Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 67 Sah !!!!


__ADS_3

Beberapa hari ini mereka di sibukkan dengan rencana pernikahan dan pindah ke rumah baru. Walaupun pernikahannya nanti secara sederhana, tapi cukup menguras waktu mereka berdua.


Siang itu Aira terlihat berjalan - jalan bersama Santi dan Bian di salah satu pusat grosir di kota tersebut. Revan sudah menyuruh Aira untuk membeli kebaya pengantin di butik. Tapi Aira menolak. Karena bagi Aira baju yang ada di butik itu sangat mahal. Sayang kalau hanya membeli baju yang hanya di pakai sekali dengan begitu mahal. Maka dari itu dia memilih pergi ke pusat grosir saja. Dia juga berniat membelikan Santi, Bian, Akbar dan mama nya baju yang seragam untuk di pakai di hari bahagia nya itu.


Setelah hampir lama berputar - putar mengelilingi setiap toko yang ada disana. Akhirnya Aira menemukan baju yang cocok dengan seleranya. Pilihannya jatuh pada kebaya berwarna putih tulang yang sangat sederhana tapi terlihat anggun saat di pakai.


" Kita makan dulu ya. Kasian Bian. Pasti lapar." seru Aira kepada Santi. Santi pun mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya itu. Mereka berjalan menuju warung soto yang ada di pinggir jalan. Siang itu cuaca cukup panas dan terlihat lalu lintas di sana sangat padat sekali.


Mereka menyantap soto ayam di sana dengan sangat lahap. Terang saja. Mereka begitu lelah dan kelaparan. Bahkan Santi sudah menghabiskan dua gelas es teh manis. Setelah makan, Aira memesan taxi online untuk membawa mereka pulang ke rumah.


*****


Di ruangan rumah sakit, Revan terlihat sibuk dengan pasien - pasiennya. Hari ini cukup banyak pasien yang datang untuk memeriksakan kehamilan mereka. Revan dengan telaten dan teliti memeriksa satu per satu pasien disana. Perutnya sudah sangat lapar. Dia berulang kali melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah waktunya makan siang. Tapi masih ada 4 pasien lagi yang belum di periksa olehnya.


" Bagaimana keadaan bayi saya dok?." tanya salah seorang perempuan yang sedang di USG Revan. Dia datang seorang diri tanpa di temani suami atau kerabat yang lain.


" Kondisi bayi ibu saat ini sehat. Tetap jaga kesehatan ya, bu. Jangan terlalu stress dan pola makan nya harus seimbang." jelas Revan. Ibu itu terlihat menangis saat Revan bicara seperti itu.


" Loh kenapa ibu menangis?. Jangan menangis ibu. Nanti bayi di dalam kandungan juga ikut sedih. Apa ada ucapan saya yang menyinggung ibu?." tanya Revan heran. Ibu itu masih menangis tersedu - sedu. Revan beradu pandang dengan perawat yang berjaga disana.


" Ibu tenang ya. Jangan bersedih lagi. Coba ceritakan pelan - pelan ke saya. Ada apa sebenarnya?. Kenapa ibu bersedih?." tanya Revan pelan - pelan. Revan menarik tissue di meja kerjanya dan memberikan kepada ibu tersebut. Ibu itu tampak sedikit tenang dan mulai bercerita. Kalau suami ibu tersebut tidak suka kalau dirinya hamil kembali. Karena di anggap sangat merepotkan dan akan menghabiskan banyak biaya nanti. Sementara si suami kerjanya hanya sebagai buruh lepas saja. Revan menarik nafas panjang dan membuangnya secara kasar.


" Ini hanya sekedar nasehat ya buk. Setiap anak itu membawa takdir dan rezekinya masing - masing. Anak adalah amanah sekaligus hadiah dari Tuhan. Banyak di luar sana perempuan ingin hamil sampai melakukan banyak cara tapi apa, Tuhan belum memberi mereka amanah itu. Kalau ibu dan keluarga di kasih amanah ini, berarti Tuhan percaya. Ibu dan keluarga ibu mampu menjaga apa yang sudah di titipkan. Jadi, jangan jadikan kehamilan sebagai beban. Kalau memang bapak tidak menginginkan ibu hamil. Kenapa dadi awal tidak di cegah?. Kan banyak alat kontrasepsi yang sekarang di jual di apotek atau di bidan - bidan dan harganya cukup terjangkau dan dapat menunda kehamilan." jelas Revan.


