Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 18 Kecelakaan


__ADS_3

Pagi ini terasa sangat hangat. Setelah bangun tidur subuh tadi, Revan pun menunaikan sholat subuh dan melanjutkan dengan berenang di pagi hari.


Setelah nya dia mandi dan bersiap tuk memulai aktivitas kembali. Hari ini hari senin.


Kebanyakan orang selalu malas jika bertemu hari senin. Mereka masih ingin menikmati hari minggu yang tenang.


Revan telah bersiap dan menuju meja makan untuk sarapan. Terlihat disana Mbok Sum dan mbk Aminah menyiapkan sarapan pagi.


Seperti biasa, secangkir kopi hitam tanpa gula dan roti gandum dengan telur ceplok dan keju di atasnya.


Revan melirik tangan mbok Sum yang di balut dengan perban. " Kenapa tangannya mbok?!." tanya Revan sambil menatap wajah mbok sum.


Mbok sum menyembunyikan tangannya yang terluka di balik badannya. " Tidak apa - apa tuan muda. Hanya luka kecil saja." jawab mbok sum dengan hati - hati dan takut.


" Kalau luka kecil, kenapa harus di balut segala." seru Revan penasaran. Pasti ada apa - apa dengan mbok sum, pikir Revan.


Karena memang mbok sum sudah di anggap seperti ibu sendiri oleh Revan. Karena mbok sum sudah merawat dirinya semenjak kecil hingga sekarang.


" Ada yang mbok sum sembunyikan dariku ya, kan?!." tanya Revan menyelidik.


Mbok sum hanya terdiam dan menunduk.


" Siapa yang ngelakuin mbok?!." tanya Revan kembali sambil meminum kopi di cangkirnya.


" Tidak ada tuan." sanggah mbok sum.


Mbak Aminah yang geram dengan sikap mbok sum itu lalu maju menghampiri tuannya itu.


" Nona Sheila tuan yang membuat tangan mbok sum terluka." jelas mbak Aminah membuka mulutnya. Padahal dia sudah di wanti - wanti oleh mbok sum agar tak mengadu ke tuannya tersebut.


" Apa ?!." seru Revan sambil menatap wajah kedua assisten rumah tangganya itu.


Mbok sum terlihat panik dan gusar. Dia takut kalau tuan nya tak terima dan marah saat mendengar kekasihnya yang menyakitinya.


" Benar itu mbok?!." tanya Revan pada mbok sum yang mulai gusar.


" Tidak tuan. Saya yang salah. Nona Sheila tidak melakukan apa - apa." jawab mbok sum sambil terus menunduk.


Revan menghela nafas panjang. Mbok sum sangat kekeuh menyembunyikan kebenaran luka nya itu.


" Mbok, lain kali kalau Sheila datang kemari jangan pernah di bukakan pintu. Usir saja sekalian. Saya dan dia sudah tidak memiliki hubungan apa - apa. Jadi kalau dia ngotot mau masuk kedalam, panggil security saja langsung. " jelas Revan sambil melirik ke arah mbok sum.


Kedua assisten rumah tangga itu pun mengangguk.


" Apa luka nya cukup dalam mbok?!." tanya Revan lagi.


" Tidak tuan." jawab mbok sum.


" Kalau masih sakit, bawa saja ke rumah sakit mbok. " tukas Revan sambil meminum kopi hitam itu lalu bergegas berangkat menuju rumah sakit. Kedua wanita disana hanya mengangguk mengiyakan.


Di dalam perjalanan, Revan berulang kali mendengus kesal. Dia tak menyangka kalau Sheila akan tega melukai mbok sum.


" Benar benar sudah gak waras dia." dengus Revan kesal.


Setelah sampai di rumah sakit. Revan langsung menuju ruangan nya. Saat hendak masuk ke dalam ruangannya, Terlihat dokter Radit keluar dari ruangan nya.


" Dokter Revan ... " sapa dokter Radit saat melihat dokter Revan baru memasuki ruangan nya.


Mereka berdua memasuki ruangan Revan.


" Kamu kenapa van pagi - pagi udah uring - uringan gitu." tanya Radit saat melihat Revan terlihat bad mood.


" Aku gak habis pikir sama kelakuan sih Sheila bro." tukas Revan sambil bersandar di kursi kerjanya.


" Kenapa dengan Sheila?!. " tanya Radit gak mengerti.


