
Harry yang sedang duduk di kamar rawat inap Eric kaget melihat kedatangan Tantri bersama Zorra. Terlihat ada pandangan tidak suka dalam tatapan matanya, tetapi anak muda itu tetap mencoba untuk tersenyum. Sedangkan Eric yang hanya berbaring di atas bed, karena luka yang dialaminya hanya tersenyum tidak enak,
"Bagaimana kondisimu Eric... Harry, dan juga teman-teman yang lain. Tadi aku langsung kemari, belum melihat ke kamar yang lain..." Tantri membuka pembicaraan untuk mengurangi ketegangan.
"Syukurlah cepat tertolong Tantr... jadi seperti inilah, seperti yang kamu lihat..." Tantri agak ngeri melihat luka-luka dan balutan perban di tubuh Eric. Tanpa mengabaikan luka yang diderita Harry, gadis itu tampak prihatin dengan keadaan teman-temannya.
"Banyak banyak beristirahat, dan makan bergizi pasti lukanya cepat membaik Eric.., Harry.." Zorra ikut menimpali.
"Iya terima kasih..." sahut Eric, namun Harry hanya menanggapinya sambil tersenyum,
Terlihat Evelyn membawa paper box tempat kue yang dibelinya, kemudian membawanya mendekat ke arah Harry yang duduk di sofa. Gadis itu membuka box tersebut, dan...
"Harry... aku membelikan roti ini untuk kalian. Ayuk dicicipi..., aku yakin makanan di rumah sakit bau obat kan..." Evelyn langsung mengambil satu potong cake, dan memberikannya pada Harry.
Tantri mengulum senyum melihatnya, tapi Harry langsung menerima tawaran cake dari Evelyn. Sama seperti Evelyn, gadis itu mengambil buah dan membantu Eric mengupasnya. Sebelum menerima suapan tangan Tantri, tampak Eric memperhatikan Harry, namun anak muda itu pura-pura tidak melihatnya. Melihat Harry tampak menikmati makanan yang diberikannya, Evelyn mengambilkan potongan kue yang lainnya.
"Aku dengar dari Gondhez tadi di sekolah ada rame-rame ya Tantr...?" tiba-tiba Eric mengalihkan pembicaraan,
Merasa ditanya, Tantri melihat ke arah Zorra.
__ADS_1
"Iya... teman-teman di sekolah memperjuangkan hak kalian, juga hak kita semua untuk diberikan perlindungan, atau jaminan keamanan ketika di sekolah. Sangat terlihat, ada pembiaran dalam kasus kemarin, malah seakan-akan pihak sekolah mengumpankan kalian..." Zorra membantu Tantri menjelaskan,
"Hemppphh.... apakah dengan mudah Kepala Sekolah menuruti tuntutan para murid.. Bisanya Kepala Sekolah menunjukkan sikap arogan, dan seperti menindas yang lemah, tetapi mendukung yang memiliki manfaat. Opportunis..." Eric berbicara tentang Kepala Sekolah.
"Sepertinya dari pihak yayasan mendengar tuntutan dari kita-kita.. Tadi Tantri berpikir cepat, ketika melihat anak-anak berkumpul di halaman, kemudian masuk ke auditorium, Tantri bergerak cepat menghubungi pihak yayasan. Semoga mereka realistis, dan tidak memihak yang salah...' lanjut Zorra.
Harry terdiam hanya mendengarkan pembicaraan itu. Tangan laki-laki itu membuat kode agar Evelyn menghentikan makanan yang diberikannya. Beberapa saat kemudian...
"Memang sih.., aku juga merasa ada pihak yang mendompleng sekolah. Karena hal yang aneh saja, begitu kita keluar, dari anggota geng motor Jokzin mendekat, penjaga sekolah dengan sigap menutup gerbang sekolah. Satupun tidak ada yang memberikan pertolongan pada kami, padahal seharusnya mereka bisa..." akhirnya Harry ikut berkomentar.
"Benar Harr... aku juga melihatnya demikian. Tapi kita tunggu dulu, bagaimana follow up dari pihak yayasan. Mereka hanya janji palsu, atau memang akan mencari kejelasan dalam kasus ini. Jika tidak ada follow up yang memuaskan, kita akan melakukan aksi lagi. Aku sendiri yang akan turun tangan memimpin anak-anak..." Zorra menunjukkan kesungguhannya.
