
Selepas pulang dari rumah sakit. Aira tampak murung. Kinanti yang menyadari perubahan anaknya pun merasa cemas. Dia takut jika Aira akan down dan stress kembali.
Perempuan itu hanya duduk di tepi ranjang yang ada di dalam kamarnya. Aira sudah pindah ke kamar lamanya yang dulu di tempatinya bersama Revan. Entah apa yang di pikirkannya. Tidak ada yang tau.
" Sayang." seru Kinanti seraya membawa segelas susu untuk dirinya. Aira hanya tersenyum saat melihat kehadiran ibunya.
" Di minum dulu susu nya." tukas Kinanti sambil menyerahkan gelas berisi susu.
Tanpa banyak bicara Aira pun meraih gelas itu dan meminumnya hingga habis tak tersisa. Kinanti tersenyum sambil mengusap rambut Aira. Ada kesedihan di mata sang putri.
" Kamu lagi mikirin apa?. Ingat kata dokter. Jangan terlalu stress nak. Nanti malah mengganggu kesembuhan kamu." ujar Kinanti. Aira menatap wajah sang bunda.
" Ma. Revan itu orang seperti apa sih?. Aku sama sekali gak ingat soal dia?." tanya Aira.
" Yang aku ingat. Dia selalu tersenyum kepada ku. Dia selalu menatap ku dengan hangat. Aku merasa sangat nyaman jika berada di dekat nya." jelasnya.
" Dia .... Sangat mencintaimu. Melebihi apapun. Revan lelaki yang begitu hangat dan penyayang. Dan dia juga tampan." jawab Kinanti sambil menggoda sang putri. Aira tergelak mendengar ucapan ibunya.
" Ma. Aku merasa ada yang aneh di sini." tukas Aira sambil menyentuh dada nya. Kinanti mengernyit kan dahinya tak mengerti.
" Dada kamu sakit nak?." tanya nya.
" Tidak. Aku tidak sakit. Aku baik - baik saja. Hanya saja ada sedikit yang berbeda saat melihat Revan." jawabnya. Kinanti tersenyum. Dia tau apa yang di maksud oleh Aira.
" Ini sudah malam. Kamu istirahat saja. Besok pagi mama akan tunjukin sesuatu kepadamu." jelas Kinanti.
" Apa?." tanya Aira penasaran.
" Besok saja. Sekarang kamu istirahat. Jangan mikirin yang aneh - aneh." jawab Kinanti sambil beranjak pergi dari kamar itu.
Aira masih duduk di tepi ranjang tempat tidur nya. Berulang kali menghela nafas berat. Di pandangi nya foto Revan yg terpampang besar di dinding kamar itu.
.
.
.
*****
Selepas sarapan Aira menemani Attar bermain di kamarnya. Akhir - akhir ini dia sering sekali menghabiskan waktu bersama sang bayi. Dia belajar mengganti popok Attar, belajar membuatkan susu Attar, bahkan dia sering sekali menidurkan Attar saat mengantuk.
Banyak sekali perubahan di dalam dirinya. Interaksi dirinya dengan semua orang di rumah itu sudah hampir kembali seperti sedia kala. Walaupun terkadang dia masih salah memanggil nama satu per satu orang yang ada di rumah itu.
Selepas Attar tertidur. Aira berjalan menuju ruang tengah. Dia bosan terus menerus berada di rumah. Kinanti berjalan menghampiri nya dengan album foto lama di tangannya.
" Attar sudah tidur nak?." tanya Kinanti sambil duduk di samping putrinya.
" Sudah." jawabnya singkat.
" Apa itu?." tanya nya saat melihat album foto di tangan ibunya. Kinanti tersenyum.
" Ini album foto. Sini, mendekatlah. Mama mau tunjukan sesuatu kepadamu." pinta Kinanti. Aira menggeser posisi duduknya mendekat ke arah sang ibu.
Kinanti membuka album foto itu. Terlihat bayi mungil berada di dalam potret itu. Kinanti tersenyum melihat foto itu. Sedangkan Aira tak mengerti foto siapa itu.
" Ini kamu. Aira Fahira. Putri mama yang cantik." ujar Kinanti. Aira menatap foto itu. Tak kenal. Tapi memang mirip seperti dia. Hidung dan matanya.
" Ini aku?." tanya Aira. Kinanti mengangguk mengiyakan.
" Kamu ini masih berumur sekitar 2 bulan. Masih sangat lucu dan begitu menggemaskan." tukas Kinanti. Kini Kinanti membuka lembar foto berikutnya. Terdapat potret dirinya yang sudah beranjak besar dengan memegang permen di tangannya.
