
Kini dua kakak beradik itu tengah menikmati makanan yang ada di kantin rumah sakit. Banyak sekali yang mereka bicarakan. Mulai dari obrolan kecil hingga obrolan tak berguna lainnya. Revan juga menanyakan kondisi ayahnya. Sudah lama sekali mereka berdua tidak berbicara seperti saat ini. Gelak tawa keduanya pun kadang tak bisa di hindari.
" Kamu tidur dimana Kak?." tanya Revan saat berjalan menuju ruang perawatan istrinya.
" Tadi aku udah reservasi hotel untuk beberapa hari kedepan." jawab Reihan.
" Kau ini. Tidur saja di rumahku. Rumahku juga banyak kamar kosong." ujar Revan.
" Emang boleh?." tanya Reihan. Revan berdecak mendengar itu.
" Kalau gak mau, gak usah." tukas Revan lalu mencepatkan langkah nya mendahului kakaknya. Reihan pun tersenyum melihat kelakuan adiknya itu. Dia pun berjalan di belakang Revan.
*****
Sudah hampir seminggu Aira di rawat di sana. Siang ini dia sudah di perbolehkan pulang. Tapi tidak dengan bayi nya. Bayi mereka masih harus di rawat secara intensif di rumah sakit ini. Terlihat Revan membantu Aira untuk membereskan pakaian dan barang - barang miliknya yang ada di sana.
" Kalau aku pulang, terus gimana dengan Attar?." tanya Aira sedih.
" Attar kan ada perawat dan dokter." jawab Revan. Aira tampak berpikir sejenak.
" Kalau aku rindu gimana?." tanya nya lagi.
" Kamu tinggal kesini saja. Gampang kan." jawab Revan sambil mengangkat koper yang sudah rapi ke lantai.
" Nanti sebelum pulang ke rumah, kita mampir lihat Attar ya." pinta Aira. Revan tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan istrinya itu.
Setelah mengurus surat - surat kepulangan istrinya dan berpamitan kepada petugas medis yang membantunya selama ini. Mereka pun berjalan menuju ruang perawatan Attar. Aira duduk manis di kursi dorong yang sedang di dorong suaminya itu. Rasanya dia begitu senang bisa menghirup udara bebas lagi.
Saat di tengah - tengah perjalanan, Aira dan Revan di kejutkan oleh sosok yang berjalan menghampiri nya. Terlihat Reihan berjalan di belakang orang itu.
" Papa .." seru Revan lirih.
Yah ... Orang itu adalah Atmaja, ayahnya. Dia berjalan dan berhenti di depan Revan dan Aira. Aira pun langsung menunduk takut saat melihat ayah mertuanya itu.
__ADS_1
" Papa!." seru Revan kaget.
Plaaaakkkk !!!!
Atmaja menampar wajah Revan dengan keras. Aira dan Reihan pun sampai di buat terbengong oleh sikap lelaki itu.
" Dasar anak kurang ajar!!. Berani nya kamu menyembunyikan hal ini kepada papa mu sendiri, hah!!. Kamu sudah menganggapku benar - benar mati, hah!!." bentak Atmaja. Revan masih terdiam tak menjawab apapun yang di ucapkan ayahnya itu.
Atmaja menatap Aira dengan sinis. Dia begitu ingin berteriak di wajah istri anaknya itu. Tapi dia tidak melakukannya. Karena dia tau, saat ini Aira sedang tidak sehat. Dia masih dalam tahap pemulihan atas penyakit yang di deritanya.
" Kenapa kamu diam saja?. Kamu tidak punya mulut untuk bicara?. Atau kamu sudah tuli dan bisu?." tanya Atmaja geram saat melihat Revan masih membisu.
" Kenapa papa kesini?." tanya Revan tiba - tiba bersuara. Atmaja begitu murka saat mendengar ucapan anaknya itu. Reihan memegangi lengan ayahnya.
" Pa, sudah Pa. Papa tahan emosi Papa. Ini rumah sakit. Jangan bikin keributan disini." ujar Reihan melerai kedua lelaki keras kepala di hadapannya ini.
" Van, sudah lah. Jangan berdebat dengan Papa lagi. Ini bukan waktunya untuk berdebat. Kasian Aira baru sembuh sudah harus mendengar kamu dan Papa bertengkar." jelas Reihan. Revan pun membuang muka ke arah lain. Dia tidak ingin beradu pandang dengan Ayahnya itu.
" Kalian mau pulang?." tanya Reihan. Aira mengangguk mengiyakan.