Revan menarik nafasnya dan membuangnya. Ibu yang tadi pun sudah selesai di periksa dan keluar dari ruangannya.


" Hari ini banyak sekali drama." gumam Revan yang merasa lelah dengan pasien - pasiennya hari ini yang di bilang cukup unik - unik.

__ADS_1


*****


Beberapa hari pun di lewati dengan sangat berat dan melelahkan. Tiba lah mereka di suatu hari yang cukup cerah. Aira tengah duduk manis di dalam kamar miliknya dan dengan dua orang perias yang tengah membantunya merias wajahnya agar menjadi cantik. Aira menginginkan make up yang tidak terlalu tebal dan mencolok. Perias itu pun mengangguk mengiyakan permintaan Aira.


Sementara Revan juga tengah bersiap di kamarnya. Berulang kali dia menghembuskan nafas panjang. Wajahnya tampak sekali gugup. Di sana terlihat Radit dan istrinya sudah duduk di ruang tamu rumah barunya. Mbok sum, dan mbk Aminah serta suaminya juga sudah rapi dan bersiap - siap. Tak lama kemudian, Aji, teman sekolah Revan dan Aira pun juga turut datang beserta istrinya. Mereka semua duduk di ruang tamu sambil berbincang - bincang menunggu Revan yang masih bersiap di kamar.


Revan tak memiliki banyak teman seperti orang kebanyakan. Karena dia memang tak pandai bergaul dengan orang. Jadi yang datang hari ini hanya bisa di hitung dengan jari.


Revan keluar dari kamarnya. Dia tampak begitu gagah dan tampan mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dan mengenakan peci. Wajahnya menunjukkan rasa gugup yang begitu hebat. Aji dan Radit hanya tertawa melihat wajah gugup Revan.


" Jangan sampai kau ngompol di celana." ejek Radit kepada Revan. Dia hanya melirik kesal ke arah sahabatnya itu.


Mereka semua pun berangkat menuju rumah kontrakan Aira. Karena memang acara pernikahan mereka akan di laksanakan di rumah tersebut. Terlihat saudara - saudara dari mama nya Aira, Kinanti, pun juga turut hadir di sana. Beberapa tetangga rumah kontrakan Aira dan pak RT setempat pun sudah hadir ingin menyaksikan acara yang sakral itu.


Rombongan dari Revan sudah tiba di depan gang rumah tersebut. Mereka memarkirkan mobilnya di tempat biasa Revan memarkirkan mobil ketika disana. Revan turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Berulang kali dia menghembuskan nafas panjang dan berat.


Mereka pun masuk ke dalam gang rumah Aira. Banyak tetangga Aira yang sengaja berada di luar ingin menyaksikan kedatangan Revan. Beberapa dari mereka memberikan pujian dan selamat kepada Revan. Revan hanya diam tak menjawab. Mbok sum, mbk Aminah dan suami, Radit dan istrinya, serta Aji dan istrinya pun berjalan di belakang Revan dengan beberapa hantaran di tangan mereka. Ada seperangkat alat sholat, make up dan perlengkapan mandi yang lengkap, baju dan beberapa pakaian dalam yang sudah di bentuk dengan bentuk yang lucu, tas, sepatu, serta satu set perhiasan emas yang akan di jadikan mas kawin nya nanti.


" Silahkan di panggil mempelai perempuan nya. Karena akad nikah akan segera di mulai." seru pak penghulu kepada keluarga Aira disana. Kinanti masuk ke dalam memanggil anak sulung nya yang berada di dalam kamar.


" Aduuhh cantik sekali anak mama. Sampai pangling loh." seru Kinanti saat melihat Aira begitu cantik dan anggun dengan balutan baju kebaya putih yang indah itu.


" Mama bisa saja. Aku kan jadi malu." tukas Aira malu.


" Ayo keluar. Acara akan segera di mulai." seru Kinanti. Aira pun mengangguk mengiyakan. Dia berjalan perlahan menuju ruang tamu rumah itu yang sudah di hias dengan sangat cantik. Terlihat Revan sudah datang dan duduk di sana bersama penghulu yang akan menikahkan mereka. Revan sempat menoleh ke arah Aira. Dia begitu terpesona dengan kecantikan Aira saat mengenakan kebaya tersebut. Aira hanya menunduk dan ikut duduk di samping Revan. Kinanti memasangkan selendang putih di kepala kedua mempelai tersebut.


