Jatuh Cinta Pada Bad Boy

Jatuh Cinta Pada Bad Boy
Chapter 101 Konflik Kepentingan


__ADS_3

Dua laki-laki tampan mengenakan setelan jas lengkap, berjalan menyusuri koridor gedung WHO. Seperti biasanya dua kaca mata hitam menutup mata keduanya, dan terlihat ada beberapa orang yang mengawal mereka. Di sebuah pintu, pengawal dengan sikap hormat mempersilakan dua laki-laki itu untuk masuk ke dalam. Tanpa jawaban, keduanya segera masuk ke dalam..


"Tuan Zorra.., dan Tuan Andriano... mohon untuk menunggu sebentar di ruang ini. Tuan Michael sedang dalam perjalanan menuju kemari.." pengawal dengan sopan meminta majikan mereka untuk menunggu,


"Apakah kamu sudah mengatur semuanya Peabo.., dan tujuanku bertemu dengannya.." dengan sikap dingin, Zorra bertanya pada pengawal bernama Peabo itu. Dia dan kakaknya sudah duduk di kursi yang ada dalam ruangan tersebut,


"Siap tuan Zorra.., sudah saya katakan semuanya. Insentif untuk laki-laki itu juga sudah kita kirimkan, tuan Zorra cukup menunggu dengan sabar. Semua sudah diatur dengan seksama, dan rapi. Tidak akan ada kecurigaan dari pihak manapun.." Peabo tersenyum penuh arti.


Andriano hanya diam tidak bereaksi. Sebenarnya laki-laki itu tidak setuju dengan rencana yang dilakukan oleh Zorra adiknya, tetapi karena rasa sayang, dan juga permintaan dari papa serta mamanya, Andriano mengikuti langkah kemana Zorra. Duduk di sampingnya, terlihat Zorra membuka gadget, dan matanya fokus melihat ke layar gadget tersebut. Tetapi wajah laki-laki itu tampak kecewa, kemudian kembali shut down gadget yang dibukanya. Terdengar Zorra menghembuskan nafas kecewa...


"Hempphh.. korban janji lagi.." sambil tersenyum sinis, Andriano tampak menggoda Zorra.


"Tutup mulutmu kak... aku sedang tidak ingin bercanda kali ini.. Urus saja pekerjaanmu sendiri, aku juga tidak memintamu untukĀ  datang mengikutiku kemari.." dengan sadis pula, Zorra memberi tanggapan pada kakaknya.


"Ha.. ha.. ha.., dasar laki-laki korban janji. Kamu seharusnya sudah kenal bagaimana gadis bernama Tantri bukan, kamu sudah mengenalnya sejak masih SMA. Dan ketika gadis itu mengikuti ujian penyetaraan di Jepang, dengan sadisnya gadis itu juga meninggalkanmu. Dan sekarang.. kamu masih terus berusaha untuk membawanya kembali. Betul-betul konyol .,." Andriano tampak mengejek adik laki-lakinya,


'Sekali aku tegaskan kak.. jangan suka mencampuri urusanku. Jika memang, kali ini tindakanku aku rasa konyol, sekali lagi aku katakan, pergi dan jangan ikuti aku. Berliburlah, berkeliling ke semua penjuru Swiss.. papa dan mama juga tidak akan tahu.." Zorra tampak kesal.


"Aku bukanlah dirimu Zorra.. yang sedikitpun tidak peduli, dan tidak memikirkan perasaan papa dan mama. Aku berada di tempat ini, bukan karenamu, Tetapi karena perintah dari papa dan mama untuk menjagamu, kamu harus tahu itu.." Andriano tampak berbohong, tidak mengatakan jika dirinya sebenarnya sangat sayang pada adik kandungnya itu.


Tetapi Zorra diam saja, tidak bereaksi. Anak muda itu sangat tahu, jika ANdriano kakaknya selalu berada di sampingnya, meskipun dirinya sadar ataupun tidak. Mereka sejak kecil, memang sudah sangat akrab, tetapi Zorra selalu berusaha mengingkarinya.. Dua pengawal yang berdiri di dekat mereka, hanya saling berpandangan, tetapi tidak berani menyela perselisihan antara dua saudara itu.

