
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah tersebut. Mbak Aminah yang tengah menyapu halaman pun tersenyum melihat tuan nya sudah kembali.
" Sore tuan. Tumben jam segini tuan sudah pulang." seru nya ramah.
" Memang gak boleh aku pulang jam segini?." sahut Revan bete. Dia berdecak kesal lalu masuk ke dalam rumah tersebut.
" Tuan muda kenapa?. Sensi amat. Gak seperti biasanya." tukas nya lalu melanjutkan menyapu halaman rumah tersebut.
Terdengar suara langkah Revan yang berdecit di lantai. Atmaja pun membuka pintu kamarnya. Di lihatnya Revan tengah berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
Atmaja pun hanya diam memandang putra bungsunya itu. Revan membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan keras. Hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring sekali. Atmaja pun menghela nafasnya melihat kelakuan anak nya itu.
*****
Waktu pun berganti dengan malam. Semua tengah menonton televisi di ruang tengah sambil menunggu makan malam yang tengah di siapkan. Revan pun keluar kamarnya dan berjalan menyusuri tangga tersebut. Dia hanya terdiam dan berjalan begitu saja melewati semua keluarganya yang ada di ruang tamu.
Reihan yang melihat kelakuan adiknya itu pun di buat geram. Seakan dirinya tidak menganggap kita semua ada di sana.
Revan berada di dapur. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum dari dispenser lalu meneguknya hingga habis. Lalu dia mengisi lagi gelas itu dengan air kembali dan beranjak pergi.
" Van, kamu mau kemana?. Kita makan malam dulu yuk." ajak Amanda saat berpapasan dengan adik iparnya itu di dekat dapur. Revan hanya melirik kakak iparnya itu lalu berlalu pergi. Amanda pun tersenyum kecut sambil menatap adik iparnya itu berlalu pergi.
Revan kembali melewati ruang tengah tersebut tanpa kata dan beranjak menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya.
" Revan!!. Tunggu!!. Aku mau bicara." seru Reihan yang tampak kesal dengan sikap adiknya itu. Revan berhenti di tengah - tengah anak tangga. Lalu dia menoleh ke arah kakak nya tersebut.
Reihan pun berjalan menghampiri adiknya itu. Di tatapnya adiknya itu lekat - lekat.
" Sampai kapan kamu seperti ini terus, hah?." tanya Reihan kesal.
" Kamu jangan seperti anak kecil. Berpikirlah dengan dewasa." ujar Reihan. Revan menatap tajam ke arah kakaknya.
" Kami ini keluarga mu. Sampai kapan kamu mendiamkan kami seperti ini?."
" Dan lagi, sejak kapan kamu gak punya etika seperti ini. Kamu lihat, disana ada papa. Tapi kamu nyelonong aja tanpa suara seperti orang tidak berpendidikan seperti itu." tukas Reihan mengungkapkan kekesalannya akan sikap adiknya itu. Namun Revan masih membisu.
" Kakak tau kamu masih marah. Tapi tidak seperti ini caranya. Lagi pula, papa hanya ingin yang terbaik untuk dirimu. Sadarlah Revan. Sadarlah!!. Kamu telah di butakan oleh cintamu kepada Aira." imbuh Reihan.
" Kamu harus realistis Revan. Sebelum kamu kenal dengan dia, kami keluarga mu yang dari awal sudah ada di sisimu. Yang selalu mendukungmu di saat kamu terpuruk ataupun bahagia. Jangan sampai kamu menyesal di belakang. Karena penyesalan di akhir, itu akan lebih menyakitkan dan tidak berguna." tukas Reihan. Revan menghela nafasnya lalu menatap wajah kakaknya.
" Yang kakak bilang semua benar. Sangat benar. Tapi setidaknya kalian hargai lah pilihan ku. Tapi apa nyatanya. Sedikit pun kalian tak pernah melakukannya. Kalau pun aku di suruh memilih, aku akan tetap pada pilihanku. Dan asal kakak tau, aku tidak akan pernah menyesali apapun yang sudah aku pilih. Apapun itu." seru Revan lalu pergi beranjak meninggalkan kakaknya itu. Dia kembali membanting pintu kamarnya dengan keras. Reihan pun mendengus kesal dengan sikap adiknya itu.
Di dalam kamar Revan menaruh gelas yang di bawahnya di atas meja. Tangan nya pun mengepal kuat. Dia menghela nafas berulang untuk meluapkan emosi nya tadi. Terdengar ponselnya berdering. Dia menghampiri sumber suara tersebut.
