
Suasana di dalam auditorium kembali ricuh, para peserta didik di sekolah tersebut semakin tidak terkendali. Bahkan para guru-guru yang ikut hadir ke dalam ruangan itu memiliki pemikiran buruk pada Kepala Sekolah, dan rekan kerja mereka Bu Rastri. Para guru menjadi satu kelompok, dan terlihat menjauhi dua orang yang muncul dalam layar LCD tersebut. Mereka seperti tidak mau terkena aib dari tindakan dua orang tersebut.
"Matikan... siapa yang menyalakan LCD. Penjaga matikan layarnya..., atau akan aku usulkan ke yayasan kalian semua, agar dipecat dengan tidak hormat." Kepala Sekolah berteriak panik, karena tatapan mata dari semua orang yang ada di auditorium itu tertuju padanya,
Para penjaga berlari mencoba untuk mematikan LCD projector, namun dengan gadget di tangan Tantri, ketika penjaga memencet mesin projector, tetapi tidak diduga LCD kembali menyala dengan sendirinya. Dua penjaga saling bertatapan, dan mereka tiba-tiba merasa ngeri dengan apa yang terjadi di depannya.
"Atau ada hantu di ruangan ini.., yang mereka ikut menghakimi Kepala Sekolah. Buktinya, kamu juga lihat sendiri bukan, dan juga sudah ikut mematikan sendiri LCD ini. Tetapi berkali-kali layar tetap menyala, seperti ada Freeze yang menahannya.." salah satu penjaga bertanya pada rekan kerjanya,
"Iya.. aku malah menjadi takut. Bukan pada Kepala Sekolah, tetapi pada hantu di ruangan ini. Hiii...." dua penjaga itu malah ketakutan.
"Apa yang kalian berdua lakukan..., kenapa tidak segera mematikan LCD itu. Apakah kalian memang bermaksud untuk tidak mentaati semua perintahku...?" kembali teriakan Kepala Sekolah membahana di gedung auditorium.
"Tidak bisa pak Kepala... kami sudah mencoba untuk mematikannya, Tetapi secara otomatis, menyala dengan sendirinya..." satu dari penjaga itu memberikan penjelasan. Bahkan rekan kerjanya malah menariknya ke belakang, untuk menjauh dari tempat tersebut.
Wajah Kepala Sekolah semakin merah menghitam, sedangkan bu Rastri yang berada di dekat laki-laki itu tidak bisa melakukan apapun. Sementara itu, para siswa semakin ke depan, bahkan beberapa murid ada yang mau naik ke atas stage. Para guru juga tidak mau menghentikan aksi yang dilakukan murid-muridnya, dan ketika dua orang sudah naik ke atas stage, Zorra dan Tantri berteriak untuk menghentikan murid murid lainnya.
"Teman-teman semua, hentikan sikap penyampaian pernyataan kita. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang menjurus pada tindakan anarkhi. Pihak yayasan sudah dalam perjalanan menuju ke sekolah, biar semua menjadi ranah dari pihak yang berkepentingan. Tuntutan kita hanya satu, hentikan kepala sekolah dari sekolah ini..." Zorra yang sudah ikut berdiri di stage, membuat pernyataan.
"Benar... buat Kepala Sekolah keluar dari sekolah ini..." beberapa siswa di bawah stage memperkuat pernyataan yang dibuat oleh Zorra.
Melihat sikap yang dilakukan siswa sekolah internasional tersebut, beberapa guru laki-laki tidak tinggal diam. Tiga guru laki-laki berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendatangi Kepala Sekolah dan bu Rastri. Ketiga laki-laki itu mengamankan mereka.
__ADS_1
"Saya yang akan bertanggung jawab untuk menyampaikan tuntutan kalian semua pada Kepala Sekolah, dan juga Bu Rastri. Tetapi ijin untuk membawa mereka ke ruangannya, karena tidak bagus jika kalian semua menghakimi tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk membela..." salah satu dari guru tersebut, yang juga Wakil Kepala Sekolah bidang Akademik mencoba menjelaskan,
"Baik pak... kami juga akan segera membubarkan diri, dan melanjutkan proses pembelajaran.." akhirnya Ketua OSIS memberikan tanggapan.
