
Di tengah eufhoria ketika berita negatif di internet menghilang, Harry dan Antok terkejut melihat reaksi Tantri. Tetapi Harry segera berdiri, kemudian menarik tangan Tantri dan membawanya pergi dari anggota club anak-anak lainnya. Setelah sampai di kursi yang ada dekat kolam renang, Harry mengajak Tantri duduk. Beberapa saat kemudian..
" Katakan Tantr.. apa yang akan kamu tanyakan padaku! Aku sengaja membawamu kesini, karena aku khawatir jika pertanyaanmu ada kaitannya dengan anak-anak lainnya." Harry meminta Tantri untuk menyampaikan apa yang ingin ditanyakan. Laki-laki itu menatap Tantri tanpa berkedip.
Terlihat Tantri menghela nafas, kemudian.. gadis itu juga menatap balik laki-laki yang duduk di depannya itu.
"Bukan apa-apa Harr, hanya saja aku tidak bisa menghentikan rasa ingin tahuku. Sebenarnya tadi malam aku terbangun, karena mendengar orang berbincang di depan kamar. Akhirnya aku mengintip dari balik tirai jendela, dan melihatmu serta Antok sedang berbicara dengan tiga orang asing. Yang agak membuatku bertanya-tanya, ternyata ada tumpukan uang ratusan ribu di depan meja kalian. Apakah kamu akan memberi penjelasan padaku Harry, uang apakah itu?" Tantri akhirnya bertanya apa yang mengganjal dalam pikirannya.
"Okay Tantr.. kamu berhak tahu karena aku dan anak-anak lainnya sudah menganggapmu sebagai bagian dari club motor kita. Selama ini, kita memang juga menjadi pelindung para penjual kecil, pedagang pasar, pedagang kaki lima. Semula kami melakukan atas dasar rasa iba dan ironis dengan kondisi di lapangan. Namun orang-orang itu malah menghimpun dana, dan memberikan kepada club motor kami sebagai kontra prestasi, dan berlanjut sampai dengan sekarang." sambil tersenyum, Harry akhirnya menjelaskan.
Tantri terdiam, dan tampak berpikir serius. Namun tidak lama kemudian..
"Tapi Harr... penghasilan orang-orang itu tidak seberapa. Apakah pungutan itu tidak memberatkan mereka?? Dan apa bedanya apa yang kalian lakukan, dengan yang sudah dilakukan oleh geng motor Jokzin." penjelasan Harry ternyata masih tersumbat dalam pemikiran Tantri.
Harry tetap tersenyum, dan tampak tidak terpancing dengan pertanyaan Tantri.
"Hempphh... kamu pantas untuk bertanya seperti itu Tantri.. Tetapi jika kamu menyama ratakan club motor kita dengan Geng Jokzin, aku akan menyangkal. Kami melakukan itu semua bukan kami yang meminta, atau kami mencari aktivitas itu. Tetapi geng Jokzin mereka seperti preman yang memaksa orang-orang miskin memberi jatah preman pada mereka." Harry kembali menjelaskan.
"Dan lagi, kita dari Jakarta ke Bandung, bukankah kita juga butuh akomodasi Tantri. Dari uang yang diserahkan kepada kita, itulah yang kita gunakan untuk membiayai kehidupan Club Motor Spirit. Kita juga tidak pernah melakukan pemerasan, atau hal-hal negatif lainnya. Uang itupun juga tidak ada penjadwalan, kapan mereka harus menyerahkannya pada kita." lanjut Harry. Laki-laki muda itu mengambil botol air mineral di depannya, kemudian meminum beberapa teguk.
__ADS_1
Kembali Tantri mengambil nafas, tetapi perlahan gadis itu sudah bisa menerima penjelasan dari laki-laki muda itu. Akhirnya Tantri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Harry tampak lega, kemudian laki-laki itu berdiri, dan mengajak gadis itu untuk kembali ke tempat teman-teman mereka.
"Kita kembali ke depan kamarmu saja Tantr.., agar teman-teman lain tidak bertanya-tanya.."
"Okay Harr... sorry ya jika aku meminta penjelasan darimu." akhirnya Tantri ikut berdiri, dan dua anak muda itu segera kembali ke tempat anak-anak lainnya berada.
************
Di sekolah...
