
Aira kini berada di ruang perawatan bersama dengan dokter Radit. Tidak hanya berdua saja, disana ada beberapa dokter dari spesialis paru dan jantung yang tadi di hubungi oleh dokter Radit melalui perawat disana.
Aira menjalani serangkai pemeriksaan secara menyeluruh dan mendetail. Dia baru saja selesai melakukan Echocardiography untuk melihat dan mendeteksi kelainan pada organ tersebut.
Para dokter itu terlihat tengah berdiskusi dan saling beradu pendapat dan komentar soal hasil Echo yg barusan dia jalani. Selain para dokter spesialis yang ada, disana juga ada dokter muda yang tengah belajar pengalaman dan keahlian dari dokter spesialis itu.
Aira hanya terdiam dan terlihat beberapa kali menghela nafasnya. Dia sedari tadi menatap pintu ruangan itu. Berharap suaminya datang dari arah pintu tersebut. Tidak bisa di pungkiri. Dia begitu takut dan gelisah serta khawatir bercampur jadi satu.
Apalagi saat melihat ekspresi ketiga dokter spesialis itu. Firasatnya bertambah buruk. Dia ingin bertemu dengan suaminya. Dia begitu takut dan khawatir.
" Nyonya. Sebaiknya nyonya istirahat. Nanti kalau nyonya tidak istirahat, tensi darah nyonya tidak turun - turun." ujar salah seorang perawat disana saat melihat Aira masih terjaga.
" Sus, suami saya dimana?." tanya Aira. Perawat itu pun sudah mengetahui jika dia istri dari dokter Revan. Dokter ganteng yang terkenal dingin kepada semua wanita tapi hangat terhadap pasien - pasiennya.
" Dokter Revan masih memeriksa pasien nya nyonya. Nanti kalau sudah selesai juga datang kesini." ujar perawat itu.
Aira terpaksa merebahkan tubuhnya di atas bed rumah sakit itu. Kini di tangannya terdapat satu selang lagi yang menusuk disana selain selang infus. Yaitu selang obat yang di masukkan lewat aliran nadi di tubuhnya. Obat itu terasa panas sekali di kulit dan tubuhnya. Beberapa kali Aira mendesis kesakitan akibat obat itu yang berjalan melewati nadi nya.
Entah sejak kapan dirinya mulai terlelap dalam mimpi. Saat dia terbangun. Dilihatnya suaminya tengah berada di ruangan itu bersama para dokter spesialis yang memeriksa nya tadi. Entah apa yang mereka bicara kan. Yang pasti mereka membicara kan soal dirinya dan bayi dalam kandungannya.
*****
- Epilog.
" Dok, kita harus segera melakukan tindakan ini. Karena kalau di biarkan terlalu lama. Saya takutnya nyawa pasien yang akan terancam keselamatannya." ujar dokter spesialis jantung yang tadi memeriksa kondisi Aira. Revan hanya terdiam dan menghela nafasnya. Pikirannya saat ini telah blank. Dia tidak dapat berpikir secara rasional sedikit pun.
" Dari hasil Echo tadi siang. Fungsi jantung pasien sudah menurun sebanyak 60%. Kalau kita melanjutkan kehamilannya, cepat atau lambat pasien akan meregang nyawa. Apalagi nanti nya akan semakin besar kandungannya. Itu akan semakin berbahaya." ujar dokter disana dengan wajah yang serius sambil menunjukkan hasil pemeriksaan tadi siang kepada Revan.
Revan mengusap wajahnya kasar. Dia tau betul apa bahaya yang sedang di alami istrinya saat ini. Karena dia sudah sering kali menangani pasien dengan kondisi seperti istrinya saat ini. Dan jalan satu - satunya dari masalah ini adalah Aborsi.
__ADS_1
Karena kasus seperti kelainan jantung pada ibu hamil tidak akan ada solusi lainnya. Pilihannya hanya satu, ibunya yang di selamatkan, atau tidak kedua - dua nya. Kalau pun di pertahankan, itu tidak akan lama. Karena serangan jantung secara mendadak akan segera terjadi kalau tidak cepat - cepat di tangani. Apalagi ada nyawa yang sedang di perjuangkan oleh ibu yang sedang mengandung. Semua dokter akan memilih untuk membuang bayi dalam kandungan tersebut untuk menyelamatkan nyawa ibu itu.
