Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 42 Berakhir


__ADS_3

Mobil Revan berhenti di sebuah rumah bergaya minimalis. Aira menoleh ke arah Revan. Di wajah nya tertulis sejuta pertanyaan untuk apa dia di bawa ke sini. Tapi Revan masih membisu dalam diam dan langsung turun dari mobilnya.


" Ini ... Ini rumah siapa Van?." tanya Aira saat turun dari mobil.


" Ini rumah ku." jawab Revan sambil sesekali menghela nafas nya. Mata Aira pun membulat seketika. Dia begitu terkejut saat mendengar ucapan lelakinya itu.


" Untuk apa kamu membawa ku kesini?. Bukannya kamu bilang keluarga mu telah tiba tadi sore." tanya Aira gugup.


" Aku ingin mengenalkanmu kepada mereka." jawab Revan santai lalu menggandeng tangan Aira untuk masuk ke dalam. Tapi Aira menarik tangannya dan berdiam di depan halaman rumah tersebut. Jantung nya berdetak begitu kencang. Keringat dingin pun keluar seketika.


" Kamu kenapa?. Ayo kita masuk." ajak Revan. Tapi Aira masih berdiri tak bergeming. Dia menatap wajah Revan dengan perasaan campur aduk.


" Kenapa kamu membawa ku kesini Revan?." tanya Aira seketika.


" Aku hanya ingin memperkenalkan kamu ke keluarga ku. Apa itu salah." jawab Revan.


" Yaa .. yaa tapi apa keluarga mu siap dengan kedatanganku?. Seharusnya kamu ngomong dulu dong dengan aku. Gak main ambil keputusan sepihak begini." jelas Aira panik.


Tiba - tiba muncul lelaki separu baya dari dalam rumah. Mereka saling pandang satu sama lain.


" Revan. Kenapa berdiri di situ. Semua sudah menunggu mu di meja makan." tukas Atmaja saat melihat anak nya dan Aira di halaman rumah Revan. Sedikit banyak Atmaja tadi telah mencuri dengar pembicaraan mereka. Karena waktu suara mobil Revan terdengar Atmaja berada di ruang tamu. Tapi selang beberapa menit kemudian, anak bungsu nya itu tak kunjung terlihat masuk.


Revan menggandeng tangan Aira dan mencoba mendekat ke arah ayahnya itu.


" Pa .. Kenalin ini Aira." seru Revan. Aira mencoba tersenyum kepada ayah kekasihnya itu. Walaupun wajahnya sangat terlihat rasa gugup dan cemas. Aira mengulurkan tangannya berniat hendak bersalaman dengan lelaki itu. Tapi lelaki itu hanya diam memandang Aira dan langsung masuk begitu saja.


Aira tercekat melihat kelakuan ayah dari kekasihnya itu. Terlihat jelas sebuah penolakan dari raut wajah lelaki itu. Aira semakin menciut dibuatnya. Revan yang melihat kelakuan ayahnya itu hanya menghela nafas panjang. Dia begitu kesal kepada ayahnya itu. Sedikit pun tak ada ramah tamah kepada wanita pilihan nya itu. Yaa walaupun hanya sekedar basa basi atau apalah.


" Ayo kita masuk." ajak Revan.


" Revan sebaiknya aku pulang saja. Kamu saja yang masuk. Aku bisa pulang sendiri kok." ujar Aira sambil tersenyum kecut. Wajahnya mulai sendu. Matanya mulai merah dan berkaca - kaca. Revan tau kalau dia tengah menahan tangis nya.


" Tidak. Kamu tidak boleh pulang. Kita sudah sampai sini. Jadi kita harus masuk." jelas Revan. Aira pun menarik lengan kekasihnya itu.


" Kamu gak perlu takut. Ada aku disini. Kamu akan baik - baik saja." ucap Revan sambil menuntun Aira melangkah memasuki rumah nya itu.


Terlihat semua sudah berkumpul di meja makan. Mereka hanya menunggu kedatangan Revan dan Aira saja. Amanda tersenyum saat melihat adik iparnya itu membawa calon istrinya datang ke sana. Tapi tidak dengan ayahnya. Atmaja hanya diam sambil menatap kedua orang itu dengan tatapan tajam dan tidak ramah sama sekali. Aira menunduk saat melihat ayah dari lelaki yang di cintai nya itu menatapnya sedemikian rupa.


" Maaf kami terlambat." ucap Revan. Amanda berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.


" Revan. Siapa ini?. Kamu kok gak bilang kalau mau membawa tamu datang. Kakak tadi kan bisa masak enak untuk kalian." ujar Amanda.