" Kemarin dia pagi - pagi datang ke rumah. " jelas Revan.


" Lalu .. ?!." tanya Radit tak mengerti.


" Yaa seperti biasa dia berulah seolah kita masih baik - baik saja. Dan lebih parahnya dia berani melukai mbok sum." jelas Revan.


" Apa?!. Gak mungkin lah van, Sheila berani menyakiti pembantu mu." tukas Radit tak percaya.


" Awalnya aku juga tak percaya. Tapi mbak Aminah bilang kalau itu perbuatan Sheila. " jawab Revan.


" Kok Sheila gitu sih ?!. Gak nyangka gue." seru Radit.


" Kayak nya dia butuh obat dan pemeriksaan mental deh." tukas Revan kesal.


" Loe jangan gitu deh bro. Mentang - mentang udah jadi mantan. Benci banget kayaknya. Gak inget pas dulu masih bersama." seru Radit.


" Ngomong apa sih loe ?!. " cibir Revan tak terima.


" Lalu, gimana soal perempuan yang kamu kejar tempo hari." tanya Radit penasaran.


Revan tersenyum mendengar pertanyaan Radit.


" Aku sudah jadian dengan nya." seru Revan merona.

__ADS_1


" Serius an ?!." tanya Radit tak percaya.


Revan mengangguk mengiyakan. Senyum tersungging di bibirnya.


" Waahhh kemajuan yang sangat pesat itu. Selamat yaa .. Di tunggu traktirannya nih." tukas Radit menggoda.


" Bisa di atur. Terserah kamu mau makan di mana aja, mau makan apa aja, tinggal pilih." jelas Revan.


Radit tersenyum mendengar ucapan Revan. Bakalan makan enak gratis pula. Gumam Radit.


" Ok deh. Aku tunggu loh ya. Udah aku balik dulu ke ruangan." jelas Radit.


Revan mengangguk mengiyakan. Dia menghela nafas panjang. Tiba - tiba perasaan rindu menyelimuti dirinya. Dia ingin selalu melihat kekasihnya itu.


Hingga perawat disana masuk memberikan rekam medis para pasien pun tak di hiraukannya. Dia sedang asyik larut dalam lamunan.


*****


Aira tengah sibuk dengan pekerjaan nya. Keringat yang sedari tadi bercucuran tak di hiraukannya.


Bekerja di pabrik memang sangat keras dan melelahkan. Tapi kalau kita bisa menikmati nya rasanya akan sedikit berkurang.


Jam makan siang pun tiba. Aira bergegas menuju kantin untuk makan siang. Pemandangan lautan manusia pun nampak. Semua karyawan pun berjubel menuju kantin untuk makan siang.


Setelah selesai makan, Aira kembali ke tempat kerja nya masing - masing. Tiba - tiba ponsel nya pun berdering. Tertera nama " Revan " di layar ponselnya.


" Assalamualaikum. Iya van ada apa?!." sapa Aira saat menjawab panggilan kekasihnya itu.


" Waalaikumsalam. Gak ada apa - apa sayang. Kamu sudah makan siang?!." tanya Revan balik.


" Sudah. Kalau kamu?!." tanya Aira memastikan.


" Ini lagi nunggu pesenan." jawab Revan.


" Pesenan?!. Kamu makan siang dimana?!." tanya Aira penasaran.


" Lagi di rumah sakit. Iya aku tadi titip pesen makanan sama dokter Radit." jawab Revan sambil menggoyang - goyangkan kursi kerjanya.


" Kamu pulang jam berapa?!." tanya Revan .


" Mungkin malam." jawab Aira singkat.


" Loh kok malam?!." tanya Revan kecewa.


" Iya aku ada lembur. Di kejar deadline pengiriman soalnya." tukas Aira.


" Apaan sih. Kemarin kan sudah ketemu." jelas Aira.


" Ya beda cerita donk. Kemarin ya kemarin. Sekarang ya sekarang." jawab Revan mulai kesal.


Aira tersenyum mendengar kelakuan Revan yang seperti anak kecil itu.


" Nanti .... Aku jemput yaa ." seru Revan.


" Gak usah. Aku bawa motor kok." tukas Aira.


" Kamu kok gitu sih. Aku kan sedang kangen. Gak peka banget deh." jelas Revan mulai mengambek.


" Hmmm ... Hari sabtu kita ketemu. Ok ... " ajak Aira. Terdengar suara Revan menghela nafas panjang. Aira hanya tersenyum.