" Tapi kami mau melihat Attar dulu." ujar Aira.
" Attar??." tanya Reihan tak mengerti.
" Oohh itu nama bayi kita." jawab Aira. Reihan begitu senang mendengar nama yang di sebut adik iparnya itu.
" Ayo kita lihat seberapa ganteng keponakan ku itu." tukas Reihan semangat sambil mengambil alih koper yang di pangku oleh Aira. Aira pun tersenyum melihat itu.
Kini mereka berempat berjalan menuju ruang perawatan Attar. Revan masuk pertama kali ke ruangan itu. Untuk memberitahukan kepada pihak medis yang ada di dalam, apakah boleh Aira dan keluarga nya melihat bayi nya.
Tim medis pun tidak memperbolehkan Aira atau keluarganya masuk kedalam ruangan. Mereka hanya boleh melihat dari kaca saja. Perawat di sana pun membuka tirai yang menutup kaca besar yang ada di ruangan itu. Terlihat Revan berdiri di samping box bayi yang ada disana.
Aira begitu senang bisa melihat anaknya lagi. Walaupun hanya lewat kaca. Reihan dan Atmaja begitu terkesiap melihat bayi yang di gendong oleh Revan. Bayi itu terlihat begitu sangat kecil sekali.
__ADS_1
Hati Atmaja bergetar saat melihat anaknya menggendong bayi mungil itu. Dia tidak percaya kalau bayi itu adalah cucunya. Bayi itu masih begitu kecil dengan beberapa selang dan kabel yang terhubung dengan perlengkapan medis di tubuhnya.
Aira mengusap kaca di sana. Dia membayangkan tengah mengusap kepala bayi mungil nya itu. Air matanya pun mengalir kembali. Dia begitu ingin menyentuh, memeluk, serat mencium bayi kecil itu. Dia ingin sekali mendekap anak yang telah dilahirkannya itu.
Reihan mengusap bahu Aira. Dia tau seperti apa perasaan wanita itu. Seandainya dia di posisi Aira, dia juga akan sangat bersedih seperti yang di lakukan wanita itu.
" Dia begitu tampan ternyata. Aku merasa tersaingi." ujar Reihan menenangkan Aira. Aira tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya itu. Reihan pun tergelak dengan ucapannya sendiri.
" Kamu dan Revan sangat beruntung memiliki anak setampan dan sekuat dia." ujar Reihan. Aira hanya mengangguk mengiyakan ucapan Reihan.
" Minta doa nya ya kak. Supaya Attar kuat menghadapi ini semua." jelas Aira.
" Pasti." jawab Reihan.
Atmaja masih tak bergerak di posisinya. Dia sangat ingin menyentuh bayi itu. Kini hidupnya semakin terasa lengkap. Hatinya begitu senang saat melihat cucu nya yang mungil itu. Banyak doa dan harapan yg dia panjatkan untuk kesembuhan cucunya itu.
"Berapa beratnya?." tanya Atmaja kepada Aira tiba - tiba. Aira menoleh ke arah ayah mertuanya itu.
" Beratnya hanya 1000gram." jawab Aira. Terdengar suara helaan nafas dari lelaki paruh baya itu. Hatinya begitu miris mendengar itu.
" Kapan kata dokter dia bisa pulang?." tanya Atmaja lagi. Aira hanya menggelengkan kepala.
" Tidak tau, Pak." jawab Aira. Atmaja menoleh dan menatap Aira sekilas.
" Papa. Panggil aku Papa. Seperti Amanda dan anak - anakku memanggilku." ujar Atmaja.
Reihan dan Aira pun terkesiap mendengar itu. Reihan tersenyum memandang Ayahnya itu. Sementara Aira begitu kaget mendengar ucapan ayah mertuanya. Atmaja yang di tatap oleh dua orang itu pun, pura - pura cuek dan tidak menghiraukan.
" Papa." panggil Aira lirih. Atmaja pun menghela nafasnya mendengar itu.
" Aku menyuruh mu memanggil seperti itu hanya demi cucu ku. Jangan senang dulu. Aku masih belum memaafkan kelakuan kalian berdua." jelas Atmaja angkuh. Aira hanya tersenyum dan menunduk mendengar itu.
Perasaan Aira begitu senang. Akhirnya dia bisa di terima juga oleh Ayah suaminya itu. Sudah lama dia memimpikan hal ini. Semua berkat Attar. Secara tidak langsung Attar telah menjadi jembatan penghubung putusnya silahturahmi ayah dan anak itu.
__ADS_1