
60 menit pun berlalu. Jadwal operasi yang tadinya akan memakan waktu 45 menit menjadi terlambat 15 menit. Karena tadi di tengah - tengah operasi, Aira mengalami shock body syndrome. Tubuhnya mengeluarkan reaksi yang begitu hebat. Mulai dari tekanan darah yang tidak stabil, pendarahan yang terus menerus hingga membutuhkan dua kantung transfusi darah.
Golongan darah Aira sama dengan Revan. Jadi pada saat tadi Aira kehilangan banyak darah, Revan langsung mendonorkan darahnya dengan sigap.
Bayi dalam kandungan Aira sudah berhasil di keluarkan. Bayi tersebut berjenis kelamin laki - laki dengan berat hanya 1000gram. Dan bayi itu berhasil di lahirkan dalam kondisi hidup. Setelah berhasil di lahirkan tadi, seorang dokter anak langsung membawa nya ke ruang Niccu untuk melakukan observasi pada bayi tersebut.
Revan berjalan dengan gontai dan lesu. Wajah nya tampak begitu pucat. Dia hendak menyusul dokter yang membawa anak kandungnya. Baru setengah perjalanan, dirinya merasa pandangan nya kabur dan tiba - tiba gelap.
Terang saja Revan mengalami hal seperti itu. Sejak Aira di rawat dia tidak berselera untuk makan dan tidur. Di tambah lagi tadi dia harus mendonorkan darahnya sebanyak dua kantong untuk istrinya.
Revan berhenti sejenak. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding rumah sakit sebagai sandarannya. Dia berhenti sejenak untuk mengusir pandangan kabur dalam dirinya. Saat ini yang ingin dia lihat adalah bayi yang telah di lahirkan istrinya tadi. Tadi dia tidak memiliki kesempatan untuk memegang bayinya tersebut. Karena dia telah terbaring dengan selang transfusi darah yang terhubung langsung ke istrinya.
" Revan. Kamu kenapa?." tanya Sheila dan teman - temannya saat melihat lelaki itu bersandar di dinding rumah sakit disana.
Revan hanya melirik sekilas ke arah mantan kekasihnya itu. Sheila dan teman - temannya baru saja kembali dari makan siang. Dan mereka tak sengaja melihat Revan disana.
" Kamu pucat sekali. Kamu sakit?." tanya Sheila khawatir. Tangannya berusaha menyentuh dahi lelaki itu. Tapi Revan langsung menepis nya.
" Aku baik - baik saja. Kalian pergilah!. Jangan perdulikan aku." ujar Revan. Sheila dan teman - temannya pun saling memandang. Dan mereka pun beranjak pergi meninggalkan Revan yang masih disana. Baru beberapa langkah mereka pergi. Dan ...
Bruuukkk ...
Revan jatuh di lantai tak sadarkan diri. Sheila dan teman - temannya pun menoleh dan berteriak menghampiri lelaki itu.
" Revan. Revan kamu kenapa?. Revan." ujar Sheila sambil menepuk - nepuk pipi lelaki itu.
Salah satu teman Sheila pun dengan sigap berlari mengambil brankar yang ada di ujung lorong. Mereka berempat pun secara bersamaan mengangkat tubuh lelaki itu. Sangat berat sekali bagi ke empat wanita itu. Tubuh Revan memang tinggi dan besar nya hampir dua kali lipat tubuh wanita. Di tambah lagi sekarang dia sedang tak sadarkan diri. Menambah beban itu semakin berat.
Sheila dan teman - temannya pun mendorong tubuh Revan ke ruang UGD. Karena mereka yakin kalau Revan sedang sakit. Tadi saja wajah lelaki itu terlihat sangat pucat sekali.
__ADS_1
" Dokter tolong ada yang pingsan!!." teriak salah seorang teman Sheila saat berada di ruang UGD. Dokter disana pun sigap menghampiri brankar yang di dorong dokter perempuan itu.
" Dokter Revan!." ujar salah seorang dokter disana yang mengenal sosok yang terbaring di atas brankar itu.
" Periksa dia. Sepertinya dia sakit. Wajahnya begitu pucat." ujar Sheila.
Dokter itu memeriksa tubuh Revan dengan seksama. Terlihat lengan Revan tertutup plester seperti orang habis menjalani transfusi darah.
" Apakah dokter Revan baru saja selesai transfusi darah?." tanya dokter itu.
" Aku tidak tau. Aku melihat nya di lorong. Dan tiba - tiba dia pingsan." ujar Sheila khawatir.
Sheila memandangi wajah lelaki yang sampai sekarang masih ada di dalam hatinya itu. Dia begitu khawatir dengan lelaki itu. Selama hampir 5 tahun mereka bersama. Sheila belum pernah sekali pun melihat Revan sakit. Tapi sekarang, lelaki ini sedang terbaring dengan wajah yang pucat.
Dokter disana pun memasangkan cairan infus di tangan Revan. Mereka juga memeriksa tekanan darah Revan dan denyut nadi nya. Semua nya normal walaupun tensi darahnya terlihat begitu rendah.