" Dia bukan tamu kakak. Dia Aira. Calon istri ku. Dia akan menjadi bagian dari keluarga ini." jelas Revan sambil menatap ke arah ayahnya itu. Atmaja masih diam tak bersuara sambil melihat kelakuan putra bungsunya itu.

__ADS_1


" Oohh. Aira aku Amanda. Kakak iparnya Revan. Dan itu Kirana anak ku. Kalau yg itu pasti kamu sudah kenal kan." tukas Amanda memperkenalkan satu per satu orang yang ada disana.


" Ayo silahkan duduk. Kita makan malam bersama." ujar Amanda sambil menuntun Aira duduk di meja makan. Aira pun duduk tepat di samping kanan ayahnya Revan. Ada perasaan takut dan was - was hinggap di hatinya kala itu. Revan menarik kursi di sebelah kekasihnya itu.


Mereka semua pun makan malam bersama. Tak ada satu pun suara di meja makan itu. Semua makan dengan tenang. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring saat itu. Revan sesekali melirik ke arah Aira. Dia melihat Aira begitu tidak nyaman makan disana malam itu.


" Papa begitu keterlaluan." gumam Revan dalam hati. Ada guratan kekesalan di wajah Revan saat itu. Ingin sekali dia memaki ayahnya saat itu. Karena telah memperlakukan perempuan yang di cintainya itu dengan sembarangan.


" Heeemm gimana persiapan pertunangan kalian?. Sudah siap semua nya." tanya Amanda di sela - sela makan nya saat itu. Aira mendongak menatap ke arah Amanda seketika. Dan mengangguk dan tersenyum.


" Oohh iya Aira. Kamu bekerja atau kuliah." tanya Amanda lagi. Revan menatap ke arah kakak iparnya itu. Amanda melirik dan tersenyum kepada Revan.


" Saya bekerja kak." jawab Aira lirih.


" Oohh iya. Bekerja dimana." tanya Amanda antusias.


" Di pabrik sepatu." jawab Aira jujur.


" Oohh begitu. Di bagian apa?. Pemasaran, penjualan, atau bagian office yang lainnya?. " tanya Amanda.


" Bukan kak. Saya di bagian produksi. Saya karyawan biasa." jelas Aira sungkan.


" Oohh kamu buruh disana." jawab Amanda seketika.


" Kakak!!." seru Revan tak tahan mendengar ucapan kakak iparnya itu yang dirasa semakin jauh semakin memojokkan Aira.


" Maaf Pa. Manda cuma ingin ngobrol aja dengan Aira. Iya kan Aira." tukas amanda. Aira mengiyakan ucapan Amanda.


" Oohh iya Aira, kamu ... Anaknya ada berapa?." tanya Amanda lagi. Aira tercekat. Seketika dia menghentikan makannya dan terdiam membisu di buatnya. Revan pun mulai geram di buatnya. Aira masih diam tak bersuara. Pandangannya mulai terasa kabur tertutup air mata yang akan pecah itu.


Revan menoleh ke arah Aira yang menahan tangis nya itu. Revan pun berdiri dan menarik tangan Aira untuk beranjak dari sana. Dia sudah tidak tahan mendengar kekasihnya itu di rendahkan.


" Revan. Duduk!!." perintah Atmaja.


" Pa cukup Pa. Revan gak tahan melihat kalian merendahkan Aira begitu." tukas Revan.


Atmaja menatap anaknya itu. Dia mengangkat sebelah alisnya.


" Siapa yang merendahkan?. Aku kan hanya bertanya. Kamu salah paham Revan." jelas Amanda.


" Cukup kak. Aku tau dari tadi yang kau tanyakan ke Aira hanya kakak ingin memojokkan dia kan." ujar Revan kesal. Amanda menatap Revan. Terlihat wajah Amanda yang sendu di buatnya.


" Revan. Dimana sopan santun mu. Dia kakak iparnya mu. Kenapa kamu berteriak ke arahnya." ujar Atmaja membela Amanda.

__ADS_1


" Semua pertanyaan Amanda itu benar adanya. Kenapa kamu jadi marah begitu. Apanya yang salah." imbuh ayahnya lagi.


" Pa ... " seru Revan. Atmaja mengangkat tangannya ke arah Revan. Revan pun membungkam seketika.


