
Kehidupan rumah tangga Revan dan Aira terlihat sangat harmonis dan bahagia. Siapa pun yang melihat nya pasti akan iri dan cemburu. Walaupun kini pernikahan mereka sudah menginjak bulan ketiga. Tapi kelakuan mereka masih selayaknya pengantin yang baru menikah beberapa hari.
Hari ini Aira akan pergi mengunjungi mama nya yang sekarang tinggal bersama dengan Santi adiknya di rumah kontrakan yang dulu dia tempati.
Sejak kepergian nenek, mama tidak mau tinggal di rumah itu. Kenangan bersama nenek masih sangat melekat kuat di rumah itu. Akhirnya mama memutuskan untuk tinggal bersama Santi.
Aira dan Revan sudah membujuk mama nya untuk tinggal bersama mereka. Rumah mereka juga besar kalau hanya menambah satu orang saja. Tapi mama menolak nya. Mama lebih memilih tinggal bersama Santi dan Akbar di rumah kontrakan yang sederhana.
Aira tengah bersiap menuju rumah Santi seorang diri. Karena Revan tengah berada di luar kota dari kemarin untuk menghadiri seminar kesehatan yang di adakan setiap tahunnya itu.
Setelah memesan taxi online. Aira berjalan meninggalkan kamarnya menuju ruang tengah sambil menunggu taxi online nya datang.
" Mbok ... Mbok Sum ... " panggil Aira saat berada di ruang tengah.
Mbok Sum yang tengah berada di dapur pun berjalan menghampiri nona muda nya tersebut.
" Iya non." seru mbok Sum.
" Mbok saya mau pergi ke rumah adik saya. Mungkin nanti sore baru kembali. Mbok Sum gak usah siapin makan siang buat saya. Mbok Sum masak untuk keperluan mbok Sum dan mbak Aminah sendiri saja ya." jelas Aira.
" Baik non." jawab mbok Sum menurut.
" Nanti kalau ada tamu yang mencari saya atau mas Revan, bilang kita gak ada di rumah ya mbok. Suruh tinggalkan pesan saja." imbuh Aira sambil merapikan baju nya dengan seksama.
" Iya non." jawab mbok Sum.
Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil di depan gerbang rumahnya. Aira berjalan keluar menghampiri mobil yang berhenti di depan rumahnya itu.
Setelah Aira pergi meninggalkan rumah tersebut. Mbok Sum segera menutup pintu dan menguncinya rapat - rapat. Lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan masak.
*****
__ADS_1
" Hallo sayang, ada apa?." seru Aira saat ponselnya berdering.
" Kamu lagi apa?. Katanya mau ke rumah Santi?." tanya Revan dari balik telepon.
" Iya ini lagi di perjalanan. Naik taxi online." jawab Aira dengan santainya.
" Ooohh gitu. Supir taxi nya ganteng gak?. Genit sama kamu gak?. Atau tanya - tanya nomer ponsel kamu gitu?." tanya Revan menyelidik. Dia sangat tidak rela mendengar istrinya di goda lelaki lain.
Aira tergelak mendengar pertanyaan suaminya itu. Sungguh sangat lucu, pikirnya.
" Kamu apaan sih?. Mana mungkin lah pak supirnya genit sama aku. Iya kan pak?." tukas Aira pada supir taxi yang duduk di belakang kemudi itu. Lelaki paruh baya itu pun hanya tersenyum dan mengangguk kepada Aira.
" Kamu pulang kapan?." tanya Aira.
" Besok siang aku pulang. Kenapa?. Kangen ya sama aku?." goda lelaki itu. Terdengar suara ketawa nya yang khas dan renyah itu.
" Dasar!. Sudah aku tutup ya. Sebentar lagi mau nyampai nih. Kamu jangan lupa makan dan jangan minum kopi terus. Gak baik buat kesehatan." ujar Aira. Revan tersenyum mendengar ocehan istrinya itu yang semakin hari semakin bawel saja.
" Aku juga. Hati - hati ya." jawab Aira.
