Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 119 Siapa Aku??


__ADS_3

Siang dan malam silih berganti. Jam di dinding masih terus berputar sama seperti hari kemarin. Dengan waktu yang terasa sangat lambat seakan menciptakan hari yang begitu sangat lama. Terlihat Kinanti mengusap kening Aira dengan handuk kecil yang sudah di basahi dan di beri sabun.


Walaupun anaknya masih belum bangun dari mimpi panjangnya, setidaknya biar badannya terasa segar dengan basuhan handuk basah itu. Kinanti pun tersenyum saat mengusap wajah anaknya itu. Sudah lama sekali dirinya tidak memandikan anaknya.


Kinanti setiap hari datang untuk melihat dan membasuh wajah dan tangan Aira dan Revan yang sudah dia anggap seperti anak sendiri. Sambil membasuh Kinanti selalu bercerita soal kondisi Attar saat ini. Walaupun tidak ada yang merespon ucapannya. Tapi Kinanti percaya jika anak dan menantunya itu bisa mendengar suaranya saat sedang bercerita.


Siang itu seperti keajaiban untuk Kinanti. Tangan putrinya tiba - tiba bergerak. Awalnya Kinanti pikir hanya halusinasinya saja. Tapi saat Aira menggerakkan tangannya untuk kedua kalinya dia baru percaya. Di hampirinya tubuh anaknya itu dengan tatapan tak percaya. Senyum di wajahnya yang terlihat garis penuaan pun tak berhenti tersungging disana.


Perlahan kelopak mata Aira pun bergerak. Aira membuka matanya dengan perlahan. Seakan sangat berat sekali bagi wanita itu untuk membuka matanya yang sudah hampir satu bulan ini terpejam.


" Nak!. Kamu sudah sadar?." tanya Kinanti senang. Aira mengernyit kan keningnya saat melihat cahaya lampu begitu menusuk di kornea matanya. Aira memejamkan matanya untuk sesaat. Lalu dia membuka matanya kembali. Di lihatnya sekeliling ruangan itu. Terlihat wajah ibu yang telah melahirkan nya dan merawatnya selama ini sedang berdiri di samping tempat tidur nya.


" Ini dimana?." tanya Aira sambil berusaha menyesuaikan pandangannya yang masih sedikit kabur itu. Kepalanya terasa sangat berat sekali.


" Kamu jangan banyak bergerak dulu sayang. Sebentar mama panggil kan dokter dulu untuk memeriksa mu." ujar Kinanti lalu beranjak keluar memanggil dokter yang ada disana. Aira masih memandangi ruangan yang sangat asing bagi dirinya itu. Aira pun melepas selang oksigen yang melekat di hidungnya selama ini.


Kinanti masuk kembali ke ruangan itu bersama dokter dan seorang perawat disana. Dokter tersebut begitu senang saat melihat pasiennya ini akhirnya membuka mata juga setelah sekian lama menutup matanya.


" Nyonya Aira, saya periksa dulu ya." tukas dokter tersebut. Aira hanya diam menatap wajah dokter itu. Dokter pun menempelkan stetoskopnya di dada Aira untuk memeriksa keadaannya. Di keluarkannya senter kecil dalam saku nya dan memeriksa kedua bola mata dan lidah Aira. Semetara perawat disana pun memeriksa tekanan darah dan denyut nadi milik Aira.

__ADS_1


" Tekanan darahnya normal dok. 120/90. Denyut nadi 90." ujar perawat itu. Dokter itu pun tersenyum menatap Aira.


" Nyonya, apa yang nyonya rasakan saat ini?. Apa ada yang sakit atau gak enak di bagian tubuhnya?." tanya dokter itu.


" Kepala saya terasa pusing dan berat." jawab Aira.


" Nyonya tidak perlu khawatir. Itu memang biasa terjadi. Apalagi nyonya baru saja tidur panjang. Jadi asupan oksigen di dalam kepala nyonya masih belum stabil. Nanti juga hilang pusingnya. Hanya itu yang nyonya rasakan?." tanya dokter itu lagi. Aira mengangguk mengiyakan.


