
Kinanti membawa Aira ke lantai dua rumah itu. Aira pun hanya menurut dan berjalan di samping ibunya. Kinanti membuka salah satu pintu kamar yang ada di sana. Kinanti menyuruh anaknya itu untuk masuk ke dalam.
Itu adalah kamar tidur Aira dan Revan selama ini. Saat pintu kamar di buka. Sebuah foto pernikahan dengan ukuran yang sangat besar langsung terlihat disana. Aira yang melihat itu pun langsung berjalan mendekat ke arah figura yang melekat di dinding itu.
Di pandangi foto itu dengan seksama. Terlihat wajah bahagia Revan dan dirinya mengenakan kebaya putih bersih dan dengan riasan yang sangat cantik di foto itu. Aira menatap potret gambar itu dengan tatapan yang dalam. Dirinya juga mencoba mengingat tentang momen yang ada di foto itu.
Kinanti berjalan mendekat ke arah Aira yang berdiri. Di usapnya rambut putrinya itu dengan lembut. Aira menoleh ke arah ibunya itu.
" Dia Revan. Dan itu aku." tukas Aira. Kinanti tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.
" Benar. Itu kamu dan itu Revan. Kalian saling mencintai dan akhirnya menikah. Kalian adalah suami istri." ujar Kinanti.
" Suami .... Istri ...??." tanya Aira dan kembali menatap foto di dinding.
" Iya sayang. Kamu juga sudah menjadi seorang ibu sekarang. Bayi yang kamu temui kemarin dialah Attar. Attarrazka anak kalian." jelas Kinanti dengan perlahan. Agar Aira tidak begitu kaget dan akhirnya menjadi panik.
Kinanti menatap wajah Aira. Tidak ada reaksi apapun terhadap Aira. Kinanti sedikit bernafas lega saat mengetahui putrinya terlihat baik - baik saja.
" Nak. Apa kamu merasakan sakit di kepala mu?." tanya Kinanti sambil mengusap kepala Aira.
" Tidak." jawab Aira datar dan tetap menatap ke arah foto.
Kinanti menarik tubuh istrinya untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu. Aira menatap sekeliling kamar yang luas itu. Ranjang tempat tidur yang besar dan rapi. Lemari pakaian yang begitu besar. Ada meja rias dengan cermin besar pula disana.
Aira pun berdiri kembali dan berjalan mendekat ke arah meja rias yang ada disana. Di tatapnya berbagai macam peralatan kecantikan yang tertata rapi di atas meja. Dia mengambil salah satu botol parfum yang ada disana dan di buka tutup botol itu. Bau yang terasa tidak asing bagi indera penciumannya.
Aira menatap cermin besar yang ada di depannya sambil terus mencium botol parfum yang dia pegang. Terlintas bayangan wajah Revan kembali hadir di hadapannya. Memori yang seperti kaset usang itu pun kembali di putar.
__ADS_1
Disana, di ingatannya yang kembali di putar. Dia melihat Revan tertidur dengan lelap di atas tempat tidur yang ada di kamar itu. Lalu dia melihat Revan berganti pakaian di depan lemari. Aira juga melihat Revan duduk di atas sofa dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Aira pun melihat Revan berdiri di depan jendela besar kamar itu dengan memeluk dirinya dari belakang.
Kilatan memori itu seperti roller coaster di kepala Aira. Terus berputar dan terus menampilkan keberadaan Revan dan dirinya bersama - sama melewati waktu. Aira mulai merasakan sakit di kepalanya. Dia memegangi ujung meja rias dengan erat. Keringat dingin pun sudah terlihat di dahinya.
" Sayang. Kamu baik - baik saja?." tanya Kinanti khawatir. Wanita itu pun berdiri dan mendekat. Tapi tidak di perbolehkan Aira lebih mendekat ke arahnya.
Aira masih merasakan sakit di kepalanya. Sakitnya semakin di tahan semakin kuat sekali. Tiba - tiba Aira langsung jatuh terduduk dan pingsan.
