Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 9 Kejujuran Yang Pahit


__ADS_3

Hari itu Revan langsung pulang ke rumah nya. Di sandarkannya kepala nya di sofa besar ruang keluarga nya. Mbok Sum yang kaget melihat tuannya kembali lagi berinisiatif


membuatkan secangkir teh.


Revan masih memikirkan ucapannya tadi kepada Sheila. Dia tak menyangka akan menyakiti Sheila sejahat itu. Dia masih membayangkan ekspresi wajah Sheila yang menemani hari - harinya hampir 5 tahun.


Tapi itu jauh lebih baik, pikir Revan. Daripada dia harus bertahan seumur hidup dalam kebohongan. Dia memijit pangkal kepalanya yang pening. Seakan ada beban berat yang menindihnya.


" Tuan muda, ini teh nya." seru mbok sum.


" Terima kasih mbok." jawab Revan yang masih memijit pangkal kepalanya tersebut.


" Apa tuan sakit??. Apa perlu saya menghubungi dokter gilang." tanya mbok sum. Revan menggelengkan kepala nya. Mbok sum pun beranjak meninggalkan tuannya sendiri disana.


Sementara di tempat kost Sheila. Dia menangis sejadi - jadinya. Dia menangis dengan histeris. Foto dirinya bersama Revan yang terpajang cantik di meja belajar nya pun hancur berkeping - keping karena telah di lemparkannya ke dinding. Peralatan make up di atas meja pun juga hancur berantakan. Meja belajar yang biasanya tertata rapi pun tak luput dari amukannya.


Semua teman kost Sheila tampak bingung dan panik. Ada hal apa yang membuat Sheila sampai se histeris begitu. Teman - temannya pun menggedor pintu kamar Sheila. Tapi di kunci dari dalam. Mereka semua takut kalau sheila akan berbuat nekat dan macam - macam di dalam.


Salah satu teman kost sheila yg memiliki nomer ponsel Revan, dengan cepat menghubungi lelaki itu. Revan masih menyandarkan tubuhnya di sofa rumahnya, tiba - tiba ponsel nya berdering. Tak di hiraukannya bunyi panggilan tersebut. Tak lama berselang terdengar kembali suara ponselnya berdering kembali. Revan yang terganggu dengan bunyi panggilan ponselnya pun mengambil ponsel tersebut yang ada di saku celana miliknya. Tertera nama April disana.


Revan bergumam, ada apa april menghubungi nya.


" Hallo ada ~ " Revan belum sempat bertanya si penelepon sudah nyerocos tanpa jeda.


" Hallo mas Revan. Mas cepet datang ke kost sekarang juga. Mbak Sheila ngamuk berat mas. Pintu kamarnya di kunci. Kita takut mbak Sheila nekat. Mas cepet kesini ya. Cepat ya mas." jelas si april. Revan menghela nafas panjang. Di matikannya ponsel tersebut, di ambil kembali kunci mobil nya. Dia pun bergegas pergi kesana.


Revan memacu kendaraan miliknya dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan, dia terus meruntuki dirinya. Dia gak mau terjadi apa - apa dengan Sheila. Dia akan sangat merasa berdosa sekali kalau Sheila sampai nekat dan berbuat macam - macam.

__ADS_1


Tidak sampai 10 menit Revan telah sampai di depan kost sheila. Ada april di depan kost yang sudah menunggu kedatangan Revan. Revan langsung berlari menuju kamar Sheila. Ada beberapa teman Sheila yang masih memanggil dan menggedor pintu kamar sheila. Tapi kamar itu terdengar sepi sekarang. Tak ada suara dan tak ada kegiatan apa pun disana. Mereka semua semakin takut.


" Sheila ... Buka pintu nya. Sheila ... Kamu bisa dengar aku. Sheila ... " panggil Revan sambil mengetok pintu kamar Sheila. Tak ada jawaban.


" Ada kunci cadangannya gak." tanya Revan.