" Dan kamu, kamu jangan bersenang hati terlebih dahulu. Aku merestui hubungan mu dengan Revan. Bukan berarti aku senang dan memerima mu menjadi bagian keluarga ku. Aku hanya ingin membuka mata anakku tentangmu. Agar dia tahu sendiri seperti apa perempuan pilihannya ini. Dari awal kamu memang tidak cocok untuk Revan." jelas Atmaja lalu beranjak meninggalkan meja makan.


Aira masih terdiam di tempat duduknya. Butiran air matanya mulai meleleh di pipinya. Dia sudah tidak tahan membendungnya. Mendengar ucapan dari ayah kekasihnya itu pun langsung mampu membuat pertahanannya runtuh. Revan mendekat ke arah Aira. Tangannya terulur ingin menyeka air mata itu. Tapi di tepis oleh Aira. Aira mengusap kedua pipi nya dengan kasar.


" Aku mau pulang." serunya sambil berdiri bersiap beranjak dari sana.


" Aku antar." tukas Revan.


" Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Permisi." jawab Aira langsung beranjak dari sana.


" Aira kamu jangan pulang. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud apa - apa terhadapmu." ujar amanda saat melihat Aira beranjak dari duduknya. Aira terhenti. Dia menoleh ke arah kakak iparnya Revan.


" Tidak apa - apa kak. Aku mengerti kok." seru Aira dan langsung berlalu pergi. Revan pun langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan itu mengejar Aira. Aira melangkahkan kakinya dengan cepat. Revan sedikit berlari saat mengejar nya. Revan menarik lengan Aira. Aira terhenti.


" Maaf kan keluarga ku. Aku akan mengantarmu pulang. Aku ambil mobil dulu." seru Revan lalu beranjak menuju garasi.


" Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." jawab Aira. Revan pun menoleh ke arah nya.


" Benar ucapan papa mu. Aku memang tidak pantas bersanding denganmu. Seharusnya kamu tau itu." ujar Aira.


" Kamu ngomong apa sih?. Apa nya yang pantas dan tidak pantas itu." tukas Revan.


" Sebaiknya kita batalkan saja rencana lamaran itu." ujar Aira. Revan tercekat mendengar ucapan Aira. Dia melangkah ke arah kekasihnya itu. Aira menatap wajah Revan.


" Kita batalkan saja semuanya Revan. Aku gak mau menjadi tembok pemisah antara kamu dan keluarga mu. Sikap keluarga mu malam ini sudah membuka mataku lebar - lebar. Aku memang tidak pantas untukmu. Kamu cari perempuan lain yang jauh lebih baik dariku." jelas Aira sambil melepas kalung mendiang mama Revan yang di berikan padanya beberapa waktu yang lalu.


Aira meraih tangan Revan yang masih terdiam disana dan meletakkan kalung itu di telapak tangan lelaki itu. Revan menatap ke arah Aira. Dia masih tidak terima dengan apa yang di ucapkan kekasihnya saat ini.


" Enggak ... Enggak Aira. Jangan lakukan ini. Aku pernah bilang kan. Aku tidak perduli walau pun semua orang menolakmu. Aku tidak perduli. Aku akan tetap menikahimu. Aku akan tetap bersama mu." ujar Revan.


" Maaf Revan. Tapi aku tidak ingin bersama mu lagi." tukas Aira. Revan menggelengkan kepalanya. Dia tak percaya Aira berbicara seperti itu kepadanya.


" Tidak ... Tidak ... Kamu bohong. Kamu bohong Aira ... " seru Revan.


" Sudahlah Van. Semua sudah jelas dan berakhir. Jangan pernah hubungi dan temui aku lagi. Semoga kamu bahagia selalu." jelas Aira lalu pergi meninggalkan rumah Revan. Revan menarik lengan Aira. Aira menepis tangan itu dan berlalu pergi.


Revan menggenggam kalung mendiang mama nya itu dan beranjak mengejar Aira. Tapi sayang Aira sudah keburu masuk kedalam taxi yang tengah melintas tadi. Revan terus memanggil nama Aira dan berusaha terus mengejar taxi itu. Tapi sia - sia. Taxi itu terus melaju dengan cepat meninggalkan Revan.


Dia begitu frustasi di buatnya. Dia tidak percaya kalau hubungan nya dengan Aira akan berakhir seperti ini. Dia masih tak percaya. Revan berlari ke rumahnya lalu mengambil mobilnya hendak menyusul Aira kembali. Dia harus mengambil Aira kembali menjadi istrinya. Dia tidak perduli jika ayah dan keluarga nya menolak. Dia tidak perduli.

__ADS_1


~ **Happy reading ~


Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa readers** ....


__ADS_2