
Akbar kembali ke rumah Revan dengan di temani pak Aziz. Semua orang yang ada di rumah sudah menunggunya dengan perasaan sedih dan berkabung.
" Akbar!. Bagaimana?. Apa mereka semua sudah di jalan atau masih di rumah sakit?." tanya Kinanti dengan wajah sembabnya. Akbar menghela nafas berat.
" Ma. Tidak ada yang meninggal. Semua baik - baik saja. Mas Revan juga masih bernafas." jelas Akbar.
" Apa?!. Apa maksudmu bicara seperti itu?." tanya Kinanti tak mengerti.
" Kita semua sudah salah paham!. Tidak ada yang meninggal. Semua masih dalam keadaan bernyawa. Hanya saja pak Atmaja harus di rawat di rumah sakit. Karena kondisi badannya yang ngedrop dan terlalu lelah. Selepas itu, semuanya baik - baik saja." jelas Akbar lagi.
Semua orang di rumah itu saling memandang satu sama lain. Apa ini tidak salah?. Lantas siapa yang di maksud oleh mbok Sum tadi?. Siapa yang meninggal?.
" Kamu yakin nak?." tanya Kinanti tak percaya.
" Yakin 100% Ma. Aku juga bertemu dengan mas Reihan tadi di rumah sakit. Dan mas Reihan pun juga kaget saat aku bertanya soal mas Revan yang sudah pergi. Kalau tidak percaya, tanya kan saja pada pak Aziz. Iya kan pak?." jelas Akbar meminta persetujuan lelaki paruh baya itu.
" Benar Bu Kinanti. Semua baik - baik saja. Tidak ada yang meninggal. Tuan muda juga masih hidup. Hanya saja belum sadar seperti kemarin - kemarin." jelas pak Aziz.
Kinanti bernafas lega saat mendengar ucapan Akbar dan pak Aziz. Semua orang disana pun menghela nafas lega dan bersyukur sebesar - besarnya. Karena masih di beri kesempatan dan harapan akan kesembuhan Revan. Mbok Sum pun merasa bersalah sekali. Karena telah menyebabkan keributan dan keresahan di dalam keluarga itu. Wanita itu berulang kali meminta maaf kepada Kinanti.
" Sudahlah mbok. Saya sudah melupakan. Saya lega saat mendengar kabar Revan masih bernafas. Jangan di ulangi lagi ya. Kalau ada orang telepon dan bicara tolong di dengarkan baik - baik dulu. Jangan asal mengambil kesimpulan seperti itu. Untung saya gak punya sakit jantung. Kalau gak, sudah anfal saya tadi saat mendengar kabar kepergian Revan." terang Kinanti.
Semua sudah dapat bernafas dengan lega. Mereka semua pun beristirahat sebelum waktu makan siang di mulai. Sementara mbok Sum dan mbak Aminah kembali ke dapur untuk melanjutkan acara masak memasak untuk makan siang semua orang yang ada disana.
.
.
.
*****
.
.
Aira tampak rapi dengan setelan dress yang di pakainya. Tampak manis dan anggun saat memakai dress berwarna coklat polos itu. Dia akan menjalani terapi di rumah sakit. Kali ini dia akan mengajak Attar ikut serta. Karena rencananya dia akan menemui Revan selepas melakukan terapi dengan dokter yang merawatnya.
Attar pun tengah memainkan bola yang ada di genggamannya. Perawat Ita pun sudah mengganti pakaian dan diapers Attar. Lalu memakaikan topi di kepala mungil bayi tanpan tersebut.
" Sudah siap, Ita?." tanya Kinanti saat memasuki kamar Attar.
" Sudah Bu." Jawab Ita sambil menggendong tubuh Attar.
" Ya sudah kamu tunggu di mobil dulu. Saya mau panggil Aira." ujar Kinanti.
__ADS_1
" Aku disini Ma." jawab Aira yang kala itu sedang berdiri di depan pintu kamar Attar.
