Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 37 Cemburu


__ADS_3

Sesampainya di pabrik tempat Aira bekerja, tampak pabrik itu masih sepi. Karena ini masih terlalu pagi. Jadi tak banyak karyawan yang datang.


" Nanti kamu pulang jam berapa?." tanya Revan sambil ikut turun bersama Aira dan berdiri di depan pintu gerbang pabrik itu.


" Kerja aja belum sudah di tanya pulang." gerutu Aira. Revan yang mendengar nya pun tersenyum dan menarik hidung mungil kekasihnya itu.


" Duuuhhh sakit tau." seru Aira sebal.


" Salah sendiri jadi orang kok ngegemesin." pungkas Revan.


" Sudah sana pulang. Kamu gak kerja apa." tukas Aira.


" Jam kerja ku kan fleksibel." jawab Revan santai.


" Hei pak dokter. Jangan menyalahgunakan kekuasaan yaa. Kasian para pasien mu itu." cibir Aira. Revan pun terkekeh mendengar ucapan Aira.


" Ya sudah aku balik dulu. Nanti siang aku telepon. Kalau ada apa - apa cepat hubungi aku." tukas Revan. Aira pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Revan.


Setelah itu Aira berjalan perlahan menuju lokasi dia bekerja. Tampak dari jauh maya sahabat nya melihat nya dengan jalan sedikit terpincang itu. Maya pun berlari menghampiri teman nya itu.


" Kamu kenapa lagi?." tanya maya saat berada di samping Aira.


" Hai may, kamu mengagetkanku saja." seru Aira sedikit tersentak kaget tiba - tiba ada yang berbicara di sebelahnya.


" Ooohh ini aku cuma keseleo saja." jawab Aira sambil tersenyum.


" Kenapa bisa keseleo. Kemarin kan baik - baik saja?." tanya maya heran.


" Tadi malam ada tikus di rumahku. Kita kejar - kejaran deh. Dan akhirnya seperti ini." ujar Aira berbohong. Dia masih belum menceritakan kisah asmara nya dengan Revan. Karena takut nanti temanya akan berpandangan buruk tentang dia.


" Kamu itu yaa. Makanya jangan pecicilan jadi orang. Udah di urut belum." tanya maya sambil mengamati kaki Aira yang bengkak.


" Belum sih. Tapi aku udah kompres es batu dan udah aku kasih cream otot biar lemes otot - ototnya. Nanti juga sembuh sendiri." jelas Aira.


" Ya sudah nanti kamu bilang aja ke pak waluyo kalau kaki mu sakit. Biar di oper ke tempat yang lebih ringan." tukas maya. Aira pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan temannya itu.


*****


Sementara itu Revan kembali lagi ke rumah untuk bergegas mandi dan akan pergi bekerja. Sebenarnya ini masih hari cuti nya yang diminta waktu kemarin akan pulang ke rumah ayahnya itu. Tetapi dia berencana membatalkan cuti tersebut.


Mbok sum terlihat tengah menyiapkan sarapan untuknya. Revan menghampiri meja makan dan meraih cangkir yang berisi kopi hitam tanpa gula itu.


" Mbok roti nya buat mbok sum saja. Tadi saya kebetulan sudah sarapan." terang Revan saat meletakkan cangkir kopi itu lalu beranjak pergi meninggalkan pembantunya yang tengah memebersihkan rumah itu. Mbok sum yang mendengar ucapan majikannya itu hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan tanpa berani bertanya lebih lanjut.


*****


Sesampainya Revan di rumah sakit, terlihat para perawat dan rekan seprofesi nya kaget melihat kehadiran Revan di poli kandungan itu. Revan hanya tersenyum menanggapi serentetan pertanyaan mengenai kembalinya bekerja padahal katanya dia ingin cuti untuk pulang ke rumah ayahnya itu.