" Baiklah. Tidak ada yang perlu di khawatir kan. Keadaan nyonya juga baik dan stabil. Nyonya istirahat saja ya. Jangan banyak pikiran dan jangan banyak bergerak dulu. Selamat siang nyonya." tukas dokter tersebut lalu beranjak keluar dari sana.


Kinanti tersenyum kepada putrinya tersebut. Di usapnya rambut Aira dengan lembut. Aira menatap wajah ibunya dengan seksama. Ada yang aneh dengan tatapan mata Aira kali ini. Seperti dia baru saja mengenal sosok yang ada di depannya. Dia pun tidak berbicara dan tersenyum kepada Kinanti. Hanya menatap tanpa berbicara sedikit pun.


" Kamu membuat mama takut, sayang. Mama takut sekali kalau kamu tidak akan membuka mata mu lagi." imbuh Kinanti. Aira masih saja terdiam dan menatap Kinanti dengan wajah tanpa ekspresi. Kinanti merasa ada yang aneh dengan putrinya saat ini. Aira menganggap dirinya seperti orang asing saat ini.


" Sayang. Kamu kenapa memandang mama seperti itu?. Ada apa nak?." tanya Kinanti tak mengerti. Dan ..


" Kamu siapa?." tanya Aira dengan wajah datarnya.


*****

__ADS_1


Kini kinanti dan Atmaja duduk di ruang dokter yang memeriksa keadaan Aira dan Revan. Dokter tersebut baru saja melakukan CT scan kepada Aira. Karena ternyata Aira tidak bisa mengingat kejadian - kejadian dan orang - orang yang ada di sekitarnya.


Terlihat dokter itu mengeluarkan hasil CT scan yang baru saja Aira jalani. Ada beberapa gambar otak manusia di sana. Terlihat Ada bayangan hitam di salah satu bagian otak Aira.


" Amnesia Retrograde." ujar dokter itu kepada Kinanti dan Atmaja yang duduk di hadapan nya itu.


" Apa itu dok?. Apa sangat berbahaya untuk Aira?." tanya Kinanti khawatir.


" Akibat benturan di kepala sebelah kirinya. Nyonya Aira mengalami Amnesia Retrograde. Itu tidak berbahaya. Tapi nyonya Aira tidak dapat mengingat kejadian di masa lalu nya dan orang - orang yang dulu ada di ingatannya." jelas dokter itu. Kinanti dan Atmaja menghela nafas frustasi.


Baru saja merasakan angin segar akan sadarnya Aira dari tidur panjangnya. Dan sekarang mengalami hal semacam ini. Sungguh membuat orang yg mendengarnya ingin berteriak karena frustasi.


" Apa tidak bisa sembuh dok?." tanya Kinanti.


" Bisa. Tapi kita tidak bisa tau kapan itu ingatannya akan pulih kembali." jawab dokter itu.


" Tidak ada cara untuk menyembuhkannya?. Obat atau tindakan medis lainnya?." tanya Atmaja.


" Ada. Yaitu terapi. Nanti nya nyonya Aira akan di terapi agar memori ingatannya yang telah terkubur bisa di ingat kembali. Tapi semua butuh waktu Pak, Bu. Karena semua pasien yang mengalami Amnesia seperti ini itu tidak bisa menjalani terapi hanya satu atau dua kali saja. Dan peran keluarga dan orang terdekat sangat di perlukan untuk pengobatan penyakit ini. Jadi saya harapkan kerja sama dari pihak keluarga." jelas dokter itu.

__ADS_1


Kinanti memegangi kepalanya yang langsung pusing saat mengetahui putrinya tidak mengingat dirinya dan orang - orang di sekitarnya saat ini. Kepala wanita tua itu serasa di beri beban yang sangat berat disana. Dia tak menyangka jika cerita hidup dirinya dan putrinya bisa setragis ini. Bak cerita dongeng yang tiada habis dan titik terangnya.


__ADS_2