
Tantri tidak menghiraukan peringatan yang diberikan Zorra, dengan cepat gadis itu terus memilah data, dan kedua alisnya berkerut ketika melihat aliran dana yang tidak wajar ke rekening kepala sekolah. Gadis itu berhenti sesaat, kemudian melanjutkan jarinya di atas layar qwerty keyboard pada gadgetnya. Tidak menunggu waktu lama, aliran dana masuk ke rekening Kepala Sekolah itu sudah berhasil diperoleh gadis itu.
"Gotcha..., akhirnya ketahuan juga kamu Kepala Sekolah. Sikap licik dan serakahmu, dengan menjual nama siswa ke pihak lain, akan mengantarkanmu ke penjara..." bibir gadis itu menunjukkan senyum smirk.
Zorra yang bingung dengan sikap Tantri hanya mengamati apa yang ditemukan oleh gadis itu. Tetapi mulut anak muda itu menganga, melihat besaran nilai rupiah yang masuk ke rekening Kepala Sekolah, satu malam sebelum kejadian perkelahian di depan gerbang sekolah.
"Apakah kamu mencurigai aliran dana itu Tantri..?? Bagaimana jika kamu salah lihat...?" tidak mau salah membuat asumsi, Zorra mengingatkan Tantri.
Terlihat Tantri melepaskan pegangan pada gadget di depannya, dan gadis itu mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan Zorra.
"Aku yakin Zorra... Kepala Sekolah dengan licik bekerja sama dengan pihak luar, dan ada unsur kesengajaan untuk mencelakakan anak-anak Club Motor Spirit. Meskipun hanya lintas lalu, anak-anak motor itu sudah menjadi bagian keluargaku Zorra.. Aku tidak bisa tinggal diam, harus melakukan penyelidikan dan menuntaskan kasus ini..." Tantri mencoba menjelaskan.
"Mmmppphh.... okay, okay.. Kita bisa saja curiga Tantri..., tetapi harus tetap menggunakan alur dan logika berpikir kita. Jangan sampai, jadinya malah senjata makan tuan,." Zorra tetap belum bisa menerima penjelasan dari gadis itu.
"Aku tahu nama yang mengirimkan dana ke rekening Kepala Sekolah ... Zorra. Dia adalah Tuan Hotman, penyandang dana, dan aku juga mendengar sebagai donatur untuk eksistensi geng motor Jokzin. Geng motor itu sering digunakan oleh laki-laki itu untuk kepentingan pribadinya, dan dengan ada aliran dana ke rekening kepala sekolah, satu malam sebelum kejadian perkelahian, aku tidak bisa untuk tidak mencurigainya..." setelah mengambil nafas panjang, gadis itu kembali menjelaskan,
Terlihat Zorra mengangguk anggukkan kepalanya, sudah bisa menerima alur berpikir yang disampaikan gadis itu. Tetapi anak muda itu kembali kebingungan, langkah apa yang akan mereka tempuh.
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya Tantr..?" akhirnya anak muda itu kembali bertanya pada Tantri.
"Aku akan membuat kehebohan sejenak di dunia maya Zorra..., dan hanya akun Tuan Hotman serta Kepala Sekolah yang aktif. Hal itu aku lakukan untuk memberikan peringatan pada mereka, juga akan aku kacaukan akun dari pihak Polda metro Jaya, agar mereka tidak setengah setengah dalam memberikan perlindungan pada masyarakat." dengan tegas Tantri menjawab,
__ADS_1
Belum sampai Zorra bisa memahami dengan baik perkataan gadis itu, tangan Tantri sudah mulai menari nari di atas gadget nya. Sejenak website dan sistem informasi Polda, pemerintah daerah, dan pihak sekolah mati tidak bisa digunakan. Hanya bunyi katan WARNING, SELALU BERBUAT JUJUR dengan tulisan berwarna merah, yang muncul di layar laptop, maupun komputer mereka,
"Kamu sangat hebat Tantri... tetapi hati-hati, kamu harus merahasiakan keahlianmu ini. Aku yakin, akan banyak orang yang mengincar keahlianmu jika mereka tahu kemampuan yang kamu miliki.." Zorra terperangah melihat kerja cerdas Tantri, dan memberikan arahan kepadanya.