" Terserah kamu. Ternyata hanya aku yang mencintai mu. Kamu nya enggak. " jelas Revan dan langsung menutup telepon nya.


" Hallo .. Hallo van. Hallo .. " seru Aira tapi panggilan nya sudah terputus.


" Kenapa dia jadi sensitif seperti itu sih." gumam Aira lirih.


Sementara Revan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya itu. Di pejamkan matanya. Pikirannya kalut. Dia begitu ingin bertemu kekasihnya itu. Tapi mengapa respon Aira menjengkelkan hatinya.


Ada rasa penyesalan saat dia memutuskan panggilan telepon nya tadi. Sebenarnya dia ingin berlama - lama mengobrol dengan wanitanya itu. Entah mengapa obrolan mereka tadi jadi sedikit panas tersebut.


Radit pun tiba membawa pesanan Revan. Nasi uduk dengan lauk bebek goreng kesukaan Revan. Entah mengapa dia jadi tidak berselera untuk menyantap makan siang nya itu. Padahal makanannya begitu menggoda selera.


*****


Saat bekerja pun Aira tak henti - henti nya memikirkan tingkah Revan yang begitu kekanak - kanakan itu.


Dia tidak berbohong kalau dirinya memang sibuk di kejar deadline pengiriman. Dia berulang kali menghela nafas panjang.


Tiba - tiba tangan Aira terluka terkena pisau cutter yang di pegangnya untuk mengiris bahan sepatu yang menonjol.


Darah nya mengucur deras. Teman - temannya pun berteriak memanggil petugas kesehatan dan pengawas serta mandor tempat nya bekerja.


Aira hanya meringis menahan sakit di tangannya. Luka nya lumayan cukup dalam. Sebagian temannya tergopoh - gopoh membalut luka Aira dengan kain untuk menghentikan pendarahannya.


Akhirnya Aira pun di larikan ke klinik terdekat. Klinik tersebut tidak berani menangani luka Aira yang terlihat begitu serius.


Akhirnya Aira di bawa ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit itu kebetulan tempat Revan bekerja saat ini.


Aira di larikan ke IGD. Wajahnya terlihat pucat. Karena dia telah mengeluarkan banyak darah. Tim medis yang ada di IGD pun dengan sigap melakukan pertolongan pertama.

__ADS_1


Saat di bersihkan lukanya, tiba - tiba Aira jatuh pingsan. Dia tak sadarkan diri. Dokter disana mulai panik. Di tensi lah Aira, ternyata tensi nya sangat rendah.


" Kondisi vital dan denyut nadinya melemah. Kita harus memberinya transfusi darah." pinta salah satu dokter jaga disana pada salah satu perawat.


Perawat itu pun menelepon ke bagian bank darah yang ada disana meminta persediaan golongan darah O.


Tapi sayangnya persediaan darah golongan O telah habis. Perawat itu pun memberitahukan kepada dokter jaga tersebut jika golongan darah O telah habis.


Dokter bertanya kepada wali yang membawa Aira ke rumah sakit dan menanyakan golongan darah wali tersebut.


Tak satu pun ada yang sama. Akhirnya dokter jaga di IGD itu pun menyuruh perawat tadi bertanya kepada semua staff, perawat, dan dokter disana. Semua yang memiliki golongan darah O bisa mendonorkan darahnya untuk pasien di IGD.


Telepon ruangan Revan berbunyi. Tapi saat itu Revan sedang melakukan pemeriksaan dengan pasien jadi yang mengangkat hanya perawat yang membantu Revan di ruangannya itu.


" Permisi dok, maaf mengganggu sebentar. Golongan darah dokter Revan apa yaa ?!. Ini ada telepon dari IGD katanya memerlukan pendonor golongan darah O. Karena stok di bank darah habis. " jelas perawat tersebut kepada Revan yang tengah menulis kan resep untuk pasiennya itu.


" Golongan darah saya juga O." jawab Revan seketika.


" Apa dokter Revan bersedia mendonorkan darahnya." tanya perawat itu.


" Kenapa pasiennya sampai kehabisan darah?!. Pasti bunuh diri ya. Aku gak mau menolong orang yang egois dengan dirinya sendiri." jawab Revan sebal.


" Bukan dok. Tapi kecelakaan kerja." tukas perawat itu.