Sebenarnya bukannya anak muda itu membela anak-anak Spirit, namun untuk melindungi siswa di sekolah itu ke depannya. Mereka menuntut ilmu, dan membayar tidak sedikit untuk uang masuk maupun operasional. Tetapi sekolah tidak memberikan pelayanan yang bagus.
*************
Menjelang maghrib, Tantri baru sampai di rumah. Gadis itu melihat mobil yang biasa digunakan papa, juga mamanya terlihat sudah ada di depan rumah. Tanpa berprasangka apapun, gadis itu segera masuk ke dalam rumah melalui pintu garasi. Namun Tantri agak terkejut, ketika melihat kedua orang tuanya duduk di ruang tengah. Kesedihan tampak menyelimuti pasangan suami istri itu, dan gadis itu berhenti sejenak.
"Kamu sudah pulang Tantri... kemarilah. Duduk dengan mama dan papa, karena ada yang ingin kami bicarakan denganmu...!" gadis itu terkejut dengan kata-kata yang disampaikan mamanya.
__ADS_1
Baru kali ini, mamanya bisa berbicara lembut ketika ada papanya di tempat itu juga. Terlihat papanya ikut menatap gadis itu, dan akhirnya tidak ada pilihan lain bagi gadis itu untuk duduk di dekat mereka. Setelah gadis itu duduk, mereka terdiam beberapa saat.
"Emmpphh... Tantri. Mungkin apa yang akan mama dan papa bicarakan padamu akan membuatmu terkejut, Namun... semua ini harus mama sampaikan kepadamu.." tiba-tiba Nyonya Monica memulai pembicaraan,
Tantri terkejut, dan gadis itu melihat ke arah mamanya. Tiba-tiba perempuan paruh baya yang masih sintal dan kinclong itu memeluk putrinya dengan erat. Tanpa perempuan itu sadari, ada air mata yang menetes dan jatuh di pundak gadis itu.
"Mama... kenapa mama menangis.." gadis itu terkejut, dan langsung melakukan konfirmasi.
"Tidak apa putriku... biarkan mama memelukmu sebentar saja..." Nyonya Monica masih memeluk erat tubuh putrinya, dan setelah beberapa saat perempuan itu melepaskan pelukan. Tantri membiarkan mamanya mengusap air mata yang masih ada di kelopak matanya... Tidak lama kemudian, ...
"Putriku... papa harap kamu pindah sekolah ke luar negeri.. Kehidupan di Jakarta, sudah tidak aman lagi untukmu.." papa Tantri tiba-tiba bicara, dan hal itu membuat gadis itu terkejut.
"Maksud papa... apa yang terjadi pa..?" Tantri merasa bingung, karena mamanya hanya menundukkan wajahnya ke bawah, tidak mampu menatap wajah putrinya. Pasangan suami istri itu terdiam sebentar, kemudian...
"Berat bagi papa untuk memberi tahumu Tantri, tapi ini hanya jalan satu-satunya. Migrasilah ke luar negeri, bisa Jepang atau Hongkong, ataupun negara mana yang ingin di tinggali. Kamu tidak bisa lagi untuk tinggal di dalam negeri putriku, semua akan berat bagimu..." akhirnya papa gadis itu menjelaskan.
Gadis itu terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Tidak masuk akal sepertinya, namun akal cerdas gadis itu seperti menangkap sesuatu. Tantri teringat jika status papanya meskipun sudah masuk dalam jajaran Eselon 2, namun pekerjaan papanya tetap PNS. Namun kehidupan keluarganya memang sangat mewah, yang malah seperti kaum mewah pengusaha terkenal. Sejenak, gadis itu terhenyak...
"Turutilah papamu Tantri... hanya itu untuk menyelamatkanmu. Kamu tidak akan siap dengan cemooh dan pandangan buruk dari masyarakat sekitar, dimana sebentar lagi mungkin mereka akan menghujatmu.." dengan isak tangis, mama gadis itu menambahkan.
__ADS_1
Tantri belum bisa menerima apa yang diutarakan oleh kedua orang tuanya..., dan mencoba berpikir sendiri. Namun sesaat, pikirannya seperti blank, tidak tahu apa yang akan dilakukannya, Sesaat sebelum dirinya pulang ke rumah, Tantri masih merasa tidak ada masalah dengan kehidupannya. Namun.. saat ini...
*************