Revan menatap wajah istrinya yang tengah tertidur dengan lelap itu. Dia membayangkan bagaimana perasaan istrinya nanti jika dia harus memilih untuk menggugurkan calon anak mereka sendiri. Di satu sisi, Revan belum siap dan gak akan siap jika harus kehilangan istrinya. Saat ini nyawa istrinya yang jadi bahan taruhannya.
" Van kamu gak boleh egois. Aku tau kamu menginginkan anak itu. Tapi lihat kondisi istrimu saat ini. Istrimu sakit Van. Dia tidak layak untuk hamil." ujar Radit memberi penjelasan kepada temannya itu. Revan menghela nafas berat.
" Kamu harus segera mengambil keputusan. Jangan sampai kamu terlambat dan menyesal di kemudian hari." jelas Radit. Dua dokter yang disana pun mengiyakan ucapan Radit.
" Kasih waktu aku buat berfikir. Ini terlalu berat untukku apalagi untuk Aira. Dia begitu menginginkan anak itu." ujar Revan kepada ketiga rekan kerjanya itu.
Ketiga dokter itu pun mengerti akan posisi Revan saat ini. Karena ini memang keputusan terberat. Dia harus menanda tangani upaya pengambilan janin anaknya sendiri. Setelah itu Aira tidak akan boleh hamil lagi. Karena tim medis tidak mau mengambil resiko seperti ini lagi ke depannya. Mereka akan melakukan kontarsepsi Sterilisasi dalam rahimnya. Setiap perempuan yang setelah di steril tidak akan dapat memiliki anak lagi seumur hidupnya.
" Kita akan kasih kamu waktu. Pergunakan waktu mu secermat mungkin. Pikirkan kemungkinan - kemungkinan terburuknya. Semua pilihan ada di tangan mu. Kami sebagai dokter sekaligus teman hanya ingin yang terbaik saja. Kami akan menghargai setiap pilihan yang akan kamu ambil." ujar Radit sambil menepuk bahu temannya itu dan berlalu pergi meninggalkan nya disana. Revan pun berjalan menghampiri istrinya yang tengah terbaring sekarang.
" Revan." seru Aira saat melihat lelaki itu duduk di kursi yang ada di sampingnya.
" Aku baik - baik saja kan." tanya Aira ragu. Revan menatap wajah istrinya dengan seksama. Lalu dia mencoba tersenyum. Tersenyum se alami mungkin seperti tidak terjadi apa - apa.
" Kamu baik - baik saja. Hanya sedikit butuh istirahat saja." jawab Revan. Aira menatap lekat - lekat wajah suaminya itu. Aira tau kalau Revan tengah berbohong saat ini.
" Lalu anak kita juga baik - baik saja kan?." tanya Aira lagi. Revan mengangguk sambil mengusap perut buncit istrinya itu.
" Apa yang kalian bicarakan tadi?. Sepertinya serius sekali?." tanya Aira penasaran dengan perbincangan para dokter tadi.
" Tidak ada." jawab Revan singkat. Aira menatap wajah suaminya. Ada raut kesedihan di wajah itu. Aira bangun dari tidurnya dan posisi nya sekarang sedang duduk.
" Kamu tidak pandai berbohong Revan. Katakan!. Aku akan mencoba menerima sebisa mungkin." ujar Aira sambil membelai kepala lelaki itu.
Seketika air mata Revan luluh. Dia membenamkan wajahnya di pangkuan Aira. Lelaki itu menangis. Menangis sejadinya. Dia ingin berusaha kuat dan tegar di hadapan istrinya. Tapi itu sangat sulit di lakukan. Hatinya begitu sesak sadari tadi pagi. Dia tidak tau harus berbuat apa. Baru pertama kali ini dirinya menyerah menjadi seorang dokter.