Panggilan telepon pun di tutup. Aira menghela nafasnya dengan berat. Dia menatap ke luar kaca mobil. Entah mengapa mendengar suara suaminya, rindu di dalam hatinya semakin besar saja. Dia ingin segera bertemu dengan lelaki itu secepatnya.
*****
Terlihat Bian tengah bermain dengan ayahnya, Akbar di ruang tamu. Sementara Santi, aku, dan mama berada di dapur menyiapkan camilan yang baru selesai di buat mama dan Santi.
Aira mengambil sepotong kue brownis yang baru matang dari oven itu. Masih terasa panas sekali. Aira pun memindahkan kue tersebut ke dalam piring kecil lalu meniup - niupnya hingga dingin dan memakannya. Kue buatan mama nya sungguh sangat enak sekali. Santi sampai menggelengkan kepala nya melihat kakak nya makan kue yang masih panas itu dengan rakus nya.
Santi pun mengambil botol plastik berisi jus buah yang ada di lemari es lalu meminumnya hingga tinggal setengah. Lalu botol itu pun di raih oleh Aira dan di minumnya hingga habis tak tersisa.
" Mbak Aira kenapa jadi rakus begini sih?." dengus Santi heran. Aira hanya tersenyum tak memperdulikan ucapan adiknya itu.
__ADS_1
" Di rumah mu sana pasti setiap hari kan makan dan minum seperti ini." tanya Santi. Aira mengangguk.
" Tapi rasanya tidak seenak buatan mama ku tersayang." jawabnya sambil mencium pipi kanan mamanya. Kinanti yang melihat kedua putrinya tampak bahagia pun turut ikut bahagia.
" Lihat badanmu semakin hari semakin melebar seperti itu. Pasti karena kenyang oleh masakan mama kan." ejek Aira. Santi hanya terkekeh mendengar ejekan kakaknya yang tidak salah sama sekali itu.
" Itu karena mama lebih menyayangiku daripada mbak Aira." jawab Santi dengan bangga nya.
" Sudah sudah. Kalian itu kalau ketemu ribut saja. Tapi kalau gak ada nyariin. Nih Santi kue nya bawa ke depan. Suami mu pasti sudah gak sabar mencicipi nya kan." tukas mama. Santi pun menurut. Dia berjalan menuju ruang tamu sambil membawa potongan kue brownis yang ada di atas piring.
" Bagaimana rumah tangga mu nak?. Revan gak berlaku kasar kepadamu kan?." tanya Kinanti kepada putri sulungnya itu.
" Seperti yang mama lihat. Aku sangat bahagia hidup bersama Revan. Dia begitu sangat mencintaiku melebihi apapun." jawab Aira. Terpancar perasaan bahagia dari wajahnya.
" Syukurlah kalau begitu. Mama ikut bahagia jika kalian semua bahagia." ujar Kinanti.
" Lalu Ra, dulu kamu kan memakai kontrasepsi yang dipasang di rahim mu. Apa sudah di lepas?." tanya mama nya sedikit khawatir.
" Sudah ma. Aku sudah melepasnya beberapa bulan yang lalu. Dan Revan sendiri yang melepasnya." ujar Aira.
" Oohh iya. Dimana?. Dirumah atau di rumah sakit?." tanya Kinanti heran.
" Ya di rumah sakit lah ma. Di rumah mana ada peralatan seperti itu." jawab Aira.
" Lalu, apa sudah ada kabar bahagia dari sini?." tanya Kinanti sambil mengelus perut Aira yang masih datar itu. Aira tersenyum lalu menggelengkan kepala nya.
" Doa kan saja ma. Aku dan Revan juga masih terus usaha. Aku juga kasian sama suami ku. Dia juga pasti sudah ingin memiliki anak." jelas Aira.
" Pasti nak. Seorang ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan anak - anaknya. Mama doakan semoga keinganmu dan suami mu cepat - cepat terkabul. Agar rumah tangga kalian harmonis selalu." ujar Kinanti.
" Aammiiiinnnn." jawab Aira lalu memeluk tubuh ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.
__ADS_1