" Aira ...!!!." teriak Kinanti panik saat melihat putrinya itu jatuh dan tak sadarkan diri. Kinanti menepuk - nepuk pipi Aira tapi tak ada respon. Kinanti pun berlari keluar kamar meminta bantuan orang yang ada di rumah itu.
.
.
*****
.
.
Kinanti pun langsung menghubungi dokter yang merawat Aira di rumah sakit. Dokter itu pun langsung datang ke rumah tersebut dan memeriksa keadaan Aira.
" Ibu Kinanti tidak perlu terlalu khawatir. Nyonya Aira hanya mengalami sakit kepala yang tidak terlalu serius. Itu adalah efek dari beberapa memori yang dulu hilang lalu kembali lagi. Tidak ada yang perlu di khawatir kan. Malah ini pertanda baik. Karena syaraf nyonya Aira masih berfungsi dengan baik sehingga menerima sinyal dari otak nya." jelas dokter itu kepada Kinanti agar tidak perlu terlalu khawatir.
" Obat dan vitamin yang kemarin tolong di minumkan secara rutin. Dan jangan terlalu memaksa nyonya Aira untuk terus mengingat masa lalunya. Pelan - pelan saja. Takutnya nyonya Aira nanti terlalu stress dan malah membuat memori ingatannya berjalan mundur dan menghilang kembali." jelas dokter yang merawat Aira.
Kinanti pun duduk di sofa yang ada di kamar itu sambil memperhatikan wajah Aira yang masih terpejam. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan Attar yang begitu keras. Kinanti pun beranjak dari duduknya dan menghampiri cucunya yang menangis itu.
__ADS_1
Perawat disana pun menggendong tubuh bayi mungil itu. Tapi tangis Attar tak kunjung reda. Malah semakin menjadi saja.
" Ada apa Ita?." tanya Kinanti kepada perawat itu.
" Kurang tau, bu. Attar tadi sedang tertidur. Tapi tiba - tiba terbangun dan menangis seperti ini. Sudah saya bujuk dan kasih susu tapi tidak mau. Malah semakin keras saja menangisnya." jelas perawat itu yang bernama Ita. Kinanti mengambil alih Attar untuk di gendongnya. Tapi bayi itu tetap saja menangis dengan sangat keras dan kencang.
" Oohh sayang nya nenek. Cup cup nak." tukas Kinanti sambil mencoba menenangkan cucunya itu.
Attar masih saja menangis dan meraung. Seperti dirinya merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Di periksa popok yang di pakai Attar. Tapi masih kering. Tidak ada pipis atau apapun.
Mbok Sum pun datang menghampiri kamar Attar untuk menemui Kinanti.
" Bu Kinanti." seru mbok Sum dengan wajah yang lesu dan menahan tangisnya.
" Ada apa mbok?." tanya Kinanti heran dan menatap air muka mbok Sum.
" Barusan ada telepon dari tuan Reihan." jawab mbok sum.
" Reihan bilang apa?. Mbok Sum kenapa sih, kok wajahnya begitu?. Ada berita apa mbok?." tanya Kinanti cemas. Mbok Sum mengusap air matanya yang menetes di pipinya.
Kinanti dan Ita pun memandang wajah mbok Sum dengan cemas. Pasti ada kabar tidak baik. Sehingga wajah mbok Sum seperti itu.
" Mbok!!. Ada apa??." Kinanti sedikit berteriak ke arah wanita tua itu. Mbok Sum mulai terisak. Kepanikan mulai melanda Kinanti. Apalagi Attar masih saja tak berhenti menangis dalam gendongannya.
" Tuan muda ... " jawab mbok Sum sambil terisak dan mengusap air matanya.
" Tuan muda .... Sudah tidak ada lagi. Dia sudah meninggal." jelas mbok Sum dengan tangis yang akhirnya pecah juga.
__ADS_1
" Apaaa!!!!." teriak Kinanti.