__ADS_1


Revan duduk di kursi kerjanya sambil menatap ke arah ponsel tersebut. Ternyata dia tengah memandangi foto Aira yang ada di dalam ponselnya tersebut. Saking asyiknya dengan dunia nya itu, sampai - sampai dia tidak tau kalau Radit sahabatnya itu tengah duduk di hadapannya dan memandangi dirinya yang tengah memandangi foto Aira.


" Memang ya orang kalau lagi kasmaran itu dunia serasa milik berdua. Yang lain mah ngontrak." ujar Radit tiba - tiba. Revan pun tersentak kaget melihat Radit yang sudah duduk di depannya itu.


" Hei bro, sejak kapan kamu disitu?." tanya Revan.


" Sejak jaman batu." jawab Radit kesal. Revan pun hanya tersenyum menanggapi temannya itu.


" Kamu kenapa masuk kerja?. Katanya kamu pulang ke rumah orang tua mu." tanya Radit.


" Aku memang pulang. Tapi hanya sehari saja." tukas Revan.


" Kenapa?. Apa ada masalah?." tanya Radit memastikan.


" Enggak. Semua nya lancar sesuai apa yang aku harapkan." jawab Revan singkat.


" Berarti keluarga mu mau menerima pacarmu itu?." tanya Radit. Revan pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Radit.


" Minggu besok aku dan keluarga ku akan datang melamarnya." jelas Revan.


Radit terperangah mendengar ucapan Revan. Dia pun terlihat sangat senang mendengar ucapan sahabatnya itu. Revan pun tersenyum melihat kelakuan temannya itu.


" Tapi Dit, aku minta sama kamu. Jangan beri tahu siapa pun tentang masalah ini. Aku tak mau rencana ku kali ini gagal." pinta Revan.


" Beres sob. Aku gak akan bilang siapa - siapa. Ini akan menjadi rahasia." jawab Radit.


*****


Sore pun tiba, terlihat Aira sedang berdiri di depan pintu gerbang pabrik tempatnya bekerja. Dia tengah menunggu kedatangan Revan yang akan menjemputnya itu.


Terlihat dari jauh, ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya. Tiba - tiba orang itu berjalan mendekat ke arah Aira yang masih berdiri.


" Hai Aira, bagaimana kabarmu?." sapa orang itu yg tak lain adalah mantan suami nya, Arga.


Aira begitu kaget saat melihat mantan suaminya tiba - tiba berdiri di hadapannya tersebut.


" Mas Arga. Ngapain mas disini?." tanya Aira kesal. Dia tau, pasti mantan suami nya ini mengcari nya dan mengikuti setiap gerak geriknya.


" Aku tadi ada janji sama orang di dekat sini. Terus aku tak sengaja melihatmu berdiri makanya aku samperin." jelas nya. Aira tau itu hanya sebuah alasan yang di buat - buat oleh mantan suaminya itu.


Aira masih berdiri di tempatnya. Pandangannya mengarah ke samping untuk menghindari tatapan mantan suaminya itu. Arga melihat kaki aira yang bengkak dan biru itu. Lalu dia menyeringai menatap Aira kembali.


" Kamu tengah menunggu seseorang?." tanya arga. Aira hanya terdiam tak menyauti pertanyaan mantan suaminya itu.


" Siapa?!. Kekasih mu atau calon suami mu?." tanya Arga menyelidik.


" Aku menunggu siapa itu bukan urusanmu mas. Toh kita tak ada hubungan apa - apa lagi. Jadi kau tak perlu repot - repot mengkhawatirkan keadaanku." ujar Aira sinis. Terlihat arga begitu geram mendengar ucapan sinis mantan istrinya itu. Dia tidak suka jika mantan istrinya itu hidup jauh lebih baik dan bahagia darinya.

__ADS_1


Terlihat dari jauh mobil Revan tengah sampai. Aira pun tersenyum ke arah mobil itu. Arga pun menoleh ke belakang melihat arah mata Aira yang berbinar itu. Arga melihat sosok lelaki yang sama yang pernah dia temui di sebuah restoran sunda waktu itu.