" Kamu sudah siap nak?." tanya Kinanti sambil berjalan mendekat ke arahnya dan merapikan baju yang di kenakan putrinya itu.
" Heemm." jawab Aira. Kinanti tersenyum memandang putrinya itu.
" Kamu cantik sekali dengan baju ini." puji Kinanti. Aira tersenyum.
" Aku harus terlihat cantik kan di depan Revan. Siapa tau nanti saat aku disana. Tiba - tiba dia bangun." jelasnya. Kinanti tersenyum getir mendengar ucapan Aira.
Pasalnya ini sudah bulan ke empat Revan menutup matanya. Tak ada perkembangan lebih lanjut lagi tentang dirinya. Rasanya semua alat dan pengobatan secara medis di tempuh untuk membuat mata lelaki itu terbuka. Tapi semua serasa sia - sia dan tak membuahkan hasil sama sekali.
" Ayo kita berangkat." seru Aira. Kinanti tersenyum.
" Ayo!." jawab Kinanti.
.
.
.
*****
.
Ini kali pertama buat Attar bertemu dengan Revan setelah kecelakaan hari itu. Dulu saat bayi itu baru lahir. Orang pertama yang menggendongnya adalah Revan. Revan pula yang mengadzani di telinga Attar selaku ayahnya. Sudah empat bulan berlalu. Attar mungkin juga akan merindukan kehadiran sang Ayah. Walaupun dia belum mengerti apa - apa.
Setelah hampir 2 jam berlalu. Aira pun keluar dari ruangan di temani dengan dokter yang merawatnya. Mereka berdua tampak berbincang - bincang layaknya manusia normal. Ingatan Aira belum pulih seratus persen seperti sedia kala. Hanya beberapa bagian saja yang sudah kembali. Sisanya masih berupa potongan puzzle yang belum tersusun dan terpecahkan.
Kata dokter itu sudah jauh lebih baik daripada tidak ada hasil sama sekali. Aira juga sudah bisa menghafal huruf alfabet dan angka dengan lancar. Sesuai dengan hasil CT scan ulang beberapa waktu yang lalu. Pendarahan di dalam otaknya juga mulai menutup. Sekarang yang di butuhkan hanya waktu serta keajaiban saja.
" Bagaimana dok?. Apa tidak ada yang perlu di khawatir kan?." tanya Kinanti saat melihat dokter yang merawat Aira berjalan dengan putrinya. Dokter itu pun tersenyum.
" Tidak ada Bu. Semua baik - baik saja. Nyonya Aira juga semakin hari semakin bagus saja perkembangannya." ujar dokter itu. Kinanti menghela nafas lega.
" Obat dan vitaminnya jangan sampai lupa di minum. Sering - sering berinteraksi dengan orang - orang sekitar. Istirahat yang cukup dan jangan terlalu stress." jelas dokter itu kepada Aira dan Kinanti.
" Punya album foto kan di rumah?." tanya dokter itu.
" Iya. Punya dok." jawab Kinanti.
" Lah itu Bu. Tolong di perlihatkan album foto - foto lama. Sambil di jelaskan situasi yang ada di dalamnya. Itu juga bisa membantu penyembuhan nyonya Aira kedepannya. Tapi kalau sudah merasa pusing dan sakit di kepalanya, jangan di teruskan. Perlahan dan bertahap saja. Takutnya nanti akan membuat stress dan malah menciderai otak kecilnya." jelas dokter itu.
" Baik dok. Saya akan coba terapkan saran dari dokter." jawab Kinanti.
__ADS_1
" Nyonya Aira. Sampai bertemu bulan depan lagi ya. Dan jangan lupa tugas yang saya berikan tadi. Bulan depan akan saya lihat lagi. Saya permisi kalau begitu." pamit sang dokter.
" Iya dok. Terima kasih banyak." ujar Kinanti.