" Dokter Revan baik - baik saja. Hanya kelelahan dan tensi nya rendah saja. Saya sudah memberikan infus. Kita tunggu saja sampai dokter Revan terbangun. Dokter Sheila jangan terlalu khawatir dan bisa kembali ke ruangannya." ujar dokter itu.
******
Aira masih dalam pengaruh obat bius nya. Kini dia berada di ruang ICU rumah sakit tersebut. Mulutnya pun sudah terpasang alat Fentilator yang menembus hingga paru - parunya. Alat itu lah yg membantu Aira untuk mendapatkan oksigen. Wajahnya terlihat begitu pucat. Bahkan bibirnya pun berwarna biru keunguan.
Semua Dokter spesialis di bidangnya pun di kerahkan. Mulai dari dokter jantung, dokter paru, dokter spesialis penyakit dalam dan masih banyak lagi dokter - dokter yang lainnya. Semua dokter melakukan pemeriksaan dan observasi secara ketat dan menyeluruh kepadanya. Ini semua atas permintaan Revan yang menginginkan pengobatan terbaik untuk istrinya. Dia tidak perduli soal besarnya biaya yang akan di keluarkan nantinya. Yang terpenting istrinya selamat dan kembali sehat seperti sedia kala.
Tangan Aira mulai sedikit bergerak. Monitor yang ada di samping ranjang nya pun berbunyi. Semua dokter pun langsung berlari ke arah bed tempat nya berbaring. Aira hanya membuka matanya sebentar. Dia begitu asing dengan alat Fentilator yang ada di dalam tubuhnya. Itulah yang membuat dirinya merasa kesulitan untuk mendapat asupan oksigen dan monitor di samping nya berbunyi.
" Nyonya anda dengar suara saya." ujar salah seorang dokter.
Aira masih kesulitan bernafas dan monitor itu pun masih berbunyi nyaring sekali. Aira sampai tersengal - sengal karena dia tidak bisa bernafas karena adanya alat yang menusuk di dadanya itu.
__ADS_1
" Nyonya. Jangan di gigit selang yang ada di dalam mulut nyonya. Kalau selang itu nyonya gigit, nyonya akan kesulitan bernafas. Karena selang itu terhubung secara langsung dengan paru - paru nyonya. Alat itu lah satu - satunya alat bantu pernafasan anda." jelas Dokter itu.
Aira mendengar sedikit apa yang di ucapkan dokter itu. Tubuhnya begitu lemas tak bisa di gerakkan. Ini karena pengaruh obat bius nya belum sepenuhnya hilang.
" Nyonya jangan di gigit selang yang ada di dalam mulut nyonya. Nyonya ikuti saja saya. Tarik nafas lewat hidung lalu buang lewat mulut." instruksi dokter itu.
Aira pun menurut. Dia mengikuti apa yang di instruksikan dokter tersebut. Perlahan dia mengambil nafas melalui hidung dan membuangnya lewat mulut. Layar monitor itu pun berhenti berbunyi. Itu menandakan Aira sudah mempunyai oksigen untuk bernafas.
" Nyonya jangan panik dan jangan takut. Alat itu hanya sementara. Nanti kalau nyonya sudah bisa bernafas dengan normal. Alat itu akan saya lepas. Nyonya kan habis selesai operasi besar dan menggunakan obat bius secara total. Jadi tim medis memasang alat itu agar nyonya tidak kesulitan bernafas. Apalagi paru - paru nyonya saat ini terendam air cukup banyak. Jadi sabar dulu ya nyonya. Nyonya belajar bernafas dulu dengan alat ini. Nanti akan saya lepas kalau nyonya sudah bisa bernafas dengan normal." jelas dokter tadi. Aira yang masih setengah sadar pun hanya terdiam.
Dia kembali tertidur. Dokter tersebut memperhatikan layar monitor yang ada di samping Aira. Dia pun mengecek satu per satu kabel yang terhubung di tubuh wanita itu.
*****
Revan mengerjapkan matanya perlahan. Dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Di lihat nya kiri dan kanan ruang yang tertutup tirai putih itu. Dia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Di lihatnya punggung tangannya yang terpasang selang infus. Revan melepas jarum yang menusuk tangannya itu. Perlahan dia turun dari brankar yang dia tempati.
" Dokter Revan sudah sadar?." tanya dokter jaga disana. Revan hanya mengangguk mengiyakan.
" Kenapa aku ada disini?." tanya Revan.
" Tadi dokter pingsan di lorong. Untung ada dokter Sheila dan teman - temannya. Jadi mereka membawa dokter kesini. " ujar dokter itu. Revan mencoba mengingat - ingat kejadian itu. Dia sadar tadi dia sempat bertemu dengan Sheila.
" Apa dokter selesai transfusi darah?." tanya dokter itu.
" Iya." jawab Revan.
" Pantas saja. Dokter mengalami anemia. Sebaiknya dokter duduk dulu. Saya akan minta perawat untuk mengambilkan susu dan makanan untuk dokter Revan." ujar dokter itu.
" Tidak usah. Aku baik - baik saja kok. Aku mau ke ruang Niccu bayi dulu." jawab Revan.
__ADS_1
" Tapi dok .." Revan menepuk bahu dokter tersebut dan beranjak pergi keluar dari ruang UGD.