" Pasien kecelakaan kerja terkena pisau cutter di telapak tangannya." jelas perawat itu.


" Apa di luar masih ada pasien?!." tanya Revan.


" Masih ada 2 orang dok." jawab perawat itu.


" Bilang sama dokter Radit, pasien yang ada di luar suruh dia yang menangani. Saya mau donor darah dulu." jelas Revan.


Perawat itu pun mengangguk mengiyakan permintaan Revan. Setelah itu Revan pun turun keruang IGD.


Dia mencari dokter jaga yang ada disana.


" Dokter Revan, ada perlu apa?!" tanya dokter jaga disana.


" Katanya ada yang memerlukan transfusi darah. Golongan darah saya kebetulan O. " jawab Revan.


" Oohh iya dok. Tapi sudah ada perawat dan dokter andini yang mendonorkan darahnya. Tuh mereka sedang di periksa." jelas dokter jaga disana.


" Oohh ya sudah kalau begitu." tukas Revan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Saat kaki nya ingin beranjak pergi, sekelebat dia melihat Aira sedang terbaring disana. Revan menghentikan langkahnya. Hatinya serasa berdesir kuat.


Mana mungkin itu Aira. Dia kan lagi kerja. Gumam Revan dalam hati. Tapi dia tiba - tiba teringat kata - kata perawat tadi yang mengatakan bahwa ada orang yang terluka karena kecelakaan kerja.


Revan langsung berbalik dan membuka tirai yang menutupi pasien itu.


Jantung Revan serasa berhenti saat dia membuka tirai tersebut. Ternyata benar, itu kekasihnya. Kekasih yang di rindukannya. Tengah berbaring dengan wajah yang pucat.


" Aira ... " panggil Revan sambil menepuk - nepuk pipinya lembut. Tapi tak ada jawaban dari sang pemilik nama.


" Dokter Revan kenal dengan pasien." tanya perawat disana saat melihat Revan berdiri di samping Aira.


" Yaaa aku kenal. Sangat kenal sekali. Bagaimana kondisinya sus" tanya Revan sedikit panik.


" Pasien mengalami pendarahan hebat, yang mengakibatkan tekanan darahnya turun dan kondisi vital dan nadi nya melemah. " jelas perawat itu.


" Siapkan peralatan transfusi sus. Saya bersedia mendonorkan darah saya sebanyak apa pun untuk pasien ini." jelas Revan dan mengusap keringat dingin yang keluar dari dahi Aira.


" Tapi dok sudah ada perawat leni dan dokter andin yang mendonorkan darahnya. " tukas perawat itu.


" Saya saja sus. Biarkan perawat leni dan dokter andin melakukan transfusi. Dan masukkan ke dalam bank darah. Saya yang akan menjadi pendonor untuk pasien ini." pinta Revan.


Dokter jaga disana pun mengangguk mengiyakan permintaan Revan. Dan perawat tadi pun menyiapkan keperluan untuk transfusi darah.


Revan membuka lengan bajunya dan menggulung nya hingga sampai lengan. Setelah itu dia berbaring di bed sebelah Aira.


Perawat pun mulai menusukkan jarum ke lengan Revan. Revan memejamkan matanya menahan nyeri dari tusukan itu.


Di lihatnya wajah Aira yang pucat disana. Ada rasa ketakutan menyelimutinya. Dia takut mata kekasihnya itu terpejam untuk selamanya. Dia takut tak bisa melihat wajah kekasihnya itu.


Darah Revan mulai mengalir ke dalam tubuh Aira. Karena ujung selang yang di pasang di lengan Revan langsung sampai ke lengan Aira.


Bertahanlah Ra. Aku akan menyembuhkanmu. Kamu harus sembuh. Gumam Revan dalam hati.


" Kenapa dokter Revan begitu hangat yaa saat menatap perempuan ini?!. Apa mereka memiliki hubungan yaa?!. Aku belum pernah melihat wajah dokter Revan seperti itu sebelumnya. Aahh entahlah. Hanya mereka dan tuhan yang tahu." gumam dokter jaga disana dalma hati saat menjahit luka di tangan Aira.


Sesekali dokter tersebut melihat ekspresi wajah Revan dan Aira berganti an.


~ **Happy reading ~


Hai readers ...


Tolong kasih like, komen, dan vote nya yaaa ...


Agar penulis semangat selalu menulis cerita nya** ....

__ADS_1


__ADS_2