" Saya selaku penghulu disini telah di berikan amanah untuk menikahkan putri bapak Bayu Hendrawan. Yaitu Aira Fahira karena bapak bayu tidak dapat hadir untuk menikahkan putri nya." jelas penghulu tersebut.

__ADS_1


" Baiklah. Ananda Revan Danu Ega Pranata bin Atmaja Anggoro, apakah sudah siap?." tanya penghulu tersebut. Revan menarik nafasnya.


" Saya siap." jawab Revan mantap.


" Jabat tangan saya. Dan nanti ikuti kata - kata saya ketika saya menggoyangkan tangan anda ya." ujar penghulu tersebut. Revan mengangguk mengiyakan.


" Bissmillahirohmanirohim. Saya nikah kan dan kawinkan. Engkau Ananda Revan Danu Ega Pranata bin Atmaja Anggoro dengan Adinda Aira Fahira binti Bayu Hendrawan dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 20,6 gram di bayar tunai." jelas penghulu tersebut sambil menggoyang tangan Revan.


" Saya terima nikah dan kawinnya Aira Fahira binti Bayu Hendrawan dengan mas kawin tersebut tunai!!!." jawab Revan secara tegas dan lantang dengan satu tarikan nafas.


" Bagaimana saksi?." tanya penghulu.


" SAAAAHHHHH !!!!." teriak para saksi dan keluarga disana.


" Alhamdulillah."


Revan pun bernafas dengan lega dan saat mendengar ucapan dari para saksi. Sekarang dirinya dan Aira telah sah menjadi suami istri. Aira sampai menitikkan air mata karena begitu terharu. Terlihat Kinanti dan Santi juga ikut menangis. Bukan menangis sedih. Tapi tangisan bahagia. Akhirnya mereka bisa melihat Aira bahagia kembali.


Revan menoleh ke arah Aira. Senyum bahagia di wajahnya tak bisa di sembunyikan. Aira terlihat mengusap air matanya dengan selembar tissue yang di pegangnya.


" Selamat buat kalian berdua. Kini kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama. Silahkan tanda tangani buku nikah kalian berdua." ujar penghulu disana. Revan pun menanda tangani buku nikah disana. Begitu pun dengan Aira. Akbar yang berlaku sebagai fotografer dadakan disana selalu mengambil gambar setiap momen pasangan pengantin baru tersebut.


Revan mengeluarkan kotak berisi cincin dari saku jas nya. Dia menyematkan cincin yang tempo hari di pesannya ke jari tangan Aira. Setelah itu bergantian Aira yang menyematkan cincin di jari manis Revan. Lalu Aira menunduk dan mengecup punggung tangan lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu. Aira melepas wajahnya dari punggung tangan Revan dan kini ganti Revan yang mengecup kening Aira. Aira memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat bibir suaminya itu.


Semua tamu undangan dan keluarga yang hadir pun bersorak melihat pemandangan romantis itu. Revan dan Aira tersenyum malu mendengar itu semua.


" Selamat ya bro. Sudah halal nih ceritanya. Tapi tolong lah, di tahan dulu. Nanti saja kalau kita sudah pulang. Mau kamu habiskan sampai besok pagi juga tidak masalah." tukas Radit menggoda Revan. Aira hanya tersenyum malu saat mendengar itu. Revan memukul dada Radit. Tapi yang di pukul malah tertawa terbahak melihat kelakuan lucu sahabatnya itu.

__ADS_1


Para tamu dan keluarga pun bergantian memberi kan selamat dan ber foto ria dengan pengantin baru tersebut. Ada sebagian terlihat tengah asyik menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh pihak pengantin tersebut.


Hari itu merupakan hari yang sangat bahagia untuk mereka berdua. Senyum tak henti - henti nya mengembang di wajah mereka berdua. Sekilas Revan menghembuskan nafas yang begitu berat. Karena kebahagiaannya masih ada yang kurang lengkap. Akibat ketidak hadiran ayah dan juga kakak tercintanya itu.


__ADS_2