__ADS_1
" Ini juga kamu. Waktu itu kamu nangis minta di belikan permen. Tapi gak di kasih sama mama. Tapi nenek yang ngasih kamu permen secara sembunyi - sembunyi." kenang Kinanti saat melihat foto masa kecil putrinya.
" Nenek?." tanya Aira. Dia baru pertama kali dengar kalimat itu. Kinanti membalik lagi foto disana. Terdapat potret dirinya yang di gendong oleh perempuan tak di kenal nya dengan sebuah balon di tangannya.
" Ini nenek. Nenek itu ibu dari mama. Seperti mama dan Attar." jelas Kinanti. Aira menatap lekat - lekat foto itu.
Kilatan memori kembali terlintas di otaknya. Seorang perempuan yang selalu tersenyum ketika melihat wajah nya dan selalu tertawa saat melihatnya tertawa. Aira memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
" Sayang. Kamu kenapa?. Apa kamu pusing?." tanya Kinanti khawatir. Aira mengangguk mengiyakan. Kinanti pun menutup album foto tersebut. Di usapnya bahu Aira secara lembut. Mencoba menenangkan pikiran Aira.
" Ya sudah. Kita istirahat ya. Besok kita lanjutkan lagi." jelas Kinanti. Aira mengangguk mengiyakan. Kinanti pun menuntun dirinya kembali ke kamar.
.
.
.
*****
Di rumah sakit. Para dokter dan perawat terlihat longgar dan tenang. Karena sedari pagi tak ada pasien baru yang datang ke ruangan tersebut. Beberapa dari mereka asyik mengobrol soal berita selebriti yang sedang ramai di sosial media. Sebagian lagi bercerita soal anak dan keluarga nya di rumah.
Tiba - tiba alat detektor jantung yang melekat di tubuh Revan berbunyi dengan nyaring. Dokter yang ada disana pun langsung berlari menghampiri sumber suara. Terlihat Revan dalam keadaan yang tak stabil.
Tekanan darah nya tiba - tiba tinggi. Denyut nadi nya pun berdetak dengan cepat. Dokter itu pun memeriksa kembali apa yang salah dengan pasiennya itu. Dan ....
Revan membuka matanya. Dengan nafas yang tak beraturan lelaki itu membuka matanya dengan sempurna. Alat detektor itu pun berdetak seirama kembali. Dokter dan perawat disana pun begitu terkesiap dan senang saat melihat Revan membuka matanya.
" Dokter Revan bisa mendengar saya." panggil salah seorang dokter. Revan tampak bingung. Dia memandangi ruangan sekitar.
" Dokter Revan bisa melihat saya?." tanya dokter itu lagi.
" Ini ... Dimana?." tanya nya dengan suara yang masih sangat lemah.
" Apa dokter Revan dapat mendengar suara saya?." tanya dokter itu lagi.
" Iya .. " jawabnya lemah. Dokter dan perawat itu pun menghela nafas lega. Tak ada tanda - tanda kerusakan vital di dalam tubuh Revan.
" Dokter Revan jangan banyak bergerak. Tubuh dokter Revan masih sangat lemah. Tolong istirahat sejenak. Saya akan panggil kan dokter Wisnu kesini." ujar dokter itu. Revan mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian dua orang dokter memasuki ruangan itu. Dokter Wisnu. Kepala dokter spesialis penyakit dalam dan salah seorang dokter lagi dokter spesialis ortophedi.
Dokter Wisnu tersenyum saat melihat Revan telah sadar dari tidur panjangnya. Sudah lama dia menantikan momen seperti ini.
" Selamat malam dokter Revan. Apa anda mengenal saya?." tanya dokter Wisnu saat berada di samping tempat tidur Revan. Revan membuka matanya. Lalu menoleh ke arah dokter yang menyapa nya itu.
" Iya. Tentu saja saya mengenal dokter." jawab Revan dengan senyuman di wajah pucat nya. Dokter itu menghela nafasnya lega.
Setelah pemeriksaan di lakukan selesai. Dokter Wisnu duduk di kursi samping tempat tidur Revan. Banyak hal yang ingin dia tanya kan kepada pasiennya itu selama tidur panjangnya. Sebelum mulai bertanya, Revan terlebih dulu bertanya kepada dokter itu.
" Dimana istri saya?. Apa dia baik - baik saja?." tanya Revan. Dari nada suara nya, sudah jelas kalau Revan begitu khawatir dengan keadaan Aira.
" Nyonya Aira baik - baik saja. Dia sudah kembali ke rumah anda. Bersama keluarga dan bayi anda." jelas dokter Wisnu.
" Benarkah?. Syukur lah." jawabnya dengan perasaan yang sangat teramat lega.
" Dokter Revan apa masih ingat bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa dokter Revan dan sang istri?." tanya dokter Wisnu.
