
Kini mereka berdua pun tengah berbaring di atas kasur besar yang ada di kamar tersebut. Revan pun tak berhenti memandang wajah Aira yang tengah berbaring di sebelahnya dan menghadap ke arahnya.
Begitu pun Aira. Dia juga tak berhenti memandang setiap jengkal wajah lelaki yang di cintainya itu. Entah mengapa malam ini lelaki itu terlihat sangat tampan dan menggoda hatinya.
Tangan Revan pun mengusap pipi Aira dengan lembut. Sesekali tangannya merapikan rambut Aira yang berjuntai menutupi wajah tersebut.
" Kamu cantik." puji Revan sambil terus memandang wajah dan mengusap pipi perempuan itu. Aira pun tersenyum mendengar itu.
" Aku ingin mencium mu." tukas Revan yang tangannya beralih mengusap bibir perempuan itu. Aira hanya terdiam menatap wajah Revan.
" Hanya cium. Tak boleh lebih." ujar Aira saat melihat Revan mulai mendekatkan tubuh nya. Revan tersenyum mendengar ucapan Aira itu.
" Kalau aku mau lebih gimana?." tanya Revan.
" Jangan asal deh kalau ngomong." seru Aira sedikit takut. Revan pun tertawa melihat wajah Aira yang begitu menggemaskan itu.
Revan mencium kilas bibir Aira. Lalu dia mencium kening perempuan itu. Aira memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir lelaki yang sangat di cintainya itu.
" Aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak akan merusak sesuatu yang sangat aku cintai. Lagi pula, sex pra nikah itu hanya akan merugikan dan menyakiti harga diri kaum wanita. Dan aku tak mau menyakiti harga dirimu atau wanita manapun. Karena aku terlahir dari seorang wanita pula." ujar Revan sambil memeluk tubuh wanitanya dengan erat.
" Maka dari itu, aku ingin segera menikah denganmu. Agar aku bisa menjaga dirimu dan harga dirimu itu." imbuhnya. Aira mengeratkan pelukannya kepada lelaki itu. Revan mengusap kepala kekasihnya.
" Kapan kita mengurus berkas - berkas pernikahan kita?." tanya Aira tiba - tiba.
" Lebih cepat lebih baik. Besok bagaimana?. Sekalian aku mau ke agen properti untuk cari tempat tinggal untuk kita nantinya." Ujar Revan.
" Apa uang kamu cukup untuk membeli rumah baru?. Kalau tidak cukup jangan di paksa kan. Walau pun nanti nya kita harus mengontrak rumah sekalipun, aku tidak apa - apa." jelas Aira.
__ADS_1
" Mungkin cukup kalau hanya rumah sederhana. Aku juga ingin beli mobil buat kita pergi kemana - mana." tukas Revan.
" Satu per satu dulu. Jangan langsung semua." ujar Aira.
" Iya." jawab Revan sambil mencium kening Aira kembali.
" Lalu rumah dan mobil lama mu gimana?." tanya Aira.
" Itu kamu beli dengan kerja kerasmu atau pemberian papa mu?." tanya Aira lagi.
" Semua itu aku beli dengan kerja keras ku sendiri." jawab Revan.
" Lalu?. Apa kamu akan tinggal kan begitu saja?." tanya Aira.
" Kalau rumah, mungkin aku gak akan tempati lagi. Kalau mobil, mungkin aku bisa pakai lagi. Tergantung besok lah. Aku masih malas bertemu orang - orang disana." tukas Revan.
" Jangan begitu. Mereka tetap keluarga mu." sahut Aira.
" Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya merasa bersalah saja." jawab Aira. Revan mengerutkan dahi nya tak mengerti dengan ucapan Aira.
" Aku merasa bersalah, karena aku, hubungan mu dengan keluarga mu, terutama papa mu jadi buruk seperti ini." jelas Aira.
" Itu semua bukan salahmu. Papa ku saja yang terlalu mementingkan ego nya." jawab Revan.
" Namanya orang tua. Semua orang tua seperti itu. Karena mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak - anaknya." tukas Aira sambil mengusap dada Revan.
Revan melihat tangan Aira yang masih mengusap - usap dadanya. Dia tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu. Entah mengapa, saat tangan Aira mengusap - usap dadanya tersebut ada hasrat tersendiri dalam dirinya.
__ADS_1
" Jangan salahkan aku kalau aku tak bisa mengendalikan hasratku ya." tukas Revan sambil memejamkan matanya mencoba menahan gejolak dalam hati dan tubuhnya itu.
" Apa?!." tanya Aira tak mengerti.
" Jangan salahkan aku kalau aku tak bisa mengendalikan hasrat dalam diriku!." tukas Revan kembali. Aira masih terdiam menatap Revan.
" Kenapa kamu berhasrat?. Padahal aku sedang tidak lagi apa - apa. Aku juga tidak telanjang di depanmu." jelas Aira sambil memutar - mutar jari tangannya di dada Revan. Revan berdecak kesal melihat Aira yang masih tak paham maksud kata - katanya.
" Tanganmu!. Hentikan tanganmu yang bermain - main di atas dadaku itu." seru Revan. Seketika itu Aira langsung menjauhkan tangannya dari tubuh lelaki itu.
" Maaf. Aku tak bermaksud begitu." ujar Aira.
" Lagipula aku hanya menyentuh dadamu. Masa' begitu saja kamu sudah berhasrat. Sungguh gampang sekali memancing libido mu itu." tukas Aira lagi.
Revan yang mendengar cibiran Aira pun sedikit kesal. Dia pun bangun dan memalingkan tubuh Aira. Sekarang posisi Revan sudah berada tepat di atas tubuh Aira.
Aira begitu tercekat melihat kelakuan kekasihnya itu. Revan pun terus menatapnya dengan tatapan memburu yang siap menerkam kapan saja.
" Revan. Apa yang kamu lakukan?. Jangan begini!. Lepaskan aku." seru Aira sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Revan. Dia pun berusaha mendorong tubuh Revan agar menyingkir dari sana. Tapi sedikit pun tubuh Revan tak bergerak.
" Kau duluan yang menggoda ku. Aku tinggal melanjutkan saja. Apa kita bisa memulai?." tukas Revan dengan seringai di bibirnya. Aira pun semakin panik dengan sikap Revan tersebut. Dia berusah terus mendorong tubuh Revan agar menjauh dari atas tubuhnya. Aira pun terus menggigit bibir bawahnya menyembunyikan rasa ketakutannya.
Revan mengecup bibir Aira dan sedikit menggigit bibir bawah perempuan itu. Aira pun terlonjak menahan rasa sakit akibat gigitan Revan pada bibirnya.
" Jangan menggoda ku seperti itu lagi. Kalau tidak mau aku makan malam ini juga." seru Revan sambil mengecup bibir Aira kembali.
Mereka berdua pun saling berpagut mesra dalam ciuman tersebut. Revan meremas bantal yang di pakai Aira. Mencoba sekuat tenaga menahan hasrat kelaki - lakiannya dalam dirinya itu.
__ADS_1
Revan melepas ciumannya dan menjauhkan tubuhnya dari Aira. Dia takut kalau begini terus, dia akan berbuat khilaf. Wajah Aira terlihat merona.
" Selamat tidur. Selamat malam." seru Aira kepada Revan. Aira pun menarik selimut di atas kasur tersebut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Hanya terlihat kepalanya saja. Revan pun berbaring di samping Aira dan memejamkan matanya tanpa bersuara. Hingga akhirnya mereka berdua pun terlelap dalam mimpi masing - masing.