__ADS_1


"Tuan Zorra... tuan Andriano mohon bersiap. Sepertinya tuan Michael sudah berjalan menuju ke ruangan ini.." tiba-tiba salah satu pengawal memberi tahu pada dua anak muda itu.


"Aku sudah siap sejak tadi, apakah matamu buta.." di luar dugaan, Zorra menjawab dengan sikap tidak suka.


"Baik Tuan Zorra... maaf kelancangan kami.." pengawal satunya meminta maaf atas ketidak nyamanan hal itu,


"Hempph... abaikan saja. Kalian sendiri juga bersiaplah..." Andriano menengahi perbincangan mereka. Laki-laki itu berdiri kemudian berjalan ke arah pintu masuk.


**************


Beberapa Saat kemudian...


"Hempphh... apakah salah satu di antara anda ini yang bernama Zorra...?" dengan wajah serius, Tuan Michael bertanya pada Zorra dan Andriano.


"Siap... saya sendiri.." dengan tegas, Zorra menjawab.


"Jadi kamu yang akan ikut join di laboratorium penelitian. Apakah kamu sudah berpikir masak-masak untuk join disana..?" laki-laki paruh baya itu tampak meragukan Zorra..


"Jika kamu tahu, tidak akan seperti yang ada dalam bayanganmu keadaan disana. Setelah berhasil masuk ke Island, pintu masuk akan ditutup lagi dan baru akan dibuka lagi pada bulan selanjutnya. Semua akses masuk, dan keluar juga harus melewati suatu pemeriksaan protokol keamanan, yang akan melakukan penyaringan terlebih dahulu.." lanjut laki-laki itu.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Tuan Michael, bukannya Zorra menjadi gentar. Laki-laki itu malah tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tuan Michael... tidak ada halangan apapun untuk menghalangi niat saudara saya. Segera pastikan pengiriman kami berdua menuju ke island tersebut. Dan ingat, kami datang sebagai seorang auditor eksternal yang akan melakukan pemeriksaan, bukan sebagai tenaga laboran.." Andriano menyela pembicaraan.


Tuan Michael melihat ke arah Andriano, kemudian beralih pada Zorra..


"Kalian berdua memang anak-anak muda yang besar kepala, dan tidak mempedulikan nyawa ataupun keamanan di pulau tersebut. Lunasi dulu uang jaminan, maka timku akan mengatur pengiriman kalian secepatnya ke island tersebut. Besok malam, akan ada pengiriman material, kalian berdua bisa ikut bersamanya." dengan cepat, tuan Michael memberikan tanggapan.


Zorra langsung mengambil ponselnya, dan tidak lama kemudian...


"Drrtt... drtt..." ponsel tuan Michael tiba-tiba bergetar.


Laki-laki paruh baya itu segera mengambil dan tampak membuka scroll ke atas dan ke bawah. Sebuah senyuman tiba-tiba muncul dari bibir laki-laki itu, kemudian...


"Baiklah... tidak ada yang perlu untuk kita perbincangkan lagi. Dari divisi lain akan melakukan serangkaian pengecekan untuk keberangkatan kalian berdua. Tetapi jangan khawatir.. orang-orangku akan mempermudah kalian berdua. Hati-hatilah ketika berada di pulau tersebut, karena aku tidak menjamin hanya akan ada dua orang kalian berdua, yang ikut masuk ke sana.." tuan Michael berdiri, dan sebelum laki-laki itu keluar, laki-laki itu tampak berpesan pada Zorra dan Andriano.


"Jangan pergi dulu, perjelas kata-katamu.." Andriano tiba-tiba ikut berdiri, dan menahan laki-laki paruh baya itu dengan memegang pundaknya.


"Banyak yang ikut memiliki kepentingan dalam setiap project yang dikerjakan secara non profit. Semua orang berusaha untuk mendapatkan keuntungan dengan cara mereka masing-masing, Termasuk juga dengan diriku.., aku harap kamu bisa memaknai apa yang aku katakan.." Tuan Michael memberikan tanggapan tanpa melihat ke arah Andriano.


Selesai berbicara, laki-laki paruh baya itu kemudian bergegas meninggalkan tempat mereka bertiga. Zorra tetap diam, dan hanya mengambil nafas panjang. Dirinya cukup tahu ke arah mana perkataan Tuan Michael.


**********

__ADS_1


__ADS_2