__ADS_1
Aira yang tau arti tangisan suaminya itu pun ikut menangis juga. Dia yakin kalau ini suatu hal yang sangat buruk untuk nya dan calon anaknya. Tidak mungkin Revan akan menangis seperti ini jika bukan pertanda buruk baginya. Revan mengangkat wajahnya. Di usap nya air mata yang membasahi wajah tampannya itu. Dia menghela nafasnya secara perlahan. Di tatapnya wajah istrinya yang tengah berlinang air mata itu. Di usapnya pipi istrinya dengan lembut.
" Sayang. Kamu percaya sama aku kan?." tanya Revan. Aira masih menatap wajah suaminya itu.
" Kamu tau, kalau aku begitu mencintaimu melebihi apapun." imbuh Revan. Aira mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
" Dengarkan aku sayang. Kamu sedang sakit. Kamu tidak baik - baik saja. Begitu pun dengan anak kita. Jadi kita para dokter akan menyembuhkanmu. Kita akan menghilangkan rasa sakit itu. Dengan cara ..." ucapan Revan pun terhenti. Seperti ada yang menahan di tenggorokannya. Air matanya pun kembali menetes.
" Dengan cara apa?." tanya Aira mencoba menguatkan hatinya.
" Dengan cara .... Kita harus mengambil calon anak kita." jawab Revan. Kini tangis nya tak bisa terbendung lagi. Di peluknya tubuh istrinya dengan erat. Aira yang mendengar itu pun seperti di lempar dari ketinggian yang sangat tinggi lalu di hempaskan jatuh ke bawah. Aira menangis sejadinya. Dia menggelengkan kepala nya sambil terus memukul - mukul lengan dan punggung suami yang mendekapnya saat ini.
" Enggak Van. Enggak!!!. Aku gak mau kehilangan anak ku. Aku gak mau!!. Jangan ambil anakku!!. Jangan!!!. Aku mohon Revan jangan ambil anakku!!!. Jangan lakukan itu!!!. Jangan!!!." teriak Aira histeris. Para perawat dan dokter yang ada di luar pun sampai masuk ke dalam ruangan tempat Aira di rawat. Mereka takut jika terjadi sesuatu pada pasien nya itu.
Tapi mereka melangkah keluar kembali saat melihat Revan tengah berada di sana sedang memeluk tubuh istrinya itu. Mereka pun menutup pintu kamar itu dan membiarkan sepasang suami istri itu dengan kisahnya.
" Aku mohon jangan begini sayang. Ini semua demi kebaikanmu!. Aku tidak mau kehilanganmu!. Aku begitu mencintaimu!. " ujar Revan sambil terus memeluk tubuh istrinya itu. Aira terus meronta meminta lelaki itu melepaskan. Tapi Revan menolak. Dia tidak ingin melepaskan dekapannya kepada istrinya itu.
" Kamu kejam Revan!!. Kamu akan jadi pembunuh anak kita!!. Lebih baik aku mati daripada aku harus melihat anakku mati!!." seru Aira yang masih histeris. Revan memejamkan matanya mendengar ucapan istrinya itu. Dia sungguh tidak bisa berbuat apa - apa saat ini.
" Sayang." ucap Revan sambil menenangkan istrinya.
" Aku gak mau !!. Aku gak akan membiarkan siapa pun mengambil anakku!!. Tidak!!!. Aku rela menukarnya dengan nyawaku Revan. aku rela!!. Ambil saja nyawaku. Selamatkan anakku!!." tukas Aira.
" Lalu aku harus kehilangan kamu begitu?. Tidak Aira. Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Kamu begitu jahat jika aku harus membesarkan anak itu seorang diri tanpa dirimu." ujar Revan.
" Ya sudah kalau begitu. Keputusan ku sudah bulat. Aku akan terus mempertahankan kehamilanku sampai nanti pada waktunya. Aku tidak akan membuang bayi ini. Kalau pun aku harus mati, aku akan mati bersama dengan dia." ujar Aira.
Revan sungguh tidak bisa berkata apa - apa saat ini. Dia tau dirinya sedang kalut dan Aira sedang kalut. Tidak akan ada keputusan yang masuk akal nantinya. Dia membutuhkan waktu untuk membujuk istrinya itu. Dia tidak bisa memutuskan secara sepihak. Dia tidak mau menyakiti dan melukai perasaan istrinya jika dia berbuat egois nantinya.
__ADS_1