apa - apa disini." ujar Aira dengan wajah cemberut. Revan pun tersenyum.
" Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kecapekan saja. Kalau kamu bosan di rumah, kamu bisa main ke rumah Santi atau mama. Atau gak kamu bisa pergi jalan - jalan ke mall atau ke salon." jelas Revan.
" Bolehkah aku melakukan itu semua?." tanya Aira ragu.
" Boleh. Siapa yang melarangmu?." jawab Revan dengan senyum di wajahnya.
" Asal kamu sudah harus ada di rumah sebelum aku pulang bekerja. Karena aku gak suka jika kamu masih keluyuran saat aku sudah ada di rumah." imbuh Revan. Aira pun mengiyakan ucapan suaminya itu. Keduanya pun melanjutkan makan siang sampai habis tak tersisa.
Setelah makan, Aira membereskan meja makan dan menaruhnya di tempat cucian piring dan hendak mencuci piring kotor disana. Tiba - tiba mbok sum mengagetkan nya dari belakang.
" Nona sedang apa?." tanya mbok sum mengagetkan Aira hingga tubuh nya sedikit berjingkat karena kaget.
" Mbok sum mengagetkan saja. Ooh ini saya mau cuci piring. Barusan baru selesai makan siang bareng Revan." ujar Aira.
" Udah mbok gak apa - apa. Mbok sum istirahat saja. Cuma sedikit kok piring kotornya." seru Aira.
" Aduh jangan non. Nanti tuan muda bisa marah kalau melihat istrinya mencuci piring kotor. Udah biar saya saja. Ini memang sudah jadi pekerjaan saya." ujar mbok sum memaksa.
" Baiklah kalau begitu. Saya tinggal ya mbok." ujar Aira sambil beranjak pergi meninggalkan dapur. Sementara mbok sum mengambil alih mencuci piring kotor disana.
Aira menyusul Revan yang tengah berada di belakang rumah. Terlihat Revan tengah berdiri di depan kolam ikan sambil memberi makan kumpulan ikan - ikan hias yang ada disana.
" Kamu sedang apa?." tanya Aira saat berdiri tepat di samping suaminya. Revan tersenyum sambil melempar butiran makanan untuk ikan - ikan disana.
Revan mengajak istrinya duduk di sebuah bangku yang ada di dekat kolam. Mereka pun duduk disana. Mata Aira pun berkeliling memandang setiap sudut rumah ini. Walaupun bergaya minimalis modern, tapi rumah ini cukup asri dengan adanya berbagai tanaman hias dan bunga yang ada di sana.
" Kamu kenapa?. Apakah kamu lelah?." tanya Revan sambil mengusap kepala wanita itu.
__ADS_1
" Tidak. Aku hanya melihat bunga - bunga itu." tunjuk Aira kepada kumpulan bunga - bunga disana.
" Apa kamu suka?." tanya Revan.
" Suka sekali." jawab Aira. Revan pun tersenyum mendengar ucapan istrinya.
" Besok aku sudah kembali bekerja." seru Revan.
" Apakah aku boleh bekerja juga?." tanya Aira. Seketika itu wajah Revan berubah tidak senang.
" Gak boleh. Kamu gak boleh bekerja. Kamu cukup di rumah saja. Biar aku yang bekerja." jelas Revan.
" Kenapa?." tanya Aira.
" Karena tugas suami kan memang mencari nafkah untuk istri dan anak - anaknya." jawab Revan.
" Tapi sekarang banyak perempuan yang bekerja walaupun dia sudah menikah." tukas Aira.
" Aku gak mau kamu seperti itu. Kamu cukup di rumah saja. Menunggu dan mendoakan aku." ujar Revan.
" Tapi aku dulu juga masih bekerja walaupun sudah menikah." sanggah Aira. Revan menatap wajah Aira dengan tajam. Aira pun langsung terdiam dan membisu.
" Jangan sama kan aku dengan orang lain. Karena aku tidak sama dengan mereka." seru Revan. Aira mengangguk mengiyakan ucapan Revan. Mereka akhirnya memutuskan menghentikan pembicaraan soal pekerjaan.
Kini mereka kembali melamun memandangi bunga - bunga yang ada di taman itu. Tiba - tiba terlintas di pikiran Aira soal keluarga Revan yang belum mengetahui perihal pernikahannya.
" Sayang." panggil Aira lirih. Revan yang tengah mengusap kepala Aira pun berdehem menyauti panggilan istrinya.
" Sampai kapan kita menyembunyikan pernikahan ini kepada keluargamu?." tanya Aira. Revan tercekat mendengar pertanyaan istrinya itu. Dia hanya terdiam dengan helaan nafas yang begitu kasar.
" Aku gak mau kita terus - terusan seperti ini." ujar Aira.
" Sebaiknya kamu menghubungi keluarga mu. Jangan sampai mereka tau soal pernikahan kita dari orang lain. Itu akan melukai perasaan mereka." jelas Aira.
__ADS_1
" Kamu gak usah terlalu memikirkan hal itu. Nanti aku coba hubungi kak Reihan." ujar Revan sambil mengusap pucuk kepala istrinya itu. Aira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Walaupun Revan terlihat bahagia. Tapi benaknya begitu menjerit menahan kerinduan keluarganya. Tapi di satu sisi dia begitu mencintai Aira. Terdengar suara helaan nafasnya yang begitu berat.