Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 124 Gelap


__ADS_3

" Dok, tangan dokter Revan bergerak!!." ujar perawat disana dengan paniknya.


" Benarkah?." tanya dokter itu yang langsung berdiri dari duduknya dan berlari memasuki ruangan tempat Revan terbaring.


Perawat yang tadi memanggilnya pun turut masuk kedalam ruangan. Dokter itu melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jari tangan Revan memang bergerak. Di ambilnya stetoskop yang melingkar di lehernya dan di tempelkannya benda itu di dada Revan yang masih terhubung dengan kabel - kabel layar monitor disana.


Dokter itu pun meraih senter kecil yang ada di saku snelli nya. Di buka nya mata Revan secara perlahan dan di sorot dengan senter itu. Terlihat bola mata Revan sudah mulai bergerak. Menandakan Revan sudah mulai melewati masa kritis dan koma nya.


" Tolong tensi tekanan darahnya." perintah dokter itu kepada perawat yang berdiri di sampingnya.


Perawat itu pun mengambil alat tensi darah dan memasang di lengan Revan. Dokter itu pun mengecek seluruh alat yang melekat di tubuh Revan.


" 131/97 dok." ujar perawat itu.


" Dok, dokter Revan apa mendengar suara saya?. Kalau mendengar tolong gerakkan jari anda?." tanya dokter itu setengah berbisik kepada Revan.


Tak lama kemudian dokter itu melihat jari tangan Revan bergerak kembali.


" Sus, hubungi dokter spesialis syaraf yang menangani kasus dokter Revan. Bilang kalau dokter Revan berhasil melewati masa kritisnya." ujar dokter itu. Perawat pun pergi dari sana dan melakukan perintah dokter itu.

__ADS_1


*****


Atmaja melihat ada dua dokter yang berjalan memasuki ruangan tempat Revan di rawat. Dahinya mengerut. Tiba - tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Dia takut terjadi apa - apa dengan Revan di dalam.


Semua dokter itu pun berkumpul di samping bed tempat Revan terbaring. Semua pemeriksaan di lakukan untuk rekan seprofesinya ini. Dan salah satu dokter syaraf yang di panggil meminta untuk dilakukannya CT scan ulang. Mereka khawatir jika ada pelebaran pembuluh darah yang pecah di otak Revan.


Karena sampai di tunggu beberapa menit, Revan tetap tak membuka matanya. Hanya jari tangan nya saja yg bergerak. Biasanya kalau tidak ada masalah lagi, setelah pasien melewati masa kritisnya tak lama setelah itu pasien akan membuka mata walaupun hanya beberapa detik. Itu menandakan jika kesadaran dan fungsi syaraf di dalam otaknya masih baik - baik saja.


Perawat pun memanggil keluarga Revan yang berjaga di luar untuk menemui dokter yang menangani kasus Revan. Atmaja pun memasuki ruangan dokter yang di maksud. Dengan perasaan harap - harap cemas dan khawatir yang tiada tara. Lelaki itu pun menghadap panggilan dokter yang memanggilnya.


" Selamat malam Pak. Silahkan duduk." ujar dokter itu mempersilahkan Atmaja duduk di kursi yang ada di hadapan meja dokter itu.


" Begini Pak. Dokter Revan baru saja melewati masa kritisnya." ujar dokter itu. Atmaja pun menghela nafasnya lega. Dia seperti mendapat angin segar saat mendengar ucapan dokter itu.


" Tapi Pak, respon syaraf dan motorik dokter Revan begitu lemah untuk mengambil sinyal dari syaraf di dalam otaknya. Jadi kami akan melakukan CT scan ulang untuk mengetahui kebenaran di balik semua ini." jelas dokter itu. Atmaja hanya menghela nafasnya berat.


" Tapi Revan baik - baik saja kan dok?." tanya Atmaja cemas.


" Kita berdoa saja ya Pak. Saya takut jika dugaan saya ini benar, ini akan menjadi kabar buruk untuk keluarga dokter Revan." jawab dokter itu.

__ADS_1


" Maksud dokter?." tanya Atmaja tak mengerti.


" Dugaan saya sementara adalah Cerebral Palsy Statik. Yaitu kelumpuhan pada syaraf otak, pendengaran, pengelihatan, serta gerak motorik nya. Tapi itu masih dugaan sementara. Kita berdoa saja. Semoga bukan itu yang akan terjadi pada dokter Revan." jelas dokter itu.


Kepala Atmaja seperti di sambar petir saat mendengar penjelasan dari dokter yang merawat Revan. Seburuk itukah kondisi anaknya?. Jika sampai itu terjadi. Revan akan selamanya terbaring di atas sana. Itu akan sama halnya dia tak ubah seperti mayat hidup.


Atmaja keluar dari dalam ruangan dokter dengan tubuh lemas tak berdaya. Pikirannya sudah di penuhi dengan kemungkinan - kemungkinan buruk saja. Rasanya harapan untuk Revan sembuh seperti sedia kala sangat tipis.


Dunianya serasa berputar terbalik. Kenyataan yang dia terima begitu pahit. Apalagi hal ini menimpa anak yang selalu dia banggakan di dalam hidupnya. Tak ada hal yang membanggakan dalam hidupnya sebelum kehadiran Revan. Dunia nya berubah menjadi sangat bahagia dan terasa indah saat hadirnya Revan dalam hidupnya.


" Pak. Bapak kenapa?." tanya pak Aziz saat melihat Atmaja keluar dari ruang dokter dengan wajah pucat dan sempoyongan itu.


Atmaja menatap wajah pak Aziz tak berdaya. Air mata nya pun tak dapat di tahan lagi. Menangislah lelaki tua itu di pelukan supir sekaligus tukang kebun kepercayaannya itu.


Pak Aziz yg melihat itu pun di buat kebingungan setengah mati. Apalagi dia belum pernah melihat majikannya ini seperti ini. Dan ...


Tubuh tegap dan besar Atmaja pun lemas dalam pelukan pak Aziz. Lelaki itu pun tak sadar kan diri.


" Pak!!. Pak Atmaja!!. Tolong!!. Tolong ada yang pingsan di luar!!." teriak pak Aziz meminta pertolongan siapa pun yang mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2