
Tantri memundurkan langkah ke belakang, dan bermaksud untuk bersembunyi di balik pintu. Namun.., langkah kaki dari luar ruangan sudah sampai, dan begitu pintu itu terbuka, raut wajah ramah tersenyum kepadanya. Gadis itu bingung sesaat, tidak mengenal orang yang tersenyum kepadanya. Tiba-tiba...
"Kak Tantri..., Celine kangen..." suara Celine memecah keheningan.
Di belakang orang-orang yang berdatangan ke ruangannya, seorang gadis kecil menyeruak masuk, dan langsung memeluk tubuh Tantri. Merasa bertemu dengan gadis kecil yang ditolongnya, dan berada dalam kondisi yang selamat, kebahagiaan menghampiri Tantri. Seketika Tantri merendahkan tubuhnya ke bawah, dan membalas pelukan gadis kecil itu. Sesaat keduanya berpelukan..
"Celine... ada dimana kakak sekarang.. Dan kak Chan, kak John, dan kak Fujitora, ada dimana mereka...?" merasa akan menemukan penjelasan, Tantri tidak ragu bertanya pada gadis kecil itu, dan mengabaikan orang-orang dewasa yang menatap kedekatan mereka,
"Saat ini kak Tantri ada di Tokyo.., daddy dan mommy yang membawa kakak kemari. Kak Fujitora dan lainnya sedang mendapatkan perawatan, mereka ada di kamar lain dalam gedung yang sama kak.." Celine menjelaskan.
Ketika Tantri dan Celine saling melepas kerinduan, tiba-tiba..
"Miss Celine.. apakah miss tidak lupa dengan apa yang diperintahkan oleh daddy tadi. Bukankah Miss Celine datang kemari, untuk membawa nona ini datang bersama ke tempat daddy." suara laki-laki dewasa yang tadi tersenyum pada Tantri, memecah kesunyian.
Dahi Tantri sontak berkerut, dan gadis itu menengadahkan wajah ke atas, untuk mencari tahu, Ada tiga orang dewasa yang datang bersama Celine, dan ketiganya menatapnya dengan ramah serta penuh rasa hormat.
"Oh iya benar kak Tantri.. daddy dan mommy akan bertemu dengan kak Tantri. Beberapa orang suruhan daddy juga mengutus beberapa orang untuk memberi tahu kakak kakak yang lainnya. Kak Tantri sudah tidak pusing bukan..., jika tidak, kita bisa ke ruang utama untuk bertemu daddy dan mommy..." Celine terlihat lebih ceria kali ini.
Mungkin karena gadis kecil itu sudah bisa berkumpul dengan orang-orang terdekatnya, sehingga keceriaan dan kepolosannya kembali muncul.
"Ayolah kak... apa kak Tantri tidak merasa bosan di kamar terus..? Barang-barang kakak dan lainnya, ada di ruang utama juga kak.." Celine terus memaksa Tantri untuk mengikutinya.
__ADS_1
Tantri berpikir sesaat, dan tidak ada salahnya mengikuti gadis kecil itu. Tidak mungkin jika Celine akan mencelakakannya, apalagi sejak awal dirinyalah yang memberikan pertolongan. Celine terus menarik tangan Tantri, dan membawanya keluar dari dalam kamar. Orang-orang yang datang bersama Celine, mengikuti mereka dari belakang. Tatapan Tantri terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Bangunan itu sangat mewah, dan dilengkapi dengan furniture yang tidak kalah mewah pula. Bahkan dari dalam ruangan, terlihat sebuah kolam renang besar yang memiliki papan seluncur juga.
"Apakah masih jauh Celine...?" karena sudah merasa berjalan jauh, namun tujuannya belum sampai, Tantri bertanya pada gadis kecil itu.
"Kita keluar dulu dari bangunan ini kak.. Daddy dan mommy ada di bangunan depan.." gadis kecil itu menunjuk ke sebuah bangunan yang terlihat dari depan mereka.
"Baiklah.., kakak akan mengikutimu Celine.." akhirnya Tantri terdiam, dan mengikuti kemana gadis kecil itu membawanya.
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampailah di depan bangunan itu. Terlihat banyak maid yang menyambut kedatangan mereka, dengan melakukan penghormatan. Lebih dari lima perempuan itu membungkukkan badan, ketika Tantri dan Celine lewat di depan mereka.
*************
Beberapa saat kemudian...
"Tantri... are you okay girl..." tiba-tiba Tantri mendengar suara John bertanya padanya.
Gadis itu menoleh ke sumber suara, dan melihat John yang duduk di kursi dengan berbagai perban di bagian tubuhnya, Tantri segera mengarahkan kakinya menuju ke laki-laki itu. Di samping John, ternyata Chan dan Fujitora juga tidak dalam keadaan yang lebih baik.
"Kalian semuanya kenapa bisa terluka.. Sedangkan aku, tidak ada sedikitpun luka mengenaiku.." Tantri merasa heran, dan bertanya pada ketiga temannya itu.
Terlihat sekali kepedulian Tantri pada teman-temannya, sampai lupa dimana posisi mereka saat ini. Beberapa orang melihat interaksi gadis itu, dan ketika akan ada yang mengingatkan, terlihat laki-laki yang mengenakan pakaian jas melarangnya.
__ADS_1
"Kurangi kekhawatiranmu Tantri, kita semua baik-baik saja. Sangat senang bisa menjumpaimu kembali, dan juga dalam keadaan sehat. Sekarang, kita harus abaikan dulu masalah kita, Tuan Akihiro sepertinya ingin mengajak kita berbicara.." Fujitora memotong keingin tahuan gadis itu pada keadaan mereka, karena tidak nyaman membiarkan pihak yang lebih tua meluangkan waktu untuk menunggu.,
"Apa yang kak Fuji katakan, siapa Tuan Akihiro...?" merasa baru mendengar nama itu sekali, Tantri malah balik bertanya.
Chan dan John tersenyum kecut, dan jari telunjuk Chan akhirnya di arahkan ke depannya, tetapi di belakang Tantri. Seketika itu juga Tantri kemudian membalikkan tubuh, dan baru menyadari jika ternyata di dalam ruangan itu, banyak wajah asing tersenyum menatapnya.
"Maaf... maaf.. Tuan, saya terbawa suasana.." sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, sebagai bentuk permohonan maaf, Tantri segera mencari tempat duduk.
John langsung menggeser tempat duduk ke samping, dan gadis itu segera menduduki kursi yang kosong tersebut. Setelah itu, mereka melihat ke arah depan. Terlihat Celine, yang saat ini duduk diapit dua perempuan, tersenyum sambil menggerakkan kedua tangannya menatap Tantri.
"Apakah kalian sudah cukup untuk saling bertukar kabar..? Jika sudah, mungkin giliran tuan kami yang akan berbicara.." terdengar suara laki-laki tua seperti bertanya pada Tantri dan teman-teman.
Tantri tersenyum malu, kemudian menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, laki-laki itu berjalan mendekati laki-laki berjas, kemudian berbisik padanya..
"Sebelumnya kami ucapkan selamat datang untuk anak-anak muda yang tidak bisa kami pandang remeh, di salah satu asset milik keluarga Akihiro... Silakan untuk meminum teh hijau hangat kalian." pria berjas memulai pembicaraan.
Untuk menghormati pria tersebut, Fujitora memberikan isyarat pada teman-temannya untuk segera mengambil cangkir di depan mereka. Tanpa perlu untuk diulangi perintahnya, ke empat anak muda itu segera mengambil cangkir, kemudian perlahan menyesapnya. Setelah itu, mereka kembali meletakkan cangkir ke atas meja.
"Tanpa kalian, putri kami satu-satunya Celine, mungkin akan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab karena kecerobohan kami. Ceritakan siapa diri kalian, dan apa yang kalian inginkan sebagai kompensasi atas budi luhur kalian pada putriku.." lanjut pria itu lagi.
Tantri mengangkat wajahnya ke atas, dan seperti terhipnotis dengan perkataan yang berwibawa dari laki-laki itu. Sesaat dirinya seperti kehilangan akal...
__ADS_1
*************