Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 31 Revan ( 1 )


__ADS_3

Makan malam pun berlangsung. Semua keluarga sudah duduk di depan meja makan. Terlihat Amanda mengambilkan nasi untuk ayah mertuanya dan suami nya.


Reihan yang sedari tadi pulang bekerja tidak melihat batang hidung adiknya pun melirik ke arah istrinya itu. Sementara istrinya itu Mengisyaratkan matanya ke arah kamar Revan.


" Sudah ... Gak usah di panggil. Nanti kalau lapar juga turun sendiri." seru Atmaja saat melihat Reihan akan beranjak dari duduknya.


Reihan pun mengurungkan niat nya untuk menghampiri kamar adiknya itu. Dan mereka pun melanjutkan makan malam mereka.


Sementara itu Revan di dalam kamar. Badannya tertelungkup di atas kasur. Raut wajahnya menegaskan kekesalan yang mendalam. Ucapan penolakan ayahnya masih terngiang jelas di telinga nya.


Ingin rasanya dia mengadukan apa yang ada di hatinya kepada Aira, kekasihnya itu. Tapi dia mengurungkan niat nya itu.


Dia takut Aira akan tau apa yang terjadi di rumah ayahnya itu. Dia tak berani mengatakan kalau ayahnya menolak keinginan nya untuk menikahinya.


Hatinya akan hancur saat mendengar penolakan itu. Dia menatap jam di layar ponselnya. Pasti orang - orang sedang makan malam di bawah sana. Gumamnya dalam hati.


Perutnya sudah berbunyi sedari tadi. Karena dia tadi tidak makan siang karena kelelahan dan langsung tidur. Lapar Di perutnya masih bisa dia tahan.


Tapi dia tidak akan bisa menahan emosi nya saat nanti mereka berada di meja yang sama dengan ayahnya. Maka dari itu dia tidak ikut makan malam bersama.


Dreett .... Dreettt ...


Ponselnya berdering. Di lihat nya nama penelepon di layar ponselnya itu. Aira .


Aira menelepon nya terlebih dulu. Revan menghela nafas panjang nya. Dia ingin mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya itu. Apalagi saat ini dia sangat rindu dengan wanita tersebut.


Panggilan ponselnya berhenti dan mati. Revan menghela nafas nya lagi. Ternyata Aira masih belum menyerah juga.


Dia melakukan panggilan lagi kepasa Revan. Revan memejamkan matanya sejenak dan langsung mengambil ponselnya itu.


" Hallo Assalamualaikum ... " seru Revan.


" Waalaikumsalam. Van ... Kamu sedang sibuk." tanyanya.


" Tidak. Kenapa."

__ADS_1


" Aku telepon kok gak kamu jawab."


" Oohh iya maaf. Aku barusan makan malam bareng keluargaku disini. Sementara ponselnya berada di kamar." tukas Revan berbohong.


" Aaahh begitu. Kamu ... Baik - baik aja kan." tanya Aira sedikit khawatir.


" Yaahh aku baik - baik saja. Kamu gak usah khawatir. " seru Revan.


" Gimana hari pertama kamu masuk kerja lagi." tanya Revan mengalihkan pembicaraan.


" Baik. Semua orang senang melihatku. Aku juga senang bisa kembali bekerja." jawab Aira senang.


Revan tersenyum mendengar ucapan Aira yang begitu bersemangat saat membahas pekerjaannya.


" Kamu ... Kapan balik kesini." tanya Aira.


" Mungkin lusa. Kenapa. Kamu sudah merindukanku." tanya Revan menggoda.


Aira tersenyum mendengar pertanyaan konyol Revan.


Revan menutup matanya. Dia mencoba meresapi suara kekasihnya itu. Tetapi di saat yang sama dadanya begitu nyeri. Dia takut kalau harus berpisah dengan kekasihnya itu. Rasanya sakit sekali kalau itu semua harus terjadi.


" Van ... Revan ... " seru Aira memanggil namanya berulang - ulang.


Revan tersadar dari lamunannya dan menghapus pucuk matanya yang mulai meneteskan air matanya itu.


" Iya .. " jawabnya singkat.


" Kamu baik - baik saja kan disana." tanya Aira sekali lagi.


" Iya aku baik - baik saja."


" Jangan bohong kepadaku Van. Aku merasa semuanya tidak baik - baik saja." ujar Aira.


Revan masih terdiam. Dia tidak ingin berbohong kepada wanitanya terus menerus. Tapi dia juga tidak ingin kekasihnya itu tau kalau ayahnya tidak setuju dengan nya.

__ADS_1


" Apa ... Ayahmu ... Tidak merestui kita?." tanya aira. Dan ... Deg ....


Jantung Revan seakan berhenti berdetak saat aira mulai menyadari ketakutan hatinya.


Terdengar suara tawa dari seberang ponselnya. Aira tertawa getir.


" Kamu tidak perlu menutupi nya dariku Van. Aku sudah tau semua nya dari awal." ujar Aira.


" Memang kita tidak di perbolehkan bersama. Kamu turuti aja apa yang di kata ayahmu Van. Jangan jadi anak durhaka gara - gara aku." jelas Aira.


" Aku tidak perduli Ra. Aku sudah bilang kepadamu sejak awal. Aku tidak perduli kalau mereka tidak memberikan restunya. Aku akan tetap menikahi mu dan hidup bersama mu." jelas Revan tegas.


" Jangan bodoh Van."


" Aku tidak perduli Ra. Aku tidak perduli. Keputusan aku sudah bulat. Aku akan menikahimu dengan atau tanpa restu keluarga ku. Yang terpenting adalah keputusan mu ingin bersama ku jangan sampai berubah." jawab Revan.


" Besok aku balik. Kamu tunggu aku disana. Jangan cemas. Aku baik - baik saja. Asal kamu di sisi ku, aku akan baik - baik saja." tukas Revan.


" Hati - hati. Aku menunggumu disini." jawab Aira pasrah. Dia sudah tidak ingin berdebat lagi dengan kekasihnya itu.


" Iya sayang. Kamu istirahat gih. Pasti capek telah bekerja seharian." ujar Revan.


" Iya. Kamu juga." seru Aira.


" I will still love you. Every where, every day, and every more. " tukas Revan.


" I love you too." Revan tercekat mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Karena selama mereka bersama. Hampir tidak pernah dia mendengar kekasihnya itu bilang kata cinta kepada nya.


" Ucap sekali lagi." pinta Revan.


" Gak mau. Gak ada siaran ulang." jawab Aira malu. Wajahnya panas dan tampak merona.


Terdengar gelak tawa dari lelaki yang di cintainya itu.


Sambungan telepon mereka pun telah terputus. Revan menghela nafas nya. Dia mengambil ponselnya kembali dan memesan tiket pesawat melalui online.

__ADS_1


Setelah selesai dia merapikan kopernya dan menaruhnya di samping tempat tidurnya. Dia akan kembali besok. Walaupun ayahnya tak merestui hubungan mereka. Dia tak perduli lagi. Yang ada dia inginpergi menemui kekasihnya dan hidup bersama dengan nya.


__ADS_2