Revan berjalan ke arah Aira. Dia pun melihat lelaki tengah berdiri di hadapan kekasihnya itu. Revan tau lelaki itu adalah mantan suami kekasihnya itu. Dahi Revan pun mengkerut dan tatapan matanya berubah tajam dan dingin.


" Revan. Akhirnya kamu datang juga." sapa Aira senang.


" Kamu sudah lama menunggu?." tanya Revan datar dan berdiri di samping arga. Arga tengah memperhatikan lelaki yang barusan tiba itu. Revan pun menoleh ke arah arga. Sekarang kedua nya tengah beradu pandang. Terlihat dari tatapan mata Revan ketidak sukaan kepada arga.


" Ayo kita pergi." seru Aira memecah ketegangan di antara keduanya. Revan pun mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu. Arga masih diam dan terus memandangi Revan yang tengah merangkul pinggang Aira dan menuntunnya berjalan perlahan memasuki mobil.


Tak lama kemudian, mobil Revan pun melaju dan pergi meninggalkan pabrik itu. Revan masih terdiam di belakang kemudi. Aira melirik ke arah kekasihnya itu. Dia tau kalau saat ini kekasihnya itu tengah kesal.


" Revan ... "


" Untuk apa dia menemui kamu lagi?." tanya Revan seketika. Aira pun menghentikan ucapannya yang ingin mengalihkan pembicaraan masalah arga itu. Tapi tak sempat dia bicara, Revan sudah menyela nya.


" Aku gak tau kenapa dia tiba - tiba ada disana." jawab Aira.


" Dia ngomong apa aja ke kamu." tanya Revan menyelidik.


" Dia tidak ngomong apa - apa. Dia hanya menanyakan kabarku." jawab Aira. Revan melirik ke arah Aira. Dia masih belum puas dengan jawaban yang di berikan oleh Aira.


Aira hanya dapat menghela nafas melihat kelakuan lelaki di sebelahnya itu. Aira pun terdiam dan menoleh ke arah samping melihat keluar jendela mobil memperhatikan jalanan yang di lewatinya itu.


Tangan Revan pun meraih tangan Aira yang berada di pangkuannya itu. Di genggam nya dengan erat tangan wanita itu. Aira pun menoleh ke arah Revan yang masih diam dan tampak kesal itu.


" Kamu percaya aku kan." tanya Aira. Revan hanya terdiam. Hanya terdengar helaan nafas nya yang berat.


" Aku percaya kamu." jawabnya seketika. Aira tersenyum mendengar itu. Revan menoleh ke arah Aira.


" Kamu gak bohong kepadaku kan." tanya Revan.


" Enggak Revan. Dia hanya menanyakan kabarku saja. Tak lebih. Setelah itu kamu datang." jelas Aira.


" Kalau aku tak datang tadi, apa kamu akan pulang bersama nya?." tanya Revan.


" Jangan gila deh. Mending aku pulang jalan kaki daripada harus diantar dia pulang." jawab Aira kesal. Revan pun tersenyum mendengar ucapan Aira. Aira berdecak melihat kelakuan kekasihnya itu.


Aira melepas genggaman tangan Revan. Sekarang tangannya tengah membelai rambut dan pipi lelaki di sampingnya itu. Revan menoleh dan meraih tangan Aira. Di kecup nya jari kemari tangan Aira yang membelai rambut dan pipinya tadi.


" Jangan pernah tinggalin aku Ra. Aku gak mau kehilangan kamu lagi." tukasnya.


" Aku tak akan meninggalkan mu." jawab Aira. Mereka berdua pun saling tersenyum satu sama lain. Aira tau, kecemburuan Revan begitu besar padanya. Begitu pula dengan rasa cintanya. Dan sebaliknya begitu, Aira pun juga begitu sangat mencintai Revan. Dia juga tak ingin kehilangan kekasih nya itu.


Arga adalah masa lalu baginya. Sekarang dia tengah mempersiapkan masa depannya bersama Revan.


~ **Happy reading ~

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa** ....


__ADS_2