Revan mengingat kembali kejadian yang menimpa dirinya dan Aira malam itu. Dia memejamkan matanya dan menghela nafasnya berat.
" Iya saya ingat." jawab Revan getir.
__ADS_1
" Bisa dokter cerita kan bagaimana awal mula kejadiannya?." tanya dokter Wisnu.
" Huft, malam itu saya dan istri saya sudah tidur. Tiba - tiba dokter Anne menghubungi saya. Dia meminta saya datang ke rumah sakit. Karena pada saat itu kondisi bayi saya sedang kritis. Istri saya memaksa untuk ikut bersama dengan saya. Saya sudah melarang. Tapi dia tetap ingin ikut. Dan saat di jalan. Ada sebuah mobil dari arah berlawanan tiba - tiba langsung menabrak mobil saya. Setelah itu saya gak ingat lagi." jelas Revan sambil mencoba mengingat - ingat kembali kejadian buruk itu. Dokter Wisnu menghela nafasnya.
Dia tersenyum mendengar penjelasan Revan yang begitu terperinci. Itu menandakan kerja otak Revan masih berfungsi dengan normal dan telah baik - baik saja.
" Apa dokter Revan tidak mengalami pusing saat saya bertanya seperti ini?." tanya dokter Wisnu. Revan menggelengkan kepala.
" Baik lah. Cukup pertanyaan saya. Silahkan dokter Revan istirahat kembali. Besok pagi saya akan datang lagi kemari. Kita akan lakukan CT scan ulang. Selamat beristirahat dokter. Jangan banyak pikiran dan stress ya." jelas dokter Wisnu. Revan mengangguk dan tersenyum.
" Sus, apa tidak ada keluarga saya di luar?." tanya Revan kepada perawat disana.
" Ada dokter. Tapi mungkin sedang pergi membeli sesuatu. Karena pada saat di panggil mereka tidak ada di luar." ujar perawat itu.
" Apa ada yang mencari saya?. Saya keluarga Revan." terdengar suara sang ayah dari luar. Revan tersenyum mendengar itu.
" Ooh pak. Darimana saja?. Saya cari dari tadi?. Dokter Revan telah siuman. Dia telah sadar dan melewati masa kritisnya." ujar dokter disana.
" Apa?. Anak saya sudah sadar dok?." tanya Atmaja kaget.
" Benar. Dokter Revan sudah sadar kembali." jawab dokter itu.
" Alhamdulillah. Terima kasih Ya Tuhan. Terima kasih telah mendengar doa - doa ku. Lalu dimana anak saya?. Apa saya boleh bertemu dengan dirinya?." tanya Atmaja yang sudah tidak sabar melihat Revan yang telah membuka matanya.
" Boleh. Asal jangan terlalu banyak di ajak bicara. Dan jangan terlalu lama ya pak. Karena ini sudah larut malam. Pasien juga butuh waktu untuk istirahat." jawab sang dokter.
" Baik dok. Saya hanya sebentar. Terima kasih dok." tukas Atmaja lalu masuk kedalam ruangan itu.
Terlihat Revan memejamkan matanya. Atmaja mengerutkan dahinya melihat anaknya yang masih terpejam.
" Apa dokter itu tidak salah?. Revan masih terpejam begini?. Belum bangun?." gumam Atmaja.
" Papa ... " seru Revan lalu membuka matanya. Atmaja pun terkesiap melihat dan mendengar suara anaknya. Revan tersenyum melihat lelaki tua itu.
Di peluknya tubuh anak kesayangannya itu. Di berikan banyak sekali ciuman di wajah Revan. Revan hanya tersenyum melihat sikap papanya itu.
" Sudah lah Pa. Jangan seperti ini. Seperti aku mau mati saja." ujar Revan yang risih mendapat banyak pelukan dan ciuman haru dari sang ayah.
" Dasar bodoh!. Kamu sudah membuatku khawatir setengah mati. Sudah sadar malah ngomong yang enggak - enggak. Kamu mau ku bunuh disini, hah!." dengus Atmaja kesal. Revan tergelak mendengar ucapan sang ayah.
Tangis haru Atmaja pun tak terelak kan. Dia seperti bermimpi saat melihat anaknya akhirnya bangun dari jurang kematian.
.
.
.
Hai ...
Bingung mau bikin sad ending apa happy ending ...
Besok author akan melakukan banyak revisi mulai dari awal ...
Karena berulang kali ajukan kontrak selalu gagal akibat EYD nya salah dan banyak sekali typo ...
Jadi mohon maaf ya bila membuat pembaca kurang merasa nyaman ...
Terus dukung aku ya ...
Salam hangat ...
__ADS_1
Terima kasih ...