**To : Revan
Kamu ada dimana**?.
Revan membuka dan membaca pesan dari Aira. Revan membuang ponselnya ke atas ranjang tempat tidurnya tanpa membalasnya. Rasanya dia malas untuk berbicara dengan perempuan itu. Dia masih sangat kesal dengan ucapan Aira tadi siang.
" Pelarian?!. Ck, kalau aku menjadikanmu pelarian, mungkin sekarang aku sudah lari dengan gadis lain dan bersenang - senang dengannya. Nyatanya apa, aku malah diam disini mengaharapkan cintamu seperti orang bodoh. Itu kah pelarian?." ujar Revan mengomel seorang diri di kamarnya. Kata - kata Aira masih jelas terngiang di telinga nya.
__ADS_1
" Kenapa aku jadi bodoh begini?." gumamnya sambil mengusap kasar wajahnya.
*****
Sementara Aira di rumahnya ...
" Pesannya sudah di buka, kenapa gak di balas?!. Apa dia masih marah ya?." gumamnya lirih.
" Revan. Kamu dimana?. Aku khawatir denganmu. Maafin aku. Maafin semua ucapan dan perbuatanku." gumam Aira dalam hati.
Aira pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Tangannya masih memegang ponsel miliknya. Sambil sesekali di lihatnya layar ponsel tersebut. Menunggu balasan pesan dari lelaki itu. Hingga akhirnya dia lelah dan terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya ...
Hari ini hari senin, terlihat Revan sudah sangat rapi dengan kemeja warna grey di tubuhnya. Dia berdiri di depan cermin besar di kamarnya sambil memasang jam di pergelangan tangannya itu. Rambut nya pun sudah di sisir dengan rapi.
Revan pun mencari keberadaan ponsel nya yang semalam di lemparnya di sembarang arah di atas ranjang nya. Ponselnya berada di bawah bantal tempatnya tidur. Lalu dia pun membuka pintu kamarnya dan beranjak menuju dapur.
Di lihatnya kakak dan kakak iparnya itu tengah duduk sarapan di sana. Terlihat mbok sum tengah meletakkan cangkir biasa dia minum di meja makan itu.
" Selamat pagi tuan muda." sapa mbok sum. Revan pun tersenyum melihat mbok sum.
" Pagi Van." sapa Amanda saat melihat Revan duduk di depannya. Revan hanya tersenyum kilas membalas sapaan kakak iparnya itu lalu meminum kopi hitam tanpa gula yang di suguhkan mbok sum.
" Kamu mau ke rumah sakit?." tanya Reihan.
" Iya. Kenapa?." jawab Revan malas pagi - pagi sudah melihat kakaknya itu.
" Jangan lupa, sekalian mampir ke bagian syaraf. Periksakan otak mu itu. Siapa tau ada syarafnya yang telah putus?. Maka nya kamu tidak bisa berpikir dengan jernih." tukas Reihan lalu beranjak pergi meninggalkan Revan yang masih tercekat mendengar ucapan kakaknya itu.
Amanda hanya tersenyum melihat kelakuan adik kakak yang tidak pernah akur jika bertemu itu. Revan meminum kopinya kembali.
" Heemm Van, apa Lala masih kerja di rumah sakit yang sama denganmu?." tanya Amanda kepada Revan. Revan melirik ke arah kakak iparnya itu.
" Masih. Kenapa?." jawab Revan.
" Tidak apa - apa. Hanya bertanya saja." tukas Amanda. Revan pun beranjak pergi meninggalkan kakak iparnya itu seorang diri disana.
" Pagi - pagi mood ku sudah di rusak oleh pertanyaan yang gak penting." gumam Revan saat berlalu meninggalkan meja makan. Dia pun berjalan dengan cepat menuju tempat mobilnya di parkir. Lalu dia pun masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempatnya bekerja.
Setibanya di rumah sakit, seperti biasa Revan berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruang kerjanya. Banyak perawat dan dokter yang menyapa dirinya. Revan pun hanya tersenyum membalas sapaan mereka.
" Siapkan rekam medis pasien hari ini." seru Revan saat memasuki poli kandungan dan melihat para perawat tengah berbincang asyik dengan rekan seprofesinya itu.
" Baik dok." jawab salah satu perawat.
" Dokter Revan kenapa?. Pagi - pagi kok sudah bete begitu." tanya salah satu perawat disana.