" Kunci cadangannya ada di rumah ibu kos." jelas april.


" Kalian mundur aku akan mendobrak pintu ini." jelas Revan. Semua teman Sheila mundur dan Revan mulai menendang gagang pintu kamar tersebut. Tak butuh waktu lama, gagang pintu kamar pun jebol dan pintu pun terbuka. Revan pun masuk kedalam kamar tersebut.


Kamar tersebut sangat berantakan. Banyak kaca berceceran. Di carinya gadis itu. Terlihat Sheila duduk meringkuk di samping lemari pakaian. Di sentunya tangan mantan kekasihnya itu.


" Sheila ..." seru Revan. Sheila mendongak menatap lelaki di hadapannya tersebut. Di lihatnya wajah gadis itu. Sangat terpukul dan hancur.


Sheila langsung menangis dan menghambur dalam pelukan Revan. Revan pun membalas pelukan Sheila sambil menenangkan gadis tersebut.


" Jangan tinggalkan aku van." ucap sheila lirih dalam pelukan revan.


" Aku lebih baik mati jika harus berpisah darimu." ucapnya lagi sambil terisak. Revan menghela nafas panjang. Dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin membohongi perempuan itu lagi.


" Kamu harus melanjutkan hidupmu kembali walau tanpa aku, La." jelas Revan lembut mencoba memberi pengertian pada gadis itu.


Sheila menggelengkan kepala nya. Terdengar suara tangisannya kembali. Revan membenamkan wajah gadis itu dalam pelukannya. Di pukuli dada lelaki yang sangat di cintai tersebut. Dia tak bisa menerima kenyataan yang sungguh perih ini.


" Sheila dengar aku." seru Revan melepas pelukan gadis itu dan menangkup wajah gadis itu.


" Kamu gadis baik dan cantik, kamu bisa mencari laki - laki yang baik pula. Yang menerima dan mencintai kamu dengan tulus tanpa kemunafikan dan kebohongan." jelasnya. Sheila masih menangis dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Aku tau, ini memang sangat menyakitkan untukmu. Tapi lebih baik aku jujur sekarang. Daripada aku bertahan dengan kebohongan yang akan menyakiti mu selamanya. Aku tidak ingin membohongi kamu lagi.Selama ini aku sudah belajar untuk mencintai kamu, tapi aku tak bisa. Semakin aku mencoba, semakin aku merasa sangat bersalah kepadamu." jelas Revan pada Sheila yang masih menangis.


" Menangislah hari ini sepuasmu. Agar hatimu lega. Jangan bertindak bodoh dan picik yang nantinya membuat dirimu dan orang yang menyayangimu menyesal. Dan tersenyum lah esok hari dengan semangat. Lupakanlah masa lalu, raihlah masa depan. Walau kita tak lagi bersama sebagai kekasih. Kita masih bisa bersama sebagai sahabat." jelas Revan sambil membenarkan rambut Sheila yang berantakan. Revan mencoba tersenyum di depan gadis itu. Dan dia berpamitan lalu beranjak pergi meninggalkan gadis itu yang masih menangis dan memanggil namanya.


Revan pun bergegas pergi meninggalkan tempat kost Sheila. Hati nya tak sanggup lagi berada disana. Dia akan semakin merasa bersalah saat menatap gadis itu begitu terluka oleh sikapnya.


Maafkan aku Sheila ...


Mungkin aku kejam dan tega ...


Tapi aku ingin kau mendapat kan cinta yang tulus tanpa kebohongan sedikit pun ...


Benci lah aku ...


Karena aku memang sangat pantas untuk kau benci ...


Semoga kamu mengerti dengan ini semua ...


Semoga kamu bahagia bersama lainnya ...


Maafkan aku Sheila ...


Maafkan aku ...


Revan melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya. Dia ingin segera tidur. Agar ketika dia bangun, dia akan lupa dengan masalah nya.


~ Happy reading ~

__ADS_1


__ADS_2