Mereka pun duduk sejenak di ruang tunggu yang di sediakan disana. Kinanti mengambil sebotol air putih dan di berikan kepada putrinya itu. Aira meminum air putih itu hingga habis tak tersisa. Dua jam di ruangan terapi tanpa minum dan makan membuatnya dehidrasi.
" Apa kamu baik - baik saja nak?." tanya Kinanti sambil mengusap keringat di kening Aira. Aira tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
" Kita makan siang dulu ya. Kamu pasti lapar. Lagian ini kan sudah masuk jam makan siang." ujar Kinanti.
" Iya Ma. Apa Attar sudah makan?." tanya nya sambil mengelus kepala bayi tampan itu yang sedang asyik memakan biskuit di tangannya.
" Sudah. Tadi mama bawa susu dan roti kesukaan Attar. Lihat dia anteng kan." tukas Kinanti. Aira tersenyum melihat tingkah aktif sang bayi.
Selepas makan siang. Mereka pun berjalan menuju ruang perawatan Revan. Aira merasa deg - deg an. Berulang kali dia menghela nafasnya dengan berat. Sambil memegangi dadanya yang berdetak terus menerus dia berjalan hingga sampai di depan ruang perawatan itu.
" Kamu masuk saja duluan. Nanti kita gantian ya." ujar Kinanti. Aira mengangguk mengiyakan.
Aira pun membuka pintu tempat lelaki itu dirawat. Para perawat dan dokter yang ada disana pun menyapa nya dengan ramah. Aira hanya tersenyum mendengar sapaan dari mereka.
Aira berjalan mendekat ke arah bed tempat Revan memejamkan matanya. Bunyi alat - alat yang melekat di tubuhnya saja yang terdengar. Aira menarik kursi yang ada di samping tempat tidur disana.
" Hai, apa kabar?." sapa Aira saat melihat Revan yang terbaring.
Sunyi. Tak ada sahutan. Aira menatap wajah Revan dengan seksama. Senyum di wajahnya pun mengembang sempurna.
" Aku baru saja selesai terapi. Kata dokter aku semakin hari semakin pandai. Aku juga sudah hafal huruf dan angka loh. Aku juga sudah bisa mandi dan memakai baju sendiri." jelasnya kepada Revan. Tapi tetap saja tak ada sahutan.
Wajah Revan semakin hari semakin tirus saja. Tubuhnya pun semakin kurus. Karena tak ada asupan makanan yang masuk kedalam tubuh lelaki itu. Hanya cairan infus dan obat - obatan yang masuk kedalam tubuh lelaki tampan itu.
" Aku kesini bersama Attar. Kamu tau Attar kan?. Kata mama dia anak aku sama ... kamu. Dia ... mirip sekali dengan kamu. Hidungnya sama, alisnya sama, mirip kamu deh pokoknya." ujar Aira.
" Kamu kapan bangun?. Apa gk capek merem terus seperti itu?. Attar kangen loh sama kamu. Mungkin aku juga." imbuh Aira.
Aira menatap wajah Revan yang pucat dan tirus itu. Air matanya tiba - tiba saja menetes. Tangannya pun menyentuh pipi lelaki itu. Berbeda sekali dengan di foto. Di foto dia tampak sangat tampan dan berwibawa dengan senyuman termanis yang mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya.
" Bangun lah. Buka mata mu. Ayo kita bermain bersama dengan Attar. Sampai kapan kamu seperti ini?. Apa kamu tidak kasian sama papa dan kakak kamu?. Apa kamu tidak kasian dengan aku dan Attar?. Bangun lah Revan. Buka mata mu!." seru Aira sambil menggoyang - goyang lengan lelaki itu.
Sunyi. Hanya bunyi alat - alat di tubuhnya saja yang menjawab semua pertanyaan Aira. Aira mengusap air matanya yang mengalir. Dia meletakkan kepalanya di samping tangan lelaki itu. Rasanya ingin sekali dia menangis meraung - raung disana. Siapa tau Revan akan bangun saat mendengar suara tangisannya.
.
.
.
__ADS_1