Beberapa hari sesudah melakukan konvoi ke Bandung, di sekolah Tantri sengaja menutup diri. Gadis itu tidak menunjukkan dirinya jika sudah bergabung dengan geng motor yang paling ditakuti di sekolah. Meskipun Geng Spirit yang menyebut dirinya sebagai Clum motor itu tidak pernah berbuat onar, tetapi jika mereka sudah berkumpul di depan gerbang sekolah, selalu ada yang merasa takut jika berhadapan dengan mereka.
Namun untungnya orang yang membuatnya kaget secara reflek memegang kedua bahunya, dan ternyata Zorra yang sedang membawa skateboard di lingkungan sekolah. Ketampanan anak muda itu sesaat membuatnya kaku, dan tak berhenti, Tantri takjub menatap laki-laki muda itu.
"Hey... are you okay girl...?" pertanyaan Zorra kembali membuatnya kaget.
"Mmmpphh... I.m fine, besok lagi jika di lingkungan sekolah, jangan main seluncur seperti tadi. Membahayakan teman yang lain.." kata-kata nasehat keluar dari bibir gadis itu.
"Sorry girl... aku tergesa. Hari ini jadwalku piket, aku tidak mau dicap sebagai siswa yang tidak bertanggung jawab, jadi aku menggunakan papan seluncur di lingkungan sekolah. Tapi, aku minta ijin sama pihak sekolah, dan pihak sekolah memberikan ijin. Sorry... aku harus segera ke kelas, karena harus membantu kelompokku membersihkan kelas." Zorra membuat penjelasan.
__ADS_1
Belum sampai Tantri memberikan tanggapan, ternyata anak muda itu kembali meluncur dengan papan seluncurnya. Dengan gesit, hanya dalam sekejap mata, Zorra dengan skateboard nya sudah menjauh dari pandangan gadis itu. Tantri hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Bukan urusanku juga, terserah orang mau berseluncur, mau merangkak, ataupun mau berlari di dalam lingkungan sekolah ini. Asal mereka tidak menggangguku saja,.." akhirnya Tantri membiarkannya.
Gadis itu kembali melanjutkan langkah kakinya, dan ternyata di depannya tampak Antok sedang berhenti di depan kelasnya. Tantri mengerutkan kening beberapa saat, tetapi sesaat kemudian gadis itu mengabaikannya. Dengan santai Tantri mendatangi Antok.
"Hey Ant... tumben sekali, pagi-pagi sudah sampai di kelasku. Ada urusan dengan siapa..?" karena tidak ada urusan apapun dengan anak muda itu, Tantri menyapa apa adanya.
"Masih ada waktu lima belas menit lagi masuk kelas Tantr..., ikutlah denganku.." tiba-tiba Antok menarik tangan gadis itu, kemudian membawanya menjauh dari kelasnya,
Tanpa ada pertanyaan, Tantri mengikuti anak muda itu. Tetapi tujuan laki-laki itu ke belakang sekolah yang relatif sepi, namun tiba-tiba Antok menghentikan langkah kaki dan menarik Tantri untuk bersembunyi.
"Rastrie..., kamu harus menyimpan rahasia ini dengan rapat. Jangan sampai, atau kamu membiarkan orang lain mengetahuinya, atau keluargamu yang akan menjadi jaminannya.. Aku tidak pernah bermain-main dengan ancamanku.." terdengar suara Kepala Sekolah dengan arogan tampak berbicara dengan guru di sekolah mereka. Seorang guru perempuan bernama Rastrie.
Tantri yang kebingungan menatap ke arah Antok, namun laki-laki itu memberinya isyarat untuk menelan rasa ingin tahunya. Akhirnya gadis itu kembali terdiam, dan menyandarkan tubuhnya ke belakang. Namun, Tantri tidak pernah mengira jika dirinya bersandar di kayu yang sudah agak lapuk, sehingga...
"Blukk..., Pruakk." mulut Tantri dan Antok menganga sambil menutup mulut mereka. Karena tanpa sengaja, ada kayu tua yang terjatuh ke tanah, dan membuat suara.
Seketika pembicaraan Kepala Sekolah dan Bu Rastrie terhenti, dan terlihat Kepala Sekolah tampak keluar dari tempatnya berbincang sambil mengintimidasi guru perempuan itu. Tantri mendekat ke tubuh Antok, ketika Kepala Sekolah itu sudah berada di depan tempat mereka bersembunyi. Wajah Tantri tampak ketakutan, dan tidak bisa berpikir apa yang akan dijelaskannya pada laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1
***********