" Entahlah. Mungkin lagi galau." jawab salah satu perawat. Mereka pun tertawa bersama lalu beranjak menyiapkan semua perlengkapan sebelum jam kerja di mulai.
Dokter Radit pun tiba. Dia melirik ke arah ruangan Revan.
__ADS_1
" Apa dokter Revan sudah datang?." tanya Radit kepada salah satu perawat disana.
"Sudah dok. Baru saja." jawab perawat itu.
" Baiklah. Terima kasih." ujar Radit.
Radit pun membuka pintu ruangan Revan. Terlihat revean tengah mencuci tangannya di wastafel ruangan nya.
" Hai bro, gimana punya kabar?!. Apa cuti mu menyenangkan." tanya Radit saat masuk ke ruangan Revan.
" Gak bisa ketok pintu dulu ya. Main nyelonong saja." tukas Revan. Radit hanya tertawa mendengar ucapan Revan.
" Jadi gimana?." tanya Radit sambil duduk di depan Revan. Revan pun yang baru saja mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya itu pun tampak tak mengerti.
" Apanya?." tanya Revan.
" Berlagak lupa lagi. Jadi gimana ceritanya?!. Soal lamaranmu yang batal itu." tanya Radit antusias. Revan pun menghela nafasnya.
" Panjang ceritanya." jawab Revan.
" Ya panjang itu kan pasti ada ceritanya. Tenang saja, aku akan menjadi pendengar setia mu." ujar Radit.
" Pada inti nya, papa ku menolak hubungan ku dengan airea. Maka nya lamarannya gak jadi." jelas Revan.
" Apa alasannya, sampai papa mu menolak Aira?." tanya Radit tak mengerti.
" Soal status Aira yang sudah pernah menikah." jawab Revan.
"Kapan kamu mengajak Aira bertemu dengan papa mu?." tanya Radit lagi yang belum puas mendengar sepenggal cerita Revan.
" Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari kamis kemarin, aku mengajak Aira ke rumahku. Niat ku, aku ingin memperkenalkan Aira kepada keluarga ku. Agar mereka tau satu sama lain. Agar pas acara lamaran sudah saling tau rupa dan namanya. Eehh tiba - tiba." jelas Revan.
" Tiba - tiba apa?." tanya Radit. Revan berdecak kesal melihat kelakuan Radit.
" Tiba - tiba papa ku menolak Aira lah. Masih tanya lagi." tukas Revan.
" Ooohhh begitu. Lalu sekarang kamu dan dia sudah end dong." tanya Radit.
Revan melempar pulpen ke arah Radit. Radit yang biasa di lempar Revan pun, dengan sigap menangkap pulpen tersebut.
" Lah terus apa dong?." tanya Radit. Revan menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya. Dia memejamkan matanya sejenak.
" Entah lah. Aku dan dia masih bertemu. Tapi entah mengapa aku merasa, perasaan ku kepadanya hanya sia - sia saja. Apa aku yang bodoh atau aku yang naif karena sedang di mabuk cinta olehnya. Aku sendiri bingung mengartikannya." jelas Revan. Radit terdiam sambil menatap ke arah temannya itu.
" Apa kamu masih mencintai Aira?." tanya Radit.
" Sangat. Aku masih sangat mencintai nya. Bahkan bisa di bilang, aku tak bisa hidup tanpa dirinya " jawab Revan.
" Bro, hanya sekedar saran ya. Kalau kamu tidak bisa berpikir realistis dengan otakmu. Setidaknya kamu gunakan hati kecilmu. Tanya hati kecilmu. Karena hati tidak akan bisa berbohong. Walaupun bibir dan otak berbicara bohong, tapi hati tak dapat di bohongi." ujar Radit. Reven terlihat merenungi ucapan sahabatnya itu.
" Lalu langkah kamu selanjutnya apa?." tanya Radit.
__ADS_1
" Entah lah. Aku ingin sekali menikahi nya. Tapi haruskah aku abaikan perasaan papa ku. Hanya dia satu - satu nya orang tua ku saat ini. Tapi kamu tau sendiri kan. Se keras kepala apa tuan Atmaja itu." tukas Revan.
" Bahkan batu karang saja bisa terkikis oleh deburan ombak. Masa' hati papa mu tidak bisa luluh. Berjuanglah dengan keras. Suatu saat pasti ada jalan." ujar Radit memberi semangat kepada temannya itu. Revan pun mengangguk mengiyakan ucapan temannya itu.