"Jangan khawatir Zorra.. aku selalu menyembunyikan akun dan keahlianku. Hanya kamu, dan teman-teman di Spirit Club motor, itupun tidak semua mereka tahu..." sesaat, gadis itu membiarkan akunnya bekerja sendiri.
Gadis itu melihat, beberapa guru sudah mengarahkan teman-temannya menuju ke gedung auditorium. Rupanya pihak sekolah sengaja membawa mereka, agar aksi murid itu tidak terendus dari luar sekolah.,
**********
Auditorium....
"Tuntutan apa lagi yang akan kalian sampaikan, apakah kalian semua tidak tahu, tujuan pihak sekolah untuk menutup gerbang sekolah...??" suara Kepala Sekolah menggelegar,
"Itu semua kami lakukan, untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi. Cukup anak yang ugal ugalan, yang sering membuat kericuhan di sekolah ini, mereka yang menjadi korban kebrutalan dari geng motor itu." lanjut laki-laki paruh baya itu.
Para Guru yang ikut datang ke stage, menundukkan wajah mereka seakan tidak setuju dengan statement yang disampaikan atasan mereka.
"Ijin menyanggah pak... Berarti keputusan orang tua kami, menyekolahkan kami di sekolah ini ternyata sebuah keputusan yang keliru, Tidak ada jaminan keamanan bagi kamu, dan kewajiban sekolah untuk merubah perilaku kamu. Malah adanya pembiaran..." tampak Ketua OSIS memberikan sanggahan.
"Benar... sekolah seperti sengaja melakukan penghindaran, dan bahkan tidak segera menghubungi pihak kepolisian, ataupun militer untuk pengamanan siswa di sekolah ini..." siswa lain menambahkan,
__ADS_1
Mendengar kata-kata yang disampaikan murid tersebut, wajah kepala sekolah menjadi semakin marah. Laki-laki itu kembali mengambil microphone, kemudian...
"Lalu apa yang akan kalian lakukan..., atau menunggu kami buatkan surat pengunduran diri kalian dari sekolah ini..." dengan nada keras, laki-laki itu membuat ancaman.
"Mundur.... kepala sekolah harus mundur...." tiba-tiba terdengar teriakan dari tengah-tengan siswa di auditorium.
"Iya... mundur.., mundur... kepala sekolah tidak bertanggung jawab... mundur..."
Sesaat suasana di dalam auditorium menjadi ricuh, dan murid-murid merangsek ke depan ingin menjangkau stage. Dengan sigap para penjaga keamanan sekolah, menghadang para murid yang maju ke depan. Para guru juga terlihat gaduh. Sebagian dari mereka mengutuk ancaman yang dikeluarkan oleh Kepala Sekolah, dan hanya beberapa yang mendukung statement dari Kepala Sekolah tersebut,
"Diam dulu semua, kendalikan diri kalian. Lihatlah di layar LCD Projector di kanan kiri stage...!" tiba-tiba terdengar suara perempuan tapi tidak terlihat wajahnya.
Sontak semua yang ada di dalam auditorium melihat ke arah stage. Beberapa saat layar LCD Projector memperlihatkan Kepala Sekolah sedang berdua dengan Bu Rastri, namun wajah perempuan itu disamarka, sedangkan Kepala Sekolah terlihat dengan jelas. Tidak ada pembicaraan antara dua orang itu, tetapi melihat tempat mereka berinteraksi, dan tidak hanya dilakukan satu atau dua kali saja, cukup membuat orang lain membuat kesimpulan.
"Wow..., adakah skandal di sekolah ini.. Atau mungkin transaksi terlarang..." terdengar beberapa siswa berteriak, menanggapi rekaman video yang terpampang lebar di depan mereka. Wajah kepala sekolah dan juga Bu Rastri terlihat pucat.
"Fitnah... siapa yang berani membuat fitnah ini. Tunjukkan siapa kamu...!" dengan wajah marah, kembali Kepala Sekolah berbicara dengan nada keras.
Namun tidak ada yang menghiraukan teriakannya. beberapa saat kemudian, tanpa bisa dicegah, layar berganti dengan menampillkan rekaman arus kas masuk ke rekening pribadi kepala sekolah, satu malam sebelum kejadian perkelahian terjadi. Sesaat suasana kembali heboh....
************
__ADS_1