Tidak lama kemudian, Ketua OSIS berdiri di stage, dan mengambil microphone untuk menghimbau rekan-rekan mereka untuk membubarkan diri.
***************
Sepulang sekolah...
Tantri berjalan gontai menuju ke halaman parkir umum untuk mengambil motornya. Tanpa gadis itu sadari, ternyata Zorra sudah berusaha berjalan di sampingnya sambil menenteng skate board di tangan kirinya. Gadis itu menoleh, dan senyum kecil terbit dari bibirnya.
"Mau kemana Tantr... mau langsung pulang ke rumah.." anak muda itu menyapa gadis itu.
"Mmmpph... iyakah?? Boleh nih, aku ikut menumpang sampai di rumah sakit. Kebetulan aku juga berencana untuk menjenguk mereka.." mendengar jawaban dari Zorra, Tantri seperti tidak percaya. Namun, laki-laki itu menganggukkan kepala, seperti meyakinkan gadis itu.
"Baiklah Zorra.. kita bisa barengan ke rumah sakit. Nih kunci motornya..." gadis itu langsung melemparkan kunci motornya ke arah laki-laki itu, dan Zorra dengan sigap segera menangkapnnya.
Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu sudah berada di halaman parkir motor. Terlihat tidak jauh dari mereka, Evelyn melambaikan tangan pada Tantri..
"Wooyy Tantr.. kalian berdua sudah semakin akrab nih.., Jika begitu, Harry buatku saja ya..." Evelyn yang memang menyimpan rasa pada Harry berteriak menggoda Tantri.
__ADS_1
"Baguslah kalau Harry nya mau. Kami mau ke SIloam Hospital, mau melihat keadaan Harry dan juga teman-teman lainnya. Jika mau join, ayuk barengan..." Tantri menawarkan pada Evelyn.
"Okay... kamu duluan, aku akan mengikuti kalian dari belakang.." melihat Tantri dan Zorra sudah siap di atas motor, Evelyn mengiyakan.
Tantri tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat mengajak Evelyn berangkat. Tidak lama kemudian, kedua motor itu sudah berjalan beriringan... Dan ketika melihat ada penjual buah, dan juga bakery, Tantri meminta Zorra untuk menghentikan motornya.
"Zorra.. aku akan mencari buah tangan dulu untuk anak-anak. Hentikan motor di dekat penjual buah itu...!" mendengar permintaan gadis yang ada di belakangnya, Zorra menghentikan motor.
Evelyn juga ikut menghentikan motor, dan untungnya gadis itu segera tanggap.
"Tantri... aku mau ke bakery ya. Kamu yang pilih buahnya.." gadis itu segera melepaskan helm nya, dan segera memasuki outlet penjual bakery.
Dengan ditemani Zorra, Tantri segera memilih buah yang mudah untuk dikonsumsi. Anggur hijau muscart, buah jeruk, peach, dan plum manis dipilihnya.
"Ini saja bang... jika bisa minta tolong dicucikan sekalian ya. Nanti aku tambahi harganya..." tidak mau menyusahkan teman yang akan dijenguknya, Tantri meminta abang penjual untuk membersihkan buah yang dibelinya.
Abang penjual tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pada gadis itu. Beberapa saat kemudian, keduanya menunggu sampai abang penjual selesai.
"Lychee nya sangat manis ternyata Tantr... Kamu tidak menambahkan, sama matoa sekalian..." Zorra yang tampak mencicipi buat tersebut, bertanya pada gadis itu.
"Benar Zorr... paling tidak untuk camilan kita ketika di rumah sakit. Minta masing-masing dua kilogram sekalian..." gadis itu langsung menyetujui usulan dari anak muda itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, dua motor itu sudah melaju menuju ke rumah sakit. Kebahagiaan tampak di mata tiga anak muda itu, meskipun dengan